A Simple Life – Kisahnya Kisah Kita

Mega Vristian Sambodo

 

(Catatan setelah melihat Film produksi Hong Kong, yang memenangkan banyak penghargaan Film)

Sudah lama sekali saya tidak menonton film di Bioskop. Suatu malam tiba-tiba anak asuh saya si Siu Mui, memberi saya uang, dua lembar ratusan. Dia menyuruh saya menonton film produksi Hong Kong, yang berjudul, Simple Life. Saya mlongo! Bingung! Aneh juga lha wong tidak pernah selama ini dia menyuruh saya menonton film, apalagi judul film itu sangat asing bagi saya. Maklum saya memang tidak pernah mengikuti perkembangan perfileman Hong Kong. Kalau menonton film Hong Kong, itu pun yang ditampilkan di TV, Hong Kong.

“Maaf aku gak bisa menemanimu menonton dan sebenarnya aku gak ingin kita menangis bersama” ucap Sui Mui, sambil pura-pura menangis lalu dia tertawa lepas, meninggalkan saya yang makin kebingungan dibuatnya.

Walah! Daripada penasaran akhirnya saya putuskan untuk menonton film tsb. Saya memilih menonton yang pagi saja. Sebab biasanya tiketnya jatuhnya separuh harga, antara HK$40-45. jadi saya bisa mengajak beberapa teman dan sisa uang masih bisa buat makan siang bersama.

“Kok anak majikanmu, baik sekali ngasih uang buat nonton film”, komentar dua teman yang saya ajak menonton.

Ya Alhamdulillah, anak majikan yang saya asuh mulai bayi hingga remaja, baik sekali. Kami seperti sepasang ibu dan anak. Saling menghormati, dekat, perhatian dan menyayangi.

Sebelum membeli tiket film, saat melihat poster film “Simple Life” saya dan teman-teman, serempak bilang” O… filmnya Andy Lau”. Di poster memang terpampang Andy Lau dengan seorang perempuan yang usianya kurang lebih sebaya dengan saya, saya mengenal aktingnya di sinetron TV Hong Kong, tapi tak pernah mengingat siapa namanya. Aktingnya memang bagus, saya akui.

Ternyata hari itu, meski sudah ditayangkan beberapa hari, pemirsa film, banyak sekali! Kursi untuk pemutaran film pagi pun, penuh! Tentu kami bertiga makin ingin mengetahui, film apa sih ini? Herannya lagi kebanyakan penontonnya usia manula. Yeah terpaksa kami, rela duduk di bangku beberapa langkah dekat layar film.

Film berjudul Simple Life atau disebut juga Peach Sister, jika kita bahasa Indonesiakan boleh juga diartikan ‘Hidup Sederhana’. Disutradarai oleh Ann Hui, dengan bintangnya Deanie Ip dan Andy Lau.Cerita film ini terinspirasi dari kisah nyata sang sutradara (Roger Lee) dengan pembantunya. Film ini adalah jenis drama keluarga, berkisah tentang hubungan mengharukan, antara anak majikan (Roger Lee – Andy Lau) dan pembantunya/ Kung Yan/ babu (Ah Tao – Deanie Ip). Dengan mengambil lokasi shooting di Mei Foo Shun Chuen, Hong Kong.

Adapun kisah singkatnya begini, Chung Chun Tao atau Ah Tao, adalah seorang perempuan yang lahir di Taishan, China. Ketika dia masih kecil, ayahnya meninggal pada masa pendudukan Jepang di China, lalu ibunya menitipkan Ah Tao, pada keluara Leung, yang akan pindah menetap di Hong Kong, tepatnya dijadikan pembantu. Ah Tao, menjadi pembantu selama 4 generasi dalam kurun waktu 60 tahun. Pengabdian selama 4 generasi, keluarga majikannya ada beberapa yang meninggal dan yang lainnya ber-emigrasi. Ketika keluarga majikannya (Leung), semuanya pindah ke Amerika, kecuali Roger, anak asuhnya yang diasuh mulai bayi hingga besar. Dia memilih bekerja sebagai sutradara film dan memutuskan tetap menetap di Hong Kong. Ah Tao-pun, tetap setia hidup mengabdi pada anak asuhnya tersebut. Usia semakin tua Ah Tao, terkena penyakit stroke. Karena kesibukan kerja, Ah Tao oleh Roger, selama sakit dititipkan ke panti jompo. Sudah tentu Roger, selalu menjenguk Ah Tao. Kedekatan antara anak asuh dan pembantunya ini sempat, membuat ibu kandungnya sendiri cemburu. Untungnya kecemburuan itu tidak berlangsung lama, bahkan ibu Roger memberikan rumahnya di Hong Kong. Rumah yang dulu pernah ditempati dengan Ah Tao dihadiahkannya sebagai kenangan saat-saat tinggal bersama dengan keluara Lueng, sang majikan. Kebahagiaan masa tua di rumah penuh kenangan tidak bisa lama dinikmati oleh Ah Tao. Stroke itu akhirnya merenggut nyawa Ah Tao.

Sutradara film , sangat cerdas memoles film bertema sedih disentil dengan kritik sosial yang ditampilkan dengan lucu. Artis pemeran utama sebagai pembantu Ah Tao, ini berakting luarbiasa dan Andy Lau memerankan tokoh Roger, begitu cemerlang sangat natural sampai-sampai seperti melihat bahwa dia bermain tidak lebih dari versi terselubung dirinya sendiri.

