Pertanyaan di Pagi Hari

Fikrul Akbar Alamsyah

 

“…diterno mulih kok balik meneh..”

Mbah Taman

 

Sebenarnya itu hanya kutipan kalimat pendek biasa yang dikatakan oleh rekan kerja saya, beliau berumur kurang lebih 50 tahun. Saat itu kami sedang berbicara setelah briefing pagi di kantor seperti biasanya, briefing rutin yang disertai beberapa gerakan senam.

Kutipan di atas dikatakan tanpa tujuan apa-apa dan tanpa tendensi apa-apa, hanya untuk bercanda.

Kutipan tersebut merujuk pada situasi kemarin malam setelah saya pulang kerja, saat itu saya bingung untuk mencari tumpangan menuju tempat pemberhentian bus menuju terminal terdekat.

Akhir kata setelah saya bingung-bingung munculah bapak tersebut, ia menawarkan tumpangan. Dan ternyata setelah di antar, esok harinya saya kembali lagi. Begitulah yang saya pahami dari ucapan bapak itu.

***

Pada hakikatnya bukanlah bapak pemberi tumpanganlah yang ingin saya bahas, akan tetapi kutipan dari bapak itu yang ingin saya bahas.

Beberapa detik setelah saya mendengar kutipan perkataan bapak itu, maka seakan muncul berbagai perdebatan, muncul berbagai pertanyaan, muncul sedikit perenungan singkat yang ditujukan pada diri saya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu deras, yang saking derasnya saya lupa apa-apa saja yang muncul saat itu. Tapi secara garis besar ada beberapa pertanyaan utama yang saya ingat saat itu. Yaitu mengenai apakah sebenarnya apa tujuan/apa yang saya cari setiap hari dengan datang secara berulang-ulang ke tempat ini (tempat kerja), apakah dengan datang tiap hari ke tempat ini masa depan saya terjamin? Apakah yang saya lakukan ini adalah aktualisasi setelah saya menempuh pendidikan selama bertahun-tahun, apakah pendidikan yang begitu banyak dijejalkan selama bertahun-tahun itu hanya akan digunakan beberapa persen saja di tempat kerja? Apakah saya benar-benar butuh untuk hadir di tempat ini, dan berbagai apakah yang lainnya.

Saya berusaha menjawab apakah-apakah yang terlalu banyak itu dengan menyederhanakan pertanyaan itu menjadi, apakah yang ingin saya penuhi dengan bekerja itu? Sejenak saya munculkan berbagai gambaran dalam pikiran saya, antara lain saya ingin menabung untuk melakukan suatu kegiatan tertentu yang membutuhkan biaya cukup besar dalam hal ini yang saya maksud adalah kuliah lagi. Ya saya cukup yakin dengan jawaban itu, sampai akhirnya saya munculkan lagi pertanyaan, andaikan sudah terkumpul uang itu dan saya bisa mewujudkan keinginan saya apa selanjutnya. Saya merasa bahwa setelah itu pasti ada satu hal yang akan / yang ingin saya penuhi lagi, saya bertanya pada diri “apakah ada suatu pemenuhan kebutuhan yang akan menjawab semua keinginan diri ini?”.

Sejenak merenung, saya ingat tiga kebutuhan emosi yang paling mendasar dari buku psikologi yang beberapa saat lalu sempat saya baca. Menurut buku itu tiga kebutuhan emosi yang paling mendasar itu adalah :

1. Kebutuhan akan rasa aman

2. Kebutuhan akan rasa berharga / dihargai

3. Kebutuhan akan rasa kontrol diri (mampu mengontrol diri)

Apakah tiga hal di atas memang benar-benar merupakan jawaban akan tujuan dari bekerja? Apakah dengan memenuhi tiga kebutuhan mendasar itu maka keinginan “duniawi” saya akan berhenti / akan terjawab sudah?

Saya ingin melanjutkan perenungan pagi itu dengan berbagai pertanyaan dan jawaban yang lainnya akan tetapi lembaran MWR (maintenance work report) sudah datang dari pihak produksi, yang secara tidak langsung lembaran kertas itu berkata “hei bangun, ini  lah duniamu, jangan banyak merenung dan segera tuntaskan kewajibanmu, aku tak ingin memberi gaji buta seorang karyawan hanya untuk merenung”

Dan selesailah perenungan singkat itu….

 

8 Februari 2011

 

11 Comments to "Pertanyaan di Pagi Hari"

  1. Mawar09  28 November, 2012 at 02:54

    setuju dengan komentar No. 4 dan 5

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.