The Flowers of War

Yuli Duryat

 

Membaca komentator di sebuah website tentang film The Flowers of War, saya jadi tertarik untuk mengulasnya sedikit. Film ini bercerita tentang tragedy penyerangan Jepang ke Nanking, China. Saya menemukan film ini atas rekomendasi seorang teman setelah kami membaca novel Beside a Burning Sea oleh John Shors yang kami pinjam secara beruntun. Berkisah tentang kapal rumah sakit Perang Dunia II Benevolence yang sedang berlayar melalui Samudra Pasifik. Kapal tersebut terbelah dua oleh sebuah torpedo/bom.

Sekelompok kecil orang yang selamat berenang ke pantai sepi di pulau terdekat, termasuk seorang prajurit Jepang terluka yang menyelamatkan seorang perawat muda dari kematian. Saya sangat menyukai tokoh Akira yang telah menghabiskan lima tahun melihat darah dan ketakutan dalam peperangan. Ia terdampar di pulau kecil dan dikelilingi oleh orang-orang yang seharusnya ia benci karena berasal dari Amerika. Akira menemukan pelipur lara dari keramahan mereka. Rasa bersalah karena tak bisa menolong gadis kecil saat ia berada dalam tragedi Jepang menyerbu Nanking menghantui hari-harinya. Hal itu pulalah yang membuat ia bertahan ketika menyelamatkan wanita Amerika dari kematian. Dalam novel ini, terbaca kelihaian penulisnya dalam memaparkan setiap karakter tokoh berikut apa yang masing-masing tokoh rasakan secara mendetail.

John Shors, penulis yang juga pernah tinggal di Jepang beberapa tahun ini mengenalkan haiku atau puisi khas Jepang dengan sudut pandang Akira di setiap permulaan bab. Ia juga menggunakan haiku untuk mendekatkan tokoh Akira dan wanita Amerika yang ia selamatkan itu, dan dari situlah keakraban dan cinta mereka mulai tumbuh.

Novel ini menjadi menarik dengan ramuan tokon antagonis, seperti musuh dalam selimut yang menunjukan penghianatan dan keserakahan untuk mengancam kelompok kecil berjumlah sembilan orang dengan intrik jahat.

Tokoh Akira inilah yang membawa saya ke film tentang tragedy Nanking. Melihat dan membaca antusias para pencinta film di kolom komen di website di mana biasa saya menonton film, saya semakin semangat untuk menonton. Film dengan hasil gambar yang menawan ini disutradarai oleh Zhang Yimou, yang juga dikenal sebagai sutradara film Red Sorghum sebagai film perdana pertama yang dibintangi artis China terkenal Gong Li ini.

Film ini membuat emosi saya naik. Saya yang tadinya tak tahu seberapa kejamnya serdadu Jepang pada waktu itu, menjadi terbelalak melihat adegan yang dipampangkan. Gambar yang luar biasa bikin kuduk meremang. Betapa darah saya seolah ikut mendidih melihat adegan anak-anak gadis yang diperlakukan secara kejam di sebuah gereja oleh para serdadu Jepang.

Dua belas gadis-gadis yang semula bermusuhan dengan 13 pelacur itu, John Miler dan seorang relawan mencurigai/mencium gelagat tidak beres para tentara Jepang yang menghitung gadis-gadis juga pengawalan ketat di luar gereja. Kerelaan para pelacur untuk menggantikan posisi gadis-gadis untuk menyelamatkan mereka sangat mengharukan.

Oleh film yang dimulai dengan Christian Bale, sebagai pengurus pemakaman saya jadi tertarik untuk mengetahui tragedy Nanking lebih dalam. Meskipun dengan ending menggantung karena penonton dibuat penasaran oleh nasib para pelacur yang bekerja sama dengan John Miller (Bale), untuk menyelamatkan gadis-gadis yang sebelumnya nekat nyaris memilih bunuh diri dari pada harus memenuhi undangan Kolonel Hasegawa (Watabe) untuk menyanyi dalam perayaan kemenangan angkatan darat Jepang atas China.

Menurut saya, film ini layak disimak dan dijadikan tontotan yang bisa diambil pembelajaran di dalamnya.

 

9 Comments to "The Flowers of War"

  1. juwandi ahmad  19 December, 2012 at 23:28

    waduh, kok akeh gembar cewek?

  2. anoew  19 December, 2012 at 11:07

    Kang Josh, kalau aku di lapangan, panas, kringetan, biasanya langsung nyari es buah segar atau sesuatu yang berkuah, basah. Atau mungkin numpang ke kantor desa, cuci muka, cuci tangan dan membasahi rambut. Naaah kalau yang dikamsut ‘Ni Ni yang menyegarkan’ itu mbok ya posting fotonya yang lagi mandi…

  3. J C  19 December, 2012 at 11:04

    Dan lagi:

  4. J C  19 December, 2012 at 11:03

    Satu lagi:

  5. J C  19 December, 2012 at 11:03

    Kang Anoew, silakan di’klik satu per satu deretan foto-foto ini:

  6. anoew  19 December, 2012 at 11:00

    Aaah.., kalau Ni Ni dalam pose begitu sih “belum menyegarkan”

  7. J C  19 December, 2012 at 10:55

    Kang Anoew, kowe wis blawur po? Lha itu salah satunya Ni Ni…sek, sek, aku carikan lagi…

  8. anoew  19 December, 2012 at 10:39

    Mana mana fotonya si Ni Ni yang katanya menyegarkan mata, Kang? Mana?

  9. J C  19 December, 2012 at 10:30

    Film ini termasuk salah satu film favoritku. Jalinan cerita apik, filmografinya indah dan menyentuh. Setting’nya luar biasa, dan yang penting pemeran utama si Ni Ni sangat menyegarkan mata…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.