[Serial Masa Terus Berganti] Haji, Hieronymus

Dian Nugraheni

 

Aku mengingatnya sangat dalam, sebagai seorang yang sangat dekat.

Sangat menyukai pakaian berwarna putih, ketika di rumah. Oblong putih, celana pendeknya pun putih dari kain blacu. Kalaupun terpaksa bepergian, yang dia kenakan adalah celana panjang hitam dan hem-hem berwarna ringan, seperti krem, atau hijau muda..sangat muda..lebih seperti warna susu yang tercemar setetes warna hijau sumba.

grandfather

Seingatku, dia mengenakan baju batik, sekali-sekalinya ketika acara lamaran anak bungsunya…itu pun juga karena sudah diminta banyak sanak saudara, untuk bersedia mengenakan batik, yang notabene seragam dengan yang lain. Sesudah acara selesai, kembali dikenakan oblong putihnya, celana blacunya, dan kadang jika udara dingin, dia tambahkan memakai sarung kain berkotak.

Sebelum pensiun, dia adalah seorang reserse polisi. Setelah pensiun, dia buka warung makan di rumahnya di pinggir jalan raya. Warung makan sederhana. Dan pengunjungnya, kebanyakan adalah handai tolan, dan teman-teman. Rasanya ini bukan warung makan, tapi tempat berkumpul bersama handai tolan itu tadi..membicarakan banyak hal..

Dia adalah Kakungku, Embah Kakung, Eyang Kakung, alias Kakek. Tapi aku cukup Memanggilnya “Kung..” Dan, kata orang, dan aku rasakan sendiri, aku adalah cucu yang paling dekat dengannya.

Aku, waktu itu masih gadis kecil 8 tahunan, tapi aku sudah mahir meracik kopi hitam untuk para tetamu di warung..dan mereka, para tamu itu, lebih suka memanggil namaku untuk dibuatkan secangkir kopi hitam, katanya, ramuan kopi buatanku..pas..enak..nikmat di lidah mereka…

Dan ketika warung makan ini ramai pengunjung, mereka-mereka juga..meriahnya bukan main. Senda gurau, membicarakan hal-hal ringan, sampai isu-isu politik waktu itu.Sementara mereka ramai bersilang pendapat, Kakung cuma duduk tenang, mendengarkan, dan paling pol..mesam mesem, tanpa urun suara untuk hal-hal yang “runcing”. Aku, si gadis kecil, kadang duduk bersama mereka sambil mengerjakan PR, Pekerjaan Rumah, sesekali mencuri dengar, dan banyak gak mudengnya tentu saja..he..he..

Waktu terus berjalan..Kakekku sudah tak lagi buka warung makan, karena anak-anaknya sudah mentas semua..tak perlu lagi cari uang untuk sekolah anak-anaknya, alias bulik-bulikku, tante-tanteku, dan paman-pamanku. Kakek, Nenek, alias “Kakung” dan “Uti”, kependekan dari Eyang Putri.., dibuatkan rumah di dalam kampung.

Aku ikut beserta Kakung dan Utiku..

Dan anehnya, meski ga lagi buka warung, para handai tolan yang biasa bertamu di warung, tetep aja bertamu di rumah..Jadilah aku gadis yang mulai remaja, yang.., lagi-lagi mereka minta untuk membuatkan kopi hitam..Dengan senang hati aku lakukan tugasku itu.

Kami, dengan para tetamu itu bukan saudara sedarah, bukan sanak kadang, sanak famili, tapi kami dekat karena tersambungnya hati. Dan banyak diantara tetamu adalah orang muda, yang entah dari mana akhirnya memanggil Kakungku dengan sebutan “Romo..”, artinya Bapak, tapi mungkin dalam porsi yang lebih terhormat.

Kenapa mereka menghormati Kakungku? Entahlah..sejauh yang aku mengerti, mereka itu seperti murid berguru pada sesepuhnya, Romonya, ya Kakungku itu.

Sepanjang yang aku dengar, Kakung hanya membicarakan masalah manusia, Gusti Allah sang pencipta, tapi tidak pernah menyebut nama agama apa pun. Tapi tak urung, bila ada “para muridnya” menanyakan soal agama, yang aku pernah dengar, gini jawabannya, ..” agomo kuwi ageman kanggo awak iro..” (agama itu laksana baju, pakaian bagi pemakainya.., mungkin yang dimaksud adalah “pakaian bagi jiwa” kita..).

Dia akan tenang-tenang saja, ketika aku pamit pergi ke surau untuk mengaji. Dan dia pun akan mengiyakan, ketika tetangga, yang tak punya anak, dan sudah menganggapku, sebagai anaknya, mengajakku merayakan pesta Natal di rumah kerabatnya…

Dia juga bicara tentang bagaimana mengasihi, menyayangi sesama, memelihara tanaman, dan harus “bertanggungjawab” kalau memelihara binatang.., harus diopeni dengan baik. Dia mengharamkan bergunjing, apalagi menceritakan kejelekan orang lain..

Sejak aku kecil, dia selalu menemaniku belajar malam, sambil mendengarkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang diudarakan oleh pemancar radio setempat.

Dari dia pula aku diajarkan untuk mendengarkan apa kata tubuh, terutama soal makan. Menurut dia, makan tidak harus 3 kali sehari, tidak harus nasi dan lauk, dan seterusnya. Tapi tergantung “panggilan tubuh”.., “Pengennya apa, jam berapa pun, kamu boleh makan..tapi jangan berlebihan…” begitu katanya. Ya..jadilah aku sebagai manusia yang merdeka, ga makan nasi, oke, ga 3 kali sehari, boleh..

Katanya, makanan yang bikin sakit, bukan karena jenis makanannya yang berlemak atau apa, tapi, cara makan yang berlebihan, tanpa mendengarkan “panggilan tubuh”.

Intinya, soal makanan, kalau kita paham bahasa tubuh kita, maka dengan sendirinya kita bisa memenuhi kebutuhan tubuh akan makanan, secara seimbang. Ya.., seimbang, itu yang sempat aku camkan.. analisanya belakangan, belum mudeng juga sih..he..he…

“Kalau rasa badanmu sudah gak enak, berat, ada gangguan, puasalah…” Ya, puasa, itu salah satu alat penyeimbang kondisi tubuh.., ini juga aku catat dalam hati…

Dia perokok sejati, ga pernah minum air putih.., ngopi hitam tak pernah henti.., tapi sampai akhir hayatnya..bisa dikatakan tak pernah sakit yang berarti, atau sakit yang berhubungan dengan kebiasaannya itu. Tak batuk-batuk, tak gula darah.., biasa-biasa aja.. Apakah karena “seimbang” itu tadi ya..he..he…lagi-lagi, mbuh..aku belum berhasil menyimpulkannya.

Yang aku tangkap juga, dia bisa “menghitung”…Ditulisnya di kertas, di hadapan para tamunya, dengan berdasarkan hari-hari pasaran Jawa macam Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing..

“Hitungannya”, juga sangat didengarkan oleh para tetamunya. Entah untuk perkara apa. Menentukan hari pernikahan, menentukan hari awal mau bikin rumah, mau jual sawah..he..he..macem-macemlah..

Aku memperhatikan satu hal sebagai bukti, semoga ini tidak berlebihan, yaitu ketika dia memperingatkan Ibuku, untuk bersiap-siap, karena Kakakku, seorang gadis yang hanya beda 18 bulan dariku, katanya akan banyak mengeluarkan darah.

Dan ternyata, bulan berikutnya memang Kakakku masuk rumah sakit, perlu transfusi darah segar, karena dia mimisan. Mengeluarkan darah dari hidung, yang ga mau berhenti, sebelum berhenti sendiri. Jadi di Rumah Sakit hanya transfusi terus menerus, sebanyak darah yang dikeluarkannya dari lubang hidung.

Yang jelas dia bukan peramal, tidak punya “perewangan” atau pembantu yang ga kelihatan. Ga ada kembang ga ada menyan, ga ada mantra. Ilmunya adalah ilmu perhitungan berdasarkan beberapa hal.

Jangan suruh aku untuk jabarkan, asli..aku gak paham, au ah..hlap..(tau ah, gelap..), gak ngerti tentang ilmu perhitungan tadi..Yang jelas coro Jowo..cara Jawa…

Sampai di usia ke 80, Kakungku berkali-kali bilang padaku, “Capek..” Aku merasa, dia sudah pengen “berpulang..”

Dan sampai beberapa bulan kemudian, Kakungku memang terkapar, dokter bilang tak ada sakit apa pun. Aku bilang, dia sedang “bertapa”, menyepi mencari “jalannya” sendiri..

Singkat kata, akhirnya dia berpulang juga, setelah diadakan Yasinan, karena melihat kondisinya, yang nampaknya cuma “nyenyak tidur”. Seperti layaknya kemasyarakatan yang ada, sebelum diberangkatkan ke peristirahatan terakhir, pelayat berkumpul menyampaikan belasungkawa, dan semoga juga, doa.

Pak Lurah, yang masih muda, dan sering pula bertandang di rumah untuk mendengarkan “wejangan” Romo, Kakungku, tampil sebagai penyampai kabar seputar meninggalnya Kakung, permintaan maaf, ucapan terimakasih..bla..bla..bla..termasuk membacakan Riwayat hidupnya.

Dari awal, pak Lurah hanya menyebut nama Kakungku, “Romo Djiwo..” demikian nama depannya.., tapi menginjak kalimat terakhir, Pak Lurah, sambil membaca kertas kecil contekan pidatonya bilang, “Demikianlah semoga Romo H..,(berhenti sejenak), Romo Haji Djiwo.. diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa..Amin..”

Segera aku berlari mendapatkan pak Lurah, dan berbisik, “Maaf Pak Lurah..bukan Haji, tapi Hieronymus..”

Pak Lurah agak terperanjat dan nampak bingung, tapi kebenaran harus disampaikan, maka diulanginya, “Mohon maaf, saya salah membacakan nama Romo Djiwo.., ya.., semoga Romo Hieronymus Djiwo, diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa….Amin..

special-grandpa

Itulah Kakek, Eyang Kakung, Simbah Kakungku..

Aku, sungguh tak ingin meninjau keadaan ini, dengan membicarakan, apa dan bagaimana kehidupan Kakung Romo Djiwo dari sisi-sisi yang lebih detil, semuanya itu, hanyalah sepanjang yang bisa aku pahami… Aku, sebagai cucu terdekatnya hanya sedang ingin mengingat, mengenang, bahwa banyak hal tentang kebaikan disampaikannya pada banyak orang, juga padaku yang suka curi dengar wejangannya.

Tuhan, aku minta maaf, karena telah menuliskan ini sebagai cerita pengalaman, kepada teman-temanku semua..

Jika ini suatu kebenaran, pastilah kebenaran itu datangnya dariMu, Ya Tuhan..

Jika ini keliru, tolong jangan hukum aku..karena ketidakmengertianku, karena keterbatasan analisaku..

 

Arlington, Virginia,

Dian Nugraheni

Mengenangmu, yang tak henti mengasihiku..

Di sini jam 3.50 sore, hari Sabtu, 26 Desember 2009

Masih dinginnnn..brrr..rrr..rrr…

 

8 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Haji, Hieronymus"

  1. juwandi ahmad  22 December, 2012 at 00:26

    Romo Hieronymus Djiwo yang tercerahkan…..! “Engkau tahu arti sebuah kepergian istriku, seperti kapuk-kapuk randu merekah tertiup anging melayang lambat jatuh menyentuh bumi.” Dian: terimaksih ceritanya yang sarat makna,

  2. anoew  21 December, 2012 at 18:40

    Indah dan anget mempunyai kenangan dengan kakek / nenek yang sempat dialami, komplit dengan melihat dan mendengar tindakan / ucapan beliau. Sayang, saya juga tidak terlalu lama bisa seberuntung Dian yang bisa berlama-lama dengan sang kakek.

    Di, indah sekali kenangan itu.

  3. Anastasia Yuliantari  20 December, 2012 at 23:25

    Membawaku kembali teringat pada kakekku. Dalam kesederhanaannya dia menyimpan kearifan dan pemahaman yang tinggi terhadap cucu-cucunya. Maka aku selalu tersenyum setiap budhe dan kenalan keluarga berkata, “Wah, kowe pinter koyo Mbak Kung.” Aku pasti tak sepintar dia yang mampu menjadi kepala pasar terbesar di Jogja, sentono dalem yang setia seumur hidup, tapi bangga bisa menjadi cucu kesayangannya.

  4. Dj. 813  20 December, 2012 at 22:02

    Dian…
    Terimakasih untuk ceritanya diatas…
    Denga cerita tersebut, maka Dj. jadi ingat ayah yang mungkin hampir sama.
    Ayah Dj. setiap hari hanya memakai sarung, baju putiih dan peci.
    Sampai saat dari Semarang ke Bandung, juga pakai pakaian yang sama.
    Kami juga punya warung dan ayah selalu menemani pengunjung dengan permainan sulap.
    Karena ayah adalah tukang sulap dan banyak sekali muridnya.
    Salam,

  5. J C  20 December, 2012 at 21:52

    Betapa beruntunganya dikau, Dian…aku tidak pernah menangi kedua kakek…

  6. Mega Vristian  20 December, 2012 at 16:01

    Thanks mbak Dian, sudah berbagi pengalaman mengenang Eyang atau kakaknya. Saya jadi teringat almarhum kakek saya.

  7. Linda Cheang  20 December, 2012 at 12:47

    ah, itu masih manusiawi, koq

  8. [email protected]  20 December, 2012 at 10:14

    kalo tidak salah ya berarti benar…. santai saja…

    pengalaman yang luar biasa…

    salam…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *