Mosuo – The Last Female Kingdom on Earth? A World Without Husbands and Fathers

Josh Chen – Global Citizen

 

Sejarah dan Kondisi Geografis

Mosuo (摩梭) salah satu etnis minoritas di Tiongkok, walaupun sebenarnya masih termasuk dalam Etnis Naxi (56 Etnis Suku di China: Suku Naxi), namun karena keunikannya, Mosuo lebih sering disebut secara terpisah dari payung besar Etnis Naxi dan “tidak terdaftar” dalam 56 Etnis di Tiongkok. Sering juga disebut Moso atau Musuo.

Mereka tinggal di kawasan sekitar provinsi Yunnan dan Shichuan yang disebut dengan Yongning dekat dengan perbatasan Tibet, tepatnya di sekitar Danau Lugu (泸沽湖)yang indah di ketinggian Pegunungan Himalaya dengan titik elevasi terendah 800 meter dan tertinggi sekitar 3.200 meter. Dari kondisi geografisnya secara alami Mosuo terisolasi oleh alam. Populasi Mosuo sekitar 50.000 orang. Kehidupan spiritual mereka mempraktekkan ajaran Daba dan sebagian Lama Tibet. Suku Mosuo sudah menempati daerah ini lebih dari 1600 tahun menurut catatan dari Dinasti Han.

lugulake01

lugulake02

mosuo11

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka menjalankan perdagangan atau terkadang masih barter dengan mengendarai caravan melalui rute “purba” yang disebut dengan Tea-Horse-Road (kira-kira setara dengan Silk Road yang lebih terkenal). Rute tsb adalah: Yongning – Lijiang – Zhongdian – Deqin – Mangkang – Zuogong – Leiwuqi – Naqu – Lhasa, ini yang disebut Jalur Utara. Ada juga Jalur Selatan yang lebih jauh lagi sehingga membutuhkan waktu satu tahun penuh untuk perjalanan ke Tibet dan kembali ke Danau Lugu. Secara geografis dan demografis, Suku Mosuo terisolasi dari dunia luar selama ribuan tahun.

Ketika invasi Mongol ke seluruh daratan Tiongkok, kawasan inipun masih tidak tersentuh, sesuai dengan namanya Yongning (永宁) yang berarti “a place of eternal peace and tranqulity”. Ketika salah satu pasukan Kubilai Khan mencapai daerah ini, mereka kelelahan dan berkemah di tempat yang bernama Riyuehe (日月和) yang dideskripsikan sebagai tempat yang amat indah “the place where sun and moon are in harmony”. Pasukan Mongol pulih dari kelelahan luar biasa yang mendera dan tidak mengganggu penduduk sama sekali. Pada kenyataannya, masyarakat Mosuo tidak punya kekuatan apapun untuk menahan serangan pasukan Mongol yang dikenal bengis dan menakutkan.

 

Kehidupan Sosial

Sistem yang dianut dalam masyarakat Mosuo adalah matrilineal. Namun demikian, sistem yang sebenarnya diterapkan dalam masyarakat Mosuo tidaklah sesederhana definisi Barat untuk “matrilineal”, karena sistemnya jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan kebanyakan orang dan definisi umum.

Di luar kebiasaan umum masyarakat Tiongkok yang mengesampingkan anak perempuan, dalam masyarakat Mosuo justru anak perempuan yang berharga jauh melebihi anak laki-laki. Dalam setiap keluarga besar yang terdiri dari kira-kira 20-30 anggota keluarga lintas generasi (bisa terdiri dari 2-3 generasi, bahkan mungkin lebih), dipimpin oleh seorang perempuan yang umurnya tertua – disebut Ah Mi. Segala keputusan keluarga itu ada di tangan Ah Mi yang memiliki hak absolut dalam memutuskan perkara-perkara dan semua permasalahan sehari-hari keluarga tersebut. Mulai dari mengurus keuangan, menentukan hak pengasuhan anak, kepemilikan tanah, pembagian kerja, dsb.

mosuo09

Ah Mi akan “berkuasa” dalam keluarga tersebut sampai tiba saatnya pensiun karena usia atau kesehatan atau meninggal, yang akan digantikan oleh perempuan berikutnya sesuai ranking umur dalam keluarga tersebut. Perempuan penggantinya akan menjadi Ah Mi berikutnya yang mengatur sendi kehidupan keluarga besar.

Perekonomian Mosuo adalah subsistence economic yang berarti sebagian besar kebutuhan sehari-hari mereka penuhi sendiri. Ternak yang mereka pelihara adalah: yak (binatang khas pegunungan Himalaya), kerbau, kuda, kambing, domba dan ayam. Sementara tanaman pertanian utama adalah kentang yang menjadi makanan pokok masyarakat Mosuo, berbeda dengan kebanyakan masyarakat Tiongkok yang makan nasi dan gandum. Bahkan sampai ke pekerjaan di pertanian ini lebih banyak dikerjakan oleh para perempuannya sementara para lelakinya lebih ke kegiatan memperdagangkan hasil pertanian mereka dengan mengendarai caravan selama berbulan-bulan.

mosuo07

mosuo01

mosuo08

mosuo02

Salah satu produk khas Mosuo adalah daging babi yang diawetkan dengan daya tahan sampai 10 tahun. Pengawetan dengan teknik khusus turun temurun ini untuk selalu siap mengantisipasi musim dingin yang panjang dan ganas. Karena terpencil dan jauh dari sentuhan peradaban modern, kulkas hampir tidak dikenal di sana. Mereka mengawetkan produk daging dengan mengasapi atau menggarami. Diet utama mereka adalah daging mengingat kondisi cuaca di ketinggian pegunungan Himalaya yang membutuhkan lebih banyak protein. Untuk menahan dingin, mereka juga membuat minuman beralkohol dari biji-bijian yang difermentasi. Nama minuman khasnya adalah sulima dengan kadar alkohol tinggi sekali. Sulima menjadi bagian dari keseharian mereka dan disajikan juga untuk tamu dan acara-acara penting.

Peran perempuan Mosuo meliputi seluruh pekerjaan rumah tangga: membersihkan rumah, memasak, mengumpulkan kayu bakar, memberi makan ternak, menenun dan memintal, pekerjaan di sawah, dsb. Sementara peran lelaki Mosuo hampir tidak ada kecuali urusan ternak dan mencari ikan di Danau Lugu. Urusan utama dengan ternak adalah menyembelih ternak – yang tidak akan pernah dilakukan oleh para perempuan, memproses dengan teknik-teknik pengawetan dan penyimpanan yang diperlukan. Tugas para lelaki lainnya adalah selalu menjaga stamina untuk selalu siap “bertugas” di malam hari – yang akan dibahas di bagian tersendiri nanti.

Rata-rata pendapatan masyarakat Mosuo berkisar antara US$ 150-200 per tahun, yang terhitung sangat rendah jika dibandingkan sebagian masyarakat Tiongkok pada umumnya, terlebih sekarang ketika booming ekonomi di sana. Mereka tidak kuatir akan rendahnya pendapatan itu karena mereka secara mandiri mencukupi kebutuhan mereka.

Masyarakat Mosuo hidup berdampingan dengan sub-etnis lain: Yi, Pumi dan juga dengan etnis utama kawasan di sana, Etnis Naxi. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang dijaga selama ribuan tahun, walaupun tentu saja tidak terhindarkan adanya percampuran dua atau lebih budaya di kalangan mereka.

 

Walking Marriages

Yang disebut dengan walking marriages dalam masyarakat Mosuo menjungkirbalikkan semua konsep dan deskripsi pernikahan dalam mayoritas budaya dunia. Tidak ada istilah suami atau istri, dan otomatis tidak ada istilah ayah. Pernikahan dalam masyarakat Mosuo disebut dengan zou hun (走婚) literally berarti pernikahan berjalan atau sering disebut dengan ‘visiting relations’.

Gadis yang sudah memasuki masa akil balik tinggal tersendiri di rumah yang diberi sekat khusus. Ia bebas memilih partnernya. Jika bertemu dengan seorang pria yang menarik hatinya, ia akan memberikan kode dengan bersalaman dan meremas jarinya yang artinya adalah undangan untuk si pria bertandang ke pondoknya di malam harinya. Jika undangan tersebut bersambut, si pria akan mengunjungi si gadis dan melewatkan malam di pondoknya. Demikian seterusnya sampai si gadis tidak merasa tertarik lagi dan memutuskan bersalaman dan meremas jari pria lain. Kunjungan di malam hari biasanya hanya diketahui oleh pasangan yang bersangkutan. Datang setelah hari gelap dan pulang ke rumah si pria sebelum matahari terbit.

mosuo04

mosuo05

Lelaki Mosuo menyebut perempuan mereka Axia – yang artinya teman intim, sementara perempuan Mosuo menyebut lelaki mereka Anzhu – yang artinya kekasih. Prinsipnya perempuan dan lelaki Mosuo tidak terikat satu sama lain, hanya suka sama suka. Tidak ada kecemburuan, tidak ada dendam, tidak ada posesif, tidak ada kawin siri, poligami atau poliandri. Masyarakat Mosuo berpedoman pada manuskrip Daba kuno yang berbunyi:

“Love is without fault, love is a nectar in the blossom, salt in the soup and brings joy to the world.”

Masyarakat Mosuo menganut bahwa cinta/kasih seperti air yang mengalir, tidak bisa dipaksakan. Para perempuan Mosuo menganut prinsip untuk perasaannya:

                “like good tea made with fresh water

                which slowly sends forth a delicate fragrance,

                like a spring which brings forth streams of water,

                like the taste of the most mysterious fruit of all,

                like a flying bird in the field,

                not a peacock in a cage.”

Dalam budaya Mosuo tidak dikenal istilah selingkuh, anak haram, perawan, janda, cemburu, single mother ataupun monogami, semua berjalan secara alami tanpa beban.

Jika terlahir anak dalam hubungan walking marriage, anak tersebut diasuh sepenuhnya oleh pihak perempuan dan menyandang nama keluarga ibu. Mereka hanya mengenal istilah ibu, tidak ada istilah ayah atau paman. Tidak ada tuntutan sosial ekonomi untuk mengetahui siapa ayah si bayi ataupun tanggung jawab ekonomi terhadap si bayi. Setelah si anak memasuki akil balik barulah diperkenalkan kepada ayah biologisnya. Karena praktek walking marriage ini, anak-anak satu ibu belum tentu bersaudara kandung satu sama lain. Dalam keseharian, perempuan dan lelaki yang terlibat dalam hubungan walking marriage masih tetap tinggal bersama keluarga masing-masing dan menjalankan tugas keseharian bersama keluarganya.

Kemungkinan besar prinsip matrilineal dalam masyarakat Mosuo berpedoman kepada manuskrip ajaran Daba kuno, di halaman pertama tertulis:

                “Water is the source and trees have the roots.

                Life can’t be separated from the mother.

                It won’t hurt if flesh clashes with flesh,

                but it will hurt if flesh knocks against bone.”

Menurut masyarakat Mosuo, bagian terpenting dalam kehidupan adalah tiga kejadian penting: kelahiran, kedewasaan dan kematian.

Dalam rumah setiap keluarga Mosuo ada satu ruang khusus untuk melahirkan yang nantinya akan dipakai juga untuk kematian sang ibu. Seluruh keluarga bersukacita menantikan kelahiran sang bayi, anggota baru dalam keluarga. Seluruh anggota keluarga pria tidak diperkenankan terlibat dalam prosesi kelahiran, terlebih larangan keras untuk memasuki kamar persalinan. Setelah bayi lahir, seluruh perempuan yang termasuk dalam keluarga besar yang melahirkan akan datang menjenguk ibu dan anak. Biasanya para perempuan keluarga besar juga datang dari kampung sekitar, membawakan ayam, telur, gula merah dan butter. Setelah bayi memasuki usia sebulan, ritual awal menyongsong kehidupan dianggap lengkap, dirayakan besar-besaran oleh seluruh keluarga besar. Meskipun, tetap saja kaum prianya tidak diijinkan mengambil bagian atau peran apapun.

mosuo06

mosuo13

Upacara akil balik seorang perempuan Mosuo tidak kalah meriahnya. Usia 13 tahun dianggap usia akil balik memasuki kedewasaan. Sementara si ibu mempersiapkan segala macam pernik pakaian dan upacara, sang paman (di sini lelaki sedikit berperan) akan mengundang pendeta Lama dan Daba (ajaran dan ‘pendeta’nya disebut dengan nama sama), untuk memberkati si anak akil balik. Setelah pemberkatan akil balik, si anak dianggap dewasa dan diterima penuh oleh seluruh keluarga besar dan tidak lagi memerlukan perawatan selayaknya seorang anak-anak. Dia sudah boleh memberikan pendapat dan suara dalam diskusi masalah-masalah keluarga. Ini semua tidak berlaku untuk anak laki-laki Mosuo.

Peran kaum pria mutlak satu-satunya adalah ketika ada kematian. Seluruh persiapan pemakaman dan upacara adalah domain kaum pria. Biasanya setiap keluarga di desa itu akan mengirimkan minimal satu pria untuk membantu keluarga yang mengalami kematian. Masyarakat Mosuo percaya reinkarnasi. Mereka percaya dengan doa-doa dari Lama dan Daba akan memperlancar perjalanan ke dunia lain dan segera reinkarnasi. Peti mati Mosuo sangat sederhana hanya berupa ‘kotak’ ala kadarnya, jenazah diposisikan seperti janin yang meringkuk, dipercaya akan mempermudah reinkarnasi dalam siklus selanjutnya.

Masyarakat Mosuo menganggap anjing adalah binatang suci, tidak seperti masyarakat Tiongkok dan sebagian Asia lainnya yang mengonsumsi daging anjing. Dalam dongeng dan hikayat mereka, tersebutlah di awal penciptaan manusia, sebenarnya manusia hanya punya 13 tahun umur kehidupan, sementara anjing 60 tahun. Entah bagaimana, terjadi pertukaran rentang usia kehidupan, sehingga manusia memiliki rentang usia sampai 60 tahun atau lebih. Untuk pertukaran tersebut timbul perjanjian bahwa manusia akan menghormati anjing. Bahkan dalam upacara akil balik anjing dilibatkan dalam doa-doa ritual mereka.

Dalam setiap rumah keluarga Mosuo ada ruangan khusus untuk ritual keagamaan. Dalam ruangan itu terdapat altar sembahyang arwah para leluhur dengan perapian yang selalu menyala. Api yang senantiasa menyala adalah perlambang kesejahteraan keluarga juga dipercaya menghangatkan arwah leluhur sehingga mereka merasa nyaman di alam sana. Ah Mi menyediakan makanan dan minuman persembahan untuk para leluhur.

 

Era Modern

Di tahun 1983, pemerintah Tiongkok mendirikan Lugu Lake Provincial Tourism Area dengan tujuan untuk meningkatkan status ekonomi kawasan dimana menurut pemerintah pusat ekonomi kawasan dianggap sangat rendah di bawah standar. Namun pemerintah lupa bahwa masyarakat Mosuo adalah subsistence economic yang tidak punya masalah sama sekali dengan rendahnya income mereka menurut ‘standar umum’.

Di tahun 1997 semuanya mulai berubah. Yang Erche Namu (杨二车娜姆) meluncurkan buku yang berjudul Leaving the Kingdom of Daughters dalam bahasa aslinya: 走出女儿国 (pinyin: Zou Chu Nü Er Guo).

Yang Erche Namu kelahiran 1966, pada usia 13 tahun keluar dari kawasan Danau Lugu dan pindah ke Yanyuan County, memenangi kontes menyanyi dan meniti karier yang sukses sebagai penyanyi. Menikah dengan orang Amerika dan pindah ke San Fransisco. Perkawinan yang tidak bertahan lama karena besarnya jurang perbedaan di antara keduanya. Setelah bercerai Yang Erche Namu bekerja serabutan pontang-panting untuk bertahan hidup. Ditambah dengan stress berkepanjangan yang mendera, pendengarannya yang sebelah kanan terganggu dan itu adalah vonis mati untuk karirnya menyanyi. Di tahun 1996, ketika berada di Itali dia mendengar berita gempa bumi di Lijiang, serta merta membeli tiket dan kembali ke Yunnan. Dalam perjalanannya, di Beijing dia bertemu dengan seorang diplomat Norwegia yang kemudian menjadi suaminya sampai sekarang.

Di tahun 1997 meluncurkan bukunya yang pertama dan yang kemudian mengubah secara drastis kehidupan masyarakat Mosuo adalah bukunya yang diluncurkan tahun 2004 dalam bahasa Inggris: Leaving Mother Lake: A Girlhood at the Edge of the World, sontak Mosuo mendunia dalam waktu singkat. Turis mengalir tak henti-henti ingin melihat masyarakat “purba” yang terisolasi dari dunia luar.  Hotel, rumah makan, kasino, karaoke bermunculan.

leaving-mother-lake

mosuo03

mosuo12

Karena banyaknya permintaan, beberapa anggota masyarakat Mosuo menari dan menyanyi ritual-ritual yang sedianya hanya dipertunjukkan ketika ada upacara-upacara tertentu, untuk para turis yang berdatangan, tentunya dengan imbalan sejumlah uang. Efek negatif tentu saja ada. Banyak turis yang datang karena secara khusus berminat mengetahui lebih jauh tradisi walking marriage. Tidak jarang mereka meminta para gadis Mosuo untuk menjadi Axia mereka dengan imbalan sejumlah uang. Tentu saja ada demand, ada pula supply. Tradisi zou hun (walking marriage) yang berusia ribuan tahun terganggu dengan modernisasi dan mungkin ternoda di sana sini. Yang pasti, masih banyak anggota masyarakat Mosuo yang mempertahankan dan menjaga tradisi mereka yang sudah berusia ribuan tahun.

Mosuo, kemungkinan memang adalah The Last Female Kingdom on Earth…dunia tanpa ayah dan suami…

 

Referensi:

http://www.second-congress-matriarchal-studies.com/gatusa.html

http://www.mosuoproject.org/walking.htm

http://www.chinaculture.org/gb/en_curiosity/2004-05/11/content_47041.htm

http://www.mosuoproject.org/mosuo.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Mosuo

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

43 Comments to "Mosuo – The Last Female Kingdom on Earth? A World Without Husbands and Fathers"

  1. J C  20 December, 2012 at 06:04

    pak Hand: bener sekali, dengan semakin terbukanya informasi, memang begitulah yang saya baca, bahwa sudah terjadi modernisasi di sana sini. Terutama orang-orang Mosuo yang berkelana dan keluar dari lingkungan masyarakatnya. Contoh seperti si Yang Erche Namu ini.

    nevergiveupyo: Nev, hidup laksana surga piye, kalau sekian lama tidak ada yang nyalami dan ngremas jari tangannya, ya khan ngaplo…

    Hennie: wow, daging yak rasanya kayak apa ya? Benar, Hennie, rasa keterikatan walaupun tinggal hanya sebentar tetap ada, seperti rasa keterikatanku dengan Belanda dan Eropa pada umumnya…

  2. HennieTriana Oberst  20 December, 2012 at 04:25

    JC, tulisan dan foto-foto ini menarik sekali. Foto terakhir yang paling aku suka, nyaman.
    Aku pernah menikmati daging Yak ketika di Beijing, ternyata enak.
    Walaupun sebentar pernah berada di bagian kecil dari negara Cina tapi aku merasa ada sedikit keterikatan. Terlepas dari beberapa hal yang tidak terlalu menyenangkan tentunya. Tapi di belahan dunia manapun pasti ada enak dan tidaknya ya.

  3. nevergiveupyo  19 December, 2012 at 13:30

    beruntunglah saya tidak terlahir sebagai laki-laki mosuo..
    karena saya pencemburu… hehehe

    (cuma saya heran, kalau pergi berdagang saja bisa setahun baru kembali… sementara hidup di Lugu sungguh laksana surga… ngapain juga ya berdagang…rugi hehehe)

    makasih om josh…. kulik terus yaaaa

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *