Tentang Curhat

Yeni Suryasusanti

 

“Yen, gue mau curhat…” demikian beberapa sahabat sesekali berkata untuk mengawali cerita hidupnya.

“Sorry, kalo mau sekedar curhat, jangan sama gue deh, gue nggak ada waktu kalau hanya sekedar jadi tong sampah,” jawab saya tegas.

Raut wajah sahabat saya itu kontan berubah. Rasa tersinggung, kecewa bahkan marah terlihat bercampur jadi satu pada ekspresi wajahnya.

“Tapiiiiii, kalau loe niatnya untuk mencari solusi, Insya Allah gue mau luangkan waktu untuk membantu…” demikian lanjut saya sambil tersenyum.

Curhat adalah curahan hati. Dan segala sesuatu yang tercurah dari hati biasanya berpotensi menuai rasa empati dari hati pula.

Bertahun-tahun lalu, saya belajar hal ini dari mentor Paskibra saya.

Ketika saya masih menjadi orang yang labil, ketika beberapa masalah berat dalam kehidupan saya membuat saya “galau”, saya datang kepada beliau untuk bercerita, untuk membagi beban.

Kami selalu duduk berhadapan dengan dihalangi sebuah meja, seperti konsultasi dengan guru pembimbing layaknya. Beliau akan mendengarkan cerita saya hingga selesai, hanya sesekali menyela ketika perlu lebih memahami masalah yang ada. Jika saya – dalam waktu yang sangat jarang terjadi – sampai menitikkan air mata, beliau akan bangkit dan mengambil sekotak tissue dan meletakkannya di depan saya, tanpa memberikan sentuhan sedikitpun meski sekedar untuk menegaskan empati.

Setelah selesai saya bercerita, barulah kami membahas segala kemungkinan untuk memecahkan masalah saya.

Seorang mentor yang baik, tidak akan membuat anak didiknya tergantung secara permanen kepada dirinya. Dia akan membuat anak didiknya perlahan-lahan mandiri, dengan sedikit demi sedikit menumbuhkan kepercayaan diri dan sesekali menjauh dengan tidak selalu bisa meluangkan waktu untuk berkonsultasi.

Itulah yang terjadi pada diri saya.

Setelah menanamkan kepercayaan diri dan mengingatkan keterbatasan manusia dalam mendampingi, beliau mengingatkan saya bahwa hanya Allah yang bisa menyediakan waktu 24 jam seumur hidup kepada manusia.

“Curhat itu bisa menimbulkan ketergantungan. Karena itu curhat hanya boleh dilakukan kepada Allah, sambil meminta bimbingan untuk penyelesaian masalah. Kepada manusia, jangan curhat, tapi sharing pengalaman demi manfaat atau mencari solusi, karena pertolongan Allah dalam menyelesaikan suatu masalah bukan hanya muncul dalam bentuk ilham, namun terkadang muncul dalam bentuk pencerahan dari orang-orang yang ada di sekitar kita,” demikian tutur mentor saya.

Karena “Curhat” bisa menimbulkan ketergantungan, saya sebisa mungkin berusaha menghindarinya.

Kenapa? Karena manusia seharusnya hanya bergantung kepada Allah, bukan kepada selain-Nya termasuk manusia :)

Jadi teman, ketika saya memiliki masalah dan merasa perlu curhat, saya akan melakukan curhat pertama kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya.

Setelah itu barulah saya menjalankan ikhtiar dengan segala daya upaya untuk memecahkan masalah saya, salah satunya bisa dengan cara berkonsultasi kepada orang-orang terdekat yang lebih berpengalaman daripada saya bahkan kepada ahli untuk mendapatkan solusi yang sebenarnya juga merupakan jalan pertolongan dari Allah semata.

Alhamdulillah, dengan cara tersebut selama ini saya membuktikan salah satu dari sekian banyak kasih sayang Allah kepada saya :)

 

Jakarta, 24 November 2012

Yeni Suryasusanti

 

10 Comments to "Tentang Curhat"

  1. Yeni Suryasusanti  27 November, 2012 at 18:59

    Matahari : betul, itu salah satu bahaya curhat dengan manusia

    Oom DJ : hahaha…. nah ini lebih aman, tapi berarti susah utk curhat bersambung krn kudu cerita dari awal lagi hehehhehe…

    Sumonggo, Anoew : hehehe… istilahnya gawat euy… pelacur… duuuhhh…. khas anoew banget :p

    JC : banget, karena seni berkomunikasi nggak ada habisnya

    Iwan : lama nggak pernah curhat, karena selalu jadi tempat curhat kah?

    Linda : itu selalu buat tenang hati

    Mega Vristian : disitulah seninya jadi tempat curhat, gimana caranya nggak jadi tergantung dan mengeluh… salam kenal juga, Mega

  2. Mega Vristian  27 November, 2012 at 17:15

    Keseringan curhat pada manusia, malah menjadikan dirinya semacam kotak saran. Makin malas berpikir, buntut curhat akhirnya ngeluh melulu, nah ini bisa menyebarkan hawa negatip ke diri sendiri dan sahabat. ( Salam kenal untuk mbak Yeni).

  3. Linda Cheang  27 November, 2012 at 10:53

    curhat selalu lewat doa

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  26 November, 2012 at 18:01

    Udah lama nggak pernah curhat…

  5. J C  26 November, 2012 at 17:16

    Hhhhhmmm…curhat-curhatan ternyata ada seninya, baik mencurhati atau dicurhati…

  6. anoew  26 November, 2012 at 11:11

    Komen nomer 4: hahaha kok jadi lari ke situ jadi, acara tivi tersebut benar-benar pelacur, alias pelarian curhat.

    Hai Yeni, salam curhat

  7. Sumonggo  26 November, 2012 at 05:38

    Jadi teringat acara televisi yang digemari ibu-ibu, Curhat kepada Mamak dan Aak

  8. Dj.  25 November, 2012 at 16:14

    Silahkan CurHat ke Dj.
    Besok Dj. juga sudah lupa….
    Jadi jangan khawatir… hahahahahaha….!!!
    Salam Yen…

  9. matahari  25 November, 2012 at 15:24

    Hati hati curhat.yang sangat pribadi ..bahkan dengan seorang teman yang kita anggap paling baik sekalipun…karena yang namanya manusia…yah tetap manusia..punya rasa cemburu…dan sewaktu waktu bisa khilaf dan terceplos ke orang lain

  10. James  25 November, 2012 at 10:32

    SATOE Kotak Curhat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.