Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (1)

Joko Prayitno

 

Perkembangan politik di Surakarta memang menjadi suatu jalur pergerakan nasional yang dinamis tetapi pada sisi yang lain gerakan-gerakan ini juga dilaksanakan melalui gerakan budaya. Kota Surakarta merupakan acuan dari lahir dan berkembangnya pergerakan nasional tidak hanya secara politik tetapi juga menjadi barometer perkembangan budaya Jawa. Pada masa pergerakan nasional terutama pada tahun-tahun awal pergerakan berbagai gerakan budaya muncul sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gerakan nasional sendiri. Hal ini menjadi wajar karena terjadi stagnasi dari proses perkembangan budaya Jawa. Perkembangan bahasa sebagai alat pergaulan pada masa pergerakan telah beralih kepada bahasa Melayu sebagai lingua franca, tidak heran ketika pada tahun-tahun 1918 muncul gerakan nasionalisme Jawa yang diusung oleh kekuatan Keraton Surakarta.

gambar-dewa-dalam-penanggalan-wuku

Gambar Dewa Dalam Penanggalan Wuku

Menurut Benedict R. Anderson, Jawa terutama kerajaan-kerajaannya telah mengalami dua krisis yang telah disangga bersama-sama oleh orang Jawa dan rakyat-rakyat terjajah lainnya. Pertama adalah krisis politiko-kultural dimana sejak permulaan abad ke-17 para penguasa Jawa benar-benar telah mengalami serangkaian kesalahan, kehinaan dan bencana yang hampir-hampir tak kunjung henti. Sejak akhir abad ke-18 raja-raja Pakubuwono, Hamengkubuwono dan Mangkunegoro, semuanya telah menjadi raja-raja kecil yang “berkuasa” dengan perkenan belanja dan bertahan hidup secara ekonomi demi subsidi Belanda. Ketidakmampuan golongan elit Jawa membebaskan ketertindasan rakyat dari belenggu penjajahan diungkapan secara gamblang oleh pujangga Keraton Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha yaitu:
“Ratune ratu utama, Patihe patih linuwih, Pra nayaka tyas raharja, Panekare becik-becik, Parandene tan dadi, Paliyasing kalabendu….”
(Rajanya raja utama, Perdana menterinya tegak dalam kebenaran, Bupatinya konstan hati, Pembantunya sempurna, Namun tak seorang pun tetap tinggal, Zaman malapetaka)

semar

Bait ini menunjukkan bahwa bahkan seorang raja yang turun menurun sempurna pun sekarang tidak mampu lagi untuk memenuhi tugas lamanya yang telah dirumuskannya sendiri yaitu guna mencegah kalabendu. Raja hanya mampu menunjukan kekuasaannya melalui berbagai politik simbol yang dipergunakan melalui berbagai gaya hidup, karya sastra, dan upacara-upacara yang dibesarkan melalui mitos-mitos.

Krisis kedua adalah krisis sastra dan bahasa yang menurut Benedict R. Anderson disebabkan kehancuran kerajaan Majapahit dan kehancuran peradaban pesisir Jawa yang dilakukan oleh Sultan Agung. Kehancuran dua kebudayaan ini dianggap sebagai jaman kegelapan Jawa yang pekat karena terobek-robek oleh berbagai macam peperangan, pembuangan, perampokan, pembantaian dan kelaparan. Krisis-krisis tersebut pada masa pergerakan menjadi sebuah gejolak-gejolak dalam masyarakat yang dituangkan dalam berbagai gerakan-gerakan. Gerakan-gerakan ini terimplementasikan dalam sebuah gerakan budaya yang memiliki dua arah terhadap dua kekuasaan yaitu kekuasaan kolonial dan feodal yang diwakili oleh raja, dan priyayi-priyayi pembantu raja. Dua arah gerakan budaya tersebut adalah budaya affirmative dan budaya kritis (Kuntowijoyo, 2004).

Gerakan politik yang telah modern juga menunjukan ke arah sana. Di Surakarta seperti telah dibahas di awal kekuatan politik terletak pada gerakan-gerakan Boedi Oetomo dan SI. Boedi Oetomo banyak didukung oleh kalangan priyayi dan bangsawan kerajaan sedangkan SI lebih banyak didukung oleh kalangan rakyat kecil dan pedagang. Dalam perjalanan gerakan SI Surakarta lebih banyak menggunakan budaya kritis dalam menghadapi dua kekuasaan yaitu kekuasaan kolonial dan feodal. Begitu pula menyikapi kondisi organisasi SI sendiri terutama CSI. Budaya kritis yang dilakukan digunakan sebagai penyeimbang kekuatan dari kekuatan dan kekuasaan CSI yang sangat besar. Selain itu, budaya kritis yang digunakan oleh SI Surakarta merupakan bagian dari konflik dengan CSI sendiri yang telah berlangsung cukup lama yaitu semenjak kekuasaan dan kepemimpinan SI berpindah ke kota Surabaya.

Bulan Januari 1918 tepatnya tanggal 9 dan 11 Januari, surat kabar Djawi Hiswara koran yang dipimpin oleh Martodharsono anggota SI Surakarta menerbitkan sebuah artikel dalam sebuah bahasa Jawa. Koran Djawi Hiswara terbit dalam dua bahasa Jawa dan Melayu. Artikel ini memuat percakapan antara Marto dan Djojo, percakapan ini rupanya diambil dari sebuah Suluk yang sangat terkenal mengenai ilmu makrifat dan Kejawen yaitu Suluk Gatoloco. Tokoh dalam serat ini yaitu Gatoloco merupakan seorang yang buruk rupa yang memiliki ilmu agama yang tinggi. Ia suka menghisap candu dan menganggap dirinya adalah utusan Tuhan. Percakapan Marto dan Djojo hampir tidak jauh berbeda dengan isi serat tersebut yaitu percakapan mengenai keberadaan Tuhan dan penggunaan candu serta minuman keras oleh para pelakunya.
Menjelang akhir percakapan Marto analogi bahwa wujud Gusti Allah adalah seperti angin yang tak berwujud. Sebelum melanjutkan percakapan kembali tentang Gusti Allah mereka beristirahat. Djojo merokok dan meminum minuman keras (ciu) sebagai penghangat badan. Akhir percakapan Djojo berkata: “inggih mangsuli bab badhe angrembag Gusti Allah rehning sampundalu punapa boten prayogi enjing-enjing kemawon, sarta mawi pirantos wilujwngan sekul wuduk, ciu, lan klelet, Gusti Kanjeng Nabi Rasul Sallaluhualihi wassalam, kados sabataning tiyang dipun wejang (maguru). (Ya, kembali pada pembicaraan tentang Gusti Allah, karena sudah malam sebaiknya besok pagi saja dengan perlengkapan selametan, nasi uduk, minuman ciu dan tembakau, Gusti Kanjeng Nabi Rasul SAW, seperti kebanyakan orang dinasehati) (Djawi Hiswara, 11 Januari 1918).

Perkataan Djojo bahwa untuk membicarakan mengenai Tuhan maka harus dilengkapi dengan perlengkapan slametan yaitu nasi uduk, minuman ciu dan tembakau sesuai dengan nasehat Gusti Kanjeng Nabi Rasul S.A.W. Hal ini juga menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat Jawa yang menganut javanism, bahwa slametan merupakan ritual untuk menyembah Gusti Allah, dan memberikan berbagai sesaji sebagai syaratnya. Perkataan-perkataan dalam percakapan tersebut menimbulkan polemik bagi kalangan umat Islam dan menganggap apa yang tertulis dalam artikel tersebut merupakan bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan agama Islam karena dalam agama Islam minuman beralkohol dan candu adalah haram hukumnya. (Bersambung)

 

10 Comments to "Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (1)"

  1. Joko Prayitno  19 December, 2012 at 21:48

    Terimakasih Kawan2 Baltyra:
    Sebenarnya konteks tulisan di atas adalah politik, bagaimana perkembangan Sarekat Islam yang pesat dan mengalami kemunduran setelah elit2 politik SI terlibat dalam berbagai skandal. sehingga penyokong dana mereka, masyarakat Arab mulai meninggalkan SI dan berakibat buruk bagi keuangan SI (CSI). Tulisan dalam Djawi Hiswara sebenarnya juga bukan sesuatu yang baru karena hal ini ada dalam kesusastraan Jawa (serat, suluk, babad) dan tidak menjadi masalah. Tetapi oleh elit CSI hal ini diangkat seakan-akan menghina agama Islam dengan tujuan mengembalikan sumber dana mereka. Agama sebagai komoditas politik telah dimainkan sejak dulu, hingga sekarang…..

  2. nevergiveupyo  19 December, 2012 at 14:30

    kang anoew.. kalo selametan ngundang yg pasti datang aja….
    kalo tetangga ga mau dtg ya saya usul ngundang tukang becak aja…malah dijamin full… perkara berdoa, mereka juga ndak kalah tulus lho… hanya beda bahasanya aja sih…

    namanya manusia ya selalu aja ada yg berpolemik…. itu sudah kutukan manusia untuk tidak akan pernah semuanya bisa se-ide dan sepemahaman…

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  19 December, 2012 at 07:48

    Setuju dengan pendapat Bapak Handoko Widagdo. Sebagai penyelamat budaya Jawa saya sepaham.

  4. Handoko Widagdo  19 December, 2012 at 06:39

    Pendapat saya, orang Jawa telah memiliki spiritualitas yang paripurna. Guncangan-guncangan alam dan budaya tak akan mampu menggoyahkan spiritualitas mereka. Agama-agama dari manca-pun bisa direngkuh dan dijalankan dengan semangat spiritualitas Jawa tersebut.

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  18 December, 2012 at 22:58

    Mengapa harus dipertentangkan antara Abangan dan Islam? Islam adalah nilai. Bukan sekedar sistem kepercayaan belaka.

    Saya suka baca buku “Orang Jawa naik Haji”, ditulid H. Azkarmin Zaini, wartawan senior Kompas.

    Lucuuu..

  6. Chandra Sasadara  18 December, 2012 at 22:18

    Ritual dan ibdah hanya bedah “kata”, keduanya bermakna sama. ingin melakukan “pendekatan/wujud kepatuhan” kepada yang transeden, adi kodrati dan metafisika. dinamisme, animisme, pagan, kafir, sinkretis yang sring disematkan dalam parktik ritual jawa merupakan konsep antropolgis-kolonialis. dalam praktik berkeyakinan term-term tersebut sering digunakan para penyiar agama untuk medesakralisasi keyakinan lokal, termasuk keyakinan jawa oleh para pembawa agama baru. tapi konsep ini kemudian menjadi absurd ketika ditelisik ke dlam keyakinan agama baru tersebut. misalnya agama apa yg tidak sinkretis di dunia ini,kalau sinkretisme di artikan sebagai percampuran antara dua atau lebih hkeyakinan dan kebudayaan

  7. Dj. 813  18 December, 2012 at 19:04

    Mas Joko P.
    Matur Nuwun untuk cerita diatas….
    Manurut Dj. semua agama mengajarkan hal yang baik.
    Hanya manusianya saja yang aneh-aneh dan mau menang sendiri.
    Marasa paling benar ddan paling suci dan diluar itu, semuanya salah.
    Dj. “jujur” sangat bangga lahir di Jawa dan sebagai orang Jawa yang walau
    hanya sedikit mengenal adat Jawa, tapi paling tidak, masih mengenal “toto kromo”
    Masih memiliki perasaan yang diajarkan secara adat Jawa.

    Dan satu hal yang Dj. lihat, memang masyarakat kita cenderung, lebih menyukai ( bangga bisa memiliki ) apa yang dari luar, daripada apa yang sudah dimilikinya.

    Salam Sejahtera dari Mainz.

  8. MasTok  18 December, 2012 at 15:23

    RiTual VS IBADAH……..

    SANGAT TIPIS…..

  9. anoew  18 December, 2012 at 11:58

    Hal ini juga menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat Jawa yang menganut javanism, bahwa slametan merupakan ritual untuk menyembah Gusti Allah, dan memberikan berbagai sesaji sebagai syaratnya.

    Yang mengherankan bagi saya adalah, terjadinya (sedikit) pergeseran dan penafsiran dari slametan tersebut dan ada yang menyebutnya sirik, atau tidak sesuai lagi dengan keyakinan. Saya jadi maklum belakangan bila, diadakan suatu selametan tak akan banyak undangan yang datang dengan alasan (salah satunya?) itu, kecuali orang yang bernama Selamet.

    Sungguh, mohon maaf, saya sangat tidak setuju dengan hal itu. Sebagai orang Jawa, bisa dibilang saya hampir murtad karena tidak terlalu mengenal kebudayaan Jawa sendiri.
    T
    E
    T
    A
    P
    I
    Saya nyaman dan bangga dengan apa yang menjadi peninggalan leluhur / budaya Jawa, senyaman saya sebagai seseorang yang ‘bertuhan tapi tak beragama’

  10. J C  18 December, 2012 at 10:48

    Konflik seperti ini bukan hanya di masa lalu saja. Sampai sekarang juga malah semakin meruncing. jujur aku merasa tidak nyaman melihat situasi radikalisasi dan pokoke-isasi belakangan ini. Yang tidak sama dan berseberangan, POKOKE musuh, salah, sesat, murtad, dsb…ckckckck…dari mana paham, aliran dan pemikiran seperti ini ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.