Mendieta is Enough…No More!!!

Djodi Sambodo

 

Menjadi bintang sepak bola dunia adalah impian pesepak bola profesional. Sayangnya jalan untuk menuju kesana tidaklah semudah menendang bola. Banyak pesaing, tuntutan skill yang tinggi dan fisik yang prima menjadi beberapa penyebabnya. Melihat kenyataan, mengukur diri dan tawaran gaji yang lebih baik dari negerinya sendiri adalah alasan-alasan yang pada akhirnya membuat pemain sepak bola profesional memutuskan ke negeri mana harus merumput. Begitu juga pesepak bola asing yang terdampar di kompetisi LSI dan LPI  di Indonesia.

Awalnya adalah Galatama, wadah kompetisi sepak bola semi pro dibentuk pada tahun 1979 yang memperbolehkan pemain asing seperti Fandi Achmad asal Singapura menunjukkan kelebihannya sebagai pesepak bola handal. Sehingga tidak heran bila Niac Mitra yang dibelanya menjadi 3 kali juara liga. Semarak Galatama makin menenggelamkan kompetisi perserikatan dalam jumlah penonton, sehingga muncullah peraturan untuk meleburnya menjadi Liga Indonesia di tahun 1994. Peleburan kompetisi ini menyemarakkan pemain-pemain asing untuk berdatangan walau sudah berusia gaek seperti Roger Milla dari Kamerun dan Mario Kempes asal Argentina. Bahkan pemain Brasil seperti Jacksen Tiago ikut datang mengais rejeki hingga sukses membawa Persebaya menjadi juara kompetisi dan menempatkan dirinya sebagai pemain terbaik. Perkembangan selanjutnya di dunia persepakbolaan Indonesia lebih cenderung mengarah mengedepankan kekisruhan antar pengurus ketimbang prestasi dan penghargaan pemain, klub dan Tim Nasional. Pengurus lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya lewat kegaduhannya ingin menunjukkan lewat media bahwa merekalah lebih pantas untuk ditonton ketimbang permainan sepak bola di lapangan. Walau semua melihat dirinya sendiri saat di kaca, sudah pada uzur dan tidak bisa bermain bola. Hingga akhirnya kebanggaan berkisruh-ria pengurus-pengurus itu  melahirkan Liga Super Indonesia pada tahun 2008 dan semakin runyam di tahun 2011 dengan kemunculan Liga Primer Indonesia. Prestasi sepak bola makin terpuruk dan banyaknya gaji pemain asing berbulan-bulan tidak dibayar sudah bukan perhatian mereka lagi.

Diego Mendieta

Adalah Tiago yang masih berkibar hingga saat ini. Walau tidak lagi menggocek bola di lapangan, kini dialah menjadi contoh orang asing yang sukses meraup rejeki baik menjadi pemain dan pelatih sepak bola di Indonesia. Tepatnya ia telah menjadi sejarah hidup wajah persepak-bolaan tanah air mulai masa keemasan kompetisi sampai masa penderitaan pemain asing tak sanggup bayar rumah sakit dan uang kos. Memang tidak semua pemain-pemain asing itu harus menderita karena terlambat digaji. Bahkan tidak sedikit pula yang beralih kewarganegaraan menjadi WNI seperti Cristian Gonzales, Greg Nwokolo, Tony Cussel, Diego Michiels dan lain-lain dengan berbagai alasan yang umumnya karena cocok dengan tawaran yang diberikan dan kehidupan masyarakat di Indonesia. Bila pada akhirnya mereka bahagia dengan Ke-WNI baru-annya ini tentunya rakyat ikut trenyuh dengan rasa itu ditambah kebanggaan pada Merah Putih yang ternyata masih ada pemain bangsa lain mencintai negeri ini di tengah wajah buruk persepak-bolaannya.

Perasaan berbunga-bunga itu menjadi layu meranggas dan bahkan menjadi malu dan miris  saat google menayangkan kabar pemain-pemain asing berteriak, mengemis dan mengamen akibat gajinya tidak dibayar berbulan-bulan. Terpukul, terhina, sesak, dan geram makin berkecamuk di hati, antara percaya dan tidak. Tetapi ini benar-benar terjadi. Salah seorang pemain-pemain asing yang tidak dibayar itu akhirnya meninggal dunia. Selasa dini hari tanggal 4 Desember 2012 di RS Dr Moewardi, Solo, striker klub Persis asal Paraguay, Diego Mendieta menghembuskan nafas terakhirnya akibat penyakit, kemiskinan dan tekanan batin. Tidak bergaji selama empat bulan, menunggak kontrakan, tak mampu bayar biaya rumah sakit dan berhenti mengirim uang ke anak anak-isteri di negerinya. Walau pihak klub dan PSSI akhirnya melunasi kewajiban gaji yang tertunggak ke familinya, menanggung biaya kontrakan, rumah sakit dan pengiriman jenazah Mendieta ke negeri asalnya, tetapi mengapa harus menunggu nyawa hilang?

Diego Mendieta telah 32 tahun berjuang untuk menjadi pesepak-bola dunia terbaik dan memiliki uang banyak demi diri, keluarga dan Paraguay tentunya. Menerima kenyataannya untuk melabuhkan kakinya bermain bola di lapangan rumput Indonesia. Ia juga melihat kenyataan bahwa kakinya sangat berharga untuk Persis dan juga mendengar gempita sorak suka ria warga Solo saat sepakannya mampu menjebolkan gawang lawan.  Dia juga mengerti penggemarnya telah mengeluarkan uang karcis untuk menikmati kepandaiannya bermain bola. Uang yang tentunya akan memenuhi pundi-pundi klubnya, Persis. Tetapi tidak menyangka sampai 4 bulan hidup dalam kemiskinan dan sakit lahir-batin tanpa gaji hingga mengakhiri hidupnya. Ia tidak menyangka pula bila hidupnya yang tragis ini disebabkan kisruhnya kepengurusan antara PSSI pemilik LPI dan KPSI si empunya LSI. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat mohon ampun kepada Tuhan dan prasasti dirinya di Google  “Player gets full payment just before body flown home …….”

***(dbs, 9 des 12)

 

 

21 Comments to "Mendieta is Enough…No More!!!"

  1. Djodi Sambodo  15 December, 2012 at 16:22

    Mega Vristian Says:
    December 15th, 2012 at 15:58
    Lho kok ono fotone Pak Dalang? Hehehe….

    ===================================
    Iya, Mbak Mega…
    Yen tak pikir2 luwih becik mentas tinimbang mendem..yo nyuwun ngapuro nduwine kulo niku

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.