Mengejar Mastok

Wesiati Setyaningsih

 

Hari Rabu itu sudah saya rencanakan untuk bertemu Mastok, teman Baltyra yang dulu sudah sering ngobrol baik dengan chat maupun lewat telepon. Dari poster seminar yang ditag ke saya, saya tahu acara Mastok hari itu adalah menjadi salah satu pembicara yang diadakan jurusan Arsitektur Undip.

Karena seharian sibuk sendiri, lalu pulang ke rumah langsung bertugas antar jemput drum band Izza dan ibu arisan, saya hanya bisa berharap bertemu Mastok besoknya. Jadi malam itu, terbaring di kasur dengan kantuk yang mulai menyerang, saya sms Mastok, minta diberi waktu bertemu besok malam. Tiba-tiba hape saya bergetar, ada nomor Mastok di situ. Mastok mengatakan sedang ingin keluar dan tidak tahu mau ke mana. Spontan saya bilang, saya akan jemput. Maka mulailah petualangan saya malam itu. Petualangan yang luar biasa.

Tanpa tahu bahwa di luar sedang gerimis kecil-kecil, saya bergegas mengambil jins dan blus tipis favorit, lalu pamit pada ibu dan anak-anak untuk keluar sebentar menemui seorang teman di Undip. Keluar malam, saat itu jam setengah tujuh, dengan alasan menemui teman apalagi sampai ke Undip, bukan alasan yang biasa. Anak-anak yang sudah terlalu capek siangnya mulai mengantuk dan ibu saya asik menonton televisi, tidak sempat bertanya lebih panjang lagi. Suami sedang menginap di rumah mertua dan saya terlupa tidak sempat sms bahwa saya akan keluar malam-malam.

Arsitektur Undip, itu tempat yang disebutkan Mastok mengenai keberadaannya. Sebelum ke sana saya mampir ke rumah teman untuk saya ajak menemani sekaligus saya kenalkan dengan Mastok, namun ternyata teman saya tidak ada. Saya bertemu beberapa mahasiswa Undip yang sering nongkrong di situ. Saya menanyakan di mana tepatnya lokasi Arsitektur Undip. Dengan berdasar petunjuk yang diberikan Toriq, anak teknik Undip yang saya tanya, saya melaju ke Undip.

Gerimis kecil menemani saya memacu motor dengan kecepatan 40 km/jam. Itu sudah termasuk ‘ngebut’ buat saya karena biasanya saya cuma memacu motor saya 30 km/jam. Langit yang mendung membuat malam semakin gelap. Sepanjang jalan saya berdoa semoga hujan berhenti. Akhirnya, sampailah saya di gerbang Undip. Seperti petunjuk Toriq, saya belok kiri, menuju perempatan yang ada patung sapinya, belok kiri lagi. Gedung kedua sebelah kanan setelah gedung Planologi. Jalan yang gelap, gedung yang juga gelap, saya belok ke gedung yang ternyata adalah gedung Plano. Beruntung saya masih bertemu seorang pemuda yang kemudian menunjukkan saya gedung Arsitektur.

Sampai di sana, gedung benar-benar sepi. Tidak ada lagi yang saya temui. Saya menelpon Mastok. Ternyata beliau sudah ada di Indomaret depan gerbang Undip. Waduh. Saya keluar lagi dari Undip menuju Indomaret yang disebutkan Mastok. Begitu keluar dari gerbang Undip, mata saya segera menemukan Indomaret. Begitu membelok melewati tugu kecil depan gerbang, saya sudah melihat seseorang dengan ikat kepala putih. Saya langsung tahu itu Mastok.

1

Sampai di parkiran Indomaret, saya menyaksikan sosok orang dengan ikat kepala dari kain putih, kemeja gombrong sederhana warna kelabu dan celana kolor di atas mata kaki yang warnanya sudah tidak jelas antara putih atau coklat muda, sedang antri di kasir. Begitu motor saya masuk parkir, entah mendapat firasat apa, Mastok langsung menoleh dan tersenyum lebar pada saya seolah yakin bahwa itu saya. Padahal kami belum pernah bertemu muka sama sekali.

Beberapa waktu sebelumnya saya sudah diberi tahu mas Anung yang mendeskripsikan bagaimana penampilan Mastok. Jadi saya tidak heran dengan penampilan Mastok yang tidak biasa termasuk bertelanjang kaki. Beberapa orang yang berbaris di kasir bersama Mastok sempat melihat heran kepada Mastok. Saya tertawa dalam hati. Pasti dia heran melihat orang berpenampilan seperti gelandangan di kasir Indomaret. Belum tahu dia, bisa jadi Mastok justru jauh lebih luar biasa dari dia yang penampilannya seperti masih mahasiswa. Saya ambil kamera, saya potret Mastok dari belakang untuk memotret betapa kontras Mastok dengan lingkungannya.

Sampai di luar Indomaret, Mastok segera menyalami saya. Saya potret sekali lagi.

“Ah, jangan di sini motretnya,” kata Mastok mengelak. Tapi toh dia memamerkan senyum lebarnya.

2

“Ayo saya bonceng,” kata saya menuju motor Supra yang saya beli tahun 2000.

Mastok duduk di boncengan saya dan saya kembali melarikan motor untuk membawa Mastok mencari makan.

“Aku enggak makan daging selain bakso,” kata Mastok.

“Ayam juga enggak?”

“Enggak.”

Baik. Saya tahu bakso yang enak di sekitar situ. Karena dekat dengan kampus, bertebaran tempat makan yang enak. Melewati rumah makan yang memasang spanduk kepala ikan dan seafood, Mastok nyeletuk,

“Makan ikan boleh juga tuh.”

Jadi saya belokkan motor ke situ. Di dalam banyak orang. Sepertinya rumah makan ini punya cukup banyak pelanggan. Kami masuk dengan santai. Tak pelak berapa orang aneh kami berdua.

3

Di rumah makan itulah saya menimba ilmu kehidupan dari Mastok. Setelah mendengarkan curhat saya yang panjang lebar, Mastok mengatakan, kalau orang-orang masih sibuk mengatakan tentang mensyukuri nikmat dia sudah dalam tataran menikmati syukur. Ungkapan yang luar biasa dan terus tersimpan dalam benak saya.

Mastok mengatakan bahwa mestinya dia sudah pulang, tapi karena Undip tertarik dengan konsep yang dia paparkan, akhirnya ada proyek yang harus dilakukan hingga tanggal 15 Desember. Karena tanggal itu saya akan ke Solo menemui beberapa teman Baltyra juga, Mastok memutuskan untuk ikut.

4

Sambil ngobrol Mastok mengeluarkan dua kunci.

“Ini kunci lab di kampus Arsitektur,” katanya.

Saya mengerutkan dahi, bingung.

“Aku tidur di teknik. Di hotel enggak ada jendelanya. Aku takut. Jadi minta pindah aja, tidur di lab teknik.”

Di lab?

Selesai makan kami berfoto narsis dulu untuk melengkapi laporan pertemuan kami. Ini semacam kewajiban yang harus dilakukan kalau para Baltyran bertemu agar bisa diposting di grup.

5

Makan selesai, Mastok membayar makanan. Saya bisa melihat kasir yang posisinya di belakang Mastok tersenyum-senyum pada pelayan yang membawa tagihan pada kami. Saya tahu pasti dia pikir Mastok tidak punya uang. Nyatanya, dia yang membayar tagihan sebesar seratus lima ribu rupiah. Jumlah yang cukup mahal untuk harga umum makanan di sekitar sini untuk porsi makan dua orang.

Dari tempat makan, kami kembali ke gedung Arsitektur Undip. Karena tadinya sudah ke situ, saya sudah tahu jalannya. Gedungnya masih sepi seperti tadi saat saya ke situ. Tidak ada orang satu pun. Mastok mengeluarkan kunci yang dia kantongi tadi. Membuka pintu depan dan kami masuk. Woalah, ternyata Mastok diberi kunci agar bisa masuk tanpa harus ditemani.

Begitu masuk saya langsung melihat meja depan dengan tulisan besar : ‘Arsitektur’.

“Aku mau foto di sini dulu,” cetus saya.

6

Kapan lagi foto dengan latar belakang tulisan besar di meja depan begitu kalau tidak waktu sepi tidak ada orang? Ini kesempatan. Cuma kami berdua di gedung itu. Setelah memotret saya, Mastok mengajak foto berdua. Dia utak-utik kamera saku milik saya untuk memasang pengatur waktu. Saya yang punya kamera itu bahkan tidak tahu cara memasang timer. Kebangetan memang.

7

Ruang yang dipakai Mastok ternyata adalah ruang di lantai dua. Begitu masuk, dinginnya AC segera menerpa. Ruangan yang dialasi karpet itu berisi dua meja kerja dan beberapa set komputer. Tergelar alas tidur di sebuah sudut. Di situlah Mastok tidur.

Malam itu saya pulang setelah diberi oleh-oleh berupa tabung bambu untuk tempat pensil anak-anak. Saya kembali memacu motor saya pulang dengan perasaan luar biasa karena sudah bertemu orang yang luar biasa.

Saya teringat sebuah kisah. Seorang raja mengatakan bahwa dia ingin melepaskan diri dari kemelekatan. Penasehatnya mengatakan, “Lepaskan bajumu dan berjalanlah berkeliling kota.”

Saya kira orang seperti Mastoklah yang sudah benar-benar melepaskan diri dari kemelekatan.

8

BEBAS – IWA K

Bagaikan anak kecil yang berlari bertlanjang bebas

Keluarkan suara-suara canda tawa dan senyum puas

Berteman siraman hujan di lapang yang luas

Tak gentar gelegar petir yang mengaum buas

Yang penting semua senang, kawan

        Sejak kehadiranmu bumi terkekeh riang

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

49 Comments to "Mengejar Mastok"

  1. HennieTriana Oberst  20 December, 2012 at 03:33

    Wesiati, senangnya bisabertemu Mastok.
    Persaudaraan di Baltyra makin erat.

  2. wesiati  19 December, 2012 at 17:24

    komentar 46. mastok meh nang nggonmu mbak? mbok jemput tah?

  3. Lani  19 December, 2012 at 14:51

    MAS TOK : 45 wakakakak……..bener tenan kuwi………jd eling kata2 ini: wo ai ni, ni pu yo, wo pekso……ya sama aja kubawa minggat kuwi mau……..

  4. Nur Mberok  19 December, 2012 at 12:50

    Horrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee MAstok, aku menunggumu ya….. 10 – 15 Jan… Noted!

    Yem : Asikkkkkkkkkkkkkkkkkkkk aku tak nawu banyu mberok sik mulai saiki yo………Meh tak nggo menyambut kalian dengan nggebyur banyu mberok…. hahahah…. sambutan nan meriah dengan suguhan kue moho, jamu jun dan krupuk remason…….. kita akan makan bersama dibawah jembatan mberok berpayung langitm beralaskan tanah ….. wowwwwwwwwwwwwwwwww…… will be the unforgetable moment….. sik asikkkkkkk

  5. Mastok  19 December, 2012 at 10:06

    [email protected] ……Jawabannya….. paling kalo meninang di Tolak ( Ku lihat – Ku Pikat – Ku sikat – Ku bawa Minggat – Nikmas – selamat.. anda memenangkan ……. ) jadi bahaya meMinang…. tahu resiko dan konsekuensinya….

    Manusia Hanya menjodohkan tetapi Tuhan memberi Pasangan….

  6. Lani  18 December, 2012 at 23:39

    MAS TOK : nyusur/nginang dan merokok berbahaya yg mana???? wah……..la yo emboh…….heheh…….krn ora doyan kabeh wlu pernah njajal dua2nya………ora sreg, jd ya ditinggalkan dua2nya…….

  7. Nuchan  18 December, 2012 at 21:01

    Kasihan sekali

  8. wesiati  18 December, 2012 at 18:08

    komen no 33. mbelgedes gondes ding…. kancane teka dijak ketemuan rak iso. dijak nang solo rak iso. nyanyiiii wae gaweyane. awas ke ya. suk januari bakal dilurug karo dewi, tia en aku sisan…

  9. [email protected]  18 December, 2012 at 15:22

    kalo NGINANG sama meMINANG… bahaya mana mastok?

    nginang seperti yang sudah dijelaskan…
    kalo meminang pacar…. jg ada bahayanya… bisa mengganggu kesehatan jantung bukan? (deg2an diterima apa nggak)
    bahaya di dompet sama…. (kalo sukses minangnya keluar duit buat pesta)…

    yaahh…
    mungkin mastok bisa menjelaskan lebih lanjut…. nginang vs minang…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.