Pejaten (12)

Fidelis R. Situmorang

 

Ada debar penuh harap di jantungku ketika ponsel yang kuletakkan di meja baca bergetar. Ada pesan yang masuk. Begitu kubuka, ternyata dari nomor tak kukenal, yang menawarkan kredit tanpa angunan dari bank asing. Astaga! Tengah malam begini? Apa tidak ada waktu lain sehingga harus mengirimkan sms penawaran produk mereka tengah malam begini? Tahu dari mana pengirim pesan itu nomor pribadiku?

debar-cinta

Mungkin benar canda seorang teman yang berkata, bahwa lebih mudah seorang sales masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga. Tapi apa hubungannya lubang jarum dengan sales, orang kaya dengan surga? Tapi yang pasti, aku merasa sangat terganggu dan kecewa, karena hari-hari belakangan ini, setiap ada panggilan atau pesan yang masuk, aku selalu berharap itu hanya dari Riri. Dan ternyata bukan. Sudah seperti orang bodoh saja aku ini.

Kuletakkan lagi ponselku di meja baca di dekat novel berjudul Bulan Lebam di Tepian Toba, pemberian Riri. Gambar purnama yang hanya separuh pada sampul buku itu seperti mewakili rasa rindu dan sepi di hatiku. Riri memberikannya kepadaku sehari setelah kami berbincang-bincang tentang kampung halaman.

“Rain, aku pernah lho, berkunjung ke kampungmu, ke huta Siallagan,” kata Riri waktu itu.

“Wah, asyik banget! Sama siapa?”

“Sama teman-teman kantor. Di Ambarita, Pulau Samosir kan? Tempatnya bagus lho, dikelilingi batu-batu besar yang tersusun bertingkat rapi seperti benteng. Di tengah Huta Siallagan ada satu pohon mirip beringin yang ditanam sebelum membangun kampung itu. Disebutnya Hau Habonaran.”

“Kok kamu tahu, Ri?”

“Kan ada pemandunya… Hehehe…” Riri tertawa. “Ceritanya, Perkampungan ini dibangun pada masa Raja Laga Siallagan, pemimpin huta pertama. Peningggalan berupa kursi persidangan, masih bisa kita temui di sana,” lanjut Riri.

“Kok Kamu nggak ngajak aku sih?” tanyaku bercanda.

“Waktu itu kita belum kenal. Makanya surprise banget aku bisa kenal sama kamu, yang keturunan Siallagan, nggak lama setelah mengunjungi tempat itu. Sampai pacaran segala lagi.” jawabnya tersenyum memainkan alisnya.

“Hahaha… Kita ke sana lagi yuk…”

“Ayo, nanti sekalian kita kawin dan bulan madu di sana…”

“Hahaha…”

Kami tertawa bersamaan. Tentu saja Riri hanya bercanda mengatakan itu, karena dia sudah bertunangan dengan Guntur dan akan segera menikahinya.

 

“Kamu belum pernah ke sana ya, Rain?

“Belum.”

“Belum pernah pulang kampung?”

“Oh, udah, aku udah 3 kali pulang kampung. Tapi nggak ke Samosir. Pulangnya ke Siantar di daerah Simalungun.”

“Kok gitu?”

“Kakek dari kakekku udah bermukim di Siantar. Bapak juga udah lahir di sana. Jadi kalau pulang kampung, Bapak membawaku ke Siantar, ke kampung halamannya, bukan ke samosir.”

“Oh, gitu… Terus kamu lahir di Siantar?”

“Nggak. Aku lahir di Pejaten…”

“Hahaha… Serius di Pejaten?”

“Maksudku, aku lahir di Jakarta, Ri… Di Rumah sakit UKI.”

“Oh… Hahaha… Kamu pernah kangen kampung, Rain?”

“Gimana ya, Ri? Aku lahir dan besar di sini. Jadi aku lebih kangen Jakarta dari tempat mana pun yang pernah kukunjungi. Kota ini selalu menjadi tempatku kembali pulang.”

“Padahal banjir, padahal macet, padahal sumpek?”

“Iya… Pengen sih pulang kampung, main-main ke sana, tapi ngapain di sana? Sepi! Saudara-saudara sepupuku yang lain aja udah merantau ke berbagai tempat. Terakhir aku pulang kampung, suasananya sepi banget, Ri, yang ada cuma orang tua dan anak-anak. Kebanyakan orang mudanya pada merantau ke kota-kota besar. Sepi banget, Ri… Pribadi-pribadilah yang membuat kita rindu, kemudian baru tempat. Tempat hanya mengingatkan kita pada orang-orang yang kita rindukan.”

“Oh, begitu ya… tumben kamu serius… Hahaha… nanti kapan-kapan kita main ke sana ya, sekalian main ke Samosir, ke tanah leluhur kamu,” kata Riri.

“Iya, kan kita nanti menikah di sana… Hahaha”

 

Malam itu sungguh menyenangkan. Kami menikmati purnama rembulan yang sepertinya hanya bersinar untuk kami berdua.

“Aku yang menyalakan purnama ini untukmu, Ri,” kataku merayunya.

“Hahaha… terima kasih, sayang,” jawabnya mencium pipiku.

fall-inlove

Keesokan harinya, Riri membawakan aku novel Bulan Lebam di Tepian Toba karya Sihar Ramses Simatupang.

“Aku beli dua. Satu untukmu dan satu lagi untukku,” katanya dan memasukkannya ke dalam tasku.

Kebetulan aku juga membawa satu buku di tasku. Kuberikan buku Telepon Genggam karya Joko Pinurbo kepadanya.

“Kamu itu unik Rain, tak mau menerima suatu pemberian dengan cuma-cuma, itu baik, tapi akan ada saatnya, sang waktu mengajari kita untuk menerima pemberian orang lain sebagai satu ketulusan dan hati yang ingin berbagi, bukan sebagai hutang yang harus dibayar. Butuh kerendahan hati untuk bisa menerima pemberian orang lain. Apa lagi pada saat di mana kita memang benar-benar tak bisa membalasnya,” Katanya tersenyum. Aku membalas senyumnya, enggan berdebat.

Kerinduan pada Riri mengajakku membuka halaman-halaman novel Bulan Lebam di Tepian Toba. Tanpa terasa kedua mataku basah. Ada nama Monang di sana. Air mataku jatuh tepat di huruf-huruf yang membentuk nama Hamonangan. Sepertinya aku dipertemukan kembali dengan adikku yang telah lama hilang. Ah, Riri apa yang sebenarnya telah kau perbuat padaku? Kenapa begitu dalam kau masuk ke hatiku?

Ponselku bergetar lagi. Kuharap itu dari Riri. Ternyata dari orang lain: promo cashback 1%, free provisi, proses 2 hari kerja, pinjaman tunai tanpa jaminan 51-200 juta, syarat mudah. Keterangan lebih lanjut hubungi Susi. 

Kumatikan ponselku.

 

19 Comments to "Pejaten (12)"

  1. Fidelis R. Situmorang  17 December, 2012 at 23:25

    Hahaha… Aduh aku ketawa kenceng banget nih… Pasti kaget banget Om Dj dapet sambutan gitu ya… Iya, Om, untuk hal ini orangtua Batak memang agak ketat. Saya sendiri nggak ngerti kenapa nggak boleh pake celana pendek. Pantang, kata Ibu saya.

    Waktu SMP pernah musim celana hawai pendek di sini, Om, tapi karena nggak boleh, kami pakenya diem-diem aja kalau jalan2 sama temen-temen. Sampe sekarang Kami anak2 ibu, nggak pernah pake celana pendek di rumah, kecuali di kamar sendiri… Hehehe…

  2. Dj. 813  16 December, 2012 at 23:44

    Maaf photonya ketinggalan.
    Ini photo ppasar traditional dari luar….

  3. Dj. 813  16 December, 2012 at 23:38

    Bung F.R.S. ,
    Saat ertama kali ke Toba, kami nginap di Prapat Hotel di Prapat,di tepi danau.
    Sangat bagus, hanya saja, keesokan harinya, setelah mandi bersih, waangi dan kami jalan masuk
    pasar tradisional.
    Tau-tau Susi di lempar dengan sayuran ( kalau tidak salah, kangkung ) , kami kaget dan ibu-ibu yang
    lempar beberapa kali, sambil bicara keras, tapi kami tidak tau apa yang dia katakan, ( tidak ngerti ).
    Kemudian ada ibu-ibu lain yang menterjemahkan, bahwa kalau masuk pasar, jangan dengan celana pendek, itu tidak sopan. Untung tidak jauh dari hotel dan kami kembali ke hotel dan susi ganti pakaian dengan celana panjang.
    kami masuk lagi ke itu pasar dan si ibu yang lempar sayuran, dia senyum manis.
    kamipun juga senyum senang….
    Hahahahahahaha….!!!

  4. Fidelis R. Situmorang  16 December, 2012 at 23:24

    @Bu Matahari: Hehe… Iya, Bu, nggak salah lihat kok, ada sedikit kekeliruan penulisan judul. Maaf ya, Tapi emang itu sambungannya. Mudah2an nggak terlalu menggangu ya, Bu…

    @elnino : Makasih banyak, Pak Elnino. Jadi GR aku nih…

  5. Fidelis R. Situmorang  16 December, 2012 at 23:20

    @Om Dj: Kalau melihat spanduk di foto, ini sekitar bulan agustusan ya, Om?
    Wah serunya diajak ikutan pesta. Satu yang saya suka dari pesta kawin orang Batak, banyak lagu-lagu yang dinyanyikan di sana, bukan cuma lagu batak, lagu papua dan beberapa lagu daerah lain juga ikut dinyanyikan. Lagu india seperti Kuch kuch hota hai dan lagu Oh, burung Farid Harja juga dinyanyikan Hahaha…
    Seneng deh denger cerita dan liat foto Om Dj waktu di sana

  6. elnino  16 December, 2012 at 20:50

    Sama seperti matahari, aku suka serial Pejaten ini. Kalimat2nya mengalir ringan, alami, tapi tidak kehilangan makna… Masih setia menanti lanjutannya

  7. matahari  16 December, 2012 at 02:31

    Saya tadi lupa mau tanya .kenapa Pejaten 7 tidak ada…..dari Pejaten 6..lompat ke Pejaten 8…diantara nya ada October Kiss….mungkin ini Pejaten 7….atau saya yang salah lihat….

  8. Dj. 813  16 December, 2012 at 01:43

    Fidelis R. Situmorang Says:
    December 16th, 2012 at 00:31

    @Om Dj: Wah sudah pernah main ke Samosir ya, Om… Udah lama banget ya. Ini foto Om Dj sendiri yang ngambil? Jadi pengen pulang kampung deh… Makasih Fotonya ya, Om…
    ———————————————————-

    Benar, itu photo Dj.ambil sendiri dan juga saat pulang dari Prapat ( dimana kami menginap beberapa hari ), ke Medang, kami masih sempat mampir di Siantar.
    Satu kejadian yang sangat aneh.
    Kami lihat ada iring-iringan dan kami mendekat ingin tau ada apa…???
    Taunya ada orang nikah dan sudah dekat dengan Gereja, maka.kami ikutan lihat.
    Kami malah diajak ikutan pesta, sangat menyenangkan, orang-orang yang begitu ramah.
    Ini ada photo saat kami lihat pertama kali ada becak bermotor dan penumpangnya ada di sepelah pengemudi.
    Kenangan di siantar.

  9. Fidelis R. Situmorang  16 December, 2012 at 00:31

    @Om Dj: Wah sudah pernah main ke Samosir ya, Om… Udah lama banget ya. Ini foto Om Dj sendiri yang ngambil? Jadi pengen pulang kampung deh… Makasih Fotonya ya, Om…

    @Bu Matahari: Terima kasih, Bu… Seneng banget deh dapet pujian dari Bu Matahari. Makasih mau meluangkan waktunya membaca dari awal. Mudah2an bisa menulis lebih baik lagi ya. Sukses dan bahagia selalu ya, Bu Matahari.

    @Bu Alvina: Iya, lanjut lagiiiii

    @Ko J C : Hahaha… Waktu-waktu asyik itu ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.