Peran Tokoh Masyarakat dalam Pendidikan

Nur Hadi

 

Pendahuluan

Ki Hadjar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia), telah lama memperkenalkan apa yang disebut dengan Tri Pusat Pendidikan (rumah tangga, sekolah, dan masyarakat). Pembagian ini inklusif di dalamnya tentang tanggung jawab masyarakat tak terkecuali tokoh masyarakat (Tomas). Dengan demikian peningkatan peran Tomas di dalam pendidikan tidak bisa dipisahkan dalam upaya memberdayakan pendidikan. Terlebih di era globalisasi sekarang ini, yang menuntut semua komponen (unsur) masyarakat tanggap terhadap tuntutan yang ada seperti: Pertama, mengedepankan ilmu pengetahuan sebagai andalan manusia untuk memecahkan problema kehidupan sehingga mampu melahirkan masyarakat belajar (learning society) atau masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Kedua, kemampuan untuk mengembangkan kerja sama (net work) di antara sesama (Tomas, pengurus, orang tua, komite, pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik).

Lantas yang menjadi persoalan sekarang adalah, sejauhmana peran Tomas dalam pendidikan. Artinya, bagaimana Tomas mampu membuat “hitam, putih, merah, dan abu-abu”nya serta bagaimana mampu menawarkan solusi handal terhadap permasalahan-permasalahan yang hadir di lembaga pendidikan dan mengemasnya demi kemajuan pendidikan (madrasah)?

 

Hubungan Tomas terhadap Pendidikan (Madrasah)

            Hubungan antara Tomas (masyarakat) dan pendidikan (madrasah) pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan kepribadian peserta didik di sekolah. Sebab, antara Tomas dan madrasah tidak dapat dipisahkan. Tomas dan madrasah merupakan 2 (dua) komunitas yang saling melengkapi, bahkan ikut memberikan warna terhadap perumusan model pembelajaran tertentu.

Menurut Soekanto (2003:14), Rohmadi (1992:13) sebagaimana dikutip Sagala (2010:233) bahwa masyarakat terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu publik internal dan publik eksternal. Publik internal adalah masyarakat atau warga yang menjadi bagian dari unit usaha, badan, madrasah atau instansi itu sendiri, sedangkan publik eksternal adalah orang luar atau publik umum (masyarakat, warga) usaha, badan, madrasah tersebut berada. Sehingga, keberadaan Tomas sangatlah penting bagi eksistensi pendidikan. Mengapa? Karena pada prinsipnya pendidikan (madrasah) merupakan tanggung jawab bersama segenap komponen masyarakat tanpa membedakan antara satu dengan lainnya, terlebih madrasah (swasta) yang embrionya berasal dari keinginan masyarakat.

Hubungan antara Tomas dan madrasah semakin dirasa pentingnya pada masyarakat yang telah menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Dan, jika hubungan Tomas dengan madrasah berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab maka madrasah akan menjadi baik..

Dari hubungan yang harmonis antara Tomas dan madrasah, maka akan mampu membentuk: (1) saling pengertian antara madrasah, orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja; (2) saling membantu antara Tomas dan madrasah karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing; dan terjalin kerja sama antara berbagai pihak yang ada di dalam masyarakat dengan madrasah dan merasa ikut bertanggung jawab atas kesuksesan madrasah (Mulyasa, 2011:51).

 

Peran Tomas terhadap Pendidikan (Madrasah) 

Secara spesifik peran Tomas terhadap pendidikan adalah: (1) mengatur hubungan madrasah dengan orang tua peserta didik; (2) memelihara dan mengembangkan hubungan lembaga pendidikan dengan lembaga-lembaga pemerintah, swasta, dan organisasi sosial; (3) memberikan pengertian kepada masyarakat tentang fungsi madrasah melalui bermacam-macam teknik komunikasi (rapat orang tua peserta didik, majalah, surat kabar, radio, televisi, open house, penerbitan buletin, kunjungan ke madrasah, kunjungan ke rumah orang tua peserta didik, dan laporan bulanan) (Sutikno, 2012: 95).  Artinya, bahwa Tomas dan masyarakat dalam arti luas juga harus mendukung madrasah dalam pengelolaan non akademik.

Dan jika “digambarkan” maka Tomas, madrasah dan “piranti-piranti” lainnya terjadi kerja sama dan adanya feed back dalam rangka mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas, seperti di bawah ini:

Jika hal tersebut dapat dilakukan dengan baik oleh Tomas dan komponen lain yang terkait, maka madrasah akan mampu menjadi madrasah yang efektif dan inovatif, sebagaimana yang diungkapkan Sudarwan dalam bukunya Visi Baru Manajemen Sekolah (2007:61-62) dengan ciri-ciri :

(1) mempunyai standar kerja yang tinggi dan jelas mengenai untuk apa setiap peserta didik harus mengetahui dan dapat mengerjakan sesuatu;

(2) mendorong aktivitas, pemahaman multibudaya, kesataraan gender, dan mengembangkan secara tepat pembelajaran menurut standar yang dimiliki peserta didik;

(3) peserta didik mampu mengambil peran tanggung jawab dalam belajar dan perilaku;

(4) menentukan feed back yang bermakna untuk peserta didik, keluarga, staf, dan lingkungan tentang pembelajaran;

(5) menggunakan metode pembelajaran yang berakar pada penelitian pendidikan dan suara praktik profesional;

(6) mengorganisasikan madrasah dan kelas untuk mengkreasikan lingkungan yang bersifat memberi dukungan bagi kegiatan pembelajaran;

(7) pembuatan keputusan secara demokratis dan akuntabilitas untuk kesuksesan peserta didik dan kepuasan pengguna;

(8) menciptakan rasa aman, sifat saling menghargai, dan mengakomodasikan lingkungan secara efektif;

(9) mempunyai harapan yang tinggi kepada semua staf untuk menumbuhkan profesional dan meningkatkan keterampilan praktisnya;

(10) secara aktif melibatkan keluarga di dalam membantu peserta didik untuk mencapai sukses; dan

(11) bekerja sama atau ber-partner dengan masyarakat dan pihak-pihak lain untuk mendukung peserta didik dan keluarganya.

 

Penutup

            Keberadaan Tomas dalam mempertahankan eksistensi dan mewujudkan kemajuan madrasah sangatlah penting dan mempunyai peran yang strategis, bahkan bisa dikatakan sebagai “pemegang kunci kesuksesan “ madrasah. Hal ini berangkat dari asumsi (terkait dengan embrio pendirian madrasah) yang nota bene sebagai kepedulian dan ejawantah Tomas kepada generasi yang berilmu, berakhlak, dan berbudi pekerti luhur dan membentuk masyarakat yang bermartabat.

Semoga tulisan yang singkat ini mampu menumbuhkan ghirah (semangat) kita dalam memberikan perhatian kepada madrasah yang ada di lingkungan kita dan semoga harapan kita  dapat tercapai []          

 

Reference

Daulay, Putra, Haidar, 2012, Pendidikan Islam dalam Mencerdaskan Bangsa. Jakarta: Rineka Cipta.

Danim, Sudarwan, 2007, Visi Baru Manajemen Sekolah: dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik, Jakarta: Bumi Aksara.

Sagala, Syaiful, 2010, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan: Pembuka Ruang Kreativitas, Inovasi dan Pemberdayaan Potensi Sekolah dalam Sistem Otonomi Sekolah, Bandung: Alfabeta.

Sutikno, Sobry, 2012, Manajemen Pendidikan: Langkah Praktis Mewujudkan Lembaga Pendidikan yang Unggul (Tinjauan Umum dan Islami), Lombok, Holistica.

Mulyasa, E., 2011, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Note Redaksi:

Nur Hadi, selamat datang dan selamat bergabung di Baltyra. Make yourself at home dan ditunggu artikel-artikel lainnya ya. Terima kasih pak Hand yang sudah memperkenalkan Nur Hadi ke Baltyra…

 

18 Comments to "Peran Tokoh Masyarakat dalam Pendidikan"

  1. hadie itoe P'tunjuks  7 December, 2012 at 21:22

    iwan satyanegara, “mungkin belum merasakan”, seharusnya kita jangan hanya menunggu orang lain untuk mendapatkan itu semua, tetapi kita harus mau merapatkan diri ke dalamnya, supaya terjadi perubahan (atau paling tidak) inovasi pendidikan di negeri kita ini.

  2. hadie itoe P'tunjuks  7 December, 2012 at 21:17

    mas alvin, para sarjana IAIN tahun 90an…. q tak tahu mas, karena tahun itu aq baru masih duduk di SMP. sebanrnya tidak menjadi persoalan di mana ia berada, tapi yang terpenting adalah jika kita mempunyai perhatian dengan pendidikan (walaupun itu sedikit) maka tidak ada salah jika kita sumbangsihkan ke dunia pendidikan. Bukankah demikian?

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  5 December, 2012 at 22:26

    Bila melihat bagan yang dibuat, mengapa saya (juga kita semua) sulit merasakan hasil dari sistem bagan yang dibuat?

  4. Alvina VB  5 December, 2012 at 08:24

    Mas Nur Hadi,
    Selamat bergabung dan trima kasih buat tulisannya ini. Pertanyaan saya: dimanakah para sarjana IAIN yg belajar ttg pendidikan Madrasah di Islamic Studies di McGill awal thn/ pertengahan thn 90an?
    Mereka2 inilah yg semestinya memperbaiki pendidikan Madrasah di tanah air, sesuai dgn ilmu yg mereka telah timba di sini. Wasalam….

  5. Sumonggo  5 December, 2012 at 05:34

    Banyak sebenarnya tokoh masyarakat yang berkarya di lingkup lokal, dan merupakan “blessing in disguise” atau kalau menurut istilah Emha Ainun Najib adalah “min haitsu la yahtasib” tidak diekspos oleh media, dengan demikian malah tetap terjaga konsistensinya bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya.

  6. NOX  5 December, 2012 at 04:22

    @Penulis (Hadie)
    Wooooow…….bahasa ANDA !!! Masa…tentang madrasah memakai kata “***amin”…yang bener saja bozz… Tidak ada yang memandang sebelah mata (krn mata mereka yg satu juga melek). Yang ada adalah mereka MEMARJINALKAN. Mungkin karena fakta negatif yang pernah mereka temukan sehingga mereka mengambil kesimpulan (secara generalisasi) bahwa semua madrasah seperti itu. Harusnya mereka tidak boleh mengambil kesimpulan tanpa dasar kajian yang benar. Di sinilah pentingnya “KEWARASAN OTAK” sehingga dapat berpikir yang benar, melakukan sesuatu dengan benar, menyimpulkan sesuatu juga dengan benar. Menurut saya, madrasah sudah menemukan MASALAH. Truz…MAUNYA madrasah apa ? Mau seperti ini terus atau punya GEBRAKAN BARU sehingga “image” negatif yang ada di kepala orang2 itu berubah. SELANJUTNYA TERSERAH ANDA ….BRO…

  7. mastok  4 December, 2012 at 22:15

    @ HADIE…..

    Kalau di Rangkum semua nya Tulisan anda >> dengan Dasar ISI Berpilar 4E dan Tri Hita karena juga Hablum minnaloh – Hablum minnalalam – dan Hamblum minanas…..

  8. hadie itoe P'tunjuks  4 December, 2012 at 21:31

    makasih atas semua koment-nya.
    —–saya (penulis) mencoba untuk membangkitkan “ghiroh (semangat)” antara stakeholders dan lembaga pendidikan (secara ‘aam -umum). Tulisan saya terinspirasi dari feomena yg ada selama ini, karena jarang sekali lembaga pendidikan “merangkul stakeholders” begitu sebaliknya, kalopun ada hanya sebatas insidental, sperti, perekrutan peserta didik, ketika “kampanye”.

    —apalagi pada beberapa tahun yg lalu, madrasah selalu di(ter)marginal(kan), hanya dipandang pada urutan nomer sepatu. oleh karena itu, saya (penulis) mencoba menunjukkan “kelamin” madrasah bahwa madrasah perannya dalam membentuk dan mewarnai pendidikan nasional ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *