Tentara KNIL di Hindia Belanda dalam Goresan Kanvas

Joko Prayitno

 

Perwira Infanteri dari KNIL dalam pakaian baru, Februari 1896 di Hindia Belanda (Koleksi: www.kitlv.nl)

Ketika berlangsung Perang Diponegoro, pada tahun 1826-1827 pemerintah Hindia Belanda membentuk satu pasukan khusus. Setelah Perang Diponegoro usai, pada 4 Desember 1830 Gubernur Jenderal van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan “Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger” di mana ditetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk Hindia-Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur) dan pada tahun 1836, atas saran dari Raja Willem I, tentara ini mendapat predikat “Koninklijk“.

Namun dalam penggunaan sehari-hari, kata ini tidak pernah digunakan selama sekitar satu abad, dan baru tahun 1933, ketika Hendrik Colijn –yang juga pernah bertugas sebagai perwira di Oost-Indische Leger- menjadi Perdana Menteri, secara resmi tentara di India-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL.

Undang-Undang Belanda tidak mengizinkan para wajib militer untuk ditempatkan di wilayah jajahan, sehingga tentara di Hindia Belanda hanya terdiri dari prajurit bayaran atau sewaan. Kebanyakan mereka berasal dari Perancis, Jerman, Belgia dan Swiss. Tidak sedikit dari mereka yang adalah desertir dari pasukan-pasukannya untuk menghindari hukuman. Namun juga tentara Belanda yang melanggar peraturan di Belanda diberikan pilihan, menjalani hukuman penjara atau bertugas di Hindia Belanda. Mereka mendapat gaji bulanan yang besar. Tahun 1870 misalnya, seorang serdadu menerima f 300,-, atau setara dengan penghasilan seorang buruh selama satu tahun.

Dari catatan tahun 1830, terlihat perbandingan jumlah perwira, bintara serta prajurit antara bangsa Eropa dan pribumi dalam dinas ketentaraan Belanda. Di tingkat perwira, jumlah pribumi hanya sekitar 5% dari seluruh perwira; sedangkan di tingkat bintara dan prajurit, jumlah orang pribumi lebih banyak daripada jumlah bintara dan prajurit orang Eropa, yaitu sekitar 60%. Kekuatan tentara Belanda tahun 1830, setelah selesai Perang Diponegoro adalah 603 perwira bangsa Eropa, 37 perwira pribumi, 5.699 bintara dan prajurit bangsa Eropa, 7.206 bintara dan prajurit pribumi (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Koninklijk_Nederlands-Indische_Leger)

Di bawah ini lukisan atau gambaran tentara KNIL yang bertugas di Hindia Belanda:

1.

Tentara KNIL sebagai Ajudan Gubernur Jendral di Buitenzorg 1896 (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

2.

Pasukan Artileri KNIL 1896 (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

3.

Pasukan Kavaleri KNIL 1896 (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

4.

Medical Corps of KNIL pada tahun 1897 di Hindia Belanda (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

5.

Korps Zeni yang merupakan bagian dari Pasukan KNIL 1896 (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

6.

Infanteri dari KNIL pada tahun 1896 di sebuah parade di Hindia Belanda (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

7.

Anggota polisi militer KNIL, sekitar 1896-1897, mungkin di Aceh (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

8.

Siswa-Siswa Tentara KNIL di Gombong tahun 1898 (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

9.

Pejabat Staf Umum, intendant dan intendan dari KNIL pada tahun 1896 (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2012/11/24/tentara-knil-di-hindia-belanda-dalam-goresan-kanvas/

 

13 Comments to "Tentara KNIL di Hindia Belanda dalam Goresan Kanvas"

  1. Leo S  27 November, 2012 at 18:49

    Seragamnya terlalu perlente meneer …

  2. Handoko Widagdo  26 November, 2012 at 22:41

    Wah ini melengkapi informasi yang terdapat dalam bukunya Mas Iwan Santosa tentang Legiun Mangkunegaran.

  3. Kornelya  26 November, 2012 at 21:23

    Warna hijau seragam KNIL dan sepatu boot putih tetap dipertahankan sebagai warna seragam tentara kita sekarang. Jejak penjajah yg masih dipertahankan, apakah ini sebagai bukti inferior TNI terhadap pihak asing?.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.