Karakter: Ketika Baik Saja Tidaklah Cukup

Juwandi Ahmad

 

“INDONESIA tidak dapat dan tidak akan menunggu sampai petani terakhir dari desa terakhir bisa memegang pena untuk memperoleh kembali kemerdekaannya. Kemampuan rakyat tidaklah ditentukan pertama-tama oleh jumlah orang yang melek huruf, melainkan oleh karakter rakyatnya.” Itulah yang dikatakan salah satu founding father kita: Muhammad Hatta. Sebuah penegasan yang memiliki kesamaan makna dengan ungkapan terkenal: “Knowledge is power, but character is more.” Atau simaklah apa yang dikatakan Martin Luther King: “We must remember that intelligence is not enough. Intelligence plus character—that is the goal of true education.”

Mereka yang rela bersusah payah, menderita dan tersiksa demi menegakkan kebenaran bisa jadi bukan orang yang terdidik di sekolah, bukan juga orang yang pandai menurut nalar maha guru, dan bukan pula orang yang terpandang di masyarakat, tapi pastilah mereka orang-orang yang berkarakter. Tanpa karakter, para pejabat dan politikus yang sekedar terdidik, berpengetahuan dan pandai hanya tinggal menunggu kesempatan untuk berlaku korup. Tanpa karakter, orang-orang yang sebelumnya baik akan segera menjadi buruk bila terkepung sekawaan para penjahat. Dan tanpa karakter, orang-orang susah akan mudah terintimidasi oleh keadaan.

 

Gambaran Umum Tentang Karakter

Bila kita melihat seseorang yang bertindak secara khas dan cenderung menetap, biasanya kita akan mengatakan bahwa itulah karakternya. Pada waktu yang lain, kita biasanya menilai seseorang sebagai pribadi yang berkarakter ketika tindakan-tindakkannya secara khas dan kuat terlihat mengagumkan: lebih dari sekedar pantas untuk dipuji. Ini mengisyaratkan bahwa bila seseorang menunjukkan hal-hal yang sebaliknya, kita boleh mengatakan bahwa ia tidak memiliki karakter. Artinya, disini karakter dipandang sebagai seperangkat kebaikan ataupun kebajikan yang tampanya seseorang tidak dapat dianggap baik, terpuji: berkarakter.

Selain itu, dalam banyak kesempatan, ahli pendidikan, budayawan, agamawan dan tokoh bangsa juga sering bicara tentang pentingnya pendidikan, pembentukan dan pembangunan karakter. Hal ini memberi gambaran bahwa karakter adalah kualitas-kualitas pribadi yang sangat mendasar, menentukan, dan penting, namun masih berupa potensi yang harus dirumuskan, dibentuk dan dikembangkan.

 

Belum Menunjuk Kualitas Moral-Etik

Apa yang ingin saya katakan dengan mengemukakan semua itu adalah bahwa istilah karakter tidak selalu memiliki pengertian atau maksud yang jelas dan pasti. Bahkan meskipun sering dibicarakan, namun masih sering pula dimengerti secara keliru. Saya ingin menunjukkan definisi karakter dari Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI yang akan memperlihatkan pemahaman umum yang keliru mengenai apa yang kita sebut sebagai karakter.

Definisi tersebut oleh Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI dirumuskan dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa (2010) yang menyebutkan bahwa: “Karakter adalah nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.” Ini adalah definisi atau konsepsi tentang karakter yang bukan saja keliru tapi juga kacau balau. Menurut saya definisi itu terlalu berlebihan dan sangat dipengaruhi oleh impian-lamunan tentang moral dan etika.

Sekarang saya ingin anda membayangkan tokoh Bima yang tegas, keras, kasar, mudah marah dan terlalu cepat mengambil kesimpulan (grusa-grusu). Itulah watak atau peran khas dari seorang Bima yang tidak lain adalah karakternya. Selanjutnya, bayangkan tokoh Rahwana yang juga tegas, keras, kasar, mudah marah dan bertindak semaunya sendiri (ngawur). Itu juga watak atau peran khas dari seorang Rahwana yang tidak lain adalah karakternya. Ada karakter Bima, ada karakter Rahwana. Dari gambaran itu, tentu saja kita tidak dapat menerima definsi karakter sebagai nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.”

Karakter adalah watak: pikiran, sikap dan tindakan yang diperankan secara khas oleh seseorang di hampir segala situasi yang membedakannya dengan orang lain. Olah karenanya terbentuk apa yang kita sebut karakteristik, yaitu ciri atau tanda yang bersifat psikologis yang memudahkan kita untuk mengenal seseorang dan memprediksi pikiran dan sikapnya terhadap sesuatu dan apa yang akan dlakukannya. Meskipun sama sama membela kebenaran, pastilah cara yang digunakan Bima akan berbeda dengan cara yang digunakan Puntadewasa. Meskipun sama-sama berpikir dan bertindak atas nama Islam, pastilah cara yang digunakan Gus Dur akan berbeda dengan Habib Rizq. Mengapa? Ya, hal itu sangat dipengaruhi oleh karakter yang kemudian membedakan antara Bima dengan Puntadewa, Gus Dur dengan Habib Rizq.

Dengan demikian, apa yang kita sebut sebagai karakter sebenarnya tidak atau belum menunjuk pada kualitas-kualitas tertentu yang bersifat moral-etik, yang baik atau yang buruk, yang terpuji ataupun tercela. Istilah karakter sebatas atau hanya menunjuk pada kecenderungan untuk berpikir, bersikap dan bertindak secara khas dihampir segala situasi yang cenderung menetap. Di hampir segala situasi, Bima, Rahwana, Gus Dur dan Habib Rizq akan menunjukkan kekhasan mereka melalui karakternya.

 

Pribadi Berkarakter

Namun tentu saja karakter bukan sekedar menggambarkan kecenderungan untuk berpikir, bersikap dan bertindak secara khas di hampir segala situasi yang cenderung menetap, tapi juga (dan ini yang lebih penting dan khas dari karakter) menunjukkan suatu tingkat kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan dari perasaan, pikiran, sikap, ucapan, keputusan dan tindakan. Semua itu merupakan indikator terbaik untuk melihat atau menggambarkan sejauhmana kekuatan karakter seseorang.

Seberapa jauh dan dalam tingkat kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan seseorang mengenai sesuatu? Apa yang dirasakan dan dipikirkan seseorang tentang sesuatu? Apa dan bagaimana sikapnya? Bagaimana menyatakannya, mengartikulasikannya? Keputusan-keputusan apa yang dia buat? Dan bagaimama pula tindakan-tindakannya? Pertanyaan-pertanyaan itu dapat menjadi indikator terbaik untuk menggambarkan karakter. Semakin jauh dan dalam kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan, kejelasan dan tindakan sesorang mengenai sesuatu akan menunjukkan kekuatan karakternya, atau kita dapat menyebutnya sebagai pribadi yang berkarakter. Pada jajaran ini kita dapat menyebut Yesus, Muhammad, Jengis Khan, Hitler, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Soekarno, Gus Dur, Habib Rizq dan masih banyak lagi. Semua tokoh ini menunjukkan adanya keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan dalam bersikap, berucap, berkeputusan dan bertindak.

 

Dalam Hal Apa Orang Berkarakter

Setelah memeriksa indikator-indikator itu, barulah kita dapat berbicara tentang isi atau nilai yang terkandung dalam karakter. Atau dengan perkataan lain, dalam hal apa seseorang dianggap kuat, yakin, teguh, berani, tegas dan jelas (berkarakter). Perihal isi dan nilai-nilai tersebut penting. Sebab seseorang dapat menunjukkan kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan untuk hal-hal yang secara moral dan etika adalah buruk, tidak dapat diterima dan bahkan dikutuk. Seseorang juga dapat menunjukkan kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan untuk hal-hal yang secara etika dan moral diharapkan, terpuji, dikagumi dan amat sangat dianjurkan. Dalam hal ini kita dapat membandingkan, misalnya antara Hitler dengan Mahatma Gandhi. Keduanya berkarakter, tapi mewakili kutub yang berbeda. Hitler mewakili kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan untuk hal-hal yang secara moral dan etika dianggap buruk. Sedangkan Mahatma Gandhi mewakili kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan untuk hal-hal yang secara moral dan etika dianggap baik.

Jadi semakin jelas bahwa istilah karakter baru sebatas menunjuk atau menggambarkan suatu tingkat kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan perasaan, pikiran, sikap, keputusan dan tindakan seseorang. Karakter atau berkarakter secara etika-moral bersifat netral, tidak menyatakan yang baik ataupun yang buruk. Karakter adalah sebuah istilah, suatu konsep yang memerlukan konteks untuk dapat dinyatakan sebagai sesuatu yang mengandung nilai baik-buruk. Atau dengan perkataan lain, ada karakter yang baik, adapula karakter yang buruk; ada karakter yang lemah, ada juga karakter yang kuat.

 

Dibentuk dan Dibentuk Ulang

Selanjutnya, hal lain yang juga penting dari karakter adalah bahwa karakter dapat dirubah, dibentuk dan dibentuk ulang. Hal ini telah menjadi kabar baik sejak lama, terutama bagi orang tua dan mereka yang masih menyimpan harapan baik di tengah-tengah kebudayaan yang buruk, bahwa generasi unggul dan agung tetap mungkin untuk diciptakan. Bakat, kata Maxwell (1999) adalah sebentuk berkah atau hadiah tapi karakter adalah suatu pilihan:

“We have no control over a lot of things in life. We don’t get to choose our parents. We don’t select the location or circumstances of our birth and upbringing. We don’t get to pick out talents or IQ. But we do choose our character. In fact, we create it every time we make choice—to cop out or dig out of hard situation, to bend the truth or stand under the weight of it, to take the easy money or pay the price. As you live your life and make choice today, you are continuing to create your character.”

Sadar ataupun tidak seseorang menciptakan karakternya sendiri setiap hari, dan adakalanya melalui pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan yang tidak sepenuhnya dimengerti. Sampai pada taraf tertentu ia menjadi sesuatu, dan akan merasa sangat sulit untuk menjadi sesuatu yang lain. Sebuah pohon yang tumbuh liar berbeda dengan pohon yang tumbuh dalam perawatan. Karakter, disadari atau tidak dan apapun bentuknya, selalu diciptakan, dipilih, dibentuk atas dasar kehendak sendiri maupun keterlibatan orang lain. Inilah dasar dan alasan terbaik berkenaan dengan ide mengenai pembangunan karakter (character building) dan pendidikan karakter (character education).

 

Kemunculan Karakter

Dalam situasi yang bagaimanakah kita dapat melihat kemunculan karakter dalam bentuk atau wajud aslinya? Karakter seseorang utamanya akan muncul kepermukaan manakala ia menghadapi situasi atau peristiwa yang sulit, ambigu, genting, mendesak dan kontradiktif. Untuk menjelaskan hal ini, saya tertarik untuk kembali mengutip penjelasan yang sangat bagus dari Maxwell (1999) bahwa bagaimana seorang pemimpin—atau setiap individu (penulis)—menghadapi keadaan atau peristiwa dalam hidupnya akan mengatakan kepada anda tentang banyak hal mengenai karakternya. Krisis tidak diperlukan untuk menciptakan karakter, tapi tentu saja krisis akan menampakkannya. Kemalangan atau kesengsaraan adalah suatu persimpangan yang membuat seseorang memilih satu diantara dua jalan: karakter atau kompromi. Setiap kali seseorang memilih karakter ia akan menjadi lebih kuat, bahkan bila pilihannya itu membawa akibat buruk.

Contoh nyata kemunculan karakter, misalnya dapat kita lihat pada sosok Muhammad. Ketika Abu Thalib sang paman, menyampaikan pesan para pembesar Quraisy agar Muhammad menghentikan ajarannya, Muhammad dengan tegas berkata: “Demi Allah, sekiranya mereka meletakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku, agar aku menghentikan semua ini, maka sekali kali aku tidak akan pernah menghentikannya.” Tawaran kemuliaan, hujatan, penghinaan dan ancaman pembunuhan sama sekali tidak meruntuhkan pendiriannya.

 

Pemahaman yang Utuh tentang Karakter

Dari penjelasan yang agak panjang itu, saya ingin menawarkan suatu konsepsi tentang karakter yang menurut saya lebih tepat dan utuh yaitu:

(1) Istilah karakter tidak atau belum menunjuk pada kualitas-kualitas moral-etik tertentu dari seseorang, yang baik atau yang buruk, yang terpuji ataupun yang tercela,

(2) Karakter adalah kecenderungan untuk berpikir, bersikap dan bertindak secara khas dihampir segala situasi yang cenderung menetap,

(3) Karakter juga menunjukkan suatu tingkat kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan dari perasaaan, pikiran, sikap, ucapan, keputusan dan tindakan seseorang,

(4) Karakter utamanya akan muncul kepermukaan manakala seseorang menghadapi situasi atau peristiwa yang sulit, ambigu, genting, mendesak dan kontradiktif,

(5) Karakter dapat dirubah, dibentuk, dan dibentuk ulang,

(6) Kesemua itu adalah dasar dan alasan terbaik berkenaan dengan ide mengenai pembangunan karakter (character building) atau pendidikan karakter (character education).

