Para Penjahit Pakaian Perempuan Eropa Masa Kolonial

Joko Prayitno

 

Kehidupan masyarakat Eropa semakin mudah di Hindia Belanda berkat adanya para pembantu-pembantu pribumi yang dapat disebut juga Domestic Worker. Pembantu-pembantu ini terspesialisasikan dalam berbagai kerja rumah tangga yang cukup banyak, mulai dari mengasuh anak, menjaga keamanan rumah tuan Eropa, merawat kebun, memasak hingga membuatkan pakaian tuan-tuan dan nyonya-nyonya Eropa itu sendiri. Tentunya hal ini membutuhkan tenaga penjahit pakaian tersendiri yang masuk dalam kategori Domestic Worker.

Sketsa Penjahit yang sedang bekerja di sebuah Rumah milik Eropa 1880 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Masalah pakaian terutama pakaian bagi perempuan Eropa dalam buku “Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan” dijelaskan bahwa bagaimanapun pakaian kebanyakan perempuan Eropa kolonial dibuat di rumah. Para perempuan ini menjahit sendiri pakaian mereka atau dibuatkan oleh penjahit pribumi, yang disebut jahit, penjahit (djait dalam literatur kolonial). Menjahit atau setidaknya memotong pola merupakan kecakapan yang diperlukan oleh perempuan-perempuan Eropa yang akan pergi ke Hindia, meski hanya untuk mengawasi kerja orang lain. Manual-manual dalam hal ini adalah unisono. Menjahit merupakan bagian dari kurikulum Sekolah Kolonial untuk Perempuan dan Gadis. Beberapa perempuan menjadikannya hobi dan pengisi waktu luang. Bahan-bahan seperti katun, sutra dan shantung bisa didapatkan dengan murah di Toko Bombay yang dikelola oleh orang India atau toko-toko Jepang.

Penjahit Wanita di Jawa sedang bekerja 1910 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Tetapi dalam kenyataannya perempuan-perempuan Eropa lebih menyukai pakaian mereka dijahitkan oleh pembantu-pembantu mereka yang berasal dari pribumi. Para penjahit membentuk pakaian-pakaian ini. Ia merupakan golongan pinggir dari kelompok pelayan yang membuat hidup perempuan-perempuan Eropa menjadi santai. Penjahit jarang tinggal di tempat pelayan. Ia datang dari rumahnya sendiri pada pukul tujuh pagi dan bekerja terus menerus sampai pukul tiga sore atau dari pukul delapan pagi sampai pukul dua belas siang kemudian dilanjutkan dari pukul dua siang sampai pukul empat sore. Ia dipuji karena ketepatan dan kerajinannya.Perempuan-perempuan Eropa dengan demikian bergantung kepada penjahit untuk kebutuhan pakaian mereka. Penjahit menjadi bagian dari tradisi pakaian yang dijahit di rumah. Posisinya menggambarkan hierarki kelas yang juga ditemukan di Eropa di mana kelas-kelas yang kaya mampu membayar penjahit-penjahit pribadi. Sementara hal ini luar biasa di Eropa, penjahit-penjahit adalah hal umum di Hindia Belanda, di mana perbedaan-perbedaan kelas diungkapkan dalam hubungan-hubungan ras.

Penjahit Perempuan di Jawa menggunakan mesin jahit 1875 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Hindia Belanda memang surga bagi para tuan dan nyonya Eropa karena semua telah tersedia dalam berbagai macam bentuknya. Mereka mendapatkan kemudahan dan juga membuat kehidupan mereka menjadi lebih santai dikarenakan pribumi yang terjajah. Bagaimanapun juga perkenalan dengan mesin-mesin jahit modern memberikan keuntungan tersendiri bagi para penjahit yang biasanya menjahit secara manual menggunakan tangan, walaupun hidup sebagai pelayan tuan mereka.

