Air Mata Nenek Leung

Mega Vristian Sambodo

 

Sebelum membaca cerita ini, saya mohon ketulusan doa, untuk Nenek saya di Hong Kong. Beliau meninggal dunia belum genap sebulan ini. Besok hari Sabtu, upacara melepas kepergian beliau dan Minggu upacara pemakamannya. Selama ini beliau sudah menjadi sebagian inspirasi tulisan saya, kami sangat menyayangi layaknya satu keluarga. Terimakasih.

 

Nenek Leung murung! Memandang hujan di luar jendela yang turun disertai angin sejak semalam belum juga mereda. Acara yam cha yang biasa dia lakukan tiap pagi jadi tertunda. Siang tak mungkin yam cha, sebab akan pergi ke kuburan leluhur dalam rangka Ching Ming Festival. Saya sudah menawarkan untuk memanaskan kue man dhao kesukaannya yang ada di kulkas atau memasak ham yiek fan, tapi dia menolak.

“Tolong buatkan aku minum, Me.” Dia menyuruh saya, sambil mengambil beberapa batang dupa, dinyalakan, lalu ditancapkan ke tempat pemujaan leluhur.

“Makasih, Me, kamu selalu rajin membersihkan tempat sesaji, mengganti minuman dan buah-buahan. Dewa akan melindungimu.”

“Makasih, Nek. Tapi itu kan sudah menjadi bagian tugas kerja juga.”

Saya letakkan cangkir minumnya, sekalian koran terbitan hari Rabu, yang menyajikan daftar kuda-kuda yang bisa dipilih untuk dijagokan di judi pacuan kuda. Judi pacuan kuda oleh pemerintah Hong Kong dilegalkan.

Setiap hari Rabu dan Minggu dia selalu sibuk di depan TV dan radio, mengikuti jalannya pacuan kuda. Dia juga selalu meminta saya untuk membantu mendoakan agar menang. Basa-basi saya iyakan saja. Herannya kok ya sering menang! Duh! Padahal saya bingung, masak mendoakan orang mau berjudi?

“Meeeee! Ini teh apa yang kamu berikan ke saya?!” Teriakannya sangat mengagetkan! Hampir saja foto Aye, almarhum suami nenek, yang sedang saya bersihkan dengan kain basah, terlepas dari tangan saya. Alhamdulillah, selamat! Jika tahu Nenek, dia sangat tidak suka saya membersihkan debu yang menempel di bingkai kaca foto Aye.

“Ini teh, nggak tahu apa namanya, Nek! Anakmu Hong Shang yang membelikan. Katanya bagus untuk memperlancar buang air besar. Harus diminum sampai habis! Jadi, sementara nggak boleh minum whu lung cha atau pho le cha.” Saya memang tidak bisa membaca tulisan China, yang meliuk-liuk di bungkus teh tersebut.

“Huu… Fu a!!” Pahiit, keluhnya.

Dia meletakkan cangkir dengan kasar. Saya rayu dia agar mau menghabiskan minumannya. “Saya akan berdoa agar hujan berhenti, Nek.”

Saya bujuk dia seperti saya membujuk anak kecil. Tiba-tiba matanya berbinar. Saya jadi ingin tertawa. Sejak kapan saya bisa jadi pawang hujan?

Nenek dengan terpaksa menghabiskan minumannya, mungkin tepatnya jamu. Lalu dengan isyarat tangannya menyuruh saya segera berdoa. Sudah pokoknya yang penting berdoa, meminta pada Allah agar hujan mereda. Tapi baru selesai saya mengucap kata amin, hujan turun makin deras, bahkan disertai petir.

Walah! Kontan Nenek ngomel-ngomel! Saya ngakak! Tak kuat menahan tawa lagi. Lha wong saya memang bukan pawang hujan. Beruntung doa saya tidak dikabulkan oleh-Nya. Jika dikabulkan, nanti Nenek akan berulang kali menyuruh saya menyetop hujan.

Akhirnya Nenek menikmati sarapan semeja di rumah dengan saya. Keinginannya pergi yam cha kalah diguyur hujan. Tapi makan lahapnya tiba-tiba terhenti ketika di ujung meja makan matanya melihat foto Aye. Duh! Saya lupa meletakkan foto Aye pada tempatnya. Wajah nenek berubah seperti Naga Api. Dia sangat marah! Tapi saya tidak ketakutan. Sudah biasa saya menghadapi emosinya seperti itu. Aye, walau sudah meninggal beberapa tahun lalu, kesalahannya masih saja belum dimaafkan.

“Kalau saja tidak menghargai anak-anak, aku tak sudi fotonya itu ada di rumah ini, Me!” begitu ucapnya sudah tak terhitung ingatan.

“Tulislah nomor kuda yang kau jagokan, aku nanti akan membelinya sebelum berangkat ke kuburan.” Kualihkan emosinya.

Dia masih mengeluarkan kata-kata kasar, umpatan yang ditujukan ke Aye ketika menerima koran berisi pacuan kuda yang saya taruh di pangkuannya.

Diam-diam saya letakkan kembali foto Aye di tempat pemujaan leluhur, berjajar dengan beberapa foto keluarga bos saya yang sudah meninggal. Saya pandangi wajah Aye. Semasa hidupnya dia sangat baik pada saya dan sayang pada cucu-cucunya.

Menurut cerita Nenek, Aye sewaktu masih menjadi suami Nenek berkelakuan tidak baik, pemalas, tidak mau bekerja membantu Nenek. Sukanya menghabiskan uang Nenek untuk berjudi ke Macau. Pergi beberapa hari, pulang-pulang dalam keadaan mabok, lalu memaksa Nenek untuk memberinya uang lagi. Begitu berulang dilakukannya. Padahal, pekerjaan Nenek sehariannya hanyalah penjual sayur di pasar.

Suatu hari ketika Hong Kong digoncang badai sinyal 8, Nenek kebingungan memikirkan dua anaknya yang masih kecil, tinggal berdua saja di rumah. Mereka menelepon Nenek, tapi yang terdengar cuma suara tangisan.

Meski cuaca begitu buruk, hujan deras dan tiupan angin sangat kencang, Nenek harus tetap berjualan. Padahal, dia sedang mengandung juga. Demi menghidupi keluarganya. Nenek bingung. Akhirnya dia menutup toko sayurnya, memutuskan untuk pulang melihat anak-anaknya.

Alangkah terkejutnya. Ketika sampai di rumah, Nenek melihat Aye dengan perempuan lain di di tempat tidur Nenek, sementara dua anaknya menangis ketakutan di kamar mandi.

Digendongnya kedua anaknya, Nenek kalap! Berlari sambil menangis menerobos hujan lebat, sampai polisi datang mengamankan dari hantaman badai. Sejak itu, Nenek memilih hidup sendiri dan sudah tidak mau bertemu dengan Aye.

Kesengsaraan hidup dan penderitaan batin menjadikan Nenek tumbuh menjadi seorang ibu yang tegar dan pekerja keras. Pukul dua pagi, Nenek sudah pergi kulakan sayuran ke San Kai, pagi sekali toko sayurnya sudah buka. Karena rajinnya, usaha jualan sayurnya tambah hari tambah maju. Dia bisa beli rumah, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya. Ketiga anaknya pun kini hidup berkecukupan.

“Gung em kaniu! Mo ham! Chung kaniu ganik! Maman taipa Jin.” Miskin nggak papa! Jangan menangis! Yang penting giat bekerja! Nanti akan kesampaian kaya! Itu nasihatnya selalu pada saya dan cucu-cunya.

Sedang Aye, setelah melakukan perbuatan yang sangat menyakitkan hati Nenek, dia meninggalkan Hong Kong, hidup ke negeri China, puluhan tahun hingga pulang kembali ke Hong Kong, terlunta-lunta sebatang kara. Akibat kemiskinan, hidupnya dijamin pemerintah.

Setelah kembali ke Hong Kong, hari-hari kehidupan Aye sangat menyedihkan. Ketiga anaknya tak ada yang menggubrisnya, entah karena teringat kelakuan bapaknya di masa muda atau memang takut dengan Nenek.

Bertahun-tahun, yang dilakukan Aye adalah duduk di kursi tua, di ruas jalan bawah apartemen rumah Nenek. Padahal, rumahnya dengan apartemen Nenek berjarak tempuh kurang lebih satu jam. Sepertinya dia sudah insyaf, menyadari kesalahnnya di masa muda. Dia duduk di tempat itu dengan tujuan agar bisa melihat Nenek dan anak-anaknya. Aye tidak pernah berani menyapa Nenek, tapi selalu menyapa anak-anaknya yang pergi dan pulang kantor, walau anak-anaknya acuh tak acuh menjawabnya.

Awal pertemuan saya dengan Aye, ketika saya baru datang di Hong Kong. Lantas saya diajak keliling seputar tempat kerja saya oleh Nyonya. Menunjukkan beberapa jalan, misalnya, bagaimana menuju pasar ataupun membeli kebutuhan dapur di toko terdekat. Aye menyapa Nyonya ketika kami bertemu. Nyonya kemudian memberi tahu bahwa Aye adalah mertua lelakinya. Sejak itu mulailah setiap bertemu, dia selalu menyapa saya dengan senyuman atau anggukan, sebab terhalang bahasa.

Ketika Nyonya melahirkan bayinya, saya cukup lama tidak bertemu Aye, sebab saya tidak ditugaskan belanja lagi, khusus tinggal di rumah mengurus bayi. Tapi Aye masih bisa saya lihat dari atas jendela apartemen. Sebab, jika sore hari duduk Aye pindah ke seberang jalan di depan toko penjual daging babi, yang bisa dilihat dari jendela kamar saya juga kamar Nenek.

Anak asuh saya, Shiu Mui, yang mulai besar diam-diam saya mempertemukan dengan Aye di bawah rumah. Aye begitu bahagia melihat cucunya hingga dia menangis. Ketika Shiu Mui mulai masuk sekolah, Aye diam-diam selalu ikut mengantar dan menjemputnya bersama saya. Lama-lama kebiasaan itu diketahui Nenek.

Dia sangat marah kepada saya. Dia mangadu ke anaknya, ya bos saya itu. Saya jelaskan padanya bahwa Aye tak pernah sekali pun mencium Shiu Mui. Dia cuma memegang jemari kecil Shiu Mui ketika dia mengajak cucunya bercanda. Nenek selalu bilang Aye kotor dan bau karena seharian berada di jalanan, takut menularkan penyakit.

Seiring dengan berlarinya waktu, Shiu Mui makin besar dan Aye makin tua. Ketika winter datang, dia terserang batuk yang hebat. Mungkin akibat tubuh tuanya tidak bisa menahan dinginnya udara. Shiu Mui saya nasihati untuk hormat dan sayang pada kakeknya.

Dia juga saya ajari untuk merengek ke orang tuanya dan neneknya agar Aye boleh main ke rumah. Sudah tentu Nenek protes keras, tapi Nyonya saya, maminya Shiu Mui, akhirnya mengizinkannya. Dengan catatan: Aye boleh diajak ke rumah ketika Nenek tidak di rumah atau sedang berjualan di pasar. Papanya Shiu Mui tidak mampu menolak keputusan istrinya.

Saya sampai sujud syukur waktu itu. Doa saya untuk menyatukan Aye dengan anak dan cucunya dikabulkan Allah walau Nenek hatinya masih membatu.

Lambat laun, kedua anak Aye lainnya, yaitu kakak dan adik bos saya, juga bersikap baik kepada Aye. Kami sering diam-diam tanpa sepengetahuan Nenek makan siang bersama dengan Aye di restoran.

Suatu siang ketika saya menjemput Shiu Mui dari kursus melukis, saya dikejutkan berita duka. Kakek terjatuh dari kursi yang biasa dia duduki di pinggir jalan. Setelah dibawa ke rumah sakit, dua hari berikutnya dia meninggal dunia.

Saya merasa sangat kehilangan, begitu juga dengan Shiu Mui dan kedua orangtuanya. Berhari-hari kami berkabung. Ketika kami ke tempat peristirahatan Aye, sebelum dilakukan pembakaran jenazahnya, Nenek memilih tidak datang.

****

Hujan mereda. Jalanan licin sisa genangan air hujan ada di mana-mana. Saya berjalan super hati-hati menuntun Nenek, sambil membawa tiga plastik besar perlengkapan keperluan ke kuburan. Kebetulan rumah Nenek di Hung Hom tidak jauh dari stasiun kereta api yang akan membawa kami ke tempat pemakaman Wo Hop Shek di Fanling.

Shiu Mui juga akan ikut saya dan Nenek, sepulang kuliah. Dia akan menyusul kami, untuk bertemu di Stasiun Fanling. Ketika kami sampai di Stasiun Fanling, Shiu Mui ternyata sudah sampai terlebih dahulu. Senyum cantiknya langsung menyambut kami. Lalu gantian memeluk saya dan Nenek. Itu kebiasaan yang dilakukannya.

Dari Stasiun Fanling, kami bertiga masih harus naik taksi kurang lebih lima belas menit menuju pemakaman Wo Hop Shek, salah satu pekuburan di Hong Kong. Kuburan di Hong Kong sangat beda dengan di Indonesia, walau lokasinya nyaris sama, di perbukitan, agak jauh dari rumah penduduk. Teduh dengan rimbun pepohonan dan aneka bunga yang bermekaran di musim semi. Tersedia juga beberapa bangku kayu bercat di lantai dasar taman. Tiba-tiba bulu kuduk saya merinding ketika imajinasi liar saya muncul. Lha bangku-bangku itu jika malam hari, siapa ya yang datang mendudukinya?

Ada rasa seram juga ketika kaki mulai menginjak lokasi pekuburan. Apalagi hari beranjak senja dan langit masih menyimpan gelapnya awan. Bau asap dupa menyengat tajam. Shiu Mui memegang erat tangan saya. Seekor anjing besar menyambut kedatangan kami, tentu saja kami spontan mundur beberapa langkah. Tapi anjing itu kemudian pergi ke arah lain tanpa menggonggong.

Qingming

Pekuburan yang kami datangi berbentuk bangunan beberapa lantai. Setiap lantai dibagi per ruangan dengan disekat oleh dinding. Setiap ruangan kurang lebih menyimpan seratus abu jenazah dalam kotak-kotak kecil yang ditandai foto, nama, tanggal lahir dan tanggal kematian.

Setiap kotak jenazah di samping kiri dan kanannya disediakan tempat meletakkan batang dupa dan bunga. Lalu, di atas lantai di setiap ruang penyimpan abu jenazah, diletakkan empat kotak persegi panjang berisi abu untuk menancapkan batang-batang dupa. Juga disediakan meja tempat melakukan ritual sesaji ke arwah.

Letak kuburan leluhur Nenek di lantai dua, ruang dua letak kotak jenazah di bagaian bawah beberapa jengkal dari lantai. Sedang Kuburan Aye berada di wilayah lain, yaitu di Shai Kung. Saya dan Shiu Mui segera mengangkat meja, meletakkannya persis di samping kotak jenazah leluhur Nenek. Kotak tersebut menyimpan empat abu jenazah, yaitu kedua orangtua Nenek dan kedua orangtuanya neneknya Nenek. Waduh, nggak tahu gimana menyebutnya.

Di atas meja saya letakkan satu ingkung ayam, satu piring babi panggang, satu piring buah-buahan, yaitu jeruk dan apel, 4 sumpit, 4 cangkir kecil berisi arak, 2 dupa besar, 2 dupa yang dibalut lilin merah saya tancapkan di kotak persegi panjang yang memang disediakan untuk ritual sesaji pembakaran hio.

Shiu Mui kemudian membantu mengganti bunga-bunga yang layu dan membantu menyalakan dupa-dupa itu. Sedang Nenek, dia sibuk mengatur uang-uang kertas imitasi dan beberapa lembar baju perempuan dan lelaki yang juga terbuat dari kertas yang akan dibakar, konon sebagai bekal arwah leluhurnya di alam sana. Tiga ikat batang dupa lainnya dibagikan ke kotak-kotak jenazah yang ada di sekitar ruangan sebagai tanda ikut mendoakan mereka yang sudah meninggal.

Nenek memulai ritual, menuangkan cangkir-cangkir arak, kemudian disusul air teh ke kotak persegi panjang tempat pembakaran dupa.

“Aku, Shiu Mui, dan Meme datang menengok dan mendoakanmu. Entah sampai kapan aku masih bisa menengok kalian, aku sudah semakin tua dan mulai sakit-sakitan. Semoga Dewa melindungimu dan melindungi kami.” Mulut Nenek komat-kamit merapal doa, suaranya parau karena sambil menangis.

Lalu, Nenek menyuruh para arwah menikmati sesaji. Lagi-lagi imajinasi ngawur saya kambuh. Jika mata ini bisa melihat para arwah leluhur bangkit lalu melahap sesaji yang ada, hiii…!

Saya alihkan pikiran secepatnya dengan memandangi satu per satu wajah-wajah dalam foto yang menempel di dinding kotak penyimpan abu jenazah. Kelak saya pun akan menyusul mereka. Jika sudah “dijemput”, siap atau tidak siap tentu tak bisa menolak. Diam-diam dalam hati saya mendokan semua yang sudah meninggal mendahului saya. Mereka semua kan manusia ciptaan Allah juga. Semoga dosa mereka semasa hidupnya diampuni oleh-Nya.

Kemudian Shiu Mui dan Nenek membakar uang-uang imitasi, baju, dan barang-barang dari bahan kertas yang diberikan ke arwah leluhur sesuai nama-nama yang tertulis.

Sebagai tradisi Ching Ming, menurut kepercayaan masyarakat China, makanan bekas sesaji leluhur banyak membawa berkah. Makanya yang datang ke kuburan dianjuran ikut memakan sesaji. Nenek pun menyuruh saya makan. Saya mengambil sebuah jeruk, sebagai tanda penghormatan ke Nenek yang manawari saya makanan.

“Nek, ingat, tidak, apakah Nenek pernah mengajari saya dan Shiu Mui melakukan ritual sesaji di kuburan untuk arwah?” Ketika dalam perjalanan pulang, saya beranikan diri bertanya pada Nenek.

Nenek tidak menjawab pertayaan saya, dia malah mengerutkan dahinya.

“Yang mengajari kami Aye, Nek!” kata Shiu Mui, sambil menggamit lengan neneknya.. Lalu Shiu Mui menjelaskan, semasa hidupnya, Aye dikejar rasa bersalah ke Nenek dan anak-anaknya. Aye juga banyak memberikan nasihat dan bimbingan, termasuk ritual menengok arwah leluhur ke kuburan.

“Aye berharap jika Aye dan Nenek sudah meninggal, kami rajin menengok kalian ke kuburan,” sambungku.

Nenek diam saja. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, membalikkan badan persis di depan saya.

“Me, besok pagi belilah lagi perlengkapan sesaji buat ke kuburan di Sai Kung,” ucapnya.

Tentu saja ucapan Nenek mengejutkan saya dan Shiu Mui. Nenek mau ke kuburan Aye! Shiu Mui merangkul Nenek, erat sekali. Saya membuka payung hitam lebar, karena hujan turun lagi. Memayungi Nenek dan Shiu Mui yang saya suruh berjalan di sebelah kiri dan kanan saya.

Sesaat suasana terasa hening, hanya suara sepatu kami yang terdengar berjalan kian menjauh meninggalkan pekuburan. Hujan makin deras, saya lirik Nenek. Air matanya jatuh menetes ke pipi tuanya, lalu luruh jatuh ke jalanan bersatu dengan air hujan. Saya pun tak kuasa menahan sesak dada karena terharu. Kelak jika Nenek menyusul Aye, dia sudah tidak menyimpan rasa sakit hati lagi.

QING MING

(selesai). – Ching Ming Festival, April 2012 (Sumber Koran Sinar Harapan)

 

15 Comments to "Air Mata Nenek Leung"

  1. uchix  18 December, 2012 at 06:39

    Tulisannya sangat menyentuh

  2. Mega Vristian  15 December, 2012 at 16:13

    Pak Dj. Tidak sampai menangis to? Hehehe. Itu ada salah ketik ya? Maksudnya ” Wanita” bukan ” Anita” kan? Walau bisa diartikan sama-sama perempuan. Anita itu nama anjing tetangga rumah saya, yang sering menyalak ketika suami saya keluar rumah. Mungkin maksudnya menyapa ya.

  3. Mega Vristian  15 December, 2012 at 16:07

    Pak Sumonggo, ” perempuan yang dimatangkan oleh nasib” saya menyukai komentar bpk.

  4. Mega Vristian  15 December, 2012 at 16:03

    Mbak Linda [email protected] Semoga kita juga bisa ya mbak. Salam hangat.

  5. J C  15 December, 2012 at 05:45

    Mega, kisah ini sangat mengharukan. Luar biasa! Dilengkapi dengan dialog-dialog pendek yang bermakna dalam.

    Semoga Nenek dan Aye seperti dalam foto terakhir itu…(Qing Ming = 清明) —-> clear and bright…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.