 

Dua Hal Mendasar Dalam Pendidikan Karakter

Sejalan dengan konsepsi itu, maka gagasan yang semestinya terkandung dalam pendidikan karakter akan mencakup dua hal pokok, yaitu:

(1) Menumbuhkan atau menanamkan kualitas-kualitas tertentu dalam diri individu. Hal ini berkaitan dengan kontent, materi atau karakter seperti apa yang hendak diciptakan, ditumbuhkan, dibangun dan dibentuk. Inilah yang selanjutnya dan semestinya mendorong seseorang, masyarakat atau suatu bangsa merumuskan tentang isi dan nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan, ditumbuhkan, dirawat, dan dibangun sehingga membentuk pribadi yang berkarakter, dan

(2) Mendorong terciptanya kekuatan atau energi yang mampu menopang kualitas-kualitas tertentu yang sudah ditanamkan dalam diri individu.

Secara lebih ekplisit, mengacu pada moral-etik, dapat dikatakan bahwa kedua hal itu merupakan gabungan atau penyatuan antara Kebaikan-Kebajikan (goodness-virtue) dan Kekuatan-Daya (power-energy). Kebaikan-Kebajikan terkait dengan nilai-nilai etika-moral: seperti kujujuran, adil, tanggungjawab, integritas, kepedulian, disiplin diri, ketekunan dan sebagainya. Sementara Kekuatan-Daya berkaitan dengan kesanggupan individu untuk mengartikulasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai etika-moral itu kedalam tindakan, kehidupan nyata, kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun.

 

Ketika Baik Saja Tidaklah Cukup

Dua konsep itu sangat penting, mendasaar dan harus ada dalam pembangunan-pendidikan karakter. Sebab banyak orang baik tapi tidak memiliki kekuatan, tidak yakin dengan nilai kebaikan, tidak memiliki keteguhan, tidak cukup memiliki keberanian, tidak tegas, tidak jelas pula pemikiran, sikap, keputusan dan tindakan-tindakannya dalam suatu keadan dimana semua itu sedang amat sangat diperlukan. Sejarah mencatat bahwa mereka yang melawan penguasa yang zalim, atau menegakkan kebenaran dan kekadilan lebih dari sekedar orang-orang yang dalam dirinya bersemayam perbendaharaan kebaikan, tapi juga—dan paling utama—mereka memiliki kekuatan, keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan, dan kejelasan dalam berpikir, bersikap, mengambil keputusan dan bertindak. Bahkan, bila semua itu membawa akibat buruk bagi dirinya, mereka akan tetap melakukannya.

Dibutuhkan bukan saja orang yang baik, tapi juga seseorang yang memiliki pemikiran, sikap, keputusan dan tindakan yang kuat, penuh keyakinan, keteguhan, keberanian, ketegasan dan kejelasan. Ini adalah suatu penggabungan antara pengetahuan, kerberpihakan kepada yang baik, dan kesanggupan untuk mewujudkannya: kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun.

Itulah yang saya kira, merupakan hal-hal yang perlu dipahami, direnungkan, dan diterapkan oleh kita semua. Dengan begitu kita semua cukup layak untuk dimasukan dalam daftar orang-orang yang masih menyimpan niat baik, harapan, keyakinan dan kesadaran bahwa masa depan bukan lagi milik kita, melainkan milik anak-anak kita. Hal itu diwujudkan dengan merancang dan menanamkan suatu landasan yang kokoh dan sarat nilai demi lahirnya generasi berkualitas di masa yang akan datang yang mampu menjadi penopang kebudayaan agung. Itulah pembanguan atau pendidikan karakter: sebentuk kesadaran bahwa sejarah diciptakan oleh manusia dan bukan manusia oleh sejarah.

 

11 Comments to "Karakter: Ketika Baik Saja Tidaklah Cukup"

  1. juwandi ahmad  7 December, 2012 at 15:11

    James, [email protected], nevergiveupyo: Ya semua orang pada dasarnya baik. Anda semua pun, saya kira juga baik (he he he). Apa yang kita sebut baik, dalam wilayah dan taraf tertentu, seringkali juga bersifat subyektif. Seseorang yang dianggap tidak baik bagi sejumlah orang, seringkali dianggap baik oleh sejumlah orang yang lain. Terimakasih, dan tetap baik dan terus belajar menjadi baik ya he he he he.

    Syalom, Pak Djoko: He he he, kuliah gratis psikologi pak. Yap, benar kata pak djoko, bahwa setiap orang memang memiliki kharakter, tidak ada yang tidak memilikinya. Apakah itu kharakter yang baik seperti yang dimiliki pak djoko (yang gombal….! itu kik kik kik….!) atau kharakter yang tidak baik seperti pengakuan pak djoko (yang suka ngeyel he..he..he….

    Bagaimana perubahan karakter terjadi? Apakah ada saat ketiadan karakter? Pak djoko membuat pengandaian: “Seperti secangkir kopi akan dirubah menjadi secangkir teh. Kan isinya harus dikeluarkan dulu. Nah saat isinya dikeluarkan, kan ada saat (momment) kekosongan sebelum cangkir itu diisi dengan teh. Jadi kalau seseorang merubah kharakter, ada saatnya dia tidak memiliki kharakter?”

    Apakah demikian? Begini pak djoko, pengandaian pak djoko benar. Hanya saja agaknya, terlampau ekstrim untuk diterapkan pada karakter. Pertama-tama yang perlu diangat bahwa tidak mudah merubah karakter. MERUBAH karakter jauh lebih susah dari pada MEMBENTUK karakter. Merubah menunjuk pada suatu bentuk yang telah jadi dan hendak dirubah kebentuk yang lain. Misalnya merubah tembikar menjadi tanah liat. Adapun membentuk menunjuk pada sesuatu yang belum jadi dan hendak dibentuk menjadi sesuatu yang lain. Misalnya merubah tanah liat menjadi tembikar. Dan tentu saja di dalam membentuk ada upaya merubah, dan di dalam merubah ada pula upaya membentuk.

    Karena itulah anak-anak DIBENTUK: dididik, diajari, dilatih, dibiasakan. Misalnya berkaitan dengan perilaku-moral-etik. Mengapa? Ya, karena anak-anak masih berupa tanah liat, belum jadi, dan masih mudah dibentuk menjadi berbagai bentuk yang lain. Ketika anak-anak itu sudah berusaha 17 tahun, maka tanah yang tadinya liat dan mudah dibentuk, sudah mulai mengeras dan akan susah untuk DIRUBAH. Dan terlebih ketika mereka sudah dewasa, sudah tua: karakternya sudah mengakar.

    Pun demikian, karakter tetap mungkin untuk dirubah, meskipun bukan hal yang mudah. Sampai pada inti apa yang pak djoko pertanyakan: “Kalau seseorang merubah kharakter, ada saatnya dia tidak memiliki kharakter?” Begini pak djoko: merubah karakter tidak seperti mengganti teh di dalam cangkir dengan kopi atau susu. Tapi menambahkan gula, madu, kuning telur dan jahe ke dalam cangkir berisi air susu. Dengan demikian, kandungan air dan susu tidak menghilang, melainkan berubah menjadi wujud dan rasa yang lain yang lebih kaya, mantap, dan tentu saja dengan harga yang lebih mahal. Kita tidak begitu saja mengganti karakter pemarah dengan karakter penyabar, melainkan membangkitkan dan memperkuat sisi-sisi lain dari kepribadian seseorang yang perannya terabaikan. Misalnnya sisi humoris, kesanggupan menertawai diri sendiri, dan sisi pemikir-rasionalis. Sisi-sisi kepribadian itu, dalam kadar tertentu, ada pada setiap orang (termasuk pada seorang pemarah) yang bila hal itu disadari, ditanggapi dan diakui, maka dapat menjadi penasehat atau penyeimbang bagi sisi kepribadian yang pemarah itu. Dengan begitu, orang akan berubah dari seorang yang mudah marah, menjadi pribadi yang marah dengan lebih cerdas dan terukur, yaitu dengan cara, alasan, dan tempat yang tepat.

    Ada memang perubahan karakter yang terjadi secara cepat, tiba-tiba. Kita dapat menyebutnya pencerahan, titik balik, atau semacam konversi. Orang beragama menyebutnya hidayah. Secara psikologis, spiritual, itu dapat dijelaskan. Tapi akan saya bicarakan lain waktu.

    Ya, semua orang punya karakter pak djoko. Seperti saya bilang bahwa karakter adalah kecenderungan untuk berpikir, bersikap, dan bertindak secara khas dihampir segala situasi yang cenderung menetap, dan itu ada pada setiap orang.

    Bagaimana dengan karakter asli? Pak djoko membuat gambaran: “Kalau orang yang selalu berbuat baik, kemudian marah-marah, orang akan berkata, nah kan sekarang kelihatan aslinya.” Seperti saya bilang, bahwa karakter, terutama sekali akan muncul kepermukaan manakala seseorang menghadapi situasi atau peristiwa yang sulit, ambigu, genting, mendesak, dan kontradiktif. Namun tentu saja, kita tidak dapat begitu saja mengatakan kemarahan dari orang yang marah-marah itu sebagai karakter aslinya. Karena bisa jadi ia marah hanya pada saat-saat tertentu dan karena alasan tertentu, terlebih di lain waktu ia bertindak yang sebaliknya. Tidak mudah membedakan antara “topeng-topeng sosial” dengan “karakter asli”, atau perwujudan diri yang sebenarnya, hanya dengan satu dua kali pengamatan. Barangkali kita bisa mengambil contoh gubernur DKI Jokowi, yang sejauh ini, dalam banyak situasi, mudah ataupun sulit, ia tetap kalem, tersenyum, tenang, sabar dan hampir tidak penah kita melihat beliau marah. Kita bisa bilang itulah karakter pak Jakowi yang tenang, penyabar. Di pihak lain, kita dapat melihat wakilnya, Ahok yang dalam banyak situasi, mudah ataupun sulit, cenderung tegas, keras, thas-thes, blak-blak-an, bicara apa adanya, dan ada kalanya marah. Nah, kita bisa bilang itulah karakter pak Ahok, yang tegas, keras.

    Marah dan keras tidak dapat serta merta kita sebut sebagai karakter yang buruk. Demikian juga dengan tenang dan sabar, juga tidak dapat dengan serta merta dikatakan sebagai karakter yang baik. Pada akhirnya, orang akan melihat tujuan dan alasan: kenapa orang tegas, kenapa orang marah, kenapa orang tenang dan sabar. Dan lebih dari itu, setiap orang memiliki karakternya sendiri yang perlu dimengerti, dipahami. Cara Jokowi mengkritik bawahannya, tentu akan berbeda dengan cara Ahok. Sama-sama minuman, Jokowi wedang jahe yang hangat, Ahok coca cola yang bersoda. Tujuan dari minuman itu kurang lebih sama, yaitu membuat tubuh lebih segar.

    Kira-kira begitu pak djoko. Terimaksih telah berbagi dan membaca tulisan saya. Salam dari Jogja: semoga hari-hari bapak menyenangkan.

    Mas Josc: terimakasih, dan mari tetap lakukan refleksi diri. Mbak Silvia: yap..!. Ada bagian dari karakter yang harus di amplas: merubah batu menjadi cincin, merubah rumpun bambu menjadi seruling. Mas Anoe: uhuk-uhuk, pujian anehmu membuatku sering tergetar he he he. Dan terlebih tulisan-tulisanmu membuat pikiranku sumuk: mikir sing ora-ora..ha..ha..ha. Mas Handoko: Ha..ha…ha…”Tetap berkarakter meskipun makan karak.” Karak adalah nasi sisa atau hampir basi yang dikeringkan dan dapat dimakan kembali. Nah, ternyata Nasi karak berasal dari bahasa inggris, yaitu karakter, yang berarti pemakan karak. Pemakan karak yang tetap berkarakter. Sippp..! Hidup karak..!! Mbak Linda: ya sebisa mungkin “kaya” dan “berkuasa”, agar bisa merasakan benar yang namanya hidup dengan adil, makmur dan sejahtera. “Kaya” dan “berkuasa” untuk mengadilkan, memakmurkan, mensejahterakan diri sendiri dan manusia lain. Mas Tok: ”Karakter.. terbentuk dan dipengaruhi oleh Lingkungan dan karakter yang sistemic membutuhkan perjuangan panjang untuk berkrlanjutan ( kita bangsa yg banyak ragam budaya ini juga mempengaruhi karakter juga perilaku kehidupan)” Yap, kita semahzab Mas Tok he he he. Wah, dinnernya, bawa konsep juga to he he ngeri…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *