Audrey (15): A Letter for You – 2

Anastasia Yuliantari

 

Utopia. Kata itu tiba-tiba tambil di layar ingatanku. Bila kau membaca Utopia-nya Thomas More, kau akan tahu betapa kemungkinan tak dikerangkeng oleh ruang dan waktu karena dia bukan potret dunia nyata. Kemungkinan membuat kita tak pasif saja menghadapi dunia. Utopia selalu membawa orang melangkah ke depan dengan membaca kemungkinan-kemungkinan yang ada. Anehnya, aku merasa kita melangkah ke arah yang berlawanan dengan pemikiran itu. Aku hanya bisa melihat dimensi masa lalu di setiap langkah kita. Kau tahu, seperti berjalan mundur, menatapi telapak yang telah kita jejakkan.

Mengapa demikian? Mungkin karena kita tahu, bahkan untuk sebuah utopia pun kita tahu diri kita berdua tak mampu. Kita tahu arah jejak kita di masa lampau, namun tak akan pernah dapat meramal sebuah kemungkinan di masa depan. Aku tak mau kejam, namun mataku mulai terbuka pada kenyataan bahwa menelusuri langkah masa lalu satu-satunya yang tertinggal dalam kisah kita.

Pagi tadi aku memperoleh sebuah telepon. Diriku masih sibuk menyalin daftar nilai mahasiswa ke dalam laptop untuk laporan administratif yang selalu membosankan, dan karenanya ingin kuhindari sebisa mungkin, saat telepon berdering nyaring.

“Untukmu.” Kata Sheila yang tempat duduknya lebih dekat ke meja telepon.

“Dari siapa?” Tanyaku.

“Entah, aku lupa menanyakannya.” Jawabnya sambil mengangkat bahu tak acuh sebelum melanjutkan kembali pekerjaan yang serupa dengan yang sedang kulakukan.

Kudekati telepon sambil menyapa hati-hati. Tak biasanya orang menelepon ke kantor. Siapa pun dia pasti mempunyai hubungan dengan institusi.

“Kami sudah menerima aplikasi anda.” Suara di seberang napasku tersendat seketika. “Bisakah anda menjadwalkan untuk wawancara dengan kami tanggal sekian, jam sekian?”

Aku terbengong sebentar sebelum menjernihkan tenggorokan, “Bisa.” Lalu karena didorong oleh rasa ingin tahu aku menambahkan pertanyaan yang berkelebat dalam benakku, “Apakah berarti saya…??”

“Kita tunggu hasil wawancaranya.” Tiba-tiba suara itu mengandung tawa, seakan maklum akan kegugupan sekaligus rasa ingin tahuku. “Tapi kemungkinan itu selalu ada.” Tambahnya.

Sekali lagi aku menyatakan kesanggupanku sebelum mengucap terima kasih dan meletakkan telepon dengan pikiran melayang.

“Bagaimana?” Sheila telah bertengger di kursi yang berhadapan dengan kursiku.

Aku kaget melihatnya demikian cepat menangkap situasi, hal mana merupakan kelemahanku. “Apanya?”

“Jangan pura-pura. Melihatmu setengah linglung aku tahu telepon itu tentang apa.” Desaknya.

Aku menghembuskan napas yang sejak tadi ternyata masih kutahan di dada. Ketegangan itu datang begitu cepat. Reaksinya perlahan kurasakan. Adrenalin yang mengalir cepat dan membuat emosiku naik dan turun tak menentu. Kegelisahan pertama tentang hal alin selain tentangmu sejak berbulan-bulan ini.

“Masih harus melalui wawancara.” Jawabku berusaha menahan grogi.

Sheila menepukkan tangannya ke meja. “Itu berita baik, mengapa dirimu tampak kacau begitu?”

“Aku gugup sekali.” Jawabku jujur. Sudah lama aku tak merasakan hal itu lagi. Terakhir kali aku merasa demikian kacau adalah saat menunggu hasil ujian thesisku bertahun lalu.

“Hey, kau sudah berhasil separuh jalan.” Sheila menatapku tajam. “Kau harus bertahan hingga separuhnya tercapai.”

Aku hanya mengangguk pelan. Separuh yang tertinggal ini sungguh berat, bahkan menurutku lebih berat dari sebelumnya. Tapi harus terus kujalani, kan?

Suatu malam kita pernah berbincang tentang kerinduanmu yang begitu pekat akan rumah. Begitu besarnya rasa itu sampai kau menolak ajakan teman-temanmu untuk minum-minum dan menghabiskan malam minggu bersama mereka.

“Aku ingin pulang, Dey.” Bisikmu di antara desah angin yang membuat suaramu hilang-timbul melalui jaringan yang melintasi samudra Pasifik.

“Gila aja! Apa kau ingin tugasmu berantakan karena keinginan untuk pulang?” Jawabku setengah berteriak.

“Aku tak perduli lagi.” Ujarmu dengan volume suara yang ikut meninggi.

“Jangan lakukan itu. Kau sudah melangkah setengah jalan, tak mungkin menyisakan setengahnya tanpa penyesalan.”

Entah mengapa aku merasa mendengar lamat-lamat isakanmu. Kegelisahan mengambang di antara bunyi gaduh dedaunan yang berkeresek di sekitarmu.

“Kau menelepon di mana?” Tanyaku sekedar memutus jeda yang terasa mencekam.

“Di teras samping.” Jawabmu seakan terbangun dari mimpi. “Kenapa?”

“Suara daun-daun berkerisik lebih keras dari suaramu.” Bohongku.

“Biasalah, malam musim panas yang berangin. Aku tak sanggup menghentikan kegaduhan ini.” Lalu terdengar pintu berderit. Kesenyapan beberapa detik sebelum terdengar suaramu kembali, “Bagaimana sekarang? Aku sudah berada di kamar.”

“Cristal clear.” Jawabku sambil berusaha memperdengarkan tawa di antara suaramu yang penuh duka.

Hening kembali. Keadaan yang sangat tak aku sukai.

“Jangan menyerah.” Bisikku perlahan. ”Tugasmu adalah menyelesaikan langkah yang telah kau ambil. Keputusan untuk memilih jalan ini telah kau pertimbangkan dalam jangka waktu yang lama. Meninggalkan apa yang telah kau pilih bukan tanpa meninggalkan penyesalan di kemudian hari.”

Kini kudengar lebih jelas bahwa memang ada bekas-bekas isakan dalam suaramu. “Enak saja kau omong.” Ujarmu dengan suara serak. “Kalau menasehati nomor satu, deh. Coba kalau giliran dia sendiri yang sedang mellow…huh…!!”

“Hey…aku hanya mengusulkan.” Pekikku. “Terserah saja mau diterima atau ditolak!”

“Huu…pintar betul kalau menasehati, coba kalau datang cengengnya.”

“Kau!”

Mendadak suasana biru kelabu itu kembali berwarna. Dan esoknya kamu telah kembali bercerita tentang rencana menggeratak perpustakaan karena tugas-tugas yang belum kau selesaikan lantaran ketiduran setelah terjaga sampai tengah malam.

Bila dirimu bisa melanjutkan langkah setelah memutuskan, walau aku tahu secara emosional, untuk meninggalkan jalan hidup yang telah kau pilih, aku pikir diriku akan bisa melakukan hal serupa. Just walk on my way. Melalui pilihan yang telah kulakukan dan menjalaninya tanpa penyesalan.

Bukannya aku tak menghargai apa yang kita miliki. Semuanya akan tetap tersimpan dalam jalan hidupku seperti noktah-noktah yang merangkai kisah hidupku. Sekali-sekali bahkan aku ingin menengoknya sekedar mengetahui bahwa hal itu memang pernah terjadi dalam hidupku, namun tak hendak bergantung kepadanya. Dirimu dan rangkaian kisah kita adalah satu dan sama, sehingga tak mungkin bagiku tetap memiliki kisah itu tanpa mengikut sertakan bagian utama dari kisah itu sendiri, dirimu.

Mengakrabi kemungkinan-kemungkinan membuatku semakin berani melangkah. Pertama dalam bertahun-tahun ini aku merasa demikian hidup. Di antara kecemasan tersembul kegembiraan dan semangat yang begitu menggetarkan. Kegembiraan dan semangat yang bukan dikarenakan oleh dirimu atau kehadiranmu. Maafkan, tapi aku merasa wajib berterus terang. Duniaku perlahan tapi pasti mulai bergeser porosnya, semakin lama semakin menjauhi dirimu.

“Apa suatu saat matahari akan mati, Dey?” Tanyamu suatu saat.

“Katanya, sih gitu.” Jawabku asal-asalan. “Dan dunia akan kiamat.”

“Semoga saat itu terjadi aku tak harus melihatnya.”

“Ya, kalau kamu masih kira-kira hidup dua juta tahun lagi.”

“Aku hanya tak mau ada di sana ketika sumber kehidupan itu mati.”

Kesadaran itu baru muncul sekarang. Kita ternyata berbagi matahari yang sama. Matahari yang tak selalu berwarna merah menyala atau putih menyilaukan. Kadang sinarnya hilang diterjang gerhana atau hanya tinggal lamat-lamat karena mendung tebal yang menyelimutinya. Dan aku menjadi ketakutan bila matahari itu akan perlahan padam, bahkan sebelum dirimu sempat menyadari bila cahayanya mulai menghilang.

Kemungkinan itu kembali melayang-layang dalam layar kesadaranku. Aku tak ingin membayangkan sesuatu yang bakal terjadi di masa depan. Biarlah aku bergantung pada kemungkinan-kemungkinan, agar langkahku tak naïf menjejak kenyataan. Karena walaupun kemungkinan berbicara tentang masa depan, namun langkah kita tetap menjejak di masa kini.

Matahari ini masih bercahaya di cakrawala kita, walau kita berdua menyadari, suatu saat ada kemungkinan dia akan mati dan meninggalkan galaksi ini menjadi hitam kelam. Berakhir dalam ketenangannya yang gelap.

 

11 Comments to "Audrey (15): A Letter for You – 2"

  1. Dj. 813  6 December, 2012 at 20:45

    Nah ya, apapun…
    Satu saat ( cepat atau lambat ) akan berakhir juga.
    Salam manis dari Mainz, untuk keluarga dirumah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.