Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (5)

Josh Chen – Global Citizen

 

Artikel sebelumnya:

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (4)

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (3)

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (2)

Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (1)

 

Pemakaman/Kremasi

Setelah sampai di lokasi pemakaman/kremasi, peti akan diturunkan dari mobil dan diletakkan di depan makam atau tempat kremasi. Meja sembahyangan kembali digelar atau kebaktian/misa dipersiapkan.

Rangkaian upacara di lokasi terakhir ini dimulai dengan bersembahyang kepada Tho Ti Kong (pinyin: tu di gong, 土 地 公) Sang Dewa Bumi untuk memohon agar menerima mendiang dimakamkan di ‘wilayah kekuasaannya’, yaitu di bumi. Berlaku juga untuk yang akan dilakukan kremasi. Makna ini sebenarnya sama dengan yang dipercaya oleh pemeluk agama manapun “bahwa dari tanah kembali ke tanah”.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

45 Comments to "Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa (5)"

  1. Lani  2 December, 2012 at 22:22

    32 AKI BUTO : yooooo………..aku mudenk, bukannya upacara tiap hari sampai 49 berturut-turut…….
    nek ngono meninggalnya papa (bener yo?) podo tahunnya sama Ken, cm bulannya yg berbeda?????? Ken bulan Juni……….

  2. J C  2 December, 2012 at 21:47

    Mbah Gand: walaaaaaaahhh krematorium rancanganmu kok cuanggih tenan… (mbayangke ini krematorium jaman Total Recall, wis nonton, Mbah?) Lho, automatic face detect atau face recognition kenapa kurang tepat diaplikasikan, Mbah?

  3. Gandalf the Grey  2 December, 2012 at 08:47

    ISK benar, untuk masa depan saya akan buatkan krematorium dengan teknologi super-high-power-super-rapid-burn-super-microwave dan dalam beberapa menit sisa abu / karbonnya sudah diproses kompresi jadi batu berlian…

    Untuk masa sekarang saya bisa buatkan dengan sistem remote-control, sistem self-timer, sistem tutul smartphone dan tablet baik android maupun iOS, sistem voice-command / voice-activated dll jadi yg mau mencet gak perlu rebutan di depan tombol kotak listrik dan menguatkan jari eh hati…
    (sistem automatic-face-detect rasanya kurang tepat diaplikasikan di sini… )

  4. Jl  1 December, 2012 at 15:16

    Lah sambungane kok baru metu sekarang,,,iso suwe meneh metune hehehehe

  5. J C  30 November, 2012 at 20:48

    mas Iwan: bukan dengan gas atau listrik lho. Seingatku ini adalah burner dengan bahan bakar solar/diesel itu. Kalau untuk sampah namanya incinerator, kalau untuk manusia namanya jadi krematorium, tapi prinsip kerjanya mirip…

    zume: terima kasih sudah mampir ya…

    mas Juwandi: swargaloka, akhirat, atau apapun namanya sudah tobat dengan Kang Anoew ini. Setelah di sana, malah bikin kisruh, malaikat, bidadari, dayang-dayang, mbok-emban, mbok jamu, semua diseruduk, diuber-uber, dioyak-oyak…hopo tumoooonnn…

    Kang Anoew: karepmu wis tumon juga tumonmu kok…

  6. anoew  30 November, 2012 at 19:57

    hopo tumon?

    apanya yang opo tumon? Segalanya tumon-tumon sajalah…

  7. juwandi ahmad  30 November, 2012 at 16:20

    Anoe: “Kalau aku mati, pengen juga sih dikremasi biar tidak merepotkan dan, abunya nanti bisa ‘melanglang buana’ lagi mencari yang bening-bening” Dan Mas Josc menjawab, “Reputasimu sebagai ahli yang menggelegak, menggelora ternyata tak lekang dipisahkan maut, bahkan sampai abu dilarung pun tetap kepingin yang bening-kempling-menik-menik… hopo tumon?” Ha ha ha ha……Ora nang donya ara nang akhirat, podo wae polae mas anoe

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 November, 2012 at 15:08

    Dulu tahun 1989 sewaktu ke Krematoriun Dadap Kamal, ada disediakan kremasi menggunakan kayu bakar. Biasanya untuk orang kaya karena biayanya mahal dipatok dari harga kayu dan tenaga yang dikeluarkan.

    Saat itu belum ada kremasi dengan listrik seperti dalam artikel ini. Hanya dengan gas. Dengan gas bisa agak lama, sekitar 5-6 jam. Sedangkan listrik bisa lebih cepat.

    Entah masa depan memakai apa yang akan lebih cepat dari listrik. Bisa gelombang elektromagnet berfrekuensi tinggi tyang cuma 15 menit jasad jadi abu.

  9. J C  30 November, 2012 at 14:49

    Lani: maksudnya bukan terus ada upacara sampai 49 hari, setelah kremasi/pemakaman, biasanya setelah itu ada 3 hari, 7 hari dan 49 hari…

    pak Djoko: betul, jaman dulu seperti foto terakhir yang hitam putih, itu waktu engkong dari pihak Papa meninggal, kremasi dengan kayu. Salam untuk keluarga besar Paisan di Mainz ya…

    Mawar: terima kasih sudah mampir yaaaa…

    Kornelya: rasanya ada sekeping hati yang ikut bersama mendiang…

    Hennie: iya, yang menekan tombol aku dan istri, mau tidak mau ya harus kuat, terima kasih sudah mampir ya…

    Sierli: 4 tahun berlalu tapi terkadang masih terasa sedihnya sesekali…

    Yuli Duryat: terima kasih ucapannya. Ini sudah berlalu 4 tahun. Foto-foto ini dari tahun 2008.

    Nur Mberok: huuuusss kok saudara…hahaha…gak lah, beliau adalah sahabat keluarga kami…

  10. Nur Mberok  30 November, 2012 at 12:32

    JC, wajahmu kok mirip dengan pendetanya….. masih saudara kah??? hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.