Dagelan Politik Tutup Tahun 2012

Josh Chen – Global Citizen

 

Dinamika politik Indonesia memasuki babak baru. Setelah selesai hiruk pikuk pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang tercatat paling meriah dan paling heboh sepanjang sejarah Jakarta, disusul gebrakan-gebrakan dari gubernur dan wakil gubernur terpilih – Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama, dan ada lagi gebrakan-gebrakan Menteri BUMN – Dahlan Iskan, dimulailah kehebohan awal untuk bursa RI-1 2014.

Beberapa minggu belakangan bermunculan berita-berita tentang bursa pencalonan presiden 2014. Ada yang berupa survey keterpilihan (electability) dari lembaga-lembaga survey, ada pula yang berupa analisa-analisa politis. Namun yang paling seru adalah berita pencalonan yang sangat menggelikan dan tidak tahu diri, pencalonan Rhoma Irama menjadi presiden 2014. Tidak ketinggalan program andalan Metro TV, Mata Najwa secara khusus membahas ini. Dalam acara Mata Najwa tanggal 28 November 2012, Najwa Shihab mengundang Rhoma Irama dalam acara yang berjudul “Mendadak Capres”.

Najwa Shihab membuka dengan salam dan kalimat pengantar yang sudah menohok:

“Muka lama yang ngotot bertahan, hingga tokoh dadakan latah”.

Kemudian Najwa Shihab menutup pembukaan dengan:

“Pencalonan Rhoma Irama sebagai presiden, apakah ini satu keseriusan ataukah hanya dagelan politik akhir tahun”.

Mengingat reputasi host Najwa Shihab yang cukup “mengerikan” jika mengupas seseorang, tanda-tanda awal sudah muncul bahwa Rhoma Irama bisa-bisa akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah. Najwa Shihab sudah mengirimkan sinyal yang jelas ke Rhoma Irama dan pemirsa:

“Be serious or you’ll be a clown”

Najwa menanyakan apa yang menjadi motivasi Rhoma Irama berani maju mencalonkan diri menjadi presiden.

Rhoma menjawab bahwa keputusannya bersedia maju sebagai capres 2014 itu karena ada faktor desakan dari sejumlah politisi dan umat, serta ada faktor keterpanggilan dari dalam dirinya untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia, yang saat ini semakin jauh dari tujuan reformasi.

Najwa menanyakan lagi apakah yakin dengan kualifikasi Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 dan dijawab Rhoma Irama bahwa dia sudah biasa memimpin rakyat dan mengarahkan bangsa ini melalui musik dan tabliq-tabliq akbar selama rentang 40 tahun. Rhoma Irama mengatakan bahwa ada pemimpin formal yaitu jabatan-jabatan seperti presiden, gubernur, walikota, dan ada pemimpin informal seperti dirinya. Menurut Rhoma Irama, dia sudah terbiasa mengarahkan umat dan setiap pertunjukan musiknya dipenuhi ribuan massa.

Semakin lama Rhoma Irama berbicara, mulai dari menit ke 4 dan seterusnya semakin terlihat kacau susunan kata-kata dan bahasanya. Pertanyaan-pertanyaan Najwa selanjutnya semakin mengejar motivasi sesungguhnya Rhoma Irama yang terdengar mbulet dalam menjawab pertanyaan.

Di menit 4:45 Rhoma Irama mengatakan keterpanggilan dia adalah karena “situasi politik akhir-akhir ini di ibukota”. Setelah berputar kesana kemari dicecar pertanyaan, Rhoma Irama menjawab bahwa desakan tersebut bermula dari kondisi politik yang baru saja terjadi di Jakarta, yang ekstrem,  telah membuat dia dianggap sebagai  ikon Islam di Indonesia oleh tokoh-tokoh umat Islam itu. Mereka bilang,  “Oleh karena itu anda harus maju untuk membawa aspirasi umat Islam sebagai mayoritas bangsa ini!”

Najwa segera menyambar: “Apa yang dimaksud dengan situasi politik di Jakarta ekstrem dan tidak biasa itu?”. Kembali Rhoma Irama terlihat plegak-pleguk (tergagap-gagap) berputar kesana kemari lagi.

Setelah didesak lebih jauh akhirnya Rhoma Irama mengatakan situasi ekstrem tersebut adalah pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI baru-baru ini, bahwa adanya satu etnis yang tidak biasa menjadi birokrat, sekarang jadi birokrat.

Najwa menyambar lagi: “Anda mengacu kepada Basuki Tjahaja Purnama yang saat ini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta?”

