Terobosan Baru Kepulangan TKI Secara Mandiri

Hanna Yohana

 

Sebuah terobosan baru telah dibuat. Dengan keluarnya Permenaker No.16/2012 yang mulai diberlakukan tanggal 26 Desember 2012. Kadatangan TKI dari luar negeri yang melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta ( Soetta ), Tangerang di bolehkah pulang langsung ke tujuan masing-masing tanpa perlu transit di Balai pendataan Kepulangan Tenaga Kerja Indonesia ( BP TKI ) yang selama ini di fasilitasi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (  BNP2TKI ) ungkap Lisna Yoeliani Poelongan, ( Deputi BNP2TKI ) dalam dialog dengan BMI di Leader’s Dance, Sheungwan, Minggu (11/11).

Hal ini sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ( Permenakertrans ) No.16/2012 yang dikeluarkan pada 26 September 2012 tentang tata cara Kepulangan TKI dari negara penempatan secara mandiri ke daerah asal. ” Permenakertrans No.16/2012 sebagai upaya meningkatkan kwalitas pelayanan kepulangan TKI yang lebih mandiri sekaligus praktis “. Tutur Lisna.

Menurut Lisna, para TKI setiba di Bandara Soekarno – Hatta hanya akan di proses pendataan adminitrasi oleh petugas BNP2TKI, meliputi identitas diri juga PJTKI yang memberangkatkan ke luar negeri. Selanjutnya TKI dapat mengurus sendiri sampai ke kampung halaman, atau dengan dijemput keluarga. Dan hanya TKI bermasalah sakit atau meninggal saja yang dipulangkan melalui terminal 4 khusus TKI.

Namun, masih ada pihak-pihak tertentu yang menolak pemberlakuan permen tersebut karena dinilai sangat membahayakan keselamatan para TKI, yakni mulai dari bandara hingga rumah masing-masing.  Aturan tersebut dikeluarkan dengan tujuan ” supaya TKI tidak didiskriminasi  dan dapat dilayani sama baiknya, agar merasa tenang, cepat dan aman pulang ke Indonesia “. Imbuh Lisna.

 

Tulisan ini pernah dimuat di tabloid Apakabar Hong Kong edisi 18, 25 November – 7 Desember 2012

 

13 Comments to "Terobosan Baru Kepulangan TKI Secara Mandiri"

  1. Kornelya  4 December, 2012 at 06:18

    JIka mau praktis, data base TKI bisa masukan ke file imigrasi , ketika mereka keluar / masuk RI petugas imigrasi tinggal memberi code tertentu , setiap minggu/bulannya rekapitulasi data ini bisa diforward / share ke instansi yg membutuhkan. Dari situ bisa kelihatan arusnya. Benar kata Ahok, sudah jaman komputer & online kok praktiknya masih pakai manual.

  2. Hanna  3 December, 2012 at 23:26

    Ari : sungguh, suatu pengalaman yang sangat menyedihkan sekaligus akan selamanya jadi kenangan. Perlakuan buruk yang boleh juga dibilang tidak manusiawi pada anak anak negeri penyumbang devisa negara. Dan mirisnya tidak hanya satu dua orang yang juga mengalami perlakuan seperti ini.

  3. ah  3 December, 2012 at 22:52

    april 2009 saya pulang dari malaysia dg 61 jahitan yang masih basah bekas operasi kanker dari malaysia
    karena saya bekerja sekaligus kuliah di malaysia, saya ditahan di bandara oleh petugas tki. saya lawan, perut saya disodok hingga jahitan terbuka, lalu tubuh saya dilempar ke bus untuk dibawa ke bandara tki. 5 jam kemudian saya dibebaskan bersama 3 tki (dari timur tengah) yang menderita luka sekujur tubuhnya karena lari, melompat dari rumah majikannya

    karena saya punya kawan2 semasa mahasiswa yg jadi ‘orang berpangkat’, mereka memperlakukan saya dg baik. tapi ke-3 tki itu diperlakukan mirip ‘binatang’. bptki memaksa ke-3 tki untuk menelpon keluarganya dan membawanya pulang, dan tidak bertanggungjawab memulangkan mereka sampai ke kampung halaman karena tak punya uang. sedang saya yg sejak awal bilang ada kawan menunggu, malah dikeplaki, akhirnya bisa pulang dg 3-4 kawan tadi. tentu saja kami harus di-‘visum pura2 di rs polri

    oya, di terminal tki itu, beli kartu perdana xl yg harusnya 5 ribu jadi 25 ribu. beli pulsa 20 ribu dijual 50 ribu. belum lagi ongkos macam2. tki memang sapi perah yg memperkaya penguasa.

    saya ingat, waktu itu dubes malaysia seorang petinggi polri, kalau tak salah, rusdihardjo, yang kemudian dipenjara karena kasus korupsi. di masa itu banyaaaak sekali kasus tki di malaysia bermasalah n tak ditangani hingga tuntas.

    salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.