Ketaatan

Anwari Doel Arnowo

 

Hari ini kita menyaksikan demo para supir angkutan kota, karena menentang peraturan yang akan mengurangi kemungkinan beralihnya penumpang menggunakan minibus sebagai pilihan lain. Mereka berbondong memprotes ke sana ke sini sambil mengganggu lalu lintas, seperti biasanya dilakukan oleh para pelaku demonstrasi, yaitu: MINTA DIPERHATIKAN.  Serikat buruh mengganggu rekannya sendiri, dengan istilah sweeping yang artinya menyapu dengan instigasi (menghasut) agar meninggalkan pekerjaannya dan memaksa libur untuk turut serta berdemonstasi. Silakan buka link berikut ini: http://id.berita.yahoo.com/polisi-minta-buruh-tak-ganggu-temannya-yang-lagi-080402790.html. Meninggalkan pekerjaan seperti itu, bisa mengganggu upah buruh sendiri karena mengganggu produksi yang berarti mengganggu kelancaran usaha tempat mereka sendiri bekerja. Padahal yang mereka lakukan dengan melakukan demonstrasi itu adalah permintaan kenaikan upah minimum. Secara pengamatan kasar kita diberi kesan bahwa orang kecil ditindas dan peraturan yang ada, diartikan sebagai hanya melindungi pemilik modal yang besar saja. Itu secara pandangan mata awam saja. Bisa saja keliru atau bisa juga tidak keliru.

Apabila sesuatu itu dipandang dari satu sudut saja, maka itu akan memicu perhatian yang menghasut ke suatu tujuan yang mungkin bukan dimaksudkan sejak awal. Dibelokkan dari maksud awal. Saya juga baru saja menerima email entah dari siapa, bahwa buruh mau demo ke Kementerian Tenaga Kerja sehingga arus lalu lintas hari ini akan dialihkan ke sini dan ke situ serta ke sana. Saya mengamati buat apa ada Kementerian Komunikasi dan Informasi yang khusus mengenai INFO, kok kenyataannya tidak semua info bisa mampu membantu meredam kegelisahan yang terwujud di dalam demonstrasi awut-awutan seperti itu?

Ini saya tuliskan karena telah terlalu sering terjadi. Makin galak perilakunya, maka merasa paling benar. Begitukah tata cara berkomunikasi??  Ada gerombolan tertentu yang hanya akan merugikan rakyat yang tidak tau apa ujung pangkalnya, tetapi disuruh menanggung kerugian. Rugi? Iya, lalu lintas tidak lancar, urusan jadi berubah ke arah mana-mana dalam berlalu lintas. Saya menerima pemberitauannya melalui email, sedang mereka yang sedang di tengah perjalanan, biarpun membawa gadget komunikasi yang paling canggih sekalipun, bisa akan terkena juga kemungkinan dan terjebak oleh kemacetan yang menjengkelkan. Orang-orang berdemonstrasi itu  biasanya disebabkan oleh karena tidak bisa dan kurang mampu berkomunikasi secara intelektual? Itu seharusnya bisa disadarkan kepada seluruh penghuni Republik ini, terutama di jabatan pemerintahan, legislatif dan judikatif tingkat atas, secara politis, secara tertib tata usaha Negara, biarpun yang democrazy sekalipun.

Itu Kementerian KOMINFO kok tidak gencar seperti jamannya Harmoko dulu, sampai-sampai dianggap sebagai singkatan dari Hari-Hari Omong Kosong. Kemeterian KOMINFO yang sekarang itu terlalu tidak aktif, saya amat mengharap agar krisis perburuhan, konflik horisontal antar warga dan antar alat Negara seharusnya bisa diredam, kalau saja sang menteri agak pandai sedikit. Dia menaggapi soal tahun baru Islam baru-baru ini dengan cukup panjang, mengapa terhadap isu (issue) yang lebih penting kok tidak terlihat upayanya? Ini saya anggap penting karena nyata-nyata adalah urusan dunia. Bukankah susunan kata-kata di dalam doa … fi dunia hasanah ….. wa fi akhirati ……. . Dunia dulu kan baru akhirat??

