Jadul (Jaman Dulu)

Anwari Doel Arnowo

 

JADUL ITU BANYAK YANG BAIK,  kok.

Itu adalah suara teriakan di dalam hati saya. Kesan kata jadul itu menunjukkan ke arah menggeneralisasi arti kuno, dan kurang modern. Tidak apa-apa. Mungkin saya pernah berbuat yang sama terhadap tata cara dan kebudayaan yang ada di khasanah generasi sebelum saya. Kalau memang iya, dengan bertambahnya umur saya merasa bahwa sikap seperti itu tidak manusiawi, tetapi sudah semampu saya mengingat-ingat, tidak ada yang perlu saya  sesali karena berbuat yang keterlaluan.

Secara kebetulan ayah saya tidak berbenturan budaya dengan saya, meski saudara saya ada sepuluh orang dan saya yang nomor tiga, anak lelaki yang kedua. Ayah saya suka keroncong, hanya mendengarkan, demikian juga halnya dengan kesukaan beliau terhadap banyak musik klasik. Kalau saya mainkan Beethoven atau Johannes Strauss di piano, beliau bisa bersiul nyaring, mengikuti dan beliau selalu berusaha mengikuti setiap nadanya. Keroncong saya juga suka dan juga hanya mendengar.

Tetapi tahukah anda sekarang ini saya sudah berani menyanyikan Keroncong Moritsku atau Dewi Murni dan Bandar Jakarta. Saya sudah pernah menyanyikannya di depan orang banyak. Dua puluh tahun yang lalu saya menolak seratus persen kalau disuruh menyanyi, apalagi di depan publik yang tidak saya kenal. Memainkan musik  keroncong atau lagu-lagu klasik lain di electronic keyboard saya di rumah, jenis Yamaha (PSR – S 910), saya lakukan hampir setiap hari siang atau malam. Malam? Iya !! Sering saya pukul 01:00 malam biasa memainkan apa saja. Klasik atau bahkan Boogie-Woogie dan segala macam musik dan lagu jadul. Memainkan dengan volume keras maupun lambat rendah, semau saya. Anda pasti bertanya apa tidak mengganggu siapa-siapa? Betul memang sama sekali tidak mengganggu siapapun jua. Sebab? Saya pakai Headphone 32 Ω (satuan tahanan listrik disebut ohm) merek Samson SR 850. Tidak keluar suara apapun dari kedua speaker Yamaha Keyboard, tetapi terdengar oleh saya dengan sempurna melaui headphone, tanpa keluhan apapun dari saya.

Komputer desktop, saya tempatkan di sebelah electronic keyboard Yamaha itu, jadi apabila istirahat menulis atau browsing melanglang jagad cyber, saya langsung bisa main musik, jenisnya sesuka saya, kapan saja. Tidak ada yang akan bisa mengeluhkan terganggu atas kegiatan saya di wee hours (waktu jauh larut malam) seperti itu. Bila datang rasa kantuk karena kegiatan macam itu, baru saya masuk tidur. Sudah lebih dari sepuluh tahun saya berbuat seperti ini kecuali sedang batuk pilek karena selesma. Begitu larutpun saya tidur, hampir selalu bangun dan siap sekitar pukul 06:30 pagi berjalan di jalan umum secara aman dan hati-hati, dengan target paling sedikit 5000 langkah kaki, yang saya ukur menggunakan pedometer yang ada di dalam iPod saya, yang berisi sekitar 2000 lagu kesukaan saya. Biasanya sekitar 7000 langkah kaki bisa saya tempuh, kecuali cuaca hujan, pasti saya lakukan setiap hari. Saya bisa melakukan sekitar 9000 langkah atau lebih bila sedang berada di Toronto atau di Singapura, karena tidak ada sepeda motor dengan cc kecil-kecil di bawah 200 cc yang berlalu sesuka hati melanggar norma-norma manusia sehat akal.

Apa lanjutan kegiatan di luar rumah? Saya berkumpul dengan teman-teman lama dan yang baru. Saya aktif ikut mengurusi perkumpulan yang bernama Jakarta Oldies Community (d’JOC) yang mengutamakan keanggotaan orang yang sudah berumur 55 tahun ke atas tanpa memerhatikan ras, asal daerah, asal kewarga-negaraan, asal alumni, pegawai negeri atau swasta pensiunan. Perkumpulan ini memiliki sebuah band musik dengan tujuh pemain alat  musik: Bass guitar, drum dua electronic keyboard, melody guitar dan saxophone serta percussion.

Band ini disiapkan agar selalu secara  perfect memainkan lagu-lagu JADUL yang dikenal oleh kaum Oldies ini. Saya tidak termasuk  ikut main di dalam band, hanya kadang-kadang bila sedang tidak ada penyanyi, menyanyikan lagu-lagu jadul seperti Born Free, From Russia With Love atau What a Wonderful World. Dengan kegiatan d’JOC seperti ini saya bertemu dengan banyak kenalan baru dan juga dengan kenalan lama yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. Ada yang sudah menjadi duda (bergelar Duren yang singkatan dari duda keren), janda (bergelar Rocker dari Rondo Keren), mantan  Jenderal atau Menteri atau pegawai biasa dan entrepreneur yang masih aktif. Kita buat batasan usia agar ngobrol jadulnya itu bisa sesuai dengan “pangkat” kita bersama: OLDIES YANG JADUL tentunya.

Bagi yang masih muda tentu saja mungkin sekali dia akan bilang untuk apa itu semua? Saya bisa menjawab: UNTUK KESEHATAN kita sendiri masing-masing. Biar kita tidak disebut kedaluwarsa, atau sebutan Askar Tak Berguna. Kami para MANULA (Manusia Usia Lanjut) ataupun WULAN (Warga Usia Lanjut) sudah bisa membuktikan bahwa usia lanjut itu bukan berarti sudah tidak berguna. Pada bulan Mei tahun ini, kami, d’JOC pada suatu acara berkumpul seperti ini menyumbangkan sepuluh buah kursi roda bagi anak cacat yang berkebutuhan khusus. Ternyata dari sekitar 300an mereka yang hadir sumbangan itu secara spontan bisa bertambah menjadi sejumlah lebih dari 40 buah kursi roda. Rumah Sakit Ibu dan Anak LESTARI di Cirendeu, Jakarta Selatan di bawah asuhan dr. Titi telah bertindak sebagai penerima dan penyalur dari mereka yang membutuhkan, baik di sekitar Jakarta maupun di Pulau Lombok. Ini semua membuktikan bahwa 300 hadirin yang hadir waktu itu, berusia antara 55 sampai dengan 83 tahun bukanlah segerombolan orang yang tidak berguna alih-alih kedaluwarsa.

Kakak ipar saya yang sudah mendekati 80 tahun, tiba-tiba saja dengan tenang dan santai, pernah mengatakan: “Mereka yang masih lebih muda itu akan tau rasanya setelah mereka sendiri menjadi tua nanti, apanya dan bagaimananya menjadi tua itu!”

 

Anwari Doel Arnowo

19 Nopember, 2012

 

15 Comments to "Jadul (Jaman Dulu)"

  1. Alvina VB  7 December, 2012 at 21:32

    Pak Anwari, lah kok foto saya ada di sini…maksudnya vespa biru itu loh….memang jadul vespa biru ngetrend sekali di thn 70an.

  2. Anwari Doel Arnowo  7 December, 2012 at 20:18

    Iya, the Beatles saja sudah Jadul, kan?
    Anwari ..

  3. uchix  7 December, 2012 at 16:54

    suka lihat foto2 jadul, ada perasaan gimana gitu, jaman sekarang (jarang) ada karena ada jaman dulu (jadul), generasi jarang juga akan jadi jadul buat generasi selanjutnya hehehehe

  4. juwandi ahmad  7 December, 2012 at 15:51

    he he he……unik, lucu. Benar pak, jadul itu banyak yang baik. contohnya, ibu saya: selain jadul juga superkuno, tapi baiknya, tak tertandingi..!

  5. Anwari Doel Arnowo  7 December, 2012 at 11:24

    Terima kasih komentar anda, yang raya-rata lebih muda dari saya, itu kehormatan bagi saya. Senang hati saya. Sebenarnya jadul atau jarang (jaman sekarang) itu banyak yang baik sesuai waktunya. Yang tidak baik juga semakim canggih cara operasinya. Tergantung masing-masing bagaimana memilah dan memilihnya sehingga bisa harmonis hidup di dunia. Bersama alam yang isi dan jenis makhluknya bermacam-macam, ada manusia, hewan maupun tanaman. Marilah kita menjalani hidup masing-masing dengan bijak.
    Salam saya,
    Anwari Doel Arnowo – 2012/12/07

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.