Menyembah Tuhan Dengan Kekotoran

Awan Tenggara

 

Aku mulai bingung ketika masjid menjadi sesak, tak ada lagi shaf yang kosong. Dan lebih parahnya lagi aku tidak membawa sajadah ataupun koran. Maklum, aku tak biasa shalat Jum’at di masjid umum saat hari kerja. Pengalamanku, mendengarkan khotbah dengan berdiri adalah hal yang biasa, karena memang kalau kita datang shalat Jum’at dengan telat, lantai masjid sudah akan diduduki banyak orang, sehingga tak ada lagi tempat untuk kita duduk.

Ketika nanti shalat dimulai, pasti ada tempat untukku jika seluruh orang yang duduk itu berdiri, pikirku. Tapi oh, yang berdiri ketika mendengar khotbah ternyata bukan aku saja, sehingga ketika iqomah berkumandang, orang-orang yang berdiri ini secara otomatis akan bergerak cepat untuk mendapat tempat yang minimal bisa membuat mereka bersujud. Begitu juga denganku.

Ternyata eh ternyata, semua tak sesuai dengan apa yang sedari mendengar khotbah tadi sudah tergambar jelas dalam otakku. Bahwa ketika nanti semua orang di lantai ini berdiri, maka aku bisa berdiri di tengah-tengah mereka. Bahwa ketika aku telah berdiri di tengah-tengah mereka, maka akupun bisa shalat dengan khusyuk menghadap Tuhan.

Yang tersisa kali ini cuma halaman dari batako yang kotor karena dari pagi gerimis kecil-kecil sudah mencumbuinya. Ini shalat Jum’at, siapa pula yang mau meninggalkannya, pahalanya besar, akan dianggap kafir jika ditinggalkan dengan alasan sesepele ini.

Sementara imam sudah mulai membaca alfatihah, aku masih sibuk mencari-cari tempat yang kosong. Pulang untuk mengambil sajadah atau koran adalah hal yang mustahil dilakukan meski lima menit adalah waktu yang dibutuhkan untuk semua itu. Karena tahu sendiri, berapa menit sih waktu yang dibutuhkan untuk seorang imam membaca ayat, rukuk, hingga sujud untuk tiap roka’at. Tentu lima menit yang tadi tak cukup jika shalat Jum’at memiliki raka’at yang hanya berjumlah dua.

Beruntung sekali aku, karena masjid ini letaknya tepat di depan sekolahan, maka akupun langsung mencari lantai lobi sekolahan ini agar bisa menunaikan shalat di sana. tapi ternyata lantai lobi sekolahan pun telah kotor karena jejak sepatu para siswa, bisa dibayangkan sendiri bagaimana kondisi lantai berkeramik putih ketika musim hujan tiba. Tapi tak ada pilihan lain, shalat di lantai yang kotor ini lebih baik ketimbang shalat di atas batako.

Ketika orang-orang sudah secara berjamaah mengucapkan ‘amin’, aku masih sibuk menggesut-gesut lantai dengan kakiku. Yah, minimal agar aku bisa mencium lantai yang bersih walau lantai untuk tempatku duduk tahiyyat nanti masih kotor. Tak ada waktu untuk membersihkan lagi, maka akupun mulai melakukan shalatku, menghadap Allah yang Maha Suci. Tentu karena yang maha suci itu adalah Ia, maka siapapun akan maklum jika aku shalat di atas tempat yang kotor, ya, karena aku tidak maha dalam suci. Tentu pula karena Allah itu Maha Bijaksana, maka Iapun akan mengijinkanku menyembahNya di atas tempat yang kotor jika aku terpaksa. Dan tentu karena Allah itu Maha Pemaaf, Ia juga akan memaafkanku jika aku tak tahu kalau lantai kotor tempat aku menyembahNya itu ditempeli najis. karena siapapun juga pasti tahu. Orang yang punya niat baik meski tidak kelihatan suci lebih baik daripada ia yang kelihatan sangat suci tapi niatnya cuma setengah-setengah. Dan tentunya yang lebih bisa menilai hal itu adalah yang bisa membaca hati kita, yakni Dia.

Tahukah sahabat, mungkin semisal nanti dunia sudah hancur, kita boleh kok beribadah di lantai tempat ibadah agama lain bahkan di atas lantai WC umum sekalipun kalau memang hanya tempat itu yang masih tersisa. Sebab percayalah, Tuhan itu tidak ada di atas planet Pluto, di belakang bengkel las karbit, atau di deket counter parfum di dalam Carrefour. Tapi ia ada di dalam hati kita, di dalam diri kita. Selama kau masih percaya padaNya, selama  itulah ia akan terus hidup di sana. jadi jangan pusing-pusing memikirkan tempat dimana kau harus menyembahNya.

Sekali lagi, ini bukan tentang seberapa kelihatan suci diri kita, tapi tentang seberapa besar niat yang ada di dalam hati kita.

 

Bekasi, 5-7 November 2010

 

*KOPI JAHE merupakan tulisan-tulisan yang lahir dari sudut pandangku tentang hidup yang begitu abu-abu ini. Semisal tidak ada yang setuju, itu adalah hal yang wajar. Karena yang aku lihat tak pernah sama dengan apa yang mereka lihat.

 

13 Comments to "Menyembah Tuhan Dengan Kekotoran"

  1. ahmad daelami  20 December, 2012 at 11:42

    Akhh!! Sepertinya dalan kesempitanpun sang Maha Agung akan selalu memberikan toleransi yg maha adil.

  2. Handoko Widagdo  19 December, 2012 at 06:51

    Sadarkah kita bahwa kita menghirup udara yang baru dikeuarkan oleh para koruptor, maling, anjing, babi, pendeta, kyai, hidung belang, PSK? Udara tersebut memenuhi paru-paru kita, merembes bersama darah kita, mengisi sel-sel otak kita. Dan oleh sebab itu kita manusia memang bukan barang yang suci.

  3. Lani  18 December, 2012 at 23:31

    AWAN TENGGARA : aku setuju dgn alinea penutup artikelmu : Sebab percayalah, Tuhan itu tidak ada di atas planet Pluto, di belakang bengkel las karbit, atau di deket counter parfum di dalam Carrefour. Tapi ia ada di dalam hati kita, di dalam diri kita. Selama kau masih percaya padaNya, selama itulah ia akan terus hidup di sana. jadi jangan pusing-pusing memikirkan tempat dimana kau harus menyembahNya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.