Ingatlah bahwa tata krama kehidupan, apalagi yang sudah dibentengi dengan hukum dan undang-undang yang macam-macam itu, terlihat jelas di acara Indonesian Lawyers’ Club  yang sering juga membuat bingung hadirin dan para penonton televisi TV ONE, juga mereka yang benar-benar Liar, maaf ini “keliru” mengetik yang saya lakukan, kan semestinya, saya koreksi, Lawyer. Apalagi yang belum diatur di dalam undang-undang, masih banyak sekali, contohnya tentang euthanasia, atau yang bisa menampung niat saya untuk mendermakan seluruh tubuh saya, bukan hanya organ saja, kalau saya nanti meninggal dunia. Undang-undang seperti itu saya anggap perlu karena akan memudahkan manusia yang masih hidup di masa selanjutnya, setelah orang seperti saya mati. Apa sajapun yang lain, yang bisa membuat rasa nyaman untuk  kehidupan manusia buatlah undang-undangnya, jangan hanya memasukkan pendapat agama dan adat dengan cara yang terlalu berlebihan ke dalam undang-undang Negara, karena Republik Indonesia ini tidak berdasarkan keagamaan. Ini saya kemukakan karena di Singapura yang sudah menerapkan euthanasia ini masih mengalami kesukaran karena justru para dokter di sana banyak yang beragama Kristen, dan mereka masih merasa enggan melaksanakannya, meski jelas dan terang benderang undang-undangnya sudah membolehkan.

Para pelanggar undang-undang dan peraturan saat ini justru dipelopori oleh para tokoh petinggi Republik kita. Ada Hakim yang pelaku aktif sejak lama dalam ikut mengonsumsi Narkoba. Ada Hakim Agung yang mengundurkan diri karena terlibat memalsukan vonis, justru dalam urusan Narkoba juga. Menteri bahkan Wakil Presiden sekalipun sudah ada indikasi yang kentara kuat karena harus menjadi pasien pelanggaran hukum berat di dalam masalah yang menyangkut keuangan Negara. Kalau seorang Presiden salah dalam memilih Wakilnya, lalu apa mesti kita buat??

Tetapi sebaliknya sungguh menyedihkan sekali pelanggaran demi pelanggaran dilakukan juga oleh rakyat jelata dan orang melarat, dengan sering mengaitkan dengan kesukaran hidup sehari-harinya. Bertahun-tahun lamanya ada warung makan, tukang tambal ban, penjual bensin dan oli berada di atas trotoar yang menghalangi orang berjalan kaki dengan aman dari sambaran kendaraan yang berlalu-lintas dengan ganas di dekatnya, dalam jarak yang hanya dalam satuan centimeter saja. Kendaraan umum yang tidak aman karena dipakai memerkosa seorang perempuan. Dan lain-lain yang masih bisa lebih panjang untuk dikeluhkan. Kapankah kiranya bisa berkurang keluhan kita??

Hal-hal yang disebutkan di atas itu semua disebabkan oleh karena kita tidak taat kepada tata cara yang menyangkut kehidupan bersama manusia lain, malah justru dengan manusia yang sesama bangsa sendiri. Taat itu memerlukan pemahaman yang panjang dan harus dibiasakan sejak manusia lahir ke dunia. Bukan dimulai sejak saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, 1945, atau dimulai sejak pemerintahan Suharto apalagi sejak awal presiden-presiden berikutnya.  Mulailah dari,  siapapun dia, saat sejak lahir. Bukankah seorang bayi bisa didisiplinkan juga untuk minum  susu pada jam sekian kemudian jam sekian serta jam sekian lagi? Tidak karena setiap si bayi haus!! Kalau itu dilakukan maka yang tidak disiplin adalah ibunya atau si pengasuhnya saja, karena tidak TEGA mendengar tangisan. Ataukah karena suara tangisan itu dianggap mengganggu?? Beberapa cucu bisa kok minum susu sebelum pukul sepuluh malam sebagai minumnya yang terakhir sampai keesokan harinya. Itu telah membiasa sehingga orang tuanya yang bekerja bisa beristirahat dengan teratur. Biasakanlah disiplin itu diterapkan sejak lahir, sejak mempunyai kodrat menjadi manusia utuh, jangan menunggu setelah masuk belajar di sekolah atau setelah bisa membaca kitab suci. Segera lakukanlah sejak bayi, meningkat ke masa kanak-kanak, remaja dan dewasa serta menjadi seorang yang tua seperti saya ini.

 

Anwari Doel Arnowo

2012/11/22

 

13 Comments to "Ketaatan"

  1. uchix  1 December, 2012 at 06:32

    Setuju, kalau semua disiplin mentaati peraturan pasti lebih baik, mulai dr diri sendiri

  2. Dewi Aichi  28 November, 2012 at 05:03

    Buruh buruh ohh..buruh….kalau soal demo buruh yang menuntut kenaikan upah, apalagi sekarang Jokowi cs bisa menaikkan UMR menjadi 2.2 juta,kalau aku ngga salah baca dan ngga salah ingat. Berapapun naik upah buruh, kalau semua kebutuhan juga naik, pasti demo buruh akan terus saja ada.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  26 November, 2012 at 21:39

    Om Itsmi maksud itu ‘Top Ten Americsn’ kumpulan lagu top AS
    Bukan Ten Commandements.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.