Cerita dari Makassar

Handoko Widagdo – Solo

 

Setelah sekian tahun tidak menginjakkan kaki di Makassar, saya terkejut akan perkembangannya. Jalan TOL ke arah Maros sudah selesai. Demikian juga dengan bandara baru, Bandara Sultan Hasanuddin. Bandara baru ini dibangun tidak jauh dari bandara lama dengan arsitektur bandara modern.

Kuliner: Konro, Coto dan Ikan Bakar

Bicara tentang kuliner Makassar, ketiga menu berikut: Konro, Coto dan Ikan Bakar tak boleh dilewatkan. Sop Konro, Konro Bakar adalah wajib untuk disantap saat makan siang atau malam hari. Sop Saudara adalah salah satu yang terkenal di Kota Makassar.

Coto bukan soto. Peringatan tersebut tertampang jelas di Musium La Galigo. Coto kuangnya bersantan. Rasanya mendekati rasa rawon daripada soto, hanya tidak ada citarasa kluwak. Cara makan coto adalah selalu ditemani ketupat atau lontong. Ketupat atau lontong disediakan di meja-meja para tamu. Tempat terkenal untuk menikmati Coto adalah di Coto Nusantara.

Di Makassar tidak ada ikan, yang ada ikang (pakai g). Kita bisa memilih berbagai jenis ikan, cumi, udang dan kepiting. Ikannya masih sangat segar sehingga dagingnya manis. Kita bisa memesan ikan bakar, bakar rica-rica dan goreng. Saus dan sambalnya bisa kita racik sendiri sesuai selera.

 

Benteng Fort Rotterdam

Benteng yang dibangun ulang oleh Cornelis Spelmann ini dulunya adalah benteng berbentuk penyu milik Kerajaan Gowa. Pada jaman Belanda, benteng ini dipakai sebagai rumah Spelmann dan sekaligus gudang rempah-rempah.

Benteng Fort Rotterdam saat ini difungsikan sebagai kantor Pusat Kebudayaan. Jadi, bangunan-bangunan kuno yang ada di dalam benteng terpelihara dengan sangat baik. Di dalam benteng juga terdapat Musium La Galigo yang memajang berbagai senjata tradisional (ada beberapa keris dan tombak dengan ukuran sanat besar), kebudayaan berbagai suku di Sulawesi Selatan.

Benteng ini juga pernah dipakai untuk menahan Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro wafat di benteng ini dan dimakamkan di suatu tempat di Kota Makassar.

Pangeran Diponegoro dimakamkan di sepetak tanah hibah dari pemerintah Belanda. Di kompleks pemakaman yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro ini, juga terdapat Makam Raden Ratna Ningsih, istri beliau, keempat anak beliau dan cucu-cucunya.

Beberapa pejabat dan keluarga kraton Jogja dan Solo masih sering berkunjung. Namun demikian Hamengku Buwono tidak pernah berkunjung ke makam ini. “Dulu, Pangeran Herjuno, sebelum jadi Hamengku Buwono X pernah berkunjung kemari,” demikian penjelasan R. Muhammad Saleh Diponegoro yang adalah juru kunci makam. R Muhammad Saleh Diponegoro adalah canggah dari Pangeran Diponegoro.


Oleh-oleh

Salah satu oleh-oleh terkenal dari Makassar adalah Minyak Gosok Cap Tawon. Ternyata minyak gosok cap tawon ini telah ada di Makassar sejak tahun 1912, atau sudah 100 tahun. Awalnya minyak gosok ini diproduksi oleh Lie A Liat di bawah perusahaan bernama Boo Loeng. Sejak tahun 1974 perusahaan dikelola oleh salah satu cucunya yang bernama Eddy Matually dan nama perusahaan diganti menjadi PT. Tawon Jaya Makassar. Eddy Matually berhasil membuat minyak gosok cap tawon terkenal sampai manca negara. Jadi jangan khawatir kalau ke Makassar anda diserang masukangin. Minyak gosok cap tawon akan menolong anda meredakan penat dan pening.

 

Kurang sabar

Orang Makassar itu ramah dan terampil berkoordinasi. Sayang mereka kurang sabar. Meski saya hidup di Jakarta yang kendaraannya semrawut, tetap saja saya terkejut-kejut melihat bagaimana para pengendara mobil dan motor di kota Makassar. Mereka menyetir seperti mendayung sampan. Sama sekali tidak peduli pada pengguna jalan lainnya.

Antri? Jangan harap. Bahkan di bandara yang modern, jangan harap anda bisa nyaman mengantri. Sejak akan masuk bandara, saya sudah diserobot oleh para calon penumpang. Demikian pula pada saat di x-ray check point. Bahkan saat akan masuk ke pesawatpun, saling serobot terus terjadi.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

61 Comments to "Cerita dari Makassar"

  1. Handoko Widagdo  7 December, 2012 at 18:06

    Mas Ilhampst, nama Mallarangeng itu aslinya ditulis Mallarangan. Entah mengapa jadinya Mallarangeng.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.