 

Dapat dibaca juga di: http://phesolo.wordpress.com/2012/12/05/para-penjahit-pakaian-perempuan-eropa-masa-kolonial/

 

20 Comments to "Para Penjahit Pakaian Perempuan Eropa Masa Kolonial"

  1. J C  10 December, 2012 at 18:08

    Masih ingat sekali, duluuuuuu waktu masih kecil, tutup mesin jahit itu sering aku jadikan kuda-kudaan…

  2. J C  10 December, 2012 at 18:07

    Dalam keadaan tertutup. Tutup lengkung yang terbuat dari kayu…bisa diangkat kayak koper:

  3. J C  10 December, 2012 at 18:06

    Ini bentuk mesin jahit mendiang Mama, sayang sekarang entah di mana ya…

  4. Chandra Sasadara  10 December, 2012 at 18:02

    di kampung dulu hanya ada dua tukang jahit. satu penjahit khusus pakaian anak2 dan yg satu pejahit pakaian org dewasa. saat menjelang lebaran, bagi kluarga yg mampu beli kain. mereka harus sabar menunggu pakaiannya jadi. banyak di antara merka yg pakai baju dan celena baru jauh setelah lebaran. sebab dua penjahit itu tidak sanggup menyelesaikan persis menjelang lebaran.. berutunglah bagi yg tidak bisa membeli kain.

  5. Dj. 813  10 December, 2012 at 17:56

    Jadi ingat kaka perempuan Dj. saat masih hidup.
    Susi sangat senang, karena setiap mudik selalu daoat 2-3 pakaian yang
    dijahit menuruz ukurannya.
    Di Jerman menjahikan pakaian, untuk kantong kami tidaklah mungkin.
    Tapi kalau di Indomesia, masih sangat mungkin…
    Bahkan herannya, hanya 1-2 hari saja sudah jadi.
    Saat mudik lalu, juga memotong celana panjang, jadi pendek.
    Srlain bisa dituunggu, murah lagi…
    Penjahit pakaian di Indonesia, memang hebat…!!!

    Salam dan terimakasih mas Joko P.

  6. Linda Cheang  10 December, 2012 at 16:09

    Jenis mesin jahit yang dibilang Buto JC, semua aku pernah operasikan, dan sudah jadi beberapa potong bajuku sendiri plus baju cici keduaku ketika dia menikah secara agama. ada tambahan plus 1 mesin jahit merek Nechi, ini bisa untuk ngobras juga.

    Tahun barui aku mau berkegiatan jahit-menjahit lagi, ah…

  7. anoew  10 December, 2012 at 15:32

    kalau melihat sosok penjahit yang membuat pakaian semacam itu, sepertinya mustahil ya ditemukan model pakaian yang “belum jadi jahitannya”. Seperti misalnya, rok kependekan, baju kesempitan dan sebagainya. Ah, sungguh sayang..

  8. Lani  10 December, 2012 at 12:07

    JP : aku ngalami semuanya mesin jahit spt yg disebutkan oleh lurah baltyra……..ktk msh anak2 aku suka sekali menjahit, diajari oleh mama………..krn mama mmg pinter menjahit, semuanya bisa………..mmg hebat mamaku…..selain hebat didapur!

  9. J C  10 December, 2012 at 10:49

    Aku mengalami periode mesin jahit dari ontelan tangan, injekan kaki dan terakhir dinamo. Bener PamPam, dulu emak (nenek) yang satu pakai Singer yang satu pakai Butterly (made in China). Yang aku sangat ingat adalah model terakhir yang ontelan injekan kaki, kalau mesin jahitnya dilipat, bisa jadi meja biasa.

    Dulu mendiang Mama selalu jahit sendiri sprei, sarung bantal guling dan piyama kami sekeluarga…

  10. [email protected]  10 December, 2012 at 08:51

    ahh.. jadi ingat mesin jahit si oma…. masih ada tuh… SINGER…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.