Menyerah Tidak Selalu Kalah

Emilia Reiliasanti

 

Menyerah identik dengan kalah… itu yang selalu diucapkan oleh sebagian banyak orang… termasuk bapak dan ibuku…

Masih ingat dulu bapakku selalu mengatakan “Ayo… kerjakan PR matematika mu, dicoba dulu… jangan menyerah sebelum berperang, kalau kamu menyerah itu berarti kamu  kalah, nduk…”, selalu bapak berkata demikian setiap kali keningku berkerut dan menyirat aroma kesal, saat berpapasan dengan mata pelajaran yang satu ini. sejak dulu aku memang tidak suka berhitung yang rumit rumit, apalagi pada bab cosinus, tangen dan sinus yang saat itu ada di depan mataku, bikin perutku melilit seketika.

Terbawa hingga aku dewasa, bahwa menyerah itu berarti kalah… dan aku tidak suka dengan kekalahan…

Bukan arti kalah dengan adik atau kakak..ini lebih dari kata “kalah” yang sebenar-benarnya,,

Bukan juga berarti aku selalu ingin menang sendiri…te tapi memang aku benci dengan kekalahan terlebih saat aku harus kalah tanpa perlawanan…

Ya….. harus  kalah… kata keharusan inilah  yang membuat aku sangat membenci kekalahan.

Suatu hari di musim panas beberapa tahun lalu, saat aku baru saja mendapatkan pekerjaan baru yang sangat aku harapkan di kota Surabaya,  Dengan sukacita dan semangat menggebu-gebu kukabarkan pada bapak ibuku dan kuutarakan juga bahwa aku akan segera hijrah ke kota itu…

Tetapi,  tanggapan mereka ternyata  tak sesuai harapanku..

Mereka berat berpisah denganku ..dan mereka berharap…lebih tepatnya memaksaku untuk menolak pekerjaan itu dan mencari yang lain di Jakarta.

Sungguh bertolak belakang dengan apa yang selalu dinasehatkan  mereka dulu. Bapak pernah bilang

”Jika ada kesempatan datang, gunakan sebaik baiknya nduk… seperti apapun beratnya,…. Coba dulu… maka kamu akan tahu apakah kamu mampu atau tidak… jangan menyerah sebelum kalah… Kesempatan tidak akan datang dua kali.“

Mungkin bapak lupa dengan nasihat-nya, nyatanya saat itu aku tidak diijinkan untuk pergi.

Padahal aku sangat menginginkannya dan, lagi lagi  aku harus “menyerah kalah” sebelum genderang perang berbunyi.

Sungguh, perlakuan yang sangat aku tidak sukai….  Jika boleh dikatakan sangat aku benci…

 

Dan, ini berkelanjutan hingga aku berumahtangga…

Menyerah kalah” adalah kata wajib dalam biduk rumah tanggaku… sungguh, jika hati bicara, aku sangat tidak ingin… aku adalah tipikal pejuang dan pekerja keras… aku tidak mudah menyerah dan mengalah..

Tapi kondisi membuatku harus banyak mengalah…. Aku menyadari  penuh bahwa rumah tangga adalah bagaimana menyatukan dua misi yang berbeda, mengkomplitkan isi dari dua kepala yang berbeda…

Pada awalnya sulit memang….., menyerah sering membuat aku merasa  jatuh pamor….

Mengalah sering membuatku capek hati, dan kerap membuatku merasa menjadi orang teraniaya sedunia…. (kalau yang  terakhir ini lebay emang… hehehe…).

Pernah suatu kali saat baru beberapa hari pasca melahirkan anak pertama, dan masih dalam masa cuti…

Suamiku memintaku  untuk seterusnya stay saja di rumah menjadi ibu rumah tangga mengurus anak dan rumah tangga.  Jawabku saat itu terang saja berontak….ngotot ingin terus bekerja dan berkarya…selagi aku mampu, apa salahnya sih… Meski aku berstatus karyawan di luar rumah, tapi aku bisa kok menjadi ibu dan istri yang baik buat keluarga.. protesku lebih lanjut.  Sampai pada akhirnya aku sempat berhenti bekerja dan tinggal di rumah untuk beberapa bulan lamanya, karena  desakan untuk berhenti dari suami terus menerorku.

Meski ikhlas tidak ikhlas, akhirnya aku menyerah juga…dan menjadi yang ia mau.  Setiap hari aku melakukan rutinitas  yang sama dari mengantarkan anakku ke sekolah hingga menjuemputnya, membuatkan masakan dan beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya. Pekerjaan-pekerjaan itu tidak sulit buatku karena aku sudah terbiasa sejak kecil.

Hanya bertahan 1 tahun 4 bulan, aku tidak bisa diam di rumah tanpa berkarya… memang, ada si kecil yang menemaniku.. dan membuat hari hariku cepat berlalu… Tetapi aku butuh kepuasan untuk berkarya. Dengan bekerja aku banyak bertemu berbagai macam watak, berbagai macam warna… dan aku butuh itu semua untuk pengembangan pribadiku.

 

Tidak hanya sampai di situ pembahasan mengenai menyerah atau lebih tepatnya mengalah?

Belasan bahkan puluhan masalah rumah tangga yang muncul,  selalu ku akhiri dengan  mengalah ……

Apalah jadinya jika tidak segera kulepas kekalahanku… mungkin akan berujung pertengkaran…

Lebih extrim mungkin akan berakhir dengan perpisahan… Wow… mengerikan bukan …

Tapi ini memang nyata… saat berumahtanggalah ego kita dimainkan… harus banyak banyak bersabar..

Dan … jangan  sungkan untuk menyerah dan mengalah karena menyerah bukan berarti kalah.

Setuju…???? Setuju saja daripada benjol… :p

 

Cimanggis, 17 November 2012

 

21 Comments to "Menyerah Tidak Selalu Kalah"

  1. Silvia Utama(SU Bumi)  1 December, 2012 at 13:26

    Setuju bgt sm Hennie

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.