[Serial Rara] Dalam Pelukan Ragu

Sugiyarti Ugie

 

Langit gelap, mungkin sebentar lagi  turun hujan. Dan memang tak beberapa lama hujan mengguyur bumi  Jogja, tak terlalu deras .” Hujan yang nyaman,” batin Rara. Ia  berjalan ke luar menuju teras, ingin memandangi hujan dari bangku panjang, menikmati hujan walaupun ada rasa sedih dan kehilangan merambati hatinya, berdenting bersama titik -titik air yang jatuh. Hujan kadang  mengingatkanya pada kemanisan-kemanisan kenangan bersama  Prasetyo.

Terdengar  langkah kaki Lili mendekatinya, kemudian  ngelendot di bahunya, Rara merangkulnya.

“Mii.. . hujan itu dari mana sih ?” tanya Lili  .” Sebanyak ini,” lanjutnya lagi, lucu.

“Dari langit,” jawab Rara.

“Memangnya  di langit banyak air ya, Mii ?”Lili mendesak kritis.

Rara diam beberapa detik, berpikir  mencari jawaban tepat  dengan kata-kata sederhana yang dapat dimengerti Lili.

“Ya dong, Li. Nyatanya airnya tumpah ke bumi, karena ada sekumpulan air di langit, yang kita sebut awan,” lanjut Rara menjelaskan.

“Miii.. .. mengapa gak hujan kue atau coklat  ya? Wah, coba ada. Pasti asiik .,” Lili bertanya lagi sambil tersenyum-senyum, mungkin membayangkan kue-kue dan coklat kesukaannya jatuh dari langit, dan dia dapat memungut sesuka hatinya. Dasar bocah.

“Tentu saja tak ada hujan kue atau coklat, Lili. Karena di langit hanya ada udara  dan awan. Tak ada kue apalagi coklat,” Rara menjawab sambil tertawa dan memeluk Lili, kemudian menggelitik lengannya. Lili terkekeh kegelian.

“Kalau mau kue atau coklat, beli di Renes” lanjut Rara berkelakar, Renes nama toserba di dekat rumah Nenek.” Atau di toko  mbak Lia. . nooh.” kata Rara sambil menunjuk ke arah utara tempat toko yang dimaksud.

Lili beringsut ke tepian teras, tangannya menjulur kemudian ia  tangkupkan kedua telapak tangan mungilnya menampung  air hujan.

“Mii, boleh ya aku mandi hujan ?”pinta Lili penuh harap. Rara menoleh ke arah Lili, mengangguk.” Boleh, tapi jangan lama-lama ya.”

“Horeeee.. . .” Lili kegirangan, langsung lari ke halaman menembus hujan, ternyata di luar sudah ada beberapa temannya menunggu.

Rara ingat dulu waktu kecil  persis   Lili, kalau hujan turun  senang luar biasa, apalagi bisa mandi hujan seperti yang Lili lakukan  saat ini, bahkan sampai  Rara SMP ia masih suka sengaja tak mau pakai payung saat hujan  kalau  pulang sekolah supaya bisa hujan-hujanan. Alasan itulah ia mengijinkan Lili main-main dengan hujan. Mandi hujan adalah kenangan masa kecilnya yang mengesankan, Rara ingin Lili juga menikmati apa yang di masa kecilnya ia rasakan. Berlarian bersama teman-teman, main tanah, mandi di bawah air tumpahan  talang rumah yang ia bayangkan seperti mandi di grojongan, air memercik   mengigit   kulitnya, kadang sampai keriput. Rasa gembira meletup-letup memenuhi hatinya, ia merasa merdeka dan bebas.

Rara  sangat  berterimakasih dengan ibunya yang selalu mengijinkannya menikmati hujan di masa kecil dulu, walaupun kalau ayahnya tahu, Rara diomelin juga. Mungkin ayah Rara khawatir  anak perempuan kecilnya sakit. Jadi Rara hujan-hujanan kalau ayahnya sedang di kantor.

” Masa kecil hanya sekali terjadi, tak boleh dilewatkan,” pikir  Rara. Ia  ingin Lili menikmati penuh, pengalaman, suasana dan  kegembiraan itu. Semuanya.

Rara tak  khawatir, Lili   anak  yang sehat dan gesit.

” Ini diminum ya Li agar badanmu hangat,” Rara menyodorkan segelas susu hangat. Lili meminum dengan cepat, hanya dalam hitungan detik susu itu tandas. Rara membiasakan Lili minum minuman hangat setelah bilasan mandi untuk menetralkan suhu tubuhnya sehabis satu jam hujan-hujanan bersama anak-anak, supaya Lili tak masuk angin.

” Makasih, Mii,” Lili mencium kecil pipi Rara, kemudian beranjak ke kamarnya.

______________

Minggu sore yang cerah, secerah penghuni rumah  di jalan Magelang itu. Di teras  Rara sedang berbincang-bincang dengan Dewo, kali ini mereka minum kopi  dengan cemilan  setoples roti Bagelen dan kue lompong, oleh -oleh  khas  dari mbak Mar ;anak kost yang asli Purworejo, kota kecil di sebelah barat Jogja. Sesekali terlihat  serius tapi sering kali  terdengar tawa-tawa kecil, mungkin mereka saling meledek, atau saling merayu, layaknya sepasang kekasih yang bertemu melepas rindu.

Sementara  Lili dan dua  orang temannya bermain sepeda di seputar rumah. Teriakan  bocah- bocah itu memenuhi udara, riuh – renyah melukiskan keceriaan anak-anak  yang bening tanpa beban, polos, dan apa adanya.

Tiba-tiba terdengar suara gubrakkk. .. .. dan kemudian suara anak laki-laki  menangis, semakin lama- makin kencang. Bergegas Rara dan Dewo  berlarian  menuju sumber suara. Rupanya  Dito  menangis sambil memegangi kakinya. Di sebelahnya Raka terdiam dengan wajah bersalah dan takut.

“Huuu. . huuuu. .. Raka. .. nabrak sepedaku.”

“Kakiku  berdarah. . huhuhu, gimana nih. Ntar aku gak bisa jalan,” Dito masih menjerit-jerit khawatir.

Sepeda kecilnya telah didirikan kembali oleh Lili. Rara berjongkok mendekati Dito memeriksa luka Dito.

“Aduh. . sakit, perih Tan. Periih. . jangan disentuh. .. sakit. . huuhuuuuuu. . .” seru Dito ketika tangan Rara menyentuh kakinya. Rara menahan  senyum, Dito hanya lecet-lecet kecil.” Hmmm, anak itu mungkin  takut darah,” pikirnya.

“Dito, lututmu sakit?”tanya Rara.” Iya.” jawab Dito sambil meringis.

“Iiih. . Tante kalo darahku habis, gimana.. . huhuhuuuu,” suara Dito dengan mimik ketakutan. Benar-benar takut.

“Lututmu memang sedikit mengeluarkan darah. Takut melihat darah ya, Dito ?”Rara mencoba menenangkan. Dito mengangguk pelan.

“Yuk, ke teras saja,”

Dewo membopong Dito yang masih terisak-isak dengan wajah ketakutan. Lili dan Raka mengekor di belakangnya.

Rara keluar  membawa obat luka dan revanol. Walaupun Dito  menolak, Rara tetap memaksa membersihkan luka dan mengobatinya.

“Nah, Dito, darahnya sudah mengering,” kata Rara.

“Nanti juga  sembuh. Jangan menangis lagi ya. Jatuh dan terluka  biasa. Namanya juga bermain. Okey ?”

“Maafin aku ya ?”kata Raka  meminta maaf, Dito masih merengut mungkin kesal tapi tak lama  iapun  mengangguk.

Lili mengeluarkan seperangkat mainan congklak atau disebut juga dakon. Kemudian mereka bertiga bermain kembali  di teras  dekat Dewo dan Rara duduk, sepertinya mereka lupa peristiwa Dito jatuh.  Tawa-tawa lepas kembali terdengar, seperti suara burung -burung yang berkiacau  menyuarakan kegembiraan, melagukan keindahan  dunia anak-anak.

“Anak-anak itu lucu ya Ra?” kata Dewo sambil memandangi anak-anak itu.” Aku ingin kamu jadi ibunya anak-anakku,” lanjut Dewo lagi.

Rara terdiam  beberapa saat, sehingga Dewo merasa ada sesuatu yang salah.

“Kok, kamu diam Ra?  Aku salah ya?”

“Wo, itulah yang juga aku pikirkan. Aku sudah tidak muda lagi.   Kalau kita menikah, misalnya. . misal, Tuhan tidak berkenan memberi kita  anak nantinya ?”Rara berkata pelan seolah ingin Dewo mendengar dengan seksama.

“Aku mendapatkan Lili setelah 3 tahun. Bukankah itu salah satu pertanda ?” anjut Rara.

Dewo mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Rara, mengambil  tangannya kemudian  menciumnya  lembut.

“Ra, dapat hidup bersamamu adalah anugerah bagiku. Benar. Sungguh. Menua bersamamu adalah kebahagianku,” kata Dewo berusaha  meyakinkan.

“Itu sangat cukup bagiku. Kalau Tuhan memberi kita anak, itu adalah bonus. Kalau semua  cukup, bonus atau tak ada bonus gak masalah bukan? Sudah ada Lili juga.”

“Menikahlah denganku, Ra,” kata  Dewo, mengulang kata-kata kemarin malam .” Ya.. ?” kata  Dewo penuh harap.

“Dewo. .,” sahut Rara setelah beberapa detik terdiam.” Mungkin kamu bisa terima, tapi bagaimana papamu, mamamu, keluarga besarmu? Bisakah menerima? Pikirkanlah. Kamu anak laki-laki penerus trah ayahmu .”

” Aku bukan anak laki-laki satu-satunya. Ada mas Lukito, Mas Bimo dan mereka semua sudah punya anak,” jawab Dewo kemudian.

Rara menghela nafas. Ada yang memberati pikirannya.

“Pikirkanlah dulu dengan tenang tanpa emosi, Wo. Cobalah kamu bayangkan bagaimana aku dan kamu 5 tahun lagi, 10 tahun lagi,” Rara memberi alasan.

“Baru ambillah keputusan .”

“Ra, aku merasa kita berjodoh. Tuhan mempertemukan kita setelah  9 tahun. Luar biasa, bukan ?”jawab Dewo.

“Aku yakin,” lanjutnya lagi.

“Haiiyahhh. . Dewo. ., Dewo. Kamu paling bisa kalau bicara tentang itu,” Rara bergetar, matanya berpendar bahagia, merasa tersanjung.

“Tapi,. .. tetap saja. Berpikirlah dulu. Minta pertimbangan dan restu mama, papa, juga eyang ya ?”

two-hearts

Gelap merambat malas, malampun turun perlahan  seolah setia menanti apa yang akan menjadi keputusan mereka berdua, sepasang kekasih yang sedang memadu cinta  tapi dirundung ragu. Di dinding  sepasang cicak  berkejaran mesra dan lucu, sepertinya menggoda dua insan itu, Dewo dan Rara.

 

(haiyahhhh.. . jadi pingin kaya cicak. .. . .. suit-suitsss)

*****  Trims, dan sekian dulu *****

Jakarta, 19 November 2012

 

5 Comments to "[Serial Rara] Dalam Pelukan Ragu"

  1. anoew  21 December, 2012 at 18:33

    Saya juga ikutan ah

  2. J C  20 December, 2012 at 21:51

    Lho, kok malah komentar masalah cerber…hahaha…kalau aku sudah beberapa kali nulis serial tapi bukan cerber gimana tuh?

  3. Mega Vristian  20 December, 2012 at 16:04

    Saya juga mau ikutan mbak Sugiarti dan mbak Linda, mau menulis cerber hehehe….syukuran bisa jadi Novel. Salam kenal ya mbak Sugiarti, saya tunggu lanjutannya.

  4. Linda Cheang  20 December, 2012 at 12:55

    banyak kontributor Baltyra yang nulis serial, aku mau ikutan, ah, tunggu di tahun yang baru

  5. [email protected]  20 December, 2012 at 10:07

    wuiitss…. ati2…. ntar kaya cicak yang di iklan thailand… plafond…. pecah, cicaknya satu jatoh, mati… yang satu lagi cicaknya bunuh diri jg…

    kalo ada link-nya kukasih deh… hehehe

    menarik….
    ditunggu kelanjutannya….

    Gak pake lama ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.