“Ya, saya rasa, memang seperti itu,” jawab Rhoma Irama dengan cukup berat (karena mungkin sadar sudah masuk ke dalam jerat tali gantungan). Mungkin Rhoma Irama sebelumnya berpikir diundang ke acara Mata Najwa akan memuluskan langkahnya menjadi calon presiden dan membanggakan berbicara dalam salah satu acara elite negeri ini. Sepertinya Rhoma Irama tidak sadar atau terlalu jumawa hanya dengan bekal “mengarahkan umat dengan musik dan tabliq akbar selama 40 tahun” belumlah cukup menjadi sparring partner Najwa Shihab.

“Situasi ekstrem yang bagaimana?”

“Saat ini telah terjadi kegelisahan dan kecemasan umat Islam terhadap terpilihnya Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur Jakarta. Kebetulan saya berada di dalam pusaran ini. Dengan diadilinya saya di Panwaslu, umat telah menilai bahwa ini telah mengadili agama Islam, mengadili Al-Quran.”

“Jadi, anda merasa sebagai representasi umat Islam? Bahkan anda merasa representasi dari orang yang diadili karena kasus yang kemarin mengucapkan kampanye SARA?”

“Barangkali bukan itu ucapannya. Bukan saya yang merasakan. Beliau-beliau yang mengatakan hal itu.”

“Dan, anda menyetujuinya?”

“Kenapa?”

“Anda sependapat dengan apa yang diucapkan oleh beliau-beliau yang tadi anda sebut?”

“Hmmm, saya rasa, saya tidak dalam kapasitas itu.”

Tanpa ampun Najwa terus mencecar, “Dengan anda mengutarakan hal ini berarti anda menyetujui perkataan mereka?”

Dengan sangat berat terlihat dari gesture’nya, Rhoma Irama akhinya berkata, “Oke, saya setuju!”

Karena sudah kepalang tanggung, Rhoma Irama menambahkan, “Ada suatu kelompok etnis, yang secara ekonomi sudah sangat mendominasi perekonomian Indonesia. Dan, kali ini secara politik mereka juga mulai agresif. Nah, inilah yang mencemaskan anak bangsa, khususnya umat Islam. Karena melihat situasi politik sudah mulai tidak proporsional. Dan, ini juga mengacu pada demokrasi ini terlalu dini untuk mencapai demokrasi liberal seperti di Amerika.”

Di segmen 2, tanpa ampun Najwa menunjukkan kepada permirsa bagaimana kualitas seorang Rhoma Irama yang sesungguhnya. Pertanyaan demi pertanyaan umum misalnya tentang subsidi BBM dan APBN, Rhoma Irama tambah plegak-pleguk.

“Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?”

“Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak.”

“Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”

“Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”

Berikutnya:

“Salah satu tugas presiden adalah mengawal anggaran negara. Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?”

Rhoma Irama menjawab dengan jawaban seorang murid SMU dalam ulangan umum dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.

“Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”

“Eeehhm…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”

“Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”

“Begini, begini, kita khan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”

Di segmen penutup, Najwa kembali memungkaskan “pencitraan” Rhoma Irama. Najwa menanyakan sebagai seorang calon presiden apakah siap dikuliti,  siap ditelanjangi, siap dibicarakan masalah-masalah pribadinya, bagaimana track record’nya diukur,  dan sebagainya.

“Apakah anda siap untuk itu?”

“Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Ada pro dan kontra.”

“Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”

“Silakan”

“Abang berpoligami?”

Rhoma Irama terdiam beberapa saat.

“Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”

“Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”

Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”

“Berarti anda memang berpoligami …”

“Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!”. Rhoma Irama menyergah dengan nada sedikit naik sambil menuding-nuding ke Najwa.

“Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami”, pungkas Najwa sambil tersenyum.

Menonton “Mendadak Capres” dalam Mata Najwa mengingatkan saya akan “pembantaian” Sarah Palin oleh Katie Couric di tahun 2008. Sedikit menyegarkan ingatan, mengutip beberapa “pembantaian” Sarah Palin dari Wikipedia:

The initial 40-minute session aired September 24 and 25, 2008. Palin and Couric discussed Rick Davis and the economy. Palin defended her comments on how Alaska’s proximity to Russia enhanced her foreign policy experience:

COURIC: You’ve cited Alaska’s proximity to Russia as part of your foreign-policy experience. What did you mean by that?

