Si Pencuri Mimpi

Seroja White

 

Malam tak lagi waktu yang ditunggu-tunggu oleh tubuh-tubuh lelah, kepala yang penat, mata yang mulai memerah dan berair  milik para warga kampung, seharusnya mereka telah berada dalam  dekapan bantal dan guling, berselimut kain sarung dan riuhnya dengkuran. Tapi mereka kini lebih memilih duduk-duduk bergerombol, di pos ronda, halaman masjid , teras-teras rumah.  Kantuk telah beranak pinak tapi belum seorang pun berniat beranjak ke peraduan

Tobi—anakku tampaknya tak dapat menahan lagi kantuknya, tangan mungilnya  mulai menarik-narik daster ibunya. Istriku itu hanya menatapku dengan putus asa, kehabisan cara untuk mengalihkan kantuk anak laki-laki kami satu-satunya itu.

“Pergi lah temani anakmu tidur…” ucapku pasrah.

“Aku takut..,” bisik istriku sambil memeluk lengan kuerat-erat. Baiklah aku memutuskan akan menemani anak dan istriku tidur, walau hatiku juga ciut.

***

Sudah beberapa malam ini kami enggan untuk tidur, setiap malam penerangan di dalam rumah selalu kami buat terang benderang dan bergelas-gelas kopi–kafein juga tampaknya menyerah pada kantuk. Bahan obrolan juga membosankan karena telah berkali-kali pula saling kami ceritakan.

Seseorang telah mencuri mimpi-mimpi hampir seluruh warga di kampung kami. Bagaimana caranya? Entahlah, setiap bangun tidur keesokan paginya, pasti kami akan mendapati tidur kami yang kosong, melompong.  Mimpi-mimpi telah hilang.

Apa pentingnya mimpi?  Mungkin tak sepenting tidur itu sendiri tapi mungkin hanya dalam mimpi lah keinginan-keinginan dapat terkabul, apa pun itu. Apa lagi buat kami, orang kecil yang hanya bisa bermimpi, dan  kini mimpi itu telah dicuri.

Sungguh mengganggu ketika menyadari ada sesuatu dari diri kita yang hilang, walau hanya sebuah mimpi. Bukan kah dengan bermimpi kita acap memenuhi kepala kita dengan keinginan-keinginan  walau mimpi-mimpi itu menjelma menjadi sesuatu yang kadang mengasyikan, menyedihkan, bahkan memalukan sekali pun,  tanpa harus diketahui oleh orang lain—kecuali kita menceritakannya sendiri.  Mimpi itu seperti sebuah rencana yang sebenarnya telah kita susun sepanjang hari, bahkan jauh-jauh hari untuk kita nikmati dalam tidur, dan kini seseorang telah mencurinya, terlalu bukan.

dream_Stealer

Lalu kini pagi selalu terbangun dengan keputus asaan, seperti aku. Terduduk lama di tepi ranjang, memeriksa apakah mimpiku telah dicuri lagi malam ini. Ternyata benar, seseorang telah mencurinya.  Tidurku kosong tak sekelabat pun mimpi  malam tadi yang dapat kuingat, nihil.

Wajah-wajah pucat, letih dan lesu saling bersapa ketika pagi mempertemukan para warga, tak bersemangat. Para peramal dan buku tafsir mimpi mereka menganggur, tak seorang pun kini menanyakan hal ikhwal arti mimpinya. Para orang tua, remaja bahkan anak-anak sekali pun.

Di persimpangan ujung kampung  aku menunggu angkutan umum, hendak berangkat mengajar di salah satu Madrasah. Sambil berdiri menepis matahari yang mulai menjalari kaki di bawah sebatang pohon.

Seorang lelaki, yang tak tahu dari mana arah datangnya kini berdiri tak jauh dariku. Sepertinya juga sedang menunggu angkot. Pakaiannya rapi, dengan kemeja sederhana bergaris-garis biru. Di sela jari tangannya terselip sebatang rokok yang menyala, mulutnya penuh dengan asap.

