Menjadi Ahli Masak di Hari Ibu

Djodi Sambodo

 

 

Tujuh belas tahun sebelum Indonesia merdeka, para pejuang wanita sudah menunjukkan eksistensi kaum ibu dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogyakarta. Alhasil tanggal 22 Desember dan diperkuat dengan Dekrit 1959-nya Sukarno tersebut ditetapkanlah sebagai hari Ibu.

Kedudukan dan keberadaan ibu sangatlah penting di dunia, negeri, pemerintah dan rumah tangga. Bahkan ajaran agama mengharuskan agar seorang anak berbuat baik dan menjaga untuk tidak berucap kasar kepada kedua orang-tuanya, terutama terhadap ibu karena di telapak kakinya ada surga. Berapa banyak sudah anak, generasi penerus, tokoh-tokoh penting, pemimpin-pemimpin  dunia dan manusia-manusia baru lahir ke dunia menghirup udara segar melalui rahim ibu. Sembilan bulan bertaruh waktu, harta dan nyawa hanya demi melahirkan keturunannya yang kelak menjadi anak berguna seperti harapannya. Karena dari 100.000 yang melahirkan, 228 ibu meninggal dunia atau dalam setiap 1 jam kelahiran sebanyak dua orang ibu tidak terselamatkan nyawanya.

Anak yang dilahirkan tidaklah selalu menyenangkan dan membanggakan orang tuanya karena ketika besarnya menjadi pengusaha kaya yang lupa membayar ganti rugi rumah penduduk sekitar yang tenggelam oleh lumpur akibat keteledoran bisnisnya. Bahkan ada yang menjadi kepala bupati yang melecehkan wanita usia 18 tahun karena menikahi siri lalu menceraikannya empat hari kemudian.

Begitu pun sang ibu tidak semuanya mengasuh dan mendidik anak dengan baik karena terlalu larut dalam dunia politik dan kekuasaan seperti terjebak dalam kasus korupsi cek pelawat dan proyek-proyek ke-olah-raga-an negara. Bahkan karena tuntutan ekonomi ada juga yang terpaksa menjadi kurir narkoba.

Apa pun itu, tetaplah tidak mengurangi kodrat seorang ibu yang kasihnya sepanjang masa pada anak-anaknya. Bila beban kehidupan terasa berat menghimpit, godaan dunia yang cenderung materialistik dan kekuasaan yang membuat lupa diri itu adalah pernik-pernik dalam hidup. Pemerintah yang bersih dan bertanggung jawab pada rakyat serta pemuka agama yang baik harus serius memerangi kemiskinan, meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan siraman rohani ke semua lapisan rakyat. Sehingga bila menjadi anak, besarnya nanti hendaklah berperilaku yang tidak mengecewakan ibunya dan ketika menjadi ibu pun selalu menegakkan sendi-sendi agama dan lalu menanamkannya pada anaknya. Serta berkorban untuk menjadi yang terdepan dalam urusan ‘dalam negeri’ rumah tangga.

Hari Ibu

Antara lain bangun lebih pagi ketimbang suami dan anak-anaknya untuk menyiapkan pakaian kerja dan sekolah. Memasak makanan, menyediakan kopi, susu dan teh untuk sarapan dan bekal di sekolah.  Semua harus bisa disajikan dalam waktu yang singkat agar semuanya tidak terlambat untuk sampai di tempat tujuan. Pekerjaan yang rutin tetapi tidaklah semudah seperti yang dibayangkan oleh kaum Adam. Seperti yang ingin dibuktikan oleh bapak-bapak warga sekitar Pasar Ceger, Pondok Aren, Tangerang Selatan yang tampak dalam foto, dimana mereka mencoba menjadi ahli masak di hari Ibu. Dari tampilan masakannya ada yang menarik dan ada pula yang berantakan.  Entah rasanya seperti apa, yang pasti tidak selezat karya isterinya sebab dalam masakan wanita yang telah berkeluarga ada satu ‘rasa’ yang tidak pernah dimiliki oleh laki-laki mana pun yaitu rasa kasih sayang tulus khas ibu.***(dbs-22des12)

 

12 Comments to "Menjadi Ahli Masak di Hari Ibu"

  1. anoew  25 December, 2012 at 14:22

    Walah mas Djodi…, saya sih nggak terlalu ribet dengan segala “aturan” tersebut. Gampang saja buat saya, panaskan air, rendam indomie lantas jika terasa cukup matang setelah didiamkan beberapa hari eeh, menit, ya tinggal makan. Kelamaan ah kalau pakai sayur ini itu dan kembang mengembang tadi

  2. Djodi Sambodo  25 December, 2012 at 09:25

    anoew Says:
    December 25th, 2012 at 06:10
    Kalau pun harus jadi ahli masak, saya juga bisa. Bahkan paling jago masak air sama indomie.

    ====================================
    Betul pak Anoew, masak indomie itu perlu teknik khusus, Ada yg disajikan kering dan basah. Kalo yg basah telor tdk boleh pecah dalam rebusan dan sawinya tdk terlalu hancur. Ada yg suka mienya tidak terlalu mengembang karena kelamaan di rebus karena mau digoreng lagi bersama telor dadar. Mmmm,,,yummi.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.