Desember, Hujan, Ulangtahun dan Natal

Seroja White

 

Namaku Desember.  Ibu yang memberi nama begitu. Dan Desember  tahun ini umurku 7 tahun. Aku pernah bertanya kepada ibu mengapa namaku Desember,

“Karena kau lahir di bulan Desember…”

Hanya begitu saja jawaban ibu. Andai aku lahir d ibulan Januari, apakah ibu akan memberi  namaku juga dengan nama Januari, entahlah…

Aku suka Desember, kalian tahu mengapa, karena buatku Desember adalah hujan, ulang tahun dan Natal.

hellodecember

#Hujan

Aku senang sekali bila hujan turun, tapi juga sedikit takut bila petir menyambar-nyambar deretan pohon Akasia di tepi jalan sana, angin kencang lalu merontokkan daun-daunnya serta bunganya yang berwarna kuning itu. Daun jendela akan berembun oleh tempias air hujan, aku suka menuliskan nama teman-temanku di sana,  nama ibu, juga nama…Ayah.

Tapi setelah menulis nama Ayah, aku akan segera menghapusnya, aku tidak mau ibu melihatnya lalu bersedih.  Beberapa anak tetangga akan bersorak ramai bila hujan akan turun, bocah lelaki dengan bertelanjang dada  lari kian ke sana ke mari. Beberapa anak perempuan juga terlihat, bermain pancuran air di talang atap rumah.

Mereka pernah mengajakku bermain ketika tanpa sadar mereka melihatku mengintip-intip dari balik jendela, aku ingin sekali..tapi..

 

#Ulang tahun

Desember akan memberiku hadiah, karena aku akan berulang tahun. Tapi aku tidak pernah meminta hadiah ulang tahun kepada ibu, seperti yang aku lihat di televisi ketika seorang anak berulang tahun dan meminta hadiah kepada orang tua mereka.  Walau pun begitu ibu akan selalu akan bertanya aku meminta hadiah apa.

Setiap tahun aku hanya akan meminta hadiah kepada Tuhan. Ibu pernah bertanya aku meminta hadiah apa kepada Tuhan,

“Desember minta kepada Tuhan supaya Desember bisa sembuh seperti anak-anak lain,dan..” Ups..aku hampir mengatakannya, dadaku berdebar takut. Berharap ibu tidak mendengarnya.

“Dan..apa sayang..”

“Ee..gak, Bu. Desember cuma minta itu saja kepada Tuhan..” jawabku bohong. Tuhan maafkan Desember ya…

Ibu  memelukku, setelah itu, erat sekali, lalu aku merasakan sesuatu yang basah dan hangat di bahuku, ibu menangis.

december1

#Natal

Desember adalah natal.  Aku biasa melihat Natal dirayakan oleh tetangga depan rumahku. Dari balik jendela. Aku bisa melihat betapa indahnya lampu-lampu kecil berwarna-warni pula berkerlap-kerlip tersangkut di sebuah pohon cemara, cantik.

“Itu apa ibu..?”

“Itu pohon Natal..”

“Mengapa kita tidak memasangnya di rumah kita?”

“Kita muslim, sayang…” ibu mengelus kepalaku, lalu memintaku berhenti mengintip dari balik horden jendela. Tidak sopan nasehat ibu.

Rumah di depan sana pasti ramai setiap Natal tiba, akan banyak tamu mereka berkunjung. Oh, ya… mereka,  tetangga depan rumahku juga punya anak yang sebanya denganku, namanya Isabela. ia anak perempuan yang cantik. Walau kami jarang bersapaan tapi ia selalu tersenyum manis bila berpapasan denganku.

Dan setiap Natal aku akan melihatnya bertambah cantik dengan gaun berenda putih dan rambut panjangnya itu dikucir dengan pita-pita cantik, kadang aku iri. Tapi itu tidak boleh kan Tuhan?

Isabele anak yang baik biasanya keluarganya selalu mengirimkan kue-kue kering, permen dan coklat bila Natal tiba.

***

Masih Desember ketika sepulang berkerja, tidak hanya letih yang mengantung di wajah ibu, tapi juga mendung.

“Sore sayang…” sapa ibu lesu dengan senyum yang aku tahu ibu bersusah payah membuatnya terlihat manis buatku. Aku tahu sesuatu akan membuat ibu akan merasa lebih baik. Sebuah pelukan, dan aku memeluknya sangat erat.

Ibu sudah bekerja terlalu keras, sorang diri. Selain untuk menghidupi kami berdua ibu juga harus bekerja ekstra mengumpulkan uang buat pengobatanku, aku memang anak sial! Buat susah ibu saja, umpatku. Ada bakteri aneh yang menyerang kedua tungkai kakiku sejak umurku dua tahun. Akibatnya tulang-tulang kakiku mengecil, dan aku tidak bisa berjalan.  Invassive Pneumococcal Disease (IPD) begitu dokter menyebut nama penyakitku itu. Dan sudah dua pekan ini dadaku nyeri, sering berdarah bila terbatuk.

Sebuah kertas terletak di ranjang di samping tas kerja ibu, suara gemercik air menandakan ibu sedang berada  di kamar mandi. Tidak bermaksud membacanya, hanya ingin merapikannya dan meletakkannya kembali ke dalam tas. Ketika dengan tiba-tiba ibu merempasnya kertas itu dari tanganku, dan menyimpannya buru-buru ke dalam tas kerja. Aku tak sempat menjelaskannya kepada ibu, ketika wajah ibu menatapku dengan tajam, ibu marah. Kertas itu sepertinya hasil pemeriksaanku tempo hari.

Namaku  Desember. Dan Desember masih lah hujan, ulang tahun dan Natal. Aku pernah berpikir tentang hadiah yang kuminta kepada Tuhan setiap tahunya. Mengapa Tuhan belum mengabulkannya juga? Mungkin Tuhan sibuk, aku mulai menghitung-hitung berapa banyak anak yang meminta hadiah kepada Tuhan di setiap ulang tahun mereka. Ya mungkin Tuhan belum sempat, atau aku akan menjemputnya saja…

***

Perempuan itu menatap lekat sesuatu di dinding, kalender. Matanya terpaku oleh sederet huruf, Desember…

Ya, Desember… Desember putrinya yang menyukai hujan, ulang tahun, dan Natal. Kini Desember pergi, menjemput hadiahnya. Mungkin di sana Desember sedang bermain hujan, berlari riang gembira dengan kedua kakinya dan seseorang yang menemaninya, ayah.

Sebuah kidung Natal mengalun dengan lembut, ya Desember juga suka Natal. Di atas meja kue-kue kering, permen dan coklat masih utuh. Akhirnya air matanya luruh, seperti hujan di malam Natal.

 

*****

Catatan  : Invasive  Pneumococcal Disease merupkan serangkaian penyakit seperti radang paru, radang selaput otak, infeksi darah, sepsis (kegagalan fungsi berbagai organ dan dapat berakhir dengan kematian) yang disebabkan olah bakteri Streptococcus pneumonia.

 

12 Comments to "Desember, Hujan, Ulangtahun dan Natal"

  1. Nur Mberok  26 December, 2012 at 12:52

    cantikkkkkkkkkkkkkkkk… miss you ur note….. muahhhhhhhhhhhhhh

  2. juwandi ahmad  22 December, 2012 at 00:05

    Hujan, ulang tahun, dan Natal. Sungguh, suatu berkah yang berlapis-lapis. Cerita yang indah. Thanks seroja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.