ASPERTINA First Anniversary: Kondangan Peranakan Tionghoa 2012

JC – Global Citizen

 

Seperti sudah pernah saya informasikan di: Kondangan Peranakan Tionghoa 2012; ini adalah perayaan ulangtahun pertama Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (ASPERTINA). Akhirnya hari yang dinantikan banyak orang tiba juga, acara diadakan di Hotel Mulia, 8 November 2012. Hari itu saya meluncur dari Serpong sekitar jam 17:00, dan ternyata perjalanan lancar, tidak ada hambatan yang berarti, tidak ketemu kemacetan yang biasa terjadi di jam-jam itu. Sekitar satu jam, saya sampai ke Hotel Mulia. Tidak menunggu lama, segera saya menuju ke ballroom dimana acara akan berlangsung.

Di sekitar ballroom sudah ada beberapa tamu dan teman-teman yang sedang berbincang beramah tamah satu dengan yang lain. Di pre-function room yang difungsikan oleh panitia menjadi semacam gallery memamerkan produk dan informasi-informasi lain dari para sponsor. Ada tiga hal yang paling menarik untuk saya. Yang pertama adalah ada satu grup gambang keromong yang memainkan berbagai lagu.

Berikutnya adalah booth Ghea Panggabean (salah satu perancang busana yang karyanya tampil malam itu) dimana ada beberapa koleksi porselennya yang indah.

Dan yang ketiga adalah adanya sepasang “pengantin” dalam pakaian adat tempo doeloe di depan rumah-rumahan, memberikan kesempatan kepada para tamu untuk berfoto bersama mereka.

Saya mondar-mandir menyapa beberapa kenalan yang nampak di antara para tamu. Beberapa figur publik yang namanya banyak berseliweran di media massa juga nampak. Tiba-tiba salah satu panitia seperti kebingungan mencari seseorang untuk menemani salah satu tamu VIP yang sudah hadir, sementara teman yang menjadi panitia akan menyambut tetamu yang lain.

Ternyata tamu VIP yang sudah hadir adalah Ibu Sinta Nuriyah Wahid – mantan Ibu Negara, istri mendiang mantan Presiden Gus Dur. Akhirnya beberapa teman memperkenalkan saya kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid sekaligus meminta saya menemani beliau sementara menunggu tamu lain mengisi kursi-kursi di meja beliau.

Sungguh merupakan kehormatan luar biasa bisa berkenalan dan berbincang dengan Ibu Sinta Wahid malam itu. Seketika telinga saya mengenali lamat-lamat aksen Jawa yang masih terasa ketika beliau berbicara. Spontan saya menggunakan krama inggil sebisa dan semampu saya karena rasa hormat saya. Sekilas beliau nampak sedikit terperanjat dan menanyakan dari mana asal saya. Selanjutnya pembicaraan mengalir lancar dan mengasikkan. Apalagi jika bukan seputar mendiang Gus Dur yang menjadi topik. Terlebih lagi di tengah suasana acara malam itu, kenangan kuat akan mendiang Presiden Gus Dur yang mendobrak kebekuan bangsa akan diskriminasi etnis Tionghoa. Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid, karena mendiang Gus Dur lah, acara malam itu bisa terwujud. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di masa-masa pemerintahan yang lalu. Yang tidak saya sangka, ketika saya menyampaikan isi hati tersebut, mata beliau nampak berkaca-kaca.

Perbincangan kami harus berakhir ketika tamu lain, yaitu Ibu Meutia Hatta nampak mendekat diiringi panitia. Beliau berdua bersalaman, berpelukan dan saling mengucapkan salam. Sudah saatnya saya meninggalkan meja beliau dan menuju ke meja saya sendiri yang sudah ditentukan panitia.

Tak lama kemudian acara dimulai. MC mulai bercuap-cuap menggiring acara yang satu ke berikutnya dengan lancar. Salah satu hiburan adalah dinyanyikannya lagu film serial The Little Nyonya yang berjudul Ru Yan (aslinya dinyanyikan oleh Olivia Ong dari Singapore). Tidak menunggu lama hidangan demi hidangan disajikan.

Dimulai dengan pembuka asinan atau sering juga disebut rujak pengantin dipadukan dengan gado-gado cukup membelai ujung-ujung indera pengecap. Cara penyajian ala hotel bintang lima – petite portion – membuat penasaran mulut yang baru sekecap duakecap tiba-tiba sudah habis. Mulut yang penasaran tidak dibiarkan terlalu lama, sup hipio menyusul. Sup khas Peranakan ini diramu dan disajikan dengan pas oleh Chef Hotel Mulia setelah beberapa kali berkonsultasi dengan Aspertina. Salah satu masukan untuk Hotel Mulia, setidaknya harus ada satu hidangan yang khas Peranakan, yang sudah jarang sekali ditemukan di restoran-restoran seputaran Jakarta.

Satu hal yang sangat mengecewakan adalah hidangan utama. Saat hadir dalam food testing masakan tumis jamur jagung muda sungguh pas dan membelai lidah dengan citarasa Peranakan. Namun pada saat acaranya, jagung muda (kuncung) malah diganti dengan jagung manis pipilan yang menyebabkan rusaknya citarasa keseluruhan hidangan utama. Namun kekecewaan itu ditebus dengan mendengar banyak pujian dari beberapa teman bahwa sup hipio malam itu sangat istimewa dan sangat pas dengan thema Peranakan malam itu. Makan malam ditutup dengan pencuci mulut kue-kue tradisional.

Kemudian satu demi satu rancangan para perancang busana yang mengambil thema busana Peranakan dengan thema utama Pengantin Peranakan mulai digelar. Ada yang menarik, ada yang lucu (menurut saya), dan ada yang biasa-biasa saja.

Para perancang, Ketua Panitia Alexandra Tan dan Ketua Umum Aspertina Andrew Susanto

 

 

Beberapa gaya lain busana dengan thema atau motif Peranakan yang dipoles dengan sentuhan glamor modern dan extravaganza:

Thema utama pagelaran busana Peranakan malam itu adalah busana pengantin gaya Peranakan. Seperti kita ketahui, sekarang ini pasangan yang menikah kebanyakan mengenakan busana pengantin gaya barat. Gaun pengantin panjang berwarna putih dan jas lengkap untuk prianya. Atau busana tradisional daerah masing-masing (Jawa, Sunda, Batak, dsb). Jika ditanya bagaimana busana pengantin gaya khas etnis Tionghoa di Indonesia, sampai saat ini belum satupun yang bisa mendefinisikan dan menampilkannya dengan pas. Untuk itulah pagelaran busana dalam rangka ulangtahun pertama Aspertina malam itu berusaha menampilkan thema baru – busana pengantin Peranakan. Berbagai gaya menarik, aneh, agak ekstrem koeno, semuanya ada malam itu.

 

Corak menarik batik peranakan modern:

Gaya penampilannya adalah seakan-akan keluarga-keluarga Peranakan akan menikahkan anak-anaknya. Ada ibunda mengantar anak gadisnya, ada keluarga yang mengiringi pasangan pengantin, ada busana yang dikenakan dalam acara lamaran, dsb.

Akhirnya seluruh acara tuntas digelar. Dan inilah team panitia Kondangan Peranakan Tionghoa 2012 malam itu.

Terima kasih sudah membaca…

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

94 Comments to "ASPERTINA First Anniversary: Kondangan Peranakan Tionghoa 2012"

  1. Suradji Halim  17 March, 2013 at 21:55

    Bravo….terimakasih atas laporan pandangan matanya pak, juga terimakasih kepada panitia, terlebih kepada pencetus idenya…..Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua bangsa Indonesia serta pak Josh Chen… Terjalin kerukunan dan saling pengertian diantara semua anak bangsa…..amin!

  2. Aryanto W A  11 March, 2013 at 21:05

    Luar biasa, semoga selalu akan ada di tahun tahun mendatang.

  3. Bengky Tjoe  28 February, 2013 at 06:51

    Wah bagus sekali ,senang ,haru ,membaca nya
    sayang ,banyak yg tidak mengetahui acara tsb,apakah hanya untuk kalangan tertentu saja ??
    terima kasih

  4. poppy Drews - Liem  24 February, 2013 at 16:28

    Lagi2 Indonesia membuat gebrakan dalam mengembangkan nilai budaya Bhineka Tunggal Ika.
    Menggali, memadu dan mengembangkan seni dan budaya bangsa kita dari sudut daerah dan golongan etnis manapun juga di Indonesia, pasti akan memperkaya budaya dan mengharumkan nama kita didunia International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.