Begitupun figuran-figurannya membuat film yang penggarapannya sangat sederhana menjadi hidup dan menyentuh emosi penonton. Pantas penonton membludak sebab fim ini, telah berhasil meraih beberapa penghargaan yang membuat kebanggaan masyarakat Hong Kong. Salah satunya sebagai Film berbahasa asing terbaik di Academy Awards ke-84, dan memenangkan penghargaan Aktris terbaik di Venice International Film Festival ke-68.

***

Jadi tahu mengapa anak asuh saya Shui Mui, menyuruh saya menonton film tsb. Ini disebabkan karena saya di Hong Kong, berprofesi sama dengan Ah Tao, juga bekerja dengan kurun waktu yang lama walau masih kalah lama pengabdian Ah Tao, dengan keluarga majikannya. Ah Tao, sosok perempuan sederhana, pekerja tangguh yang cuma berpikiran ingin mengabdikan hidupnya pada keluarga majikan dan berusaha berbuat baik pada semua orang yang dikenalnya Sikap tulus baiknya, membuatnya disukai banyak orang, keluarga majikannya, sesama penghuni panti jompo dan juga tetangga majikan tempat dia bekerja.Keiklasan mengasuh anak majikan dengan sepenuh hati, bukan lantaran gaji saja, menghasilkan jalinan ketulusan kasih sayang selayaknya seorang ibu dengan anak kandungnya.

Ah Tao, memiliki kekuatan rasa kemanusiaan yang kita lihat terlalu jarang di kehidupan sekarang ini..Sedangkan Roger, terlahir di keluarga kaya, tapi karena andil didikan pembantunya yang penuh kasih sayang dia tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang berhati baik, selalu mengingat dan menghargai jasa pembantunya yang sudah membesarkannya. Sehingga dia ingin ganti merawat pembantunya ketika pembantunya sudah tua dan penyakitan.

Lalu bagaimana sikap para “Ah Tao”, yang bekerja di Hong Kong khususnya? Ah Tao, yang berasal dari berbagai negara (Indonesia, Filipina, Srilangka dll). Bisakah mengikuti jejak Ah Tao, yang diperankan oleh Deanie IP. Membuat jalinan kasih yang baik dengan anak asuhnya selayak ibu dan anak? Walau Ah Tao-Ah Tao di Hong Kong, saat ini tentunya lebih berpendidikan , berpikiran maju, cerdas dan pemberani. Terbukti, baru bekerja beberapa bulan, jika merasa sang majikan mengebiri haknya mereka sudah pada berani berontak bahkan memutuskan kontrak kerja. Meski banyak juga saking pemberaninya, mereka lupa intropeksi diri apa mereka sudah melaksanakan tugas tanggung jawab kerjanya dengan baik?

Menggenaskan sekali jika di pasar atau di taman-taman, hingga kini masih saja ada pengasuh yang memanggil anak asuhnya dengan sebutan hewan. Bahkan juga memanggil sang majikan dengan sebutan sebangsa makhuk gentayangan.Duh! lha kalau sudah begitu, bagaimana bisa menjalin hubungan baik dengan anak asuh dan majikan?.

Memang tak semua majikan bisa memanusiakan pembantunya. Apa salahnya jika mencoba mengalah, mencoba bersikap santun, hormat dan sabar juga mendoakan hal-hal yang baik untuk anak asuh dan orang tuanya. Tapi jika upaya tersebut gagal, majikan berhati batu, mulai main tangan bahkan semakin bersikap semaunya akhirnya ya angkat koper solusinya.

Tiba-tiba hp saya bergetar Shiu Mui, menelpon saya.

” Timaa… hou mu dhai a Simple Life? (gimana bagus enggak?)”

” To ce. Hou kamtung …a loik. Dhau sin ngok haaaaam ….(Makasih, mengharukan sekali nak. Tadi saya menangis)” balas saya dengan nada sedih. Eh dia malah tertawa.

Saya lihat dua teman saya saling diam, berjalan di sisi saya. Mungkin pikiran mereka masih hanyut dengan kisah Ah Tao, sambil membandingkan kisah hubungannya dengan anak asuh dan majikannya. (selesai).

 

23 Comments to "A Simple Life – Kisahnya Kisah Kita"

  1. Hamba nya  11 August, 2015 at 04:21

    Sinopsis nya bagus ka mega. Mmm seperti nya film ini bisa memberi pelajaran bagus buat manusia yg memang mahluk sosial. Makasih kak mega, tulisan nya nyaman di simak. Sinopsis nya membantu sy memahami karakter2 nya.

  2. Mega Vristian  1 December, 2012 at 09:11

    Mbak Henni Triana, usahan bisa nonton flimnya mbak. Makasih ya mbak dan salam kenal.

  3. Silvia U(SU Bumi)  30 November, 2012 at 06:35

    Ya mmg itu prinsip yg baik.

    Kedua belah pihak itu saling membutuhkan, sudah sewajarnya masing2 melaksanakan kewajibannya setulus hati.

    Kembali kasih. Terima kasih jg buat doa Mbak Mega.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.