 

PALIN: That Alaska has a very narrow maritime border between a foreign country, Russia, and on our other side, the land — boundary that we have with — Canada. It, it’s funny that a comment like that was — kind of made to cari — I don’t know. You know. Reporters —

 

COURIC: Mocked?PALIN: Yeah, mocked, I guess that’s the word, yeah.

 

COURIC: Explain to me why that enhances your foreign policy credentials.

 

PALIN: Well, it certainly does because our— our next door neighbors are foreign countries. They’re in the state that I am the executive of. And there in Russia—

 

COURIC: Have you ever been involved with any negotiations, for example, with the Russians?

 

PALIN: We have trade missions back and forth. We— we do— it’s very important when you consider even national security issues with Russia as Putin rears his head and comes into the air space of the United States of America, where— where do they go? It’s Alaska. It’s just right over the border. It is— from Alaska that we send those out to make sure that an eye is being kept on this very powerful nation, Russia, because they are right there. They are right next to— to our state.

 

In another segment aired on September 30, Couric asked Palin about her taste in periodicals:

COURIC: And when it comes to establishing your world view, I was curious, what newspapers and magazines did you regularly read before you were tapped for this — to stay informed and to understand the world?

 

PALIN: I’ve read most of them again with a great appreciation for the press, for the media, coming f—

 

COURIC: But like which ones specifically? I’m curious that you—PALIN: Um, all of ’em, any of ’em that, um, have, have been in front of me over all these years. Um, I have a va—

 

COURIC: Can you name a few?

 

PALIN: I have a vast variety of sources where we get our news too. Alaska isn’t a foreign country, where, it’s kind of suggested and it seems like, ‘Wow, how could you keep in touch with what the rest of Washington, D.C. may be thinking and doing when you live up there in Alaska?’ Believe me, Alaska is like a microcosm of America.

 

Sepertinya Najwa Shihab terinspirasi oleh Katie Couric dalam menampilkan sosok Rhoma Irama yang sebenarnya. Untuk seorang Rhoma Irama sudah merasa cukup dengan modal “mengarahkan umat dengan musik dan tabliq akbar” untuk maju sebagai calon presiden dan dengan percaya diri mengatasnamakan agama.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

427 Comments to "Dagelan Politik Tutup Tahun 2012"

  1. Lani  17 December, 2012 at 23:09

    414 AKI BUTO : apakah yg kau tulis/copy bener????? klu mmg bener……..mmg gebleg tenan si onta satu ini………ampyuuun dah

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 December, 2012 at 23:07

    Nuchan, Rhoma Irama tak ada apa-apanya dibanding seorang SBY yg dipilih mayoritas rakyat Indonesia 60%. Jadi kalau ada 100 orang di Baltyra, secara statistik 60 orang vote for SBY.

    Rhoma Irama sudah jelas “bodoh: urusan pemerintan.
    SBY? Pintar, ternyata bodoh.

    Rhoma Irama sudah jelas, tak populer pandangannya dan org menjauhinya
    SBY? Pura-pura populer ternyata keblnger…

    Pokoke banyak dech soal dagelan SBY dan dua orang ini.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 December, 2012 at 23:04

    Dari pada SBY, masih lebih baik Tony Blank, lho…

  4. Nuchan  17 December, 2012 at 22:25

    Hahahaha mas ISK ganassssss! Ngakak ngakak jumpalitan bacanya:

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 December, 2012 at 22:14

    Saya malah lebih ketawa kalau mengingat seorang SBY bisa dipilih oleh banyak orang. Dua kali lagi. Lebih lelucon dari pencalonan Rhoma Irama…..

    Huahahaaahahahah hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha
    hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha hahahahaha …

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 December, 2012 at 22:11

    Hahahaha..masih berlanjut nih…

  7. J C  17 December, 2012 at 21:01

    Lumayan nambahi komentar di sini. Barusan aku dapat beredar di mana-mana. Si Linda barusan posting di Group Baltyra, sekarang aku posting di sini. Bener-bener GUBBBRRRAAAKKK kalau benar…hahaha…

    =====================================================

    Tentang Subsidi BBM:

    Najwa: “Sebagai seorang presiden kelak, anda mesti mengetahui berbagai persoalan bangsa ini, dan mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai dunia internasional.”

    “Salah satu persoalan yang kerap melanda bangsa ini adalah soal subsidi BBM, yang kian lama kian membengkak. Tahun ini APBN tersedot untuk subsidi BBM itu dipastikan mencapai angka Rp. 222,8 triliun. Bagaimana pendapat anda mengenai subsidi BBM ini?”