Sesuatu  menarik perhatianku, lelaki itu membawa sebuah kantong plastik besar berwarna hitam dan menyandangnya di bahu. Aku mulai mengingat-ingat wajah lelaki itu, mungkin warga kampung ini juga, tapi muskil aku baru melihatnya kali ini.  Aku kenal hampir seluruh warga kampung.

“Mau ke mana bang…” lelaki itu tersenyum ramah membalas sapaku.

“Mau ke kota…” kali ini lelaki itu mematikan puntung rokoknya dengan ujung sepatu.

“Aku baru sekali ini melihat abang, warga baru kampung sini kah?” lelaki itu kembali menjawabku dengan senyuman, kini kantong plastik besar hitam itu berpindah ke bahunya yang lain,

“Bukan, aku dari kampung yang jauh. ..” ucap lelaki itu.

Tiba-tiba ada yang bergerak-gerak dari dalam kantung yang di bawanya . Tapi tak bersuara, lalu apa pun itu yang ada di dalam kantung plastik  kembali diam, bergerak-gerak lagi, lalu diam kembali.  Begitu seterusnya dan lelaki itu tak perduli pada tatap curigaku.

“Apa isi kantong plastik itu bang…” tanyaku tak berdaya ditawan rasa penasaran.

“Mimpi…” jawanya pendek, lalu sebuah angkot berhenti tepat di depan kami. Lelaki itu naik, spontan aku ikuti lelaki itu walau aku tahu bukan angkot itu yang seharusnya aku naiki. Aku putuskan tidak masuk mengajar hari ini dan mengikuti lelaki itu.

Entah apa yang membuatku jadi begini, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya aku mengikuti kemana pun lelaki itu melangkah, dan herannya lelaki itu juga seperti tidak perduli aku mengikutinya. Kami turun di sebuah areal pergudangan, seingatku daerah ini sangat jauh dari tempat tinggal ku. Di sebuah gudang yang sudah tidak terpakai lagi lelaki itu masuk, sepertinya ia tinggal di sini.

Gudang itu tidak begitu besar, sepertinya dulu digunakan untuk pengolahan kayu. Di sudut ruangan, di balik mesin-mesin pengamplas kayu yang telah soak dan berkarat tampak dua buat lemari dan sebuah meja besar. Di atas meja toples-toples dengan segala ukuran dan bentuk baik terbuat dari kaca atau plastik tampak berserakan, beberapa tampak mengelinding dan terjatuh ke lantai. Toples-toples itu bergoyang dan debu berhamburan ketika Lelaki itu meletakkan kantong pelastik hitam besar itu ke atas meja.

Lelaki itu duduk di sebuah kursi plastik yang usang, ia tampak sedikit lelah. Menghela keringat dengan ujung kemejanya sambil menyulut sebatang rokok kembali, dipersilakannya aku  duduk di kursi yang tak berada jauh darinya, aku kembali menurut.

“Selamat datang di gudang mimpi, teman…hehehe..” asap rokok mengepul mengurung aku seketika, aku terbatuk kecil, tapi lelaki seolah tak melihatnya. Ia mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong plastik hitam besar dan memasukkannya ke dalam toples-toples itu. Satu persatu hingga isi kantong plastik hitam itu tandas. Kini baru dengan jelas aku dapat melihatnya, lelaki itu benar kini toples-toples itu berisi mimpi. Tapi dari mana lelaki itu mendapatkan mimpi-mimpi sebanyak itu? Jangan-jangan…?

“Aku yang mencuri mimpi-mimpi kalian…” lelaki itu mengaku dengan sangat entengnya, dengan batang rokok menyala, kali ini  entah yang keberapa.

“Jadi abang yang mencuri mimpi-mimpi para warga di kampung kami..” ucapku gusar.

“Bukan di kampung kalian saja tapi kampung-kampung lainnya juga..” kali ini ia memasukkan toples-toples itu ke dalam lemari.

“Untuk apa abang mencuri mimpi sebanyak itu..?”

“Menurut kau, untuk apa..?” tanyanya mengantung. Aku tak bisa menjawab pertanyaannya, untuk alasan apa ia ingin memiliki mimpi  sebanyak itu, ada banyak toples-toples yang berisi mimpi yang disimpannya dalam lemari.   Salah satu lemari terbuka daun pintunya, lelaki itu lupa menutupnya kembali.

“Aku menjualnya…” lelaki itu kembali mengaku.

“Kau tahu, di kota mimpi-mimpi ini dapat kujual dengan harga tinggi.”

“Apakah mereka, orang-orang di kota itu tidak mempunyai mimpi..?”

“Hahahaha… apa yang ingin mereka mimpikan lagi, semua telah berada di depan mata. Mimpi apa saja telah menjadi nyata buat mereka..”

Lelaki itu benar, walau beberapa hari ini mimpi kami selalu dicuri tapi besok  kami masih bisa bermimpi. Banyak hal dapat kami mimpikan. Tapi buat mereka, orang-orang yang tinggal di kota, di gedung-gedung tinggi itu? Aku masih dikejar tanya ketika lelaki itu menutup lemari dan membereskan beberapa toples-toples kosong.

“Lalu mimpi-mimpi itu buat apa oleh mereka…?”

“Entahlah…” lelaki itu kembali menggantung jawabannya. Pikirannya melayang lalu hinggap pada orang-orang di kota itu.  Terdengar penyesalan di napasnya yang berat. Selama ini ia tak perduli pada mimpi-mimpi  yang telah dicurinya dan dijualnya kembali kepada orang-orang kota itu. Mungkin ia hanya tahu sedikit kalau mimpi-mimpi itu dijadikan bahan olok-olokan, di tengah obrolan orang-orang kota itu. Tapi buat warga kampung mimpi adalah suatu hal yang sangat berharga,  jahatnya aku pikirnya.

“Sekarang kau pulang lah, aku akan berhenti mencuri mimpi kalian mulai besok..”

“Abang tak akan mencuri mimpi lagi..?”

“Tidak di kampung kalian, mungkin di kampung yang lain..”

Lelaki itu sedikit berbaik hati, dikembalikannya mimpiku yang telah dicurinya tadi malam dalam sebuah toples. Dalam perjalanan pulang aku mulai berpikir mungkin aku akan beralih profesi menjadi seorang pencuri mimpi saja.

*****

 

9 Comments to "Si Pencuri Mimpi"

  1. Seroja  24 March, 2014 at 09:31

    terima kasih atas apresiasinya sahabat Baltyra…

  2. ah  14 December, 2012 at 05:26

    absurd.. tapi apik

  3. Dj. 813  14 December, 2012 at 00:57

    Waaaaw….
    Seandainya mimpi bisa dicuri….
    Salam,

  4. Chandra Sasadara  13 December, 2012 at 21:03

    beberapa org gila pernah membisikkan ke telingku, bahwa tidur tanpa mimpi menunjukkan tidur yg berkualitas tinggi..kikikikikik

  5. Handoko Widagdo  13 December, 2012 at 17:45

    Sepertinya aku pernah baca cerita ini, tapi entah kapan dan dimana. Jangan-jangan dalam mimpi yang tercuri.

  6. anoew  13 December, 2012 at 17:24

    Weh, pencuri mimpinya peri cantik bening montog.. Hai peri, jangan kau pergi.

    @Kang Josh, kowe kok bisa-bisanya nemu ilustrasi peri motog gitu tho? Kalau si pencuri mimpi seperti itu sih, aku bakalan ngimpi terus dan, si peri bidadari kuculik.

  7. anoew  13 December, 2012 at 17:21

    Hai Pencuri Mimpi… Bawa pulang mimpiku tiap malam jumat yang kauambil dariku.

  8. J C  13 December, 2012 at 14:47

    Kang Anoew pasti mau dicuri mimpinya tiap malam kalau peri pencuri mimpi seperti dalam ilustrasi di atas…

  9. James  13 December, 2012 at 13:01

    SATOE, Pencuri Mimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.