Cinta Abadi Cheng Ho (1)

Ary Hana

 

Kisah ini hanyalah sketsa kata-kata yang kubuat berdasarkan serakan data –mirip kepingan mozaik tanpa warna- yang ku kumpulkan dari Museum Cheng Ho di Melaka, beberapa waktu lalu. Mirip serangan kanker otak :P

 

Zhen Gu mendorong kapalku ke tengah sungai. Berayun. Melaju. Hingga membentur batu.

“Woops.. aku tak sengaja Ma He,” teriaknya sambil tertawa.

Kapal oleng, lalu terbalik. Air menerjang buritan dan haluan. Segera tangan kananku menyambar kapal kayuku. Membalikkan badannya di udara, agar air jatuh segera. Dari jauh kulihat kilau emas Danau Dian. Musim gugur segera datang. Bau tanah dan lembab pepohonan menusuk-nusuk bulu hidungku.

“Apa benar kau akan mengajakku berlayar kalau kita besar nanti?” Zhen Gu menyibakkan kepangnya ke belakang. Lalu tangannya menyentuh cuping telinganya yang kemerahan. Sementara itu matahari semakin condong ke barat, menyisakan sinar kemerahan pada air di danau.

“Tentu saja,” jawabku. “Kita berlayar sambil berniaga. Membawa sutra, emas, dan tembikar.” Ah, itu memang cita-citaku sejak awal. Terinspirasi kisah petualangan kakekku. Kakek datang dari Persia. Dia berdagang hingga ke Yunan. Suatu ketika kapalnya kandas di sini dan dia tak bisa pulang.

Rupanya sore itu permainan terakhirku dengan Gu. Kami pulang bergandengan tangan, sebelum berpisah. Kudekap kapal kayuku. “Kita ketemu lagi besok ya Ma He,” kata Gu. Aku mengangguk.

Tiba di rumah, ibuku langsung menyahut bahuku. Air mata memburai wajahnya yang bundar kemerahan. “Ayahmu mati, dibunuh orang Ming.” Aku menatapnya bengong, mencoba memahami kata ming dan mati. Yang kutahu kemudian  bahwa tak mungkin lagi bagiku bersua ayah kembali. Bahwa akan sulit bagiku berjumpa Gu di sungai bening.

Setelah itu sungguh masa-masa sulit bagi suku kami yang tinggal di sekitar danau. Setelah sore itu kehidupanku berubah drastis. Yunan jatuh ke tangan musuh, Orang-orang Ming. Anak lelaki sepertiku disembunyikan ibu-ibu kami di loteng atau kandang kuda. Para lelaki dewasa mengangkat senjata atau mengungsi.

“Kenapa ibu menyuruhku sembunyi terus? Aku bosan,” rengekku suatu ketika.

“Kalau kau ingin terus berkumpul dengan ibu, turuti apa kata ibu,” bentak ibuku tak sabar.

Namun aku bukan anak patuh. Sembunyi terus di kandang kuda membuat seluruh tubuhku bau. Aku pun merasa mirip pengecut. Suatu hari aku keluar dari persembunyian, menuju sungai tempat aku biasa bermain dengan Gu sambil membawa kapal mainan. Aku yakin Gu pasti menungguku di sana. Tapi di tengah perjalanan menuju sungai di dekat danau aku ditangkap pasukan musuh. Tangannya yang kekar mencengkeram leherku.

Aku meronta, berteriak, melolong minta tolong. Namun mereka semakin erat mencengkeramku. Bahkan membawaku berkuda menuju ke markas mereka di pusat kota.

“Tolong lepaskan aku. Aku punya ibu dan saudara perempuan yang harus kubantu,” rengekku merayu sambil mengusap air mata yang berleleran di pipiku. Seorang prajurit melemparkanku dari kuda, ke tengah tenda terpal yang terbentang.

“Hei dengar Nak. Kami tak hendak membunuhmu. Bagaimana mungkin kami membunuh anak-anak. Itu dilarang agama kita bukan?” Seorang lelaki setengah baya mendekatiku. Topi kain berwarna putih yang melekat di kepalanya meyakinkanku bahwa kami seiman. Namun jika seiman, kenapa dia menangkapku? Membinasakan kaumku?

“Lalu kenapa kau menangkapku?” Sedikit gentar kutatap wajahnya.

“Kami akan membawamu ke Kotaraja. Di sana kau akan menjadi rampasan perang yang berharga. Kalau nasibmu baik, kau dapat menjadi pelayan dan kasim.”

Aku gemetar. Aku tak ingin berpisah dengan keluargaku. Tapi apa dayaku. Mungkin jika mereka membiarkanku hidup, suatu ketika aku masih boleh berjumpa keluargaku lagi.

“Aku mau ikut denganmu,” kataku akhirnya, “tapi aku minta satu hal.”

Beberapa lelaki menggumamkan kata tak setuju. Namun lelaki setengah baya yang menangkapku itu mengangguk. “Apa permintaanmu?”

Aku teringat Gu. Pasti dia menungguku di tepi sungai. “Aku ingin bertemu kawanku. Dia pasti menungguku di tepi sungai sekarang. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya.”

Setelah berpikir sejenak, si tua berkata, “Baiklah,  kuantar sendiri kau ke sana.”

Tak berapa lama kami sudah berada di seberang sungai. Kulihat Gu duduk menunduk. Kakinya terbenam dalam kecipak air. Sedang tangannya menopang dagu.

“Ma He!” teriaknya gembira setelah melihatku. Dia melambai-lambaikan tangan kanannya menyuruhku mendekat. Dengan segan dan berat hati aku mendekatinya. Segera direbutnya kapal kayu di tanganku, sambil menyeringai “Sudah lama kau tak mampir ke sini. Aku rindu bermain kapal-kapalan.”. Aku menahannya.

“Dengar dulu Gu, aku ingin bicara,” kataku tegas. Gu menatapku ragu. Lalu sepasang matanya menangkap serdadu tua dengan pedang panjangnya yang berjalan mendekatiku.

“Kenapa kau? Apa kau baik-baik saja?” Gu membelalak. Sepasang bolamatanya membersit kecemasan.

Aku mengangguk. “Mereka membiarkanku hidup. Tapi aku harus ikut dengan mereka ke kotaraja. Mungkin mereka akan mempekerjakanku sebagai budak atau pelayan.” Kata-kata kasim tak masuk dalam akal pikiranku saat itu. Aku tak tahu apa artinya.

Kulihat air mata Gu mulai bercucuran. Dia sesenggukan. “Jadi, kita takkan bertemu lagi? Kita tak bisa bermain lagi?”

Aku menggeleng lemah. “Mungkin tidak. Mungkin akan bertemu dengan ijin Tuhan. Aku hanya ingin kau menyampaikan kepergianku kepada ibuku agar dia tak cemas.”

Masih menangis, Gu mengangguk. Kuulurkan kapalku ke tangannya. “Kuingin kau memilikinya. Simpanlah, sebagai hiburan jika teringat padaku.” Tak kusadari aku pun menangis. Kutahan kuat-kuat agar airmataku tak jatuh. Laki-laki mesti kuat. Itu kata mendiang ayahku dulu. Tapi aku tak sekuat ayahku. Kudekati Gu. Kujabat tangannya erat-erat. Mungkin buat yang terakhir kali.

Tiba-tiba dia menarik sesuatu dari lehernya, lalu mengangsurkan kalung perak dalam genggaman tanganku. “Hanya ini yang kupunya. Siapa tahu kau akhirnya punya kapal, jangan lupa mengajakku berlayar.”

Kami tertawa di antara tangis . Teringat mimpi-mimpi kemarin. Tersadar pada kenyataan pahit kini.

Itu kenangan terakhirku pada Gu. Gadis cilik berkepang dua anak pamanku. Teman sepermainanku sejak kami sama-sama mulai merangkak hingga kini. Kutinggalkan Jinning dengan hati hancur. Namun aku punya keyakinan, suatu hari pasti aku akan menjenguk kampung halamanku kembali. Dan bertemu Gu kembali.

(bersambung)

 

45 Comments to "Cinta Abadi Cheng Ho (1)"

  1. ah  9 December, 2012 at 09:31

    tariiik mang

  2. Alvina VB  7 December, 2012 at 22:21

    Cuma satu kata saja: Lanjutkan….

  3. ah  7 December, 2012 at 12:38

    nino : yen nulis karo madang iwak gatul mesti tulisane rada sedih

  4. ah  7 December, 2012 at 12:37

    danau dian pak han

    buat saya brem bali juga hualal pak han hahaha…

  5. Handoko Widagdo  7 December, 2012 at 12:28

    Saya pernah ke kampung asalnya Cheng Ho di dekat Danau (aku lupa namanya) di dekat Kunming. Ada cerita lucu saat saya di kampung tersebut. Kepala Dinas Pertaniannya adalah suku Hui. Karena dia tahu saya dari Indonsia, maka dia menyiapkan makanan halal yang dia bawa sendiri saat jamuan makan siang. Saya ikut saja, karena mau menghargai Pak Kepala Dinas. Namun yang aneh, arak beras dihidangkan bersama dengan jamuan makan siang, termasuk kepada Pak Kepala Dinas dan kepada saya. Karena saya tidak biasa minum alkohol, maka saya hanya mencecapnya saja. Tapi Pak Kepala Dinas dengan penuh semangat selalu mengangkat gelas untuk toast sampai akhirnya tumbang dari meja. Dan pestapun selesai. Kesimpulan saya, arak beras itu halal di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.