    Rhoma: “Wah, saya baru tahu kalau hanya untuk penggunaan BBM pemerintah menganggarkan subsidi anggaran sampai sedemikian besarnya. Rp. 222,8 triliun itu pasti sangat besar, ya? Ini suatu pemborosan dan kebodohan yang luar biasa dari pemerintah saat ini. Pemerintah tidak mendidik masyarakat akan berperilaku hemat, malah mengikuti pola konsumtif masyarakat kita dengan mengadakan subsidi anggaran sebesar itu hanya untuk BBM. Padahal, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka yang menggunakan BBM itu adalah dari kalangan mampu.”

    Najwa: “Jadi, menurut anda, subsidi BBM itu harus dihapus, atau bagaimana?”

    Rhoma: “Tentu saja harus dihapus. Untuk apa mengsubsidikan masyarakat mampu hanya untuk penggunaan BBM seperti itu.”

    Najwa: “Bagaimana mekanisme penghapusan subsidi BBM tersebut? Tentu kalau dilakukan secara tiba-tiba akan berpotensi memicu gejolak sosial dan politik yang tinggi?”

    Rhoma: “Secara spesifik, saya sendiri tidak memahami soal penggunaan BBM. Karena saya sendiri tidak pernah menggunakan BBM. Namun demikian saya yakin bahwa penghapusan BBM itu harus dilakukan pemerintah. Karena selain menghemat anggaran, juga mendidik masyarakat untuk tidak konsumtif. Yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan negara kafir saja!”

    “Tentang gejolak sosial-politik,saya tidak yakin itu bakal terjadi. Masa hanya menghapus subsidi BBM bisa menimbulkan gejolak sosial dan politik? Mbak Najwa ini ada-ada saja, kalau bertanya. Bilamana perlu pemerintah melarang saja penggunaan BBM itu!”

    Najwa: “Saya tidak akan bertanya secara spesifik soal subsidi BBM ini. Tetapi saya terkejut mendengar anda tidak pernah menggunakan BBM?! Lebih terkejut lagi, anda mengatakan bilamana perlu pemerintah melarang penggunanan BBM. Apakah itu mungkin? Terus, apa kaitannya dengan penggunaan BBM hanya menguntungkan negara kafir? Negara mana yang anda maksudkan? … Rasanya, ada yang tidak beres, nih?”

    Rhoma: “Ya, memang ada yang tidak beres. Pemerintah sekarang ini yang tidak beres. Kalau saya jadi presiden saya akan membereskan yang tidak beres ini. Masa hanya untuk masyarakat menggunakan BBM harus keluar anggaran subsidi sampai dua ratusan triliun rupiah itu? Mampu beli barangnya, tetapi ketika digunakan biayanya harus disubsidi? Benar-benar tidak beres!

    Hentikan subsidi BBM! Hentikan masyarakat yang terbiasa menggunakan BBM! Itu sangat mungkin.

    Betul, saya sendiri tidak pernah menggunakan BBM. Kalau mau mengirim pesan, saya biasa mengirimnya melalui SMS, atau telepon langsung. Ngapaian harus khusus beli Blackberry lagi untuk menggunakan BBM?! Itu kan ujung-ujungnya menguntungkan negara kafir, asal BlackBerry itu, Kanada!”

    Najwa (berpaling ke kamerawan): “Matikan rekamannya!”

    Tentang Dunia Internasional

    Najwa: “Sebagai seorang presiden kelak, tentu anda akan berhubungan dengan dunia internasional. Dengan para pimpinan dari berbagai negara di dunia ini. Juga dengan investor-investor swasta asing raksasa.”

    “Tentu anda tahu siapa itu Ban Ki-moon? Apa pendapat anda tentang Ban Ki-moon?”

    Rhoma: “Mmmm … Dari namanya kelihatannya orang Korea, ya? O ya, pasti yang empunya lagu dan tarian yang sedang mendunia saat ini, ya… itu …mmmm …. apa itu namanya? Gang …, Gangnam Style?”

    Najwa: “Maaf, Bang. Gangnam Style itu pencipta lagunya dan pembawa tariannya adalah PSY, nama aslinya Park Jae Sang, bukan Ban Ki-moon.”

    Rhoma: “Oh, kalau begitu, saya tidak tahu, siapa itu Ban Ki-moon. … Seorang presiden, kan bukan superman yang harus tahu semua semua orang?”

    Najwa: “Anda tahu tentang Xi Jinping?”

    Rhoma: “Pasti kerabatnya Ahok, ya?!”

    Najwa (tepuk jidat, lupa lagi rekaman TV): “Waduh, bukan Bang!”

    Rhoma: “Saya belum pernah mendengar nama itu. Maka itu, bukan kapasitas saya untuk menjawabnya. Tapi, kita harus hati-hati dengan etnis mereka! Mereka sudah mengdominasi ekonomi kita, sekarang mau masuk lagi ke dunia politik, birokrat. Jangan-jangan Xi Jinping ini sebentar lagi akan mengikuti jejak Ahok. Hati-hati! Anak bangsa, khususnya umat Islam akan semakin resah dan cemas! … ” (Najwa segera memotongnya)

    Najwa: “David Cameron?”

    Rhoma: “Siapa itu?”

    Najwa: “Steve Jobs?”

    Rhoma: “Tidak kenal.”

    Najwa: “Bill Gates?”

    Rhoma: “Baru pertamakali ini mendengarnya.”

    Najwa: “Anda begitu yakin untuk maju sebagai capres 2014, tetapi nama-nama itu semua anda tidak tahu?!”

    Rhoma: “Sekarang saya balik bertanya kepada anda: Anda tahu siapa itu Habib Syaiful Ali ?”

    Najwa: “Tidak tahu.”

    Rhoma: “Ibrahim Nazaruddin?”

    Najwa: “Belum pernah dengar.”

    Rhoma: “Mulawarman Bakri?”

    Najwa: “Siapa itu?”

    Rhoma: “Kadir Abdulrachman?”

    Najwa: “Tidak kenal.”

    Rhoma: “Muhammad Abubakar?”

    Najwa: “Baru pertamakali ini mendengarnya.”

    Rhoma: “Nah, jadi sama saja, kan? Anda punya teman-teman, saya tidak kenal. Demikian juga, saya punya teman-teman, dan anda tidak kenal!”

    Najwa (sambil berdiri, berkata kepada kamerawan): “Stop merekam! Semua rekaman ini tidak kita pakai. Kita bikin rekaman baru dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih umum. …. “

    =====================================================

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 December, 2012 at 08:34

    Komemtar Nuchan aku suka. Udh dibilangin sih sm Bang Haji, taoi teuteuuuuuup gak mau dgr. Tetep maju jd capred. Padahal Raja Dangdut lbh populer dan tdk tergantikan.

    Presiden RI banyak. Tp Rajs Dangdut?

  9. Nuchan  17 December, 2012 at 08:22

    Hadoh mas Iwan, cukup sudah kita melakukan kesalahan terhadap yg saat ini…

    Jangan ditambah dengan bang haji yg sudah bau tanah lah….Lagian sudah ketahuan beliau hanya ahli di dunia perdangdutan dan ahli soal perempuan saja kog….

    Bukan menghalangi beliau menjadi capres 2014…tapi lebih baik waktu dan uang yg akan dipakai kampanye oleh beliau digunakan untuk memperbaiki nasib orang miskin di Indonesia…Itu jauh lebih terhormat….

    Sebaiknya beliau belajar dengan Mother Theresa…untuk jadi legend tak perlu harus jadi presiden…tapi banyak hal yg baik bisa dilakukan….

    Joget juga ya:

  10. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 December, 2012 at 22:51

    Temans, tadi sore sempat dapat pesan dari Bang Haji, bahwa nanti sekitar akhir tahun akan ada sesuatu yang penting untuk disampaikan kepada masyarakat. Saya kurang paham apa maksudnya. Yng jekas bukan album baru.

    Rhoma Irama sudah menjadi legenda musik dangdut di Indonesia. Tak perlu album-albuman seperti presiden Anda-Anda semua.

    Intinya, mari kita dewasa menerima pencalonan Bang Haji Rhoma Irama sebagai capres. Soal suka atau tidak bisa diwujudkan pada kotak suata nanti.

    Berilah kesempatan kepada Rhoma Irama. Msak kalian bisa memberikan kesempatan dua kali! Sekali saya tekankan, dua kali! Kepada oranh bodoh untuk memimpin bangsa ini. Apa hasilnya?

    Rhoma memang belum terbukti karena memang belum pernah. Masak Anda mau menikah akan dihalangin dengan alasan, “kami bisa apa? Udah pernah jadi ibu atau bapak belum?”

    Nah, pertanyaan Anda-Anda itu seperti itu untuk Bang Haji Rhoma Irama.

    Memangnya kita ditanya, “sudah pernah jadi bapak atau melahirkan belum?” waktj mau menikah…

    Joget!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *