Burung-burung Gereja di Kubah Masjid

Juwandi Ahmad

 

natalGereja St. Yoseph dan Masjid Jamkaran. Inilah kisahku: Burung-Burung Gereja Di Kubah Masjid, yang terkenang: pada musim dingin bersalju, di antara pesujud dan peziarah yang lalu lalang berpayung hitam. Berlalu lima belas tahun sudah dari negeri pecinta Allah, dan tibalah aku di sini: di negeri para Mullah. Masa lalu, masa kini, dan masa datang tidak membentang seperti jembatan, melainkan tegak serupa tangga. Tidak menjalar seperti akar, tapi menjulang layaknya batang. Masa lalu bukan di luar, tapi di dalam. Dan tidak pernah pula akan berubah: selamanya. Demikianlah aku: Mahdi al-Muntadzar:

Bertumbuh dari bangku-bangku gereja, mengada di antara pilar-pilar masjid. Bermunajat di bibir mihrab. Belajar di meja altar. Duhai, St. Yoseph yang agung, Jamkaran yang suci: puaskanlah kerinduanku yang jauh yang tidak cukup ditempuh dalam waktu seribu bulan kali seribu.

Gereja Paroki St. Yoseph dan rumahku hanya terpisah dinding dan tembok gereja, yang setebal apapun akan tertembus juga oleh sabda-sabda Allah para pastor, doa-doa, lagu-lagu liturgi, dan suara lonceng dari atas menara yang tinggi, yang berdentang setiap pagi, siang, dan petang: menembus atap, menyusup dalam ruang-ruang rumahku, selama lebih dari lima belas tahun. Dan selama itu pula, nalar batinku mengakrabi perbendaharaan Kristus, yang entah bagaimana menjadi penghiburan hari-hariku. Aku telah menjadi bagian kemanusiaan Kristiani di sekitarku. Dan karenanyalah, menyambut Natal menjadi kegembiraan dan suka cita: serupa Idul Fitri, selayaknya Idul Adha.

Seperti tahun-tahun yang terlalui, menjelang Natal, ada banyak kesibukan di rumah kami: sajikan hidangan yang lebih beragam, dengan kelezatan mewah manjakan lidah. Pohon Natal mesti terpajang di dalam ruang, yang ditata, direka, dipercantik segala rupa, dengan ragam pernak-perniknya: kerlap-kerlip bola kaca, pita dan bunga-bunga, lilin banyak warna, dan tentu saja boneka santa dan hadiahnya. Akan ada banyak tamu hari itu: Pastor Kepala Paroki Romo Gregorius Bhekten, beberapa pastor, jemaat gereja, dan kerabat kami sendiri yang juga Nasrani.

natal (2)

Ayah selalu punya cara unik untuk membuat semua itu benar-benar menyenangkan, berkesan dan mendekatkan kami pada makna keterharuan manusiawi yang nyaris sempurna, menyentuh keterharuan Ilahi yang paripurna. Begitulah aku yang telah menjadi bagian kemanusiaan Kristiani di sekitarku, dan mengakrabi perbendaharaan Kristus di dalam kalbu. Setiap kali mendengar sabda-sabda Allah para pastor, doa-doa, lagu-lagu liturgi, lonceng gereja, misa, dan jemaatnya, aku serasa ada di sana: terngiang-ngiang di kepala, tentang doa yang serupa kumbang di bibir sarang:

Aku percaya akan Allah

Bapa yang Maha Kuasa
Pencipta langit dan bumi
Dan akan Yesus Kristus

Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perawan Maria,
yang menderita sengsara dalam
pemerintahan Ponsius Pilatus,
disalibkan wafat dan dimakamkan,
yang turun ke tempat penantian,
pada hari ketiga bangkit dari
antara orang mati yang naik
ke surga, duduk di sebelah kanan

Allah Bapa yang Maha Kuasa.
Dari situ Ia akan datang
mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja Katholik yang Kudus,
persekutuan para Kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.

Amin.

Itulah bagian doa yang kuhapal luar kepala sebelum aku dapat membaca. Kedekatan kami dengan para pastor dan jemaat membuat gereja tak lagi bersekat. Aku boleh masuk gereja, mencelup jari di cawan air suci, berbaur dengan anak-anak yang diajak orang tuanya hadiri misa. Gereja Paroki St. Yoseph sangatlah indah, penuh keagungan. Belum pernah kulihat bangunan seindah dan seagung itu sebelumnya. Begitu memasuki gereja, akan terlihat bangku-bangku umat yang panjang, berbahan kayu coklat tua yang memenuhi panti umat: berbaris-baris, tertata rapi di kanan-kiri: membentuk belahan-belahan ruang dalam gereja, yang luas, beratap tinggi.

natal (3)

Di tengah panti umat, membentuk serupa jalan: dari pintu utama masuk gereja, membentang lurus dan berakhir di mahakudus, yang tepat di tengahnya, ada meja altar, altar utama dan tabernakel, yang bernaung dalam ruang melengkung serupa mihrab. Di sisi kanan dan kirinya, ada dua pilar menjulang tinggi: berpadu dengan langit-langit gereja penuh lukisan, yang diambil dari nukilan kisah di dalam Injil. Di belakang meja altar, di dalam ruang melengkung serupa mihrab, terdapat lukisan besar yang berkisah tentang Yesus di Kayu Salib. Di sisi kanan dan kirinya, ada mimbar sabda dan doa, yang didekatnya ada patung Bunda Maria dan Yesus Kristus: berdiri tegak menghadap umat. Dan di antara keduanya, dari kejauhan akan terlihat, altar utama menjulang tinggi: menjadi titik pandang para jemaat. Sungguh, arsitektur, seni, dan religi yang mengagumkan. Di bagian lain, jendela-jendela besar berbentuk lengkung berjajar memenuhi tepi atas ruang gereja, disangga tapal kuda dan pilar-pilarnya, dan berpadu dengan lantai marmer yang mengkilat: sebuah rancang bangun yang membuat gereja terasa sejuk, dingin, dan syahdu. Begitu memasuki ruang gereja terbangkitlah rasa damai, tenang, syahdu, dan takjub. Ada doa, musik, dan lagu-lagu yang turut mengisi kerinduanku: di sini pada musim dingin bersalju, di antara pesujud dan peziarah yang lalu lalang berpayung hitam: Qom, Iran yang menumbuhkan Masjid Jamkaran.

natal (4)

Mengherankan bagi guru Sekolah Katholik tempatku belajar, bahwa aku mendapatkan nilai sempurna untuk pelajaran tentang Katholik: melampaui anak-anak Kristen yang lainnya. Dari sisi ajaran, guru-guru bilang aku lebih Kristen dari anak-anak Kristen. Dan dari sisi ajaran pula, Kristen telah menjadi agama keduaku setelah Islam. Kata ayah, Yahudi dengan Taurat-nya, Kristen dengan Injil-nya, sungguh penting dimengerti, dipahami. Dan juga Islam dengan Qur’an-nya. Apakah dari Allah, ataukah karangan manusia semata: ketiganya tetaplah penting untuk dimengerti, dipahami. Kata ayah, ketiganya adalah Kitab Kuno amat berharga yang akan selalu mempengaruhi nalar batin umat manusia. Dan begitu pula dengan perilaku, sejarah, budaya, dan peradabannya.

natal (5)

Selepas Isya, tamu pertama datang. Dialah Florentinus, pemungut sampah rumah ke rumah. Setelah Tuhan, dialah yang paling paham tentang siapa yang paling senang buang makanan, paling produktif membuat sampah. Sebelum subuh datang berlabuh, ia bergerak menarik grobak: tak peduli gerimis, tak peduli hujan, tetap cinta dengan kerjaan. Begitulah. Dari rumah ke rumah, ia angkut tumpukan sampah. Sungguh, pekerjaan mulia yang tidak semua bersedia melakukannya: dengan gembira. Sesekali ayah menemuinya: sekedar menunjukkan bahwa di pagi buta, bukan hanya dia yang terjaga. Kadang ayah memberinya makanan dan kadang pula sejumlah uang. Dan seketika, ia akan ucapkan terima kasih setinggi langit, seolah-olah ayah adalah dewa. Tidak lama setelah itu, datanglah Romo Bhekten. Kami pun berbincang tentang risalah pemungut sampah. Dan seperti yang kuduga, sebagai gembala umat, Romo Bhekten tentulah cermat. Inilah yang dikatakannya malam itu:

“Dari seluruh jemaat Gereja Paroki St. Yoseph, tidak ada yang kepadanya aku menaruh hormat melebihi penghormatanku pada pemungut sampah: orang seperti Florentinus ini. Kalau orang seperti saya tidak khotbah, tidak mengajar, hampir pasti tak akan terjadi sesuatupun. Tapi lima hari saja Floren mangkir dari tugasnya, tak taulah akan seperti apa rumah kita. Dan siapakah yang memiliki keberanian untuk menaruh hormat kepada Florentinus, sedikit lebih tinggi atau sekurang-kurangnya sama dengan penghormatan mereka kepada seorang pastor?” Mata Florentinus terbelalak. Hari itu ia mendengar pengakuan dari seorang pastor, yang setiap jemaat berharap berkat daripadanya. Sungguh pelajaran berharga bagi mereka yang menyebut diri pemimpin umat. Perbincangan yang mulai seru, terhenti oleh tamu-tamu yang berdatangan.

Seperti yang sudah-sudah, yang terekam dalam pikiran: tanpa diminta, bapak-bapak berkerumun dalam jenisnya, ibu-ibu merapat pula pada sifatnya. Orang-orang muda menyisih, mengambil tempat yang lebih romantik: jauh dari bapak-bapak yang publik dan ibu-ibu yang domestik. Dan adapun anak-anak, selalu punya cara bikin masalah, yang membuat suasana kian meriah. Lebih tepatnya gaduh: berteriak, berlarian, berkejaran. Berebut benda-benda yang bukan miliknya, merengek meminta barang milik temannya. Pada tahun itu, ada adegan seru: Farel si kepala batu, buah karya seorang kontraktor beradu hantam dengan Nizam, si cengeng dan manja, hasil besutan petani bunga. Hanya berlangsung singkat, dan Nizam sudah terkapar. Saat itu juga ia menangis dengan volume paling maksimal. Betapa tidak: pukulan Farel mendarat tepat di bibirnya. Bibir yang tadinya tipis terlihat jontor tak simetris. Induknya buru-buru datang. Ada gundah melihat bibir sang anak sudah berubah. Dan apalagi, tangisan Nizam yang tak kunjung diam. Di sudut lain, Farel, si pemenang, mendapat ceramah singkat dari sang ayah. Adu hantam berbuah manis: anak-anak jadi mudah dengar nasehat, gampang pula diminta diam: takut menjadi Nizam yang kedua.

Di antara kami yang sekarang sudah besar, mengenang semua itu dengan rasa kehilangan. Masa kini dan masa depan, kata Nizam suatu hari, hanya mungkin lebih baik, tapi tidak akan pernah lebih indah dari masa lalu. Bahkan tentu saja, tubuhnya yang terkapar, tangisnya yang memalukan dan bibirnya yang tak lagi simetris malam itu, telah menjadi bahan tertawaan yang indah, yang selalu muncul dan diulang ulang dalam setiap perjumpaan yang kian mahal: kami telah menyebar menjadi warga dunia: Matador, Kincir Angin, Piramid, Mullah, Tirai Bambu, Sakura, Kangguru: dan banyak lagi.

natal (1)Seluruh tamu undangan akhirnya datang. Perayaan menyambut Natal malam itu pun dimulai. Rasya Syifa Az-Zahra, kakak perempuanku membacakan seluruh urutan acara. Itulah kakak perempuanku yang amat kusayang. Usianya menginjak tujuh belas tahun, dan kecantikan, juga pesonanya menjadi penyesalan bagi banyak laki-laki yang baru menikah. Dan mereka yang masih sendiri, membanjiri kakak perempuanku dengan puisi, dengan sajak yang berisi kemabukan dan kegilaan: beberapa di antaranya sangat parah. Ada sesuatu yang lebih mengguncang dan menaklukkan hatinya melebihi kegilaan dan kegenitan Zulaikha kepada Yusuf: kemerduan al-Qur’an yang sekaligus membawanya pada kecintaan terhadap ilmu.

Laki-laki yang tidak memiliki kelebihan pada keduanya, sudah merasa mati sebelum perang. Dan acara yang pertama malam itu adalah pembacaan al-Qur’an, Kalam Ilahi, yang ditugaskan kepadaku. Malam itu, ayah telah memintaku untuk membacakan Surat Ar-Rahman, Maha Pemurah, sebagai pembuka. Tujuh puluh delapan ayat jumlahnya, yang baru kemudian kuketahui: di sudut ruangan, Rasya Syifa Az-Zahra, kakak perempuanku, tak sanggup lagi menahan air matanya. Bacaan dan suaraku, katanya, sungguh merdu, menyentuh, mengharukan, dan itu membuatnya menangis. Itu adalah salah satu alasan mengapa ia sangat menyayangiku, sebesar rasa sayangku kepadanya. Ketika ia ke pergi ke Negeri Matador untuk belajar, aku menangisi, meratapinya seperti seorang anak ditinggal ibu. Di kemudian hari, dari surat-suratnya yang panjang, ia ungkapkan kerinduannya padaku dengan kisah panjang peninggalan Islam Andalusia: istananya, taman, masjid, menara, dan benteng-bentengnya: Alhambra, Mesquita, Giralda, Alcazar, Alcazaba, Bab Almardum, Aljaferia: semuanya, yang membentang dari Granada, Cordoba, Sevilla, Malaga, Toledo, sampai Zaragoza. Dan tentu saja ilmuannya: Avicena, Abulcais, Averroes, Arzachel. Begitulah pergumulan sejarah dan peradaban Islam dan Kristen di Spanyol: bersatu dalam arsitektur, seni, dan ketuhanan yang menakjubkan. Semua itu memenuhi khayalanku. Itulah kakak perempuanku yang amat kusayang, yang malam itu menangis mendengar “Ratapan Tuhan” dalam Ar-Rahman:

Arrohmaan

‘Allamal qur-aan

Kholaqol ingsaan

‘Alamahul bayaan

Asyamsu walqomaru bihusbaan

Wannajmu wasyajaru yasjudaan

Wasamaa-arofa’ahaa wawadho’al mizaan

Alatathghow filmizaan

Wa-aqimul wazna bilqisthi walaa tukhssirrul mizaan

Wal-ardho wadho’ahaa lil-anaam

Fihaa faakihatuw wannakhlu dzaatul akmaam

Walhabbu dzul’ashfi waroyhaan

Fabi-aiyi aalaa irobbikumma tukadzdzibaan

Suasana sunyi senyap. Hening. Sehening Kidung Malam Kudus. Bertasbih, mengagungkan, mensucikan Nama Allah. Ayat demi ayat mengalir menegaskan tentang nikmat, kasih dan berkah Allah yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan al-Qur’an, menciptakan manusia, mengajarinya pandai bicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tetumbuhan, pepohonan, keduanya tunduk kepada-Nya. Allah meninggikan langit dan meletakkan neraca agar kita tidak melampaui batas neraca itu, menegakkan timbangan dengan adil dan tidak pula mengurangi neracanya. Allah meratakan bumi untuk makhluk-Nya. Di bumi ada buah-buahan, kurma yang memiliki kelopak mayang dan biji-bijian yang berkulit serta bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan? Tujuh puluh delapan ayat selesai sudah: mengingatkan bahwa tak seorang pun memiliki alasan untuk mendustakan nikmat-Nya. Dan malam itu, sebagai tuan rumah, ayah memberikan sambutan pertama:

“Alhamdulillah. Puji Tuhan. Senang sekali melihat Romo Bhekten, Romo Pastor, dan bapak-ibu jemaat gereja menghadiri undangan kami sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan keinginan yang sungguh tulus untuk ikut berbahagia menyambut Natal. Ijinkanlah saya menyajikan hidangan sederhana sebagai wujud Perjamuan Kasih Yesus, Putra Perawan Maria kepada manusia, yang diciptakan dengan kalimat, yang terkemuka di dunia dan di akhirat, diberkati dimana saja ia berada: pada saat dilahirkan, ketika meninggal, dan pada waktu dibangkitkan hidup kembali. di sini, di tempat kita yang penuh berkah ini, di wajah Romo dan bapak-ibu jemaat gereja, saya sungguh membaca firman Tuhan bahwa sesungguhnnya engkau akan dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang Muslim adalah orang-orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya kami ini orang Nasrani. Dan karenanya, inilah pula wujud persahabatan, persaudaraan dan cinta kasih kami: sebuah hidangan menyambut Natal. Besar harapan saya, semua ini dapat menjadi berkah dan pelajaran bagi anak-anak kita.”

Semua yang hadir menyimak dengan khusuk sambutan ayah. Lebih tepatnya, ceramah. Kelahiran Yesus, kata ayah, sama bermaknanya dengan kelahiran Muhammad yang juga diperingati: dikenang. Yesus, Isa al-Masih dan Maryam adalah bagian kisah al-Qur’an: dua sosok yang amat dimuliakan. Dan karenanya pula, ayah memuliakan Isa al-Masih dan Maryam, sebaik pemuliaan Romo Bhekten terhadap Yesus dan Bunda Maria. Malam itu, sebagai rangkaian sambutan Natal, ayah mengisahkan kembali kelahiran Yesus, Isa al-Masih Putra Maryam seperti dikisahkan dalam al-Qur’an Surat Maryam:

natal (6)

“Dan ceritakanlah kisah Maryam ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat sebelah timur. Ia membuat tabir lalu kami utus Ruh Kami, Jibril kepadanya, yang menjelma di hadapannya sebagai manusia yang sempurna. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada yang Maha Rahman bila engkau orang yang bertaqwa.” Berkatalah Jibril kepada Maryam, “Sesungguhnya aku ini utusan Tuhanmu yang datang untuk memberi seorang anak yang suci kepadamu.” Heran dengan perkataan Jibril, Maryam pun berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, padahal tidak pernah seorang pun menyentuhku. Dan aku bukan pula seorang pezina?”

Jibril memberikan penjelasan kepada Maryam, “Demikianlah yang difirmankan Tuhan bahwa hal itu mudah bagi-Nya, agar Allah menjadikan tanda bagi manusia dan juga rahmat dari Allah. Itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan-Nya, Maryam.” Akhirnya, Maryam mengandungnya, dan mengasingkan diri ke suatu tempat yang jauh. Dan ketika didera rasa sakit akan melahirkan, Maryam bersandar lemah pada pangkal pohon kurma. Ia berkata, “Alangkah baiknya aku mati, menjadi sesuatu yang tidak berarti dan dilupakan.” Kemudian muncullah Jibril dari tempat yang rendah, memberi penghiburan pada Maryam: “Jangan bersedih Maryam. Tuhan telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Goyangkanlah pohon kurma itu, niscaya akan berguguran kurma yang masak untuk engkau makan. Makan, minum dan senangkanlah hatimu, Maryam. Dan bila engkau melihat seseorang, katakanlah bahwa engkau telah bernazar, berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini.” Dan setelah itu, Maryam membawa anak itu pada kaumnya.”

Demikianlah kelahiran Yesus, Isa al-Masih Putra Mayam dalam al-Qur’an: “Allah telah memilih Maryam, mensucikannya, dan melebihkannya atas semua wanita di dunia.” Penegasan al-Qur’an itu, kata ayah, samalah maknanya dengan Doa Salam Maria atau Ave Maria: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.”

Semua yang hadir terlihat khusuk. Kecuali beberapa anak yang tampak tak sabar dengan perkataan rumit orang tua: kepalanya sudah penuh dengan hadiah. Anak anak itu kini telah dewasa: menjadi bapak, menjadi ibu. Dan orang tua mereka menjadi kakek, menjadi nenek. Dan di antaranya hanya dapat kami jumpai di pemakaman. Dari tanah kembali ke tanah. Dan tubuh hanyalah tempat singgah yang terlalu rendah. Adapun jiwa, teruskan perjalanan menuju Tuhan. Doa-doa harus dicipta, sebagai penghubung antara kita dan jiwa jiwa, antara Tuhan dan pengharapan. Tidak akan pernah ada doa-doa tanpa kerinduan. Dan dalam kerinduan itulah doa-doa kami tercipta. Itulah yang kuucapkan di atas makam petani bunga, ayah Nizam, yang tak bosan ceritakan sambutan menjelang Natal, yang kata jemaat paling berkesan.

Tuan rumah selesai sudah beri sambutan. Dan saatnya Romo Bhekten sampaikan pesan menjelang Natal. Kami semua berdiri, menyanyikan lagu Malam Kudus: lagu yang sudah dapat kuhapal luar kepala: nada-nada dan kalimatnya. Bernyanyilah aku dengan kehikmatan yang kurang lebih sama dengan yang lain. Setelah itu, Romo Bhekten memberikan pesan Natalnya:

natal (7)

“Saudara-saudara yang terkasih dan anak-anak yang terbekati. Saya kira, tidak banyak yang dapat saya sampaikan sebagai Pesan Natal. Apa yang kita saksikan malam ini telah menjelaskan segalanya tentang Kasih Allah: Yesus Kristus yang lahir di Kota Daud sebagai juru selamat. Allah adalah Kasih yang menyebar ke segala arah. Demikianlah, Allah Bapa di surga: menerbitkan matahari bagi yang jahat dan yang baik. Menurunkan hujan bagi yang benar dan yang salah. Dan saudara kita yang terkasih ini: Musthafa Abdurahman telah menyelami dan merasakan Kasih-Nya. Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi manusia, sesamanya, saudaranya. Berbahagialah kita dipertemukan dengan saudara kita ini: Musthafa Abdurahman yang tercerahkan, yang kepadanya kita belajar tentang persaudaraan, penghormatan dan cinta dalam Kasih-Nya. Terimakasih yang tulus dan sangat mendalam dari kami: para pastor dan jemaat gereja.”

Semua yang hadir serasa mendapat pencerahan dan penegasan kembali tentang cinta kasih yang kami tanam. Kecuali tentu saja anak-anak yang kiat penat: gelisah menanti hadiah yang kian susah. Ada yang tak henti menggeliat. Ada yang kian redup sorot matanya. Dan mulut-mulut kecil itu kian rajin menguap dengan kepala tak berdaya di atas meja. Begitulah anak-anak: mereka telah menjadi imam tanpa mahzab, menjadi sufi tanpa tarekat, dan bertuhan dengan Tuhan yang tidak ada dalam kepala orang dewasa: ayah, para pastor, dan jemaat.

Orang-orang mengenal ayah sebagai cendikiawan Muslim. Dan bagiku, ayah adalah musafir dari semesta yang ajaib, misterius. Kedekatan ayah dengan Gereja bermula dari kedatangan Romo Bhekten dan beberapa pastor ke rumahku, sehari setelah diangkat menjadi Pastor Kepala Paroki Gereja St. Yoseph. Kedatangannya untuk tujuan sederhana yang kemudian penuh makna: ia meminta maaf bila peribadatan yang dilakukan gereja akan mengganggu kehidupan ayah sebagai Muslim, sekaligus mengenalkan diri sebagai Pastor Kepala Paroki yang baru.

natal (9)

Saat itu dengan tegas dan penuh dukungan, ayah mengatakan bahwa tidak ada alasan baginya untuk tergganggu. Bahkan ayah mengatakan bila ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk kenyamanan dan kebaikan jemaat gereja, ayah dengan senang hati melakukannya. Sejak saat itulah, ayah menjalin hubungan yang jauh lebih dalam dengan para Uskup dan Pastor Kepala Paroki dari berbagai wilayah Keuskupan dan Paroki. Bahkan sering diminta untuk memberi materi di berbagai Seminari dan Sekolah Teologi tentang ajaran, filsafat, sejarah dan peradaban Islam. Permintaan itu tidaklah berlebihan. Dalam usia yang masih terbilang muda, ayah telah mewarisi perbendaharaan ilmu yang kaya dari dunia Islam: Kairo, Baghdad, Tehran, Islamabad, dan Ankara. Masih kuingat benar. Dulu, di dekat kolam berbentuk bundar, di bawah pohon kamboja tua di belakang rumah kami, ayah dan para pastor sering berbincang tentang banyak hal yang masih terlalu sulit kumengerti. Ada tawa-tawa lepas serupa bocah-bocah dapat hadiah. Tidak lama kemudian, ibu akan datang dengan teh hangat dan juga kucing persia yang hampir selalu mengikuti kemanapun ibu pergi. Sambil berbincang, ibu akan menaburkan biji-bijian di antara puluhan merpati yang serasa bertambah setiap bulan. Begitulah, dari hari ke hari kami merasa bahwa pastor-pastor itu bukan lagi seorang tamu, melainkan keluarga. Benar-benar keluarga.

natal (8)

Kedekatan kami dengan para pastor dan jemaat membuat gereja tak lagi bersekat. Aku boleh masuk gereja, berbaur dengan anak-anak yang diajak orang tuanya hadiri misa. Dan sebuah kisah muncul di sana. Bermula dari al-Qur’an yang telah menjadi serupa makanan. Bahkan lebih dari itu. Kami begitu dekat dengan al-Qur’an, dan begitulah yang ayah ajarkan. Karena itulah, huruf yang pertama kali kuketahui adalah huruf Arab, dan tulisan pertama yang dapat kubaca adalah al-Qur’an. Tak ada pula kalimat-kalimat yang wajib kuhapal sebelumnya, selain kalimat Allah. Karena itu pulalah, al-Qur’an telah menjadi sebentuk nyanyian, yang secara tanpa sadar kusenandungkan di banyak tempat. Ayah mewajibkanku tiga ayat dalam sehari, dan mengulang hapalan di hadapannya. Ayah selalu memberikan hadiah yang sangat pantas untuk itu. Ada kejutan pada setiap ayat. Ada pengalaman mahal pada setiap Surat. Pastor-pastor dan jemaat gereja sesekali mendengar al-Qur’an dari bibirku. Bukan di rumahku, bukan pula di tempat lain: tapi dalam ruang gereja. Bahwa itu adalah aku: putra Musthafa Abdurahman, maklumlah mereka akan hal itu. Setidaknya itulah yang dapat kutangkap.

Dan saat itu, entah mengapa ayah terlihat begitu gugup ketika aku bertanya kepada Romo Gabriel tentang berapa Surat yang sudah sanggup ia hapalkan. Aku terkejut. Heran. Setua itu belum dapat menghapal satu Surat pun? Lebih mengherankan: belum bisa baca al-Qur’an. Ia hanya tersenyum dan berjanji padaku akan mempelajarinya. Aku tak mengerti: ayah justru meminta maaf kepadanya. Keesokan harinya, aku datang padanya membawa Qur’an: akan kuajari ia membaca. Di serambi gereja, di dekat bejana baptis, kuajari Romo Gabriel baca al-Qur’an. Wajah dan tingkahnya terlihat aneh. Kubilang padanya: tenang saja, tak perlu malu. Kata ayahku, tuntutlah ilmu dari buaian ibu sampai ke liang lahat. Romo Gabriel menganggukkan kepala, mengiyakan perkataan sang guru baru. Pelajaran pertama untuk Romo Gabriel hari itu adalah menulis, mengenal, dan mengucapkan huruf al-Qur’an. Beberapa pastor dan pengurus gereja melihat kami dengan tatapan aneh. Aku panggil mereka untuk bergabung, tapi memilih beringsut pergi. Belum lima huruf dapat dihapal, dari pintu gerbang gereja, muncul ibuku: terkejut bukan kepalang. Ia bersimpuh, memegang telapak kaki Romo Gabriel dengan permohonan maaf yang dalam dan berulang-ulang. Aku melihat adegan itu dengan tatapan bingung: tak mengerti.

natal (10)

“Tidak apa, ibu. Dan tidak perlu juga begini. Anakmu masih terlalu suci untuk mengerti. Kalau ibu memelihara burung, terdengarlah suara kicauan. Dan aku, tidak akan pisahkan burung yang lucu ini dari kicauannya yang merdu. Tak apa, bangunlah. Aku tak tahu bagaimana ibu mendidiknya. Tapi sungguh, burung yang lucu ini jauh lebih cerdas dari usianya.”

“Terimakasih Romo. Dan sekali lagi, maafkan saya. Maafkan anak saya. Orang-orang mengenal Romo sebagai seorang pastor, seorang Katholik, dan hari ini saya melihat: Romo sungguh Qur’anik.”

Ibu membawaku pulang dengan rasa bersalah. Sesampainya di rumah, giliran ayah berikan khotbah. Penuturan ibu tentang pengajaran al-Qur’an, membuat ayah terlihat gusar. Aku semakin tak mengerti: apa sebenarnya yang mereka persoalkan. Apa yang salah dengan mengajarkan al-Qur’an? Bukankah itu baik? Bukankah itu pula yang ayah ajarkan? Dan bukankah Romo Gabriel sendiri yang menginginkannya, menjanjikannya? Aku benar-benar tak mengerti.

“Kau tidak boleh melakukan itu lagi, anakku?” Kata ayah, tegas.

“Tak boleh? Kenapa?”

“Tidak setiap orang harus membaca al-Qur’an, termasuk pastor dan semua orang di gereja.”

“Aku tidak mengerti maksud ayah.”

“Lihatlah, semua orang berpakaian, bukan? Tapi mereka tidak harus memakai pakaian yang sama dengan pakaianmu: bentuknya, ukurannya, dan warnanya. Sekarang coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau kau memakai sepatu milik Romo Gabriel?”

“Itu terlalu besar ayah. Akan susah. Sulit untuk berjalan.”

“Ya. Kalau begitu, jangan menyusahkan, mempersulit Romo Gabriel dan semua orang di gereja. Mereka orang-orang yang baik. Jangan menyusahkan mereka.”

“Tapi ayah, Romo Gabriel sendiri yang berjanji akan mempelajarinya. Aku hanya ingin membantu.” Ayah terdiam beberapa saat, kemudian memegang bahuku dan berkata:

“Mahdi al-Muntadzar, putra ayah yang tampan, yang pintar. Kalau kau ingin membantu Romo Gabriel, bantulah Romo bersihkan jendela, lantai, taman, halaman, atau apa saja yang meringankan pekerjaannya. Itu lebih dibutuhkan Romo Gabriel?”

“Ayah, bukan itu yang dijanjikan Romo Gabriel kepadaku. Ayah melihat dan mendengarnya sendiri bukan? Romo sendiri yang berjanji akan belajar baca al-Qur’an. Dan aku hanya ingin membantu. Membantu Romo Gabriel yang kata ayah orang baik. Membantu orang baik itu baik ayah.” Ayah kembali terdiam. Dan saat itu, aku benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran ayah. Banyak hal yang sebelumnya mudah menjadi membingungkan. Ayah memandangku dengan tatapan sayu. Ada kelelahan di wajahnya. Kemudian ia berkata padaku dengan suara lemah: ada keputusasaan di dalamnya:

“Kau percaya pada ayah?”

“Iya ayah.”

“Apakah selama ini ayah pernah membuatmu kecewa, tidak penuhi apa yang kau ingin, tidak mendengar apa yang kau keluhkan?”

“Ayah memberiku segalanya.”

“Apakah semua itu tidak cukup berharga, sehingga kau tidak dapat penuhi satu saja permintaan ayah: tidak mengajarkan al-Qur’an pada setiap orang dalam gereja. Ingat dan hitung-hitunglah sudah berapa kali ayah meminta sesuatu kepadamu. Apakah permintaan ayah kepadamu lebih banyak dari permintaanmu kepada ayah?” Dan kali ini akulah yang terdiam, menunduk, membacai kembali hari hari yang telah berlalu: ayah adalah manusia terbaik yang pernah kukenal, dengan kelembutan, pemahaman, dan kebaikan yang mencengangkan. Entah bagaimana, saat itu aku benar-benar merasa sangat bersalah. Ada perasaan takut kehilangan. Kupeluk tubuh ayah erat erat, dan aku menangis untuk sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Itulah untuk pertama kalinya dalam hidupku, merasakan kasihan yang sangat mendalam kepada ayah.

Begitulah, Gereja Paroki St. Yoseph memberiku kisah penting. Dan baru beberapa tahun kemudian kuketahui bahwa itu sungguh lucu, aneh, tidak pantas, tidak sopan, tidak benar, sangat keterlaluan, dan suatu dosa: sungguh, maafkan aku Romo Gabriel. Namun, peristiwa itu kemudian berbuah manis. Kelak Romo Gabriel, bekas muridku itu, menjadi guru terbaikku setelah ayah.

natal (11)

Romo Gregorius Bhekten selesai sudah beri sambutan. Dan tibalah saatnya, membagi hadiah untuk anak-anak yang telah menggerutu membunuh waktu. Dan di antara mereka, terlihat wajah yang kembali murung. Lebih murung dari sebelumnya. Beberapa orang tua merasa was-was, tahu betul tentang anaknya. Ada berita buruk: hadiah tak dapat diperoleh dengan cuma-cuma. Sontak, harapan anak-anak seakan runtuh. Mereka yang ingin dapat hadiah harus menampilkan kemampuannya, apapun yang mereka bisa: nyanyi, baca puisi, pantun, apa saja yang penting tampil. Agaknya, tahun itu, Santa Claus tak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Ia tak lagi mudah obral hadiah.

Rasya Syifa Az-Zahra, kakak perempuanku yang bertugas sebagai pembawa acara mengumumkan bahwa nama-nama telah diundi untuk mendapat giliran tampil, dan setiap dari mereka telah disediakan hadiah yang benar-benar mereka inginkan. Sebelumnya, panitia telah melakukan penyelidikan diam-diam, tentang hadiah yang paling diimpikan oleh mereka. Ini kabar baik bagi orang tua yang memiliki anak penakut, pemalu, dan demam panggung. Iming-iming dapat mendongkrak keberanian. Kalau masih takut: hadiah hilang dan hancur pula reputasinya.

Andreas, dapat panggilan pertama. Si gesit dan penggangu perdamaian ini, badannya tidak lebih besar dari anak-anak yang lain, tapi soal bikin kekacauan dan menangis anak-anak lain, dia ahlinya. Bandelnya, benar-benar sulit diampuni. Itulah satu-satunya pengacau yang kami miliki, dan yang berani menentangnya hanya Henricia. Kalau srigala betina itu sudah menyeringai dan menyalak, semua anak diam mendadak, termasuk Andreas yang terpaksa tiarap di hadapannya.

Kepercayaan diri Andreas patut diacungi jempol, juga gayanya: benar-benar penuh totalitas. Namun suaranya, ya ampun: membuat pusing kepala. Dan serasa ada ayam bertarung dalam telinga. Penonton lebih banyak yang tertawa ketimbang tepuk tangan, sebagian geleng kepala: heran setengah mati. Begitu selesai menyanyikan lagu What Child Is This, penyanyi solo yang kelewat pede itu membungkukkan badan ke arah penonton: depan, kanan, kiri, dengan senyuman dan gestur tubuh yang aneh. Padahal, tak ada penonton di sisi kanan, tak ada pula di sisi kiri. Riuh tawa penonton pun menyeruak. Sebagian, tak tahan ingin melemparnya dengan sepatu. Suara terjelek yang pernah ada itu akhirnya hilang: Andreas terima hadiah. Matanya berbinar-binar: kostum dan senjata berat tentara mainan yang terbaik saat itu, berpindah sudah ke tangannya. Sungguh, tak sepadan dengan suaranya yang berantakan. Anak-anak melihatnya dengan tatapan tak senang, was-was: perdamaian kian terancam. Kini, pengacau kecil itu telah dilengkapi senjata berat. Santa Claus telah salah beri hadiah.

Nama berikutnya yang dipanggil adalah Yohanes. Seluruh mata penonton tertuju padanya. Si tampan tapi agak pemalu ini tak kunjung tampil. Dipanggil, dibujuk, dirayu, diteriaki, tapi tetap berkeras jauhi panggung. Kakakku, Zahra, cuap-cuap berharap si tampan segera maju. Cukup lama, dan anak anak lain sudah merasa terusik kepentingannya: berharap segera dapat panggilan. Sang ibu tak putus asa. Ia terus membujuk, mendorong, menyemangati. Persis kubu petinju yang jagonya babak belur di pojok ring. Ampuh! Anak dokter bedah itu akhirnya bersedia tampil, meski setengah hati. Matanya tak berani tatap penonton. Sesuai penderitaannya malam itu, Yohanes menyuguhkan Doa Kemulian dan Bapa Kami. Ia menunduk, menggabungkan jari-jemajari kedua tangan, dan menaruhnya di dada. Lebih karena takut dan bukan faham cara berdoa:

Kemuliaan

kepada Bapa, Putera,

dan Roh Kudus. Seperti pada

permulaan sekarang selalu dan

sepanjang segala abad. Amin.

Terpujilah nama Yesus, Maria dan

Santo Yosef. Untuk selama-lamanya.

 

Bapa Kami

yang ada di surga,

dimuliakanlah nama-Mu.

Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah

kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam

surga. Berilah kami rejeki pada hari ini,

dan ampunilah kesalahan kami, seperti

kami pun mengampuni yang bersalah

kepada kami. Dan janganlah

masukkan kami ke dalam

percobaan. Tetapi bebaskanlah

kami dari yang jahat. Amin.

Penonton berpura-pura hikmat dan tak yakin pula doa mustajab. Yohanes membaca doa terbata-bata, dan kadang terdiam: menerawang jauh, mencari kata yang menghilang dari kepala. Ada saja yang tak sanggup menahan tawa, dan berdoa kian sengsara. di antara barisan para jemaat, ibunya semakin cemas menanti doa tak kunjung tuntas. Dan Puji Tuhan: Amin, berakhir sudah. Tepuk tangan terdengar dan Yohanes pun senang. Bukan karena hadiah, bukan pula tepuk tangan, melainkan terbebas dari doa yang mengancam reputasinya.

Satu demi satu pemburu hadiah tampil. Ada dua puluh lima penampil malam itu, dengan kelebihan dan kekurangannya yang mengundang tawa. Dan penampil terakhir adalah Vincent. Bukan tanpa alasan bila Vincent mendapat giliran paling akhir. Anak seorang masinis itu, diberkati keindahan suara yang mengagumkan. Tampil dalam acara menyambut Natal malam itu adalah hal yang remeh saja baginya. Dalam tinju semacam pertarungan tanpa gelar. Dalam sepak bola adalah laga persahabatan. Malam itu, Vincent menyanyikan lagu Pie Jesu. Begitu piano dan biola terdengar, penonton benar-benar tak dapat menahan tepuk tangannya. Beberapa langsung berdiri penuh kekaguman. Dan ketika Vincent mulai mengeluarkan suara surganya: “Haasya lillaahi maa haadzaa basyaron in haadzaa illaa malakung kariim.” Itulah yang mengalir begitu saja dari bibir ayah ketika mendengar suara dari seorang anak yang belum lagi tiga belas tahun. Kami benar-benar terharu, takjub, dan bangga memiliki malaikat kecil bersuara surga: Vincent. Ia benar-benar menjadi bintang malam itu. Meski sedikit kalah tampan dari Yohanes, di kemudian hari terbuktilah bahwa hati gadis-gadis dibuat patah: remuk redam olehnya.

Seluruh penampil sudah unjuk kebolehan. Dan tibalah acara terakhir: santap malam. Romo Gregorius Bhekten memimpin doa dengan khusuk, syahdu. Malam itu kami makan bersama: masih dengan kaakraban, celotehan, dan tawa canda, tentang penampil-penampil terbaik, terlucu, dan teraneh. Dan itulah perayaan menyambut Natal yang terakhir bagi kami: sebentuk Perjamuan Akhir dan ucapan selamat jalan.

natal (12)

Sembilan puluh sembilan hari setelah itu, kami berpisah dengan saudara-saudara kami yang terkasih, yang memberi begitu banyak kenangan dan pelajaran, tentang cinta kasih, tentang penghormatan: Di sini, di muka bumi Allah, Tuhan kita yang Satu dan Sama: Allah cahaya langit dan bumi. Permisalan cahaya-Nya serupa lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu serupalah bintang bermutiara, yang dinyalakan dengan cairan minyak dari pohon berlimpah berkah, yang tidak tumbuh di barat dan tidak pula tumbuh di timur. Pohon zaitun, pohon zaitun, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi meski tak tersentuh api: Cahaya di atas cahaya. Maha Cahaya Allah, yang meninggikan langit tanpa tiang, membentangkan bumi dan tetumbuhan, menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan matahari tidak mungkin mendapatkan bulan dan malam tidak dapat mendahului siang. Matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya.

Demikianlah, sembilan puluh sembilan hari setelah itu, kami pindah dan menetap di Kota Qom, Iran selama sembilan tahun, setelah sebelumnya bermukim di Granada, Spanyol dan Guangzhou serta Ningxia, China selama enam tahun. Dan kapanpun kami kembali ke gereja, mereka akan menunggu dan menerima kami dengan suka cita: seperti Perjamuan Kasih menyambut Natal yang Terakhir.

natal (13)

Masjid Jamkaran, Qom, Iran. Demikianlah kisahku: Burung-Burung Gereja Di Kubah Masjid, yang terkenang: pada musim dingin bersalju, di antara pesujud dan peziarah, yang lalu lalang berpayung hitam. Berlalu lima belas tahun sudah dari negeri pecinta Allah, dan tibalah aku di sini: di negeri para Mullah. Masa lalu, masa kini, dan masa datang tidak membentang seperti jembatan, melainkan tegak serupa tangga. Tidak menjalar seperti akar, tapi menjulang layaknya batang. Masa lalu bukan di luar, tapi di dalam. Dan tidak pernah pula akan berubah: selamanya. Demikianlah aku: Mahdi al-Muntadzar: Bertumbuh dari bangku-bangku gereja, mengada di antara pilar-pilar masjid. Bermunajat di bibir mihrab. Belajar di meja altar. Duhai, St. Yoseph yang agung, Jamkaran yang suci: puaskanlah kerinduanku yang jauh yang tidak cukup ditempuh dalam waktu seribu bulan kali seribu…

 

Beberapa Catatan: 

  • Paroki adalah istilah yang menunjuk pada suatu komunitas umat Kristen yang menjadi jemaat dari suatu Gereja Paroki tertentu yang bersifat teritorial, dan secara admistratif sengaja dibentuk dalam batas-batas wilayah tertentu. Sebuah Gereja Paroki di pimpin seorang Pastor Kepala yang di utus oleh Uskup untuk memimpin Dewan Paroki, dan bekerja sama dengan Pastor Rekan untuk menggembalakan dan mengajar umat.
  • Meja Altar adalah tempat sakral dalam gereja yang digunakan oleh Imam mempersembahkan Perayaan Ekaristi (bermakna: kurban, ucapan terimakasih, pujian dan syukur kepada Allah) yang menggambarkan Perjamuan Tuhan, dimana Yesus mengorbankan Tubuh dan Darah-Nya kepada manusia. Kehadiran Yesus dalam Ekaristi kemudian disimbolkan dalam bentuk roti (tubuh) dan anggur (darah) yang mengandung makna Tubuh dan Darah Yesus. Karena itulah menjadi mudah dipahami bila Ekaristi dipandang sebagai Sumber dan sekaligus Puncak Kehidupan dan Iman Kristiani. Meja altar juga melambangkan Perjamuan Akhir antara Yesus dengan murid-murid-Nya.
  • Altar utama adalah tempat untuk menaruh tabernakel.
  • Adapun tabernakel itu sendiri adalah tempat disimpannya sakramen mahakudus dalam Ekaristi yang melambangkan Tubuh dan Darah Yesus
  • Cawan air suci merupakan cawan berisi air yang digunakan para jemaat untuk mencelupkan jarinya sebelum memasuki ruang gereja. Ini memiliki makna yang sama dengan tempat wudhu dan berwudhu di dalam Islam, yaitu mensucikan diri sebelum shalat atau memasuki tempat suci.
  • Bejana baptis adalah tempat menaruh air suci dan digunakan untuk sakramen Pembaptisan.
  • Mihrab adalah suatu tempat atau ruang di dalam masjid, yang biasanya berbentuk lengkung tapal kuda dan berada tepat di tengah-tengah bagian terdepan dari ruangan masjid. Mihrab menjadi tempat, posisi, atau arah iman memimpin shalat. Ini memiliki makna yang serupa dengan ruang atau area mahakudus dalam gereja, dimana dalam ruang mahakudus itu terdapat meja altar dan tabernakel, yang berada tepat di tengah-tengah bagian terdepan dari ruangan gereja.
  • Surat Ar-Rahman dan Surat Yusuf di dalam cerita, ditulis berdasarkan bunyi al-Qur’an pada waktu dibaca, atau pada saat seseorang mendengarkannya.
  • Haasya lillaahi maa haadzaa basyaron in haadzaa illaa malakung kariim. Mengandung arti, “Maha Sempurna Allah. Ini bukanlah manusia. Ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.” Merupakan ungkapan ketakjuban perempuan-perempuan Mesir ketika melihat ketampanan wajah Nabi Yusuf, sebagaimana terkandung dalam al-Qur’an, Surat Yusuf, ayat 31.

 

140 Comments to "Burung-burung Gereja di Kubah Masjid"

  1. Lani  22 December, 2012 at 05:16

    JUWANDI AHMAD: jd kesimpulannya prof. Pakem josssssss kotos2??????

  2. juwandi ahmad  22 December, 2012 at 01:29

    SALAM….

    MAS IWAN: Suara Azan Bercampur Ave Maria, sungguh inspiratif, menjelaskan banyal hal, dan real. Ya tidak mudah mengambil posisi itu. Dalam faktanya, sering menuai hujan batu ha ha ha. PAK DJOKO: “Mas Juwandi…Mbak Sekar yang mana…??? Ha ha ha ha……wah, wah…mameri….yo sebelah kanan njenengan to Pak. Wes apal aku ha ha ha. HENNY: terimakasih. Salam sejuk he he he….LANI: He he he he: uhuk…uhuk…..aku hanya membawa pikiran dan tubuh. Wah, jan lulusan pakem satu ini emang ok mbak ha ha ha. MPEK DUL: Ya, agaknya kita sepemahaman Pak. Sepakat dengan pandangan bapak, “Jka kita ingin dihargai, kita harus dapat menunjukkan penghargaan kepada orang lain terlebih dulu, karena satu penghargaan itu tidak dapat dipaksa untuk diberikan atau kita minta..” Dan Burung-Burung Gereja di Kubah Masjid, demi Allah, adalah penghargaan dan penghormatan yang tulus dari saya untuk umat Kristen. Kisah itu sudah ada di kepala saya 6 tahun yang lalu. Hanya ketika bergabung dengan Baltyra, dan setelah membaca “Azan Bercampur Ave Maria” dari Mas Iwan, saya tak tahan lagi untuk tidak menuliskannya. Aslinya, jauh lebih panjang dari itu. Terimaksih, dan semoga hari-hari bapak menyenangakan. TAUFIK: ha ha ha ha…ah, anda itu. Itulah sebagian dari apa yang saya pelajari dari anda mas taufik, terimaksih. MAS IWAN: ITSMI BERKATA, “Juwandi, apa yang kamu tulis itu hanya halusinasi. Kamu tahu, sejarah Islam dan Katolik banyak diwarnai kontroversi dan konflik sampai sekarang. Saya bisa jamin di Belanda ateisme Alan mendapat tempat karena dua faktor itu.” Dan bahwa ada konflik antara islam dan katolik, atau dengan agama-agama lain, itulah alasan saya untuk tidak bosan menyebarkan gagasan tentang perdamaian. Saya tahu apa yang telah lalu, dan saya sadar apa yang sebaiknya diperbuat. Tentu saja tidak benar bila sepenuhnya imajinasi. Saya punya banyak sahabat karib orang kristen, dan setidaknya saya telah melakukan apa yang saya tulis. Oh ya Mas Iwan, sampaikan ke Itsme, saya sangat merindukan kehadiran dan gagasan-gagasan Itsmi yang “Nakal.” ARY: “Damai itu indah dan tuhan dari agama manapun mengajarkan pentingnya ke damaian,” Kita senahzab bung Ary he he he. DEWI: Hayahhh…! Kita sama sama GOKIL ha ha ha. CHANDRA: sekali lagi terimakasih.MAS JOSC: ha ha ha ha…tenang masih banyak kok yang waras. Dan lagi fatwa ulama juga tidak bersifat mengikat. Santai aja. PAK DJ: wes cocok aku, tepat untuk belajar dengan pak Pilot he he he. ANGELA: terimakasih..dan salam kenal. MAS ANOE: kata-katamu tentang tulisanku sering membuatku malu sekaligus merindinng uhuk…uhuk..uhuk….he he he. AMI: terima kasih, dan senang dapat memperkaya hatimu. Salam semua..!

  3. Lani  21 December, 2012 at 23:01

    ISK, MAS DJ : wakakakak……..dadar gulung isi semut??????? ono2 wae………ISK mmg dadar gulung yg diwarnai dgn daun suji jossssss………….klu pewarna plasu ndak wangi spt daun suji…………inilah Baltyra la wong artikel tdk mengenai makanan……….bs nggladrah sampai kemana-mana……….heheh……….mmg rumah ini unik…….dan bikin angkrem krasan…………

    selain bikin warna ijo daun suji, aku jg bikin dicampur coklat utk kulitnya, sdg isi parutan kelapa dan irisan nangka josssssssssss……….kenyos2

  4. Ami  21 December, 2012 at 22:55

    Alhamdulillah… Terima kasih atas artikel yang memperkaya hati

  5. anoew  21 December, 2012 at 18:03

    Ini untuk keempat kali saya membaca ulang, lagi dan lagi dengan tak bosan. Merinding, haru dan bangga dengan pemikiran si burung kecil dengan kicau indahnya. Seandainya negeri ini diisi oleh burung kecil-burung kecil seperi tokoh bernama Mahdi al-Muntadzar ini, sungguh indah dan nyamannya terasa hidup dalam kemajemukan.

    Satu bagian paling berkesan menurut saya (dari tulisan ini yang sarat makna dan ditulis dengan gaya sastra) adalah kutipan dialog antara sang bocah dengan ayahnya yang menjelaskan, betapa keberagaman itu indah dan tidak menyusahkan, apalagi dibikin susah.

    “Aku tidak mengerti maksud ayah.”

    “Lihatlah, semua orang berpakaian, bukan? Tapi mereka tidak harus memakai pakaian yang sama dengan pakaianmu: bentuknya, ukurannya, dan warnanya. Sekarang coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau kau memakai sepatu milik Romo Gabriel?”

    “Itu terlalu besar ayah. Akan susah. Sulit untuk berjalan.”

    Bimbingan dan pengajaran mutiara dari tangan seorang ayah yang bertabur mutiara.

  6. Angela Januarti  21 December, 2012 at 10:44

    Wow, tulisan ini sangat KEREN!

  7. Dj. 813  21 December, 2012 at 05:43

    Hallo Hennie…
    Selamat Malam dari Mainz.

    Lha saat dia makan kan terasa itu parutan kelapa yang kriuk-kriuk.
    Olehnya dia pikir benar adanya…
    Hahahahahaha….!!!
    Sampai sekarang itu pengalaman tidak pernah Dj. lupa.
    Karena sampai sekarang, kadang dia masih ingat dan cerita sama teman yang lain.
    Kalau dia peprnah makan semut di Pfannkuchen.
    Dj. kadang sampai geleng kepala,karena sudah bikin orang lain percaya yang tidak-tidak.
    Untung bkan hal yang membahayakan orang lain.

    Okay,selamat istrahat dan mimpi yang indah.

  8. HennieTriana Oberst  21 December, 2012 at 04:04

    Mas Dj. hahaha… kok percaya ya mereka Pfannkuchen isi semut item dari Jepang

  9. Dj. 813  21 December, 2012 at 02:06

    Puji TUHAN….!!!
    Nah itu yang Dj. maksudkan…
    Titel, harta, kalau tdiak bahagia, untuk apa…???
    Mending seperti Dj.yang apa adanya saja, nggak usah yang aneh-aneh….
    Semua pas, karena TUHAN sendiri yang menyediakan semuanya.
    Kami hanya menerimanya dengan ucapan syukur saja.

    Dadar gulung, adalah kesukaan kami semua…
    Ini ada ceritanya sendiri…
    Orang Jerman punya maknana yang semacam, namanya “Pfannkuchen”

    Nah Susi sering bikin dengan isi parutan kelapa.
    Dan satu saat Dj. bawa untuk ngarit, saat minum teh sore hari.
    Nah, kemudian ada teman yang lihat dan dia tanya, hhhhmmm… apa Pfannkuchen…
    Dj. bilang mau..???
    Dia tanya iisinya apa…???
    Dj.: Semut item dari Jepang.
    Dia bengong dan dia lihat Dj. makan santai, maka dia ingin coba.
    Rupanya dia suka dan dia tertawa, ini semutnya masih hidup…???
    Kok kemripik…
    Dj.: ya jelas, tapi di perut akan mati.
    Taunya dia cerita kamana-mana dan saat makan siang bersama, mereka pada pesan,
    kalau lain kali bikin lagi, mereka mau juga.
    malah ada yang mau kasi 1 dadar gulung seharga € 5,. ( Rp.62.000,- )
    Karena mereka penasaran, ingin makan semut.
    Akhirnya Dj. tidak tega dan Dj. ceritakan yang sesungguhnya.
    Aneh… mereka malah tidak percaya, mereka pikir, Dj. tidak mau bagi sama mereka.
    Hahahahahahahaha….!!!

    Mas Iwan…
    Kok belum tidur, apa sudah bangun lagi…???
    Hahahahahaha….!!!

  10. IWAN SATYANEGARA KAMAH  21 December, 2012 at 01:50

    hallo Om Djoko,

    Waah terima kasih salamnya. Jadi ingat Tante Susi yang jago masak kuliner Indonesia. Rabu lemarin Nani bikin dadar gulung dengan pewarna daun suji. Ueeenak banget. Biasanya udah gak jaman pakai pewarna daun suji. Semua memakai pewarna buat tekstil atau cat motor.

    Wah, saya bahagia dong. Kalau nggak mana mungkin ada Melati dan Mawar?

    Mau tidur dulu ya Om.

    Salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)