Dagelan Politik Tutup Tahun 2012

Josh Chen – Global Citizen

 

Dinamika politik Indonesia memasuki babak baru. Setelah selesai hiruk pikuk pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang tercatat paling meriah dan paling heboh sepanjang sejarah Jakarta, disusul gebrakan-gebrakan dari gubernur dan wakil gubernur terpilih – Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama, dan ada lagi gebrakan-gebrakan Menteri BUMN – Dahlan Iskan, dimulailah kehebohan awal untuk bursa RI-1 2014.

Beberapa minggu belakangan bermunculan berita-berita tentang bursa pencalonan presiden 2014. Ada yang berupa survey keterpilihan (electability) dari lembaga-lembaga survey, ada pula yang berupa analisa-analisa politis. Namun yang paling seru adalah berita pencalonan yang sangat menggelikan dan tidak tahu diri, pencalonan Rhoma Irama menjadi presiden 2014. Tidak ketinggalan program andalan Metro TV, Mata Najwa secara khusus membahas ini. Dalam acara Mata Najwa tanggal 28 November 2012, Najwa Shihab mengundang Rhoma Irama dalam acara yang berjudul “Mendadak Capres”.

Najwa Shihab membuka dengan salam dan kalimat pengantar yang sudah menohok:

“Muka lama yang ngotot bertahan, hingga tokoh dadakan latah”.

Kemudian Najwa Shihab menutup pembukaan dengan:

“Pencalonan Rhoma Irama sebagai presiden, apakah ini satu keseriusan ataukah hanya dagelan politik akhir tahun”.

Mengingat reputasi host Najwa Shihab yang cukup “mengerikan” jika mengupas seseorang, tanda-tanda awal sudah muncul bahwa Rhoma Irama bisa-bisa akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah. Najwa Shihab sudah mengirimkan sinyal yang jelas ke Rhoma Irama dan pemirsa:

“Be serious or you’ll be a clown”

Najwa menanyakan apa yang menjadi motivasi Rhoma Irama berani maju mencalonkan diri menjadi presiden.

Rhoma menjawab bahwa keputusannya bersedia maju sebagai capres 2014 itu karena ada faktor desakan dari sejumlah politisi dan umat, serta ada faktor keterpanggilan dari dalam dirinya untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia, yang saat ini semakin jauh dari tujuan reformasi.

Najwa menanyakan lagi apakah yakin dengan kualifikasi Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 dan dijawab Rhoma Irama bahwa dia sudah biasa memimpin rakyat dan mengarahkan bangsa ini melalui musik dan tabliq-tabliq akbar selama rentang 40 tahun. Rhoma Irama mengatakan bahwa ada pemimpin formal yaitu jabatan-jabatan seperti presiden, gubernur, walikota, dan ada pemimpin informal seperti dirinya. Menurut Rhoma Irama, dia sudah terbiasa mengarahkan umat dan setiap pertunjukan musiknya dipenuhi ribuan massa.

Semakin lama Rhoma Irama berbicara, mulai dari menit ke 4 dan seterusnya semakin terlihat kacau susunan kata-kata dan bahasanya. Pertanyaan-pertanyaan Najwa selanjutnya semakin mengejar motivasi sesungguhnya Rhoma Irama yang terdengar mbulet dalam menjawab pertanyaan.

Di menit 4:45 Rhoma Irama mengatakan keterpanggilan dia adalah karena “situasi politik akhir-akhir ini di ibukota”. Setelah berputar kesana kemari dicecar pertanyaan, Rhoma Irama menjawab bahwa desakan tersebut bermula dari kondisi politik yang baru saja terjadi di Jakarta, yang ekstrem,  telah membuat dia dianggap sebagai  ikon Islam di Indonesia oleh tokoh-tokoh umat Islam itu. Mereka bilang,  “Oleh karena itu anda harus maju untuk membawa aspirasi umat Islam sebagai mayoritas bangsa ini!”

Najwa segera menyambar: “Apa yang dimaksud dengan situasi politik di Jakarta ekstrem dan tidak biasa itu?”. Kembali Rhoma Irama terlihat plegak-pleguk (tergagap-gagap) berputar kesana kemari lagi.

Setelah didesak lebih jauh akhirnya Rhoma Irama mengatakan situasi ekstrem tersebut adalah pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI baru-baru ini, bahwa adanya satu etnis yang tidak biasa menjadi birokrat, sekarang jadi birokrat.

Najwa menyambar lagi: “Anda mengacu kepada Basuki Tjahaja Purnama yang saat ini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta?”

“Ya, saya rasa, memang seperti itu,” jawab Rhoma Irama dengan cukup berat (karena mungkin sadar sudah masuk ke dalam jerat tali gantungan). Mungkin Rhoma Irama sebelumnya berpikir diundang ke acara Mata Najwa akan memuluskan langkahnya menjadi calon presiden dan membanggakan berbicara dalam salah satu acara elite negeri ini. Sepertinya Rhoma Irama tidak sadar atau terlalu jumawa hanya dengan bekal “mengarahkan umat dengan musik dan tabliq akbar selama 40 tahun” belumlah cukup menjadi sparring partner Najwa Shihab.

“Situasi ekstrem yang bagaimana?”

“Saat ini telah terjadi kegelisahan dan kecemasan umat Islam terhadap terpilihnya Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur Jakarta. Kebetulan saya berada di dalam pusaran ini. Dengan diadilinya saya di Panwaslu, umat telah menilai bahwa ini telah mengadili agama Islam, mengadili Al-Quran.”

“Jadi, anda merasa sebagai representasi umat Islam? Bahkan anda merasa representasi dari orang yang diadili karena kasus yang kemarin mengucapkan kampanye SARA?”

“Barangkali bukan itu ucapannya. Bukan saya yang merasakan. Beliau-beliau yang mengatakan hal itu.”

“Dan, anda menyetujuinya?”

“Kenapa?”

“Anda sependapat dengan apa yang diucapkan oleh beliau-beliau yang tadi anda sebut?”

“Hmmm, saya rasa, saya tidak dalam kapasitas itu.”

Tanpa ampun Najwa terus mencecar, “Dengan anda mengutarakan hal ini berarti anda menyetujui perkataan mereka?”

Dengan sangat berat terlihat dari gesture’nya, Rhoma Irama akhinya berkata, “Oke, saya setuju!”

Karena sudah kepalang tanggung, Rhoma Irama menambahkan, “Ada suatu kelompok etnis, yang secara ekonomi sudah sangat mendominasi perekonomian Indonesia. Dan, kali ini secara politik mereka juga mulai agresif. Nah, inilah yang mencemaskan anak bangsa, khususnya umat Islam. Karena melihat situasi politik sudah mulai tidak proporsional. Dan, ini juga mengacu pada demokrasi ini terlalu dini untuk mencapai demokrasi liberal seperti di Amerika.”

Di segmen 2, tanpa ampun Najwa menunjukkan kepada permirsa bagaimana kualitas seorang Rhoma Irama yang sesungguhnya. Pertanyaan demi pertanyaan umum misalnya tentang subsidi BBM dan APBN, Rhoma Irama tambah plegak-pleguk.

“Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?”

“Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak.”

“Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”

“Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”

Berikutnya:

“Salah satu tugas presiden adalah mengawal anggaran negara. Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?”

Rhoma Irama menjawab dengan jawaban seorang murid SMU dalam ulangan umum dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.

“Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”

“Eeehhm…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”

“Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”

“Begini, begini, kita khan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”

Di segmen penutup, Najwa kembali memungkaskan “pencitraan” Rhoma Irama. Najwa menanyakan sebagai seorang calon presiden apakah siap dikuliti,  siap ditelanjangi, siap dibicarakan masalah-masalah pribadinya, bagaimana track record’nya diukur,  dan sebagainya.

“Apakah anda siap untuk itu?”

“Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Ada pro dan kontra.”

“Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”

“Silakan”

“Abang berpoligami?”

Rhoma Irama terdiam beberapa saat.

“Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”

“Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”

Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”

“Berarti anda memang berpoligami …”

“Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!”. Rhoma Irama menyergah dengan nada sedikit naik sambil menuding-nuding ke Najwa.

“Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami”, pungkas Najwa sambil tersenyum.

Menonton “Mendadak Capres” dalam Mata Najwa mengingatkan saya akan “pembantaian” Sarah Palin oleh Katie Couric di tahun 2008. Sedikit menyegarkan ingatan, mengutip beberapa “pembantaian” Sarah Palin dari Wikipedia:

The initial 40-minute session aired September 24 and 25, 2008. Palin and Couric discussed Rick Davis and the economy. Palin defended her comments on how Alaska’s proximity to Russia enhanced her foreign policy experience:

COURIC: You’ve cited Alaska’s proximity to Russia as part of your foreign-policy experience. What did you mean by that?

 

PALIN: That Alaska has a very narrow maritime border between a foreign country, Russia, and on our other side, the land — boundary that we have with — Canada. It, it’s funny that a comment like that was — kind of made to cari — I don’t know. You know. Reporters —

 

COURIC: Mocked?PALIN: Yeah, mocked, I guess that’s the word, yeah.

 

COURIC: Explain to me why that enhances your foreign policy credentials.

 

PALIN: Well, it certainly does because our— our next door neighbors are foreign countries. They’re in the state that I am the executive of. And there in Russia—

 

COURIC: Have you ever been involved with any negotiations, for example, with the Russians?

 

PALIN: We have trade missions back and forth. We— we do— it’s very important when you consider even national security issues with Russia as Putin rears his head and comes into the air space of the United States of America, where— where do they go? It’s Alaska. It’s just right over the border. It is— from Alaska that we send those out to make sure that an eye is being kept on this very powerful nation, Russia, because they are right there. They are right next to— to our state.

 

In another segment aired on September 30, Couric asked Palin about her taste in periodicals:

COURIC: And when it comes to establishing your world view, I was curious, what newspapers and magazines did you regularly read before you were tapped for this — to stay informed and to understand the world?

 

PALIN: I’ve read most of them again with a great appreciation for the press, for the media, coming f—

 

COURIC: But like which ones specifically? I’m curious that you—PALIN: Um, all of ’em, any of ’em that, um, have, have been in front of me over all these years. Um, I have a va—

 

COURIC: Can you name a few?

 

PALIN: I have a vast variety of sources where we get our news too. Alaska isn’t a foreign country, where, it’s kind of suggested and it seems like, ‘Wow, how could you keep in touch with what the rest of Washington, D.C. may be thinking and doing when you live up there in Alaska?’ Believe me, Alaska is like a microcosm of America.

 

Sepertinya Najwa Shihab terinspirasi oleh Katie Couric dalam menampilkan sosok Rhoma Irama yang sebenarnya. Untuk seorang Rhoma Irama sudah merasa cukup dengan modal “mengarahkan umat dengan musik dan tabliq akbar” untuk maju sebagai calon presiden dan dengan percaya diri mengatasnamakan agama.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

427 Comments to "Dagelan Politik Tutup Tahun 2012"

  1. Nonik  18 March, 2014 at 17:30

    lhah kok aku ketinggalan baru baca artikel ini sekarang ya *tepok jidat*.

    Om J.C., aku waktu liat Rhoma Irama yg dikuliti di Mata Najwa bingung mau nangis apa ketawa Om hahaha….

    @Mas Iwan Kamah: Itu dialognya Bush en Condoleeza Rice beneran terjadi atau guyonan aja ya?

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 January, 2013 at 23:33

    Kasus narkoba makin marak, menjadi tanda bagi kita bahwa hanya Rhoma Irama yang pantas jadi Presien RI.
    “Mirasantikaaaaaaa!”

  3. Lani  24 December, 2012 at 14:44

    ISK : lagi mocok….makane sement leren/berhenti dulu…….cari duit buat kampanye dulu kkkk

  4. J C  24 December, 2012 at 14:33

    Hhhhmmmm…sudah berhenti rupanya kampanye si Rhoma Irama…

  5. Lani  17 December, 2012 at 23:46

    ISK : aku wes mbatin………kok konyol bangeti ngono………ini pasti dikau lagi ngalong?

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 December, 2012 at 23:19

    Hahahaha… Yuk Lani, itu cuma karangan orang yang nyontek dari dialog George Bush dengan menterinya yang pinter, Condoleeza Rice.

    Condaleezza: sir I have a report here about the leader of china
    Bush: great WHO is it
    Condaleezza: HU is the new leader of china
    Bush: that’s what I want 2 know
    Condaleezza: that’s what I am telling u
    Bush: that’s what I am asking you WHO is the new leader of china
    Condaleezza: yes George I mean the fellow HU
    Bush: the guy in china
    Condaleezza: HU
    Bush: the leader in china
    Condaleezza: HU
    Bush: the china man
    Condaleezza: HU is leading china
    Bush: now why r u asking me that
    Condaleezza: I am telling you HU is leading china
    Bush: now even I am asking u WHO is leading china
    Condaleezza: that’s the man’s name
    Bush: that’s WHO’S name
    Condaleezza: yes
    Bush: will u or will u not tell me the name of the new leader of china
    Condaleezza: yes sir (interrupted)
    Bush: Yasser Arafat is in china? I thought he was in Middle East
    Condaleezza: that’s correct but ……………….
    Bush: then WHO’s in china
    Condaleezza: yes sir, I ……………………
    Bush: Yasser is in china
    Condaleezza: no sir
    Bush: look Condaleezza I need 2 know the name of the leader. Get me the secretary general of UN on the phone
    Condaleezza: Kofi (pronounce it as coffee. Kofi is the Secretary General of UN)
    Bush: no thanks
    Condaleezza: you want Kofi
    Bush: no
    Condaleezza: u don want Kofi
    Bush: no but now that u mentioned it I would like a glass of milk n then get me the Secretary General on UN
    Condaleezza: yes sir
    Bush: not Yasser the guy at UN
    Condaleezza: Kofi
    Bush: milk please and will you please make that call
    Condaleezza: call WHO sir ?????
    Bush: who is the guy at UN ??
    Condaleezza: HU is the guy in china
    Bush: U STAY OUT OF CHINA
    Condaleezza: yes sir
    Bush: AND STAY OUT OF MIDDLEEAST just make that call n get the guy at the UN
    Condaleezza: Kofi
    Bush: alright with cream and 2 teaspoons of sugar
    THE END

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *