Pejaten (11)

Fidelis R. Situmorang

 

“Namanya Rainbow, Ri…”

“Wah, keren namanya,” sahut Riri.

“Iya, keren. Rainbow Hamonangan Siallagan lengkapnya. Kami di rumah memanggilnya Monang. Jarak usianya denganku hanya satu setengah tahun. Karena itu, Ibu selalu membelikan kami pakaian yang sama, sampai sepatu dan tas sekolahpun merek dan warnanya sama. Sudah seperti anak kembar saja. Berbeda denganku yang lebih suka bersarang di kamar, membaca buku dan komik, Monang lebih suka kegiatan di luar rumah. Dia lebih sering berkumpul dan dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Monang memiliki sifat ceria dan sering memukau teman-temannya dengan cerita-ceritanya. Karena sifatnya dan kemampuannya bercerita itu, Monang sangat disenangi oleh teman-temannya.

Monang juga suka memelihara binatang, walaupun kemudian mudah bosan mengurus peliharaan-peliharaannya itu. Dia pernah memelihara beberapa keong yang dibelinya di dekat sekolah. Lalu di teras rumah, dia dan beberapa temen-temannya yang juga memiliki keong, mengadakan lomba balap keong. Selalu keong milik Monanglah yang menjadi juara dan berhak mendapatkan Keong Cup.”

“Hahaha…” Riri tertawa.

“Terkadang,” kulanjutkan ceritaku, “Keong-keong itu juga ditempeli dengan gerobak mainan dari kertas pada cangkangnya. Nah, kalau keong-keong itu berjalan, terlihat seperti penjual nasi goreng atau mi tektek keliling. Keong-keong yang malas dan suka tidur diberikan nafas buatan supaya lebih bersemangat jalannya.”

“Hahaha… nafas buatan?”

“Iya, ditiup supaya keluar dari cangkangnya.”

“Bosan dengan keong, Monang membawa pulang beberapa ekor ikan cupang. Ini jenis ikan petarung. Suka sekali berkelahi. Kembali monang dan teman-temannya menggelar pertandingan di teras rumah. Dan lagi-lagi, peliharaan Monang yang menjadi juaranya. Waktu aku tanyakan ke Monang apa rahasianya supaya ikan kesayangannya selalu memenangkan pertandingan, dia menjawab bahwa sebelum bertanding, ia mengurangi jatah makan ikan jagoannya, supaya tampil galak dan beringas.”

“Hahaha… Sama seperti orang juga ya, kalau lapar bisa mudah marah. Ini dapat Cupang Cup?” tanya Riri bergurau memainkan alis manisnya.

“Nggak,” jawabku, “modelnya sabuk juara seperti punya para petinju.” jawabku balas menaik-turunkan alisku.

Riri tertawa lagi. Cantik sekali.

“Bosan dengan ikan cupang, Monang membawa pulang 5 ekor anak ayam negeri, dan mulai asyik dengan peliharaan barunya. Tapi karena memang tidak mengerti cara memelihara anak ayam, satu persatu peliharaanya itu mati karena sakit. Monang terlihat sedih waktu menguburkan peliharaannya itu dan mendoakannya supaya makhluk-makhluk mungil itu masuk surga. Aku juga ikut berdoa.

Beberapa hari kemudian, Monang pulang dengan membawa sepasang burung merpati.”

Riri tersenyum, “Selalu ada saja yang dibawa Rainbow pulang ya…”

“Iya, lalu dia membuat sendiri rumah untuk sepasang merpati itu dengan bantuan beberapa temannya di pekarangan belakang rumah. Dia senang mengelus-elus dan memberikan makanan jagung kepada merpati-merpatinya. Setiap bangun tidur dan akan berangkat sekolah dia selalu bermain-main dengan burungnya.”

“Terus kalau kalian sedang berdua, kalian ngapain aja?” tanya Riri.

“Biasanya kami main catur atau main berantem-beranteman seperti di film kungfun yang biasa kami tonton.”

“Siapa yang menang?”

“Sudah pasti kekasihmu ini dong…”

Riri tersenyum…

“Waktu itu bulan Juli, Ri,” kulanjutkan ceritaku, “tumben hujannya awet sekali. Monang waktu itu masih kelas 1 SMP. Dia masuk siang. Biasanya dia sampai di rumah, pulang dari sekolah sekitar jam 6-an sore. Tapi hari itu sampai jam 8 malam dia belum juga pulang. Ibu mulai gelisah dan menyuruhku mencarinya ke rumah teman-teman dekatnya. Tapi monang tak ada di sana. Bapak juga mulai kuatir, lalu menghubungi beberapa saudara, menanyakan apa Monang mampir ke rumah mereka. Jawabannya sama, Monang tidak ada di sana.

Sampai jam 12 malam Monang tidak juga pulang. Bapak kemudian meminta bantuan polisi untuk mencarinya. Tetangga-tetangga di sekitar rumah juga ikut membantu mencari Monang. Esok harinya, Ibu menghubungi sekolah Monang, menanyakan keberadaannya. Wali kelasnya mengabarkan bahwa pada hari kemarinnya, Monang tidak masuk sekolah. Ibu semakin panik dan menangis mengkuatirkan keadaan adikku itu.

Setelah 2 hari Monang belum terdengar juga kabarnya, Bapak memasang pemberitahuan di surat kabar nasional, berharap ada orang yang tahu keberadaan Monang. Tapi berhari-hari kemudian masih tak terdengar kabar tentang keberadaan Monang. Seminggu kemudian Monang belum juga kembali pulang. Ibu mulai jatuh sakit. Setiap hari Ibu menangis mengkuatirkan keadaan Monang. Bapak juga begitu. Aku mendengar doa-doa dipanjatkan Bapak di ruang keluarga, supaya Monang bisa segera kembali pulang. Setiap malam Bapak berdiri di jalan utama depan rumah menantikan Monang pulang. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, Monang belum juga kembali pulang.”

Riri menggenggam tanganku.

“Setiap pulang ke rumah, aku merasa sepi sekali. Bapak sering termenung sendiri, Ibu sering terdengar menangis di kamar Monang. Kandang burung merpati di belakang rumah sudah kosong. Burung-burung itu sepertinya ikut lenyap. Mungkin karena tak ada lagi yang mengurus dan memperhatikannya. Aku selalu teringat senyum ceria monang setiap melihat kandang kosong itu.

Sekarang, setiap habis hujan, setiap melihat pelangi, aku selalu menghibur diriku sendiri, bahwa Monang ada di suatu tempat, yang entah di mana, sedang bergurau dan menghibur orang-orang seperti yang biasa dia lakukan.”

“Ri…”

“Ya…” jawabnya lembut.

“Kamu percaya bahwa Tuhan selalu mendengar dan menjawab semua doa kita?”

“Iya, Rain… aku percaya itu,” dia menggangguk lembut, manis sekali.

Aku menunggu Riri menanyakan hal yang sama kepadaku, supaya aku bisa menjawabnya dengan kata tidak. Tapi Riri tak menanyakan hal itu. Dia hanya memelukku erat.

“Kamu kangen Monang ya, Rain? tanya Riri pelan.

“Tentu saja aku merindukan adikku, Ri…”

Lalu aku merasakan ada yang basah di bahuku. Riri menangis.

“Bagaimana kabar Ibu?” tanya Riri masih terisak memelukku.

“Baik, Ri… itu sudah 15 tahun yang lalu”

“Minggu depan ajak aku main ke rumahmu ya, Aku pengen kenal Ibu…” pinta Riri.

Ah, Riri kamu di mana? Kangen dipeluk kamu.

 

10 Comments to "Pejaten (11)"

  1. Fidelis R. Situmorang  12 December, 2012 at 01:37

    @james: Hehehe… Berjuta-juta rasanya
    @Om Dj: Wah sampe 200 ekor? Hahaha Rame banget burungnya ya, Om. Pasti piara ikan mas koki juga

    @juwandi ahmad: Saya juga terima kasih, Mas… Saya suka komen Mas Juwandi, telah menjadi iman tanpa mahzab, menjadi sufi tanpa tarekat, dan bertuhan dengan tuhan yang tidak ada dalam kepala orang dewasa.

    @Matahari: Wah jadi makin semangat nulisnya nih. Makasih ya, Mbak… Nanti kalau udah dibukuin, jangan lupa koleksi juga ya… Hahaha… Makasih ya, Mbak

    @Om anoe; Iya, saya juga teringat ke masa-masa itu

  2. anoew  8 December, 2012 at 23:43

    sumprit! tiap baca ini selalu pengen balik lagi 20 tahun ke belakang

  3. anoew  8 December, 2012 at 23:33

    waaah Pakdhe Dj, lho kok saya dikait-kaitkan sama burung… meskipun saya punya burung, memang suka terkait-kait paruhnya kalau mereka berebut makanan.

  4. Dj. 813  8 December, 2012 at 18:46

    Mas Juwandi….
    Tapi ada yang sama ya….
    Kadang malah main stein ( kneker ), keluar masuk kampoeng.
    Ngejar layang-layang, tidak ada yang ditakuti….
    Dunia kanak-kanak serasa sangat bahagia, tidak mikir yang macam-macam…
    Salam,

  5. juwandi ahmad  8 December, 2012 at 18:34

    Ha ha ha. pak djoko, ada kesamaanya pak: cari jangkkrik dikebun orang, atau cari ikan dikali, Tapi untuk masa kecil yang nakal sekali dan hampir setiap hari pulang sekolah tidak pulang kerumah, waduhh sory pak, kita nggak sama… ha… ha… ha… ha… ha… ha……

  6. Dj. 813  8 December, 2012 at 18:20

    juwandi ahmad Says:
    December 8th, 2012 at 14:17

    he he…sepeti pak djoko: ingat masa kecil. Begitulah anak-anak, telah menjadi iman tanpa mahzab, menjadi sufi tanpa tarekat, dan bertuhan dengan tuhan yang tidak ada dalam kepala orang dewasa. Bung situmorang, terimakasih ceritanya.
    ——————————————————-

    Mas Juwandi…
    Sama ya dengan Dj. hahahahaha….!!!
    Dj. kecil nakal sekali, hampir setiap hari pulang sekolah, tiidak pulang kerumah.
    Malah cari jangkkrik dikebun orang, atau cari ikan dikali, ikan-kecil-kecil…
    Untung dapat anak-anak ikan kuthuk atau anak lele.
    Rasanya bahagia sekali, walau pulang sore dan,pakaian kotor sekali dan kena marah orang tua…
    Kadang ikut teman mandikan kerbau di kali dan belajar bikin suling dari bambu dan dimainkan diatas
    punggung kerbau.
    Sampai rumah, ibu bapak dan kaka pada heran, Dj. sudah bisa main suling….( Itu umur 9-10 tahun ).

    Dari pengalaman ini, saat di kantor Dj. akan dipasang saluran listrik.Ada sisa pipa yang akan dibuang tukang.
    Dj. ambil dan Dj. bikin suling Semua kollega sampai geleng kepala dan ikutan tepuk tangan.

    Selamat berakhir pekan, TUHAN MEMBERKATI…!!!

  7. matahari  8 December, 2012 at 14:58

    Awal weekend..baca tulisan diatas…airmata ngalir….mudah mudahan Pejaten nya sampai seri ke 800…saya tidak akan bosan bacanya…Bang Fidelis…salut buat cara anda bercerita…

  8. juwandi ahmad  8 December, 2012 at 14:17

    he he…sepeti pak djoko: ingat masa kecil. Begitulah anak-anak, telah menjadi iman tanpa mahzab, menjadi sufi tanpa tarekat, dan bertuhan dengan tuhan yang tidak ada dalam kepala orang dewasa. Bung situmorang, terimakasih ceritanya.

  9. Dj. 813  8 December, 2012 at 14:05

    Bung RFS…
    Terimakasih untuk ceritanya…
    Jadi ingat masa kecil yang selalau mencoba beli dan piasa apa saja dirumah.
    Merpati Dj. bahkan lebih dari 200 ekor, juga piara ikan dimana-mana, sehingga ayah
    bikinkan kolam ikan yang besar, bahkan sekali gus ada 4 kolam.
    Banyak piiara jangkrik….

    Tapi yang satu ini, tidak mirip dengan Dj.
    Mungkin mas Anoew…

    ***** “Iya, lalu dia membuat sendiri rumah untuk sepasang merpati itu dengan bantuan beberapa temannya di pekarangan belakang rumah. Dia senang mengelus-elus dan memberikan makanan jagung kepada merpati-merpatinya. Setiap bangun tidur dan akan berangkat sekolah dia selalu bermain-main dengan burungnya.” ***

    Yang suka bermain-main dengan burungnya….
    Hahahahahaha…!!!
    Salam,

  10. James  8 December, 2012 at 10:46

    SATOE, Jatuh Cinta Berjuta Rasanya ??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.