Bicara Tentang Fredy S

Anastasia Yuliantari

 

Bermula dari penayangan foto oleh Merna Say, tokoh ini muncul kembali ke permukaan ingatanku. Bukan benar-benar sosok Oom Fredynya, melainkan bagaimana karya beliau pernah ada dalam radius pandanganku. Mengapa hanya pada pandangan? Ya, sejujurnya aku hanya pernah sekali membaca novelnya, tetapi lebih banyak mendengar pembicaraan tentang karya-karyanya.

Siapa sebenarnya Fredy S? Wiwik, salah seorang teman pecinta novel Oom Fredy, langsung search di Google dan menemukan kepanjangan dari S sebagai Setyawan, selain itu tak ada informasi tambahan mengenai orang ini. Ada teman lain yang pernah melihat sedikit ulasan di koran, katanya beliau pada masa itu, masa remaja kami tentunya, telah cukup berumur. Tapi aku sendiri tak pernah membaca koran itu jadi sampai sekarang tak kenal sosoknya.

Hal paling mengagumkan tentang sosok beliau adalah karya yang tersebar seantero Nusantara. Hal ini terbukti dari tanggapan teman-teman ketika aku membuat status tentang beliau. Dari ujung Pulau Jawa sampai Pulau Flores mengenalnya, sejauh Manado sampai Mataram tahu novelnya, jadi bisa disimpulkan bahwa karyanya telah sampai ke berbagai belahan negeri ini.

Foto By Merna Say

Apa yang istimewa dari karya Oom Fredy selain jangkauan distribusinya? Jawaban pertama yang aku kemukakan pasti jumlahnya! Jaman aku masih SMP atau SMA dan setia mengunjungi kios peminjaman buku, salah satu rak tiap kios yang kulanggan selalu memajang satu deret panjang khusus karya-karyanya. Melihat tebal novelnya yang tak lebih dari satu senti (diasumsikan ketebalan itu tak sampai duaratus halaman) berarti karyanya pasti telah beratus buah. Gosh! Ide sebanyak itu dan dituliskan dalam ketikan (jaman itu belum ada computer) pasti membutuhkan dedikasi dan ketekunan luar biasa, sementara untuk mengetik paper sekolah beberapa lembar saja malasnya bukan main karena membutuhkan tipp-ex, tiupan berkali-kali, dan kertas karbon bila ingin punya duplikatnya. Selain hal teknis itu, pasti dibutuhkan ide yang mengalir, setting yang kaya, dan penokohan yang paten untuk menghasilkan cerita yang begitu digemari. Ah, ya jangan lupakan imaginasi romantisme tingkat tinggi mengingat para pembaca memburu hal itu dari novel-novel beliau.

Terus terang, hal paling dicari dalam karyanya adalah nuansa panas di dalamnya. Kami anak-anak baru gedhe yang pingin tahu dunia orang dewasa sering bertukar cerita, bahkan bertukar novel untuk sekedar tahu sebenarnya apa, sih dunia tersembunyi yang katanya asyik masyuk itu. Lalu saling cekikikanlah kami mendengar cerita-cerita orang yang pernah membacanya seraya mengernyit, “Hiiiiii….” Atau “Huuuuu….” Tapi selalu pingin tahu.

Sebulan lalu Merna menemukan karya Fredy S di kios dekat rumahnya, aku sungguh surprise melihatnya memotret novel itu. Membayangkan sebuah novel sampai dijual di kios sebuah kota kecil seperti Ruteng sungguh aneh mengingat daya baca di sini masih kurang. Lebih membuatku tersenyum ketika aku ingat novel-novel beliau juga dijual di salah-satu toko kelontong di pusat kota. Bukan di beberapa toko buku atau Toserba yang mempunyai bookstore, tapi sebuah toko kelontong!

Bila mengingat para pengarang jaman sekarang bisa memperoleh royalty dari karya-karyanya pasti Oom Fredy S bila benar-benar memperoleh royalty dari karya-karyanya, hidupnya sangat makmur. Betapa tidak, royalty dari karya yang popular di seluruh negeri dengan distribusi sampai pelosok pedesaan, dan dibaca banyak orang tentu bukan main-main. Apalagi salah satu karyanya menurut Suster Jeanne Tumuju, yang di masa remajanya juga pernah membaca novel Fredy S, pernah diangkat ke layar lebar. Berarti selain layak baca ternyata tulisannya juga laku dijual sebagai film. Kembali lagi bicara tentang media, bila Oom Fredy popular jaman sekarang pasti karyanya sudah ramai dijadikan sinetron atau FTV di beberapa stasiun TV swasta.

Rasanya kurang afdol bila aku menuliskannya tanpa pernah baca karyanya. Ya, pernah sekali aku membacanya, bukan karena pingin terkikik-kikik mengintip dunia kaum dewasa melainkan karena temanku mengatakan bahwa settingnya di Jember, kota tempat kami tinggal. “Mungkin yang ditulisnya kejadian betulan.” Ujar temanku dengan mata berbinar. “Kelihatannya mirip sama kejadian …,” Entah aku lupa apa, yang jelas perkataan temanku itu pasti hanya karangan untuk menarik minatku yang saat itu lebih suka membaca majalah tentang pernak-pernik dunia remaja atau sekalian novel serius macam tulisan Karl May.

Lalu aku jadi ikutan berkasak-kusuk karena setiap tempat yang menjadi setting novel itu benar-benar ada di Jember terperinci sampai detailnya. Wah, berarti Oom Fredy pasti sudah sampai ke Jember juga, nih. Apakah si Oom ini selain penulis juga pengembara, ya? Jangan-jangan ada salah satu novelnya yang menggunakan setting Ruteng juga, hanya para penggemar novelnya di sini tak pernah tahu.

Saat aku merasa tak punya daya menulis tapi sungguh ingin menulis seperti sekarang mendadak aku ingin menulis seproduktif dia. Menulis apa saja yang penting menjadi kisah yang disukai banyak orang, dan tak hanya sekali saja muncul. Dibandingkan sekali melahirkan adikarya namun setelah itu hilang begitu saja, konsistensi menghasilkan tulisan tentu penting.

Rasanya menulis untuk menyenangkan banyak orang lebih penting daripada menulis untuk kepuasan diri pribadi. Idealnya, sih memang disukai banyak orang dan memuaskan diri sendiri, tapi bila harus memilih kayaknya aku memilih yang pertama, karena menulis untuk diri sendiri bisa melalui buku harian bukan?

Di saat pusing merasakan tulisanku semakin tak memuaskan hati (untuk tak mengatakan buruk), kelihatannya harus mulai ditetapkan apa yang harus dilakukan. Menulis tak selalu menyenangkan, menjadi penulis barangkali juga demikian (karena aku belum menjadi penulis) asal jangan sampai ingin angkat kaki dari dunia dengan cara tragis mengikuti jejak Hemingway, Virginia Woolf, atau Kawabata. Hendaklah menjadi penulis yang berbahagia seperti Barbara Cartland yang berumur panjang, menjadi warganegara teladan, pelindung para pengembara, punya property luas, dan bangsawan pula. Aduh, koq jadi ngelantur, nih.

Kembali pada Oom Fredy S, walau tak tercatat sebagai sastrawan dalam dunia tulis-menulis Indonesia, kiranya karyanya tetap nyata dan menunjukkan bahwa sesungguhnya dia penulis popular di Nusantara.

 

“A woman must have money and a room of her own if she is to write fiction.” (Virginia Woolf)

 

(Saat pingin menulis yang romantis abis tapi tak tahu harus mulai dari mana)

 

45 Comments to "Bicara Tentang Fredy S"

  1. Fwery  3 October, 2019 at 16:41

    Terima kasih atas penghargaanya

  2. ben  22 April, 2013 at 09:16

    judulnya apa novelnya mbak? penasaran juga, soalnya sy jg lg tinggal di jember. tq

  3. Yuli Duryat  13 December, 2012 at 21:56

    ‘Saat pingin menulis yang romantis abis tapi tak tahu harus mulai dari mana’

    Menulis dari pengalaman Mbak Anastasia aja dulu tuh heheehe

  4. Anastasia Yuliantari  4 December, 2012 at 22:08

    Anoew…..pantas lulus dari padepokan penulisan dengan pujian. Hehehe.

  5. anoew  3 December, 2012 at 12:16

    Menulis adalah Ungkapan EMOSI… Membaca Ungkapan NURANI…

    …dan menikmati keindahan jasmani dari lawan jenis adalah makanan rohani.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.