Keluarga dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah

Nur Hadi

 

Tuntutan pengembangan sumber daya manusia dari waktu ke waktu semakin meningkat. Oleh karena itu layanan pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan tersebut. Selain masyarakat dan sekolah, keluarga memiliki peran tersendiri terhadap pendidikan. Peran dominan keluarga (orang tua) pada saat anak-anak dalam masa pertumbuhan hingga menjadi orang tua. Dan, pada masa tersebut orang tua (keluarga) harus mampu memenuhi kebutuhan pokok seorang anak. Sedangkan peran pada pendewasaan dan pematangan individu merupakan peran dari kelompok masyarakat

Keluarga adalah ladang terbaik dalam penyemaian nilai-nilai pendidikan. Keluarga memiliki peranan yang strategis dalam mentradisikan nilai-nilai pendidikan yang dapat ditanamkan dalam jiwa anak. Selain itu, keluarga dalam konteks budaya tidak bisa dipisahkan dari tradisi budaya yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat termasuk lembaga pendidikan. Karena, dalam konteks sosial, anak pasti hidup bermasyarakat dan bergumul dengan budaya yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini keluarga memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak agar menjadi orang yang pandai hidup bermasyarakat dan hidup dengan budaya yang baik dalam masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, anak dituntut untuk terlibat di dalamnya dan bukan sebagai penonton tanpa mengambil peranan (Djamarah, 2004:19-20). Hal ini dipahami sebagai upaya mobilisasi untuk kepentingan pemerintah dan negara. Dalam implementasi peran keluarga, seharusnya keluarga merasa bahwa tidak hanya menjadi objek dari kebijakan pemerintah namun harus dapat mewakili masyarakat itu sendiri dengan kepentingannya. Perwujudan partisipasi keluarga dapat dilakukan secara individu atau kelompok, spontan atau terorganisir, secara berkelanjutan atau sesaat.

Terkait dengan hal tersebut maka orang tua dan seluruh keluarga serta sekolah pada umumnya menjadi berkewajiban  untuk menempuh langkah-langkah seperti membiasakan anak (peserta didik) untuk senantiasa berperangai (berkelakuan) baik, tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan jiwa anak.

Berkiblat dari abstraksi singkat di atas, maka muncul permasalahan yaitu, sejauhmana keikutsertaan keluarga dalam pengembangan kurikulum di sekolah.

 

Keluarga dan Pengembangan Kurikulum Sekolah (Pendidikan)

Pendidikan sekolah pada dasarnya merupakan lanjutan dari pendidikan orang tua atau keluarga. Karena itu, para pendidik hanya sebagai penerus dari proses pendidikan yang telah diawali dan berlangsung di dalam suatu keluarga, sehingga walaupun tidak secara sistematis anak telah memperoleh bekal pengetahuan dan kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tua dan keluarga (Juwairiyah, 2010: 82-83).

Keluarga dan pendidikan tidak bisa dipisahkan. Karena selama ini telah diakui bahwa keluarga adalah salah satu dari Tri Pusat Pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan secara kodrati (Djamarah, 2004:22), yang mempunyai nilai strategis dalam pembentukan kepribadian anak. Dengan kata lain, di mana ada keluarga di situ ada pendidikan. Dengan demikian, keluarga (orang tua) juga mempunyai peranan dalam menentukan pendidikan.

Peranan dalam hal ini ada dua: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum tidak semua orang tua terlibat, hanya beberapa orang saja yang mempunyai cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Dalam pelaksanaan kurikulum dituntut adanya kerja sama antara orang tua (keluarga) dengan pendidik atau sekolah, karena sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, sudah sewajarnya orang tua mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah (Sukmadinata, 2007:155). Karena keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor yaitu lingkungan dan pembawaan (Mujib dan Mudzakir, tth:120-125) yang masing-masing faktor tersebut saling memberikan aksi dan reaksi serta saling mempengaruhi perkembangan individu. Faktor tersebut adalah orang tua. Tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan terutama berada di pundak orang tua (dan ini adalah pilar yang paling utama/penting).

Kemudian tugas ini diteruskan oleh sekolah (karena atas dasar beberapa hal sehingga orang tua tidak bisa mendidiknya secara maksimal/24 jam) dengan penuh harapan, kepercayaan dan penuh keyakinan bahwa anak-anak dapat di didik, dipengaruhi kelakuannya sehingga anak didik dapat belajar, menguasai sejumlah pengetahuan. Tentunya didikan yang tidak melenceng atau berlawanan dengan keinginan orang tua (keluarga). Hal yang harus ditempuh oleh sekolah adalah harus mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat (Idi, 1999:74), maka sekolah hendaknya mengajarkan hal-hal –seperti yang diungkapkan- oleh Salam (1997:82), sebagai berikut:

  1. Mengajarkan ketrampilan yang praktis;
  2. Menyalurkan data dan minat sekolah;
  3. Menerangkan masa depan menuju ke arah warga negara yang berguna;
  4. Belajar berdiskusi atau tukar pendapat, belajar saling memberi dan menerima pendapat orang lain;
  5. Melatih ketrampilan fisik sehubungan dengan pertumbuhan yang bersatu;
  6. Melatih apresiasi;
  7. Melatih pemahaman perkembangan emosional dirinya sendiri;
  8. Membantu mengarahkan kepada pekerjaan di masa datang;
  9. Memberikan nasehat mengenai masalah kehidupan;
  10. Memberikan pengalaman pada siswa yang dapat digunakan sebagai dasar sebagai konsep; dan
  11. Menanamkan rasa patriotisme negara, bangsa dan agama.

Dengan menerapkan ke 11 hal di atas dalam proses pembelajaran (sekolah) maka akan didapatkan hasil, yaitu:

Pertamamampu mengetahui tentang hakikat siapa peserta didik dan bagaimana cara belajarnya, hakikat umum belajar dan syarat-syarat yang diperlukan agar peristiwa belajar dapat berjalan dengan baik, yang dapat dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan pembelajaran.

Keduadapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri, khas perilaku belajar peserta didik, yang dapat dimanfaatkan dalam memahami masalah belajar anak.

Ketiga dapat memperoleh ilmu pengetahuan tentang hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar peserta didik yang dimanfaatkan oleh pendidik dengan tidak memasukkan kehendak sendiri kepada peserta didik untuk dipaksa belajar padahal peserta didik belum siap untuk belajar.

Keempatdapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang kepastian belajar peserta didik pada stadium umur tertentu, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pengalokasian waktu belajar dan sebagai bahan pertimbangan sampai sejauh mana tingkat keluasan dan kedalaman materi yang diprogramkan dalam kurikulum sehingga dapat memperkecil tingkat kesulitan belajar peserta didik dalam menyerang mengolah, dan menyimpan informasi dalam memori otak (Djamarah, 2002:10-11). Dan, pada endhingnya kurikulum sekolah tersebut dapat mencerminkan keinginan, cita-cita., tuntutan dan kebutuhan masyarakat (Nasution, 1999:23).

Sekali lagi, bahwa keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum di sekolah. Tentang peranan tersebut dapat dilihat pada skema di bawah ini:

 

Daftar Pustaka

Djamarah, Syaiful, Bahri, 2004, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga, Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful, Bahri, 2002, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Juwairiyah, 20010, Dasar-dasar Pendidikan Anak, Yogyakarta: Teras.

Idi, Abdullah, 1999, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Yogyakarta; Gaya Media Pratama.

Mujib, Abdul, dan Yusuf Mudzakir, t.th., Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Salam, Burhanuddin, 1997, Pengantar Pedagogik: Dasar-Dasar Ilmu Mendidik, Jakarta: Rineka Cipta.

Sukmadinata, Nana Saodih, 2007), Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Suryadi, Ace dan Dasim Budimansyah, 2004, Pendidikan nasional Menuju Masyarakat Indonesia Baru, Bandung: Genesindo.

Nasution, S., 1999, Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta ; Bumi Aksara.

 

12 Comments to "Keluarga dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah"

  1. J C  12 December, 2012 at 09:48

    Setuju mas Nur Hadi, pendobrakan pikir memang diperlukan. Membaca komentar Panjenengan untuk pak Hand, bahwa bukan melibatkan keluarga dalam penyusunan kurikulum, tapi mengejawantahkan atau pengembangannya, nah ini aku setuju buanget…

  2. hadie itoe P'tunjuks  12 December, 2012 at 09:39

    Keluarga terlibat dalam penyusunan kurikulum? sebuah mimpi yang terlalu jauh.

    mas handoko= maksudnya bukan melibatkan keluarga dalam penyusunan kurikulum, tetapi melibatkan keluarga dalam mengejawantahkan atau pengembangan isi kurikulum dalam tataran nyata.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.