Perjalanan Pengabdi dan Mengkaji Green Traveling

Mastok

 

green-traveling01

Gerbang TN Ujung Kulon

 

Dalam kehidupan sehari-hari dan pekerjaan, saya selalu dikira “jagoan” yang kuat mendaki gunung dari waktu ke waktu  yang harus dicapai dengan trekking selama 90 hari, atau punya nyali untuk cavediving Dalam satu kesempatan bersama Putri keduaku Adek (Nurilla DS) yang belum begitu mengenal ayahnya sekali gus sahabat lingkungan terdahulu pernah bertugas beberapa daerah di NTT (Nusa Tenggara Timur) survey Energi – lingkungan dan akhirnya menjadi destinasi wisata ke Pegunungan Houje kawasan Ujung Kulon, yang butuh waktu 5 jam trekking untuk mencapainya, langsung setelah pulang dari kampung Dukuh Handap Pematang Kalong – Cibaliueng – Pandeglang (yang juga butuh jalan kaki 5-6 jam naik dan 4 jam lagi untuk turun). Kebayang bakalan gempor saya menolak, dan minta waktu satu hari rehat sebelum lanjut naik –turun dan lenelusuri Jejak Badak di Bagian selatan Tn Ujung Kulon. Adek sempat terkaget-kaget karena ternyata dia memang membayangkan sosok yang ada di depannya… menjadi Inspirasi dalam mengisi liburan Kampusnya.

Itu hanya satu dari banyak mitos pariwisata berbasis lingkungan, ekowisata, green tourism, atau apapun istilahnya. Rumit dengan istilah, harus penuh tantangan, dan mahal adalah salah tiga dari salah banyak persepsi yang berkembang tentang pariwisata hijau ini.

Datang di Camp tengah malam yang telah kami buat di atas tebing  yang tegakannya sampai 60° jangan ditanya hujan akan menjadi kubangan yang mengasikkan, kendaraan 4 x 4 pun akan tunduk untuk berhenti di camp… pagi pukul 5.30 suasana di camp yg masih berselimut kabut tipis.. Adek bangun dengan wajah kagum… “ Papa.. kenapa surga seperti ini disembunyikan..”..kopi panas.. beberapa helai roti sisa perjalanan kami habiskan pagiitu untuk menyusun perjalanan dari kampung ke kampung yang langsung berbatasan dengan Tn Ujung Kulon.

“Duuh…kita travelling kan maunya senang-senang. Kok ribet banget sih cyyin mesti pakai hijau-hijau segalaaa ?” teriak teman saya yang sudah merasa dirinya green karena suka beurger dan cendol. Apakah memang serumit itu ?

green-traveling02

Dukuh Handap dari Pematang Kalong

 

Pertama, jangan bingung dengan istilah eco, responsible, alternative, ethical (tourism). Sampai saat ini pun, masih banyak perdebatan di atas kertas mengenai definisi. Semua istilah tersebut mengacu pada pariwisata yang kegiatannya turut melestarikan alam dan budaya setempat dan memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat lokal.

 

Kedua, Eco or not eco ? ada tiga hal penting yang perlu diketahui:

 

Harus penuh tantangan? Kamu tidak harus berpetualang dan berkorban untuk melakukan perjalanan “hijau”. Menantang alam bukan tujuan utama. Inti dari perjalanan yang dilakukan adalah pelestarian alam dan budaya serta memberi manfaat kepada masyarakat setempat dan destinasi yang kamu kunjungi, tanpa mengesampingkan pengalaman dan tujuan berlibur.

Hal ini sesederhana berhemat menggunakan plastik, air dan listrik, tidak buang sampah sembarangan, tidak memetik tanaman dan mengganggu satwa, menghormati budaya dan tradisi masyarakat setempat, serta membeli layanan dan produk lokal. Perjalanan seperti ini akan membawa kita pada pengalaman dan pengetahuan baru.

 

Harus travelling ke tempat yang jauh? Harus ke hutan? Travelling gaya ini bisa dilakukan di manapun. Mulai dari kampung kecil, laut, hutan, gunung, sungai, sampai kota besar.

 

Selalu mahal ? Berwisata tipe ini berlaku untuk semua tipe bujet – premium maupun backpacking. Perjalanan gaya ini seringkali harus dibayar mahal karena akses ke lokasi terpencil yang sulit dan layanan/jasa yang tersedia terbatas. Kamu tidak harus ke hutan yang jauh. Banyak kampung-kampung dan kebun raya, taman wisata alam yang dekat dan mudah dijangkau dari kota besar/kecil tempat kamu menetap.

Kamu bisa mendapatkan pengalaman dan menebar semangat pelestarian di manapun. Tidak mesti di tempat terpencil. Kamu bisa memilih akomodasi kecil milik keluarga atau homestay, ataupun menginap di resort moderate-high end jika itu memang masuk bujet. Saat kamu mengunjungi kota sebagai tempat berlibur yang tidak memungkinkan interaksi dengan masyarakat, kamu bisa memilih untuk melakukan penghematan air dan listrik saat menginap di hotel dengan tidak mengganti handuk dan seprei setiap hari, atau mematikan lampu yang tidak dipakai. Yang terpenting lagi, kamu juga melakukan hal itu dalam kehidupan sehari-hari dan bukan hanya saat traveling.

 

Sebagai traveler, kamu harus ngapain ?

Berkontribusi dengan membeli layanan dan jasa masyarakat lokal. Jika kamu ada kesempatan, berikan saran pada mereka agar bisa meningkatkan kualitas pelayanan pada tamunyaini salah satu menjadi social developmwn sekaligus social engineering kepada masyarakat di sekitar buffer Zone. Destinasi alam/budaya terutama di Indonesia, masih dihuni oleh masyarakat yang menyediakan jasa akomodasi, makan minum, tour, tanpa punya referensi apapun tentang pariwisata. Bersih dan nyaman menurut masyarakat belum tentu sama dengan bersih dan nyaman versi wisatawan.

Kalau tempat yang kamu kunjungi jauh dari tempat tinggalmu, misal kamu traveling ke Pangkep, Sulawesi sementara kamu tinggal di Bandung, beritahu bahwa keelokan tempat itu yang membuatmu jauh-jauh datang, sehingga masyarakat bangga dan ingin menjaga keindahan tempat mereka. Jika memang destinasi/obyek wisata yang kamu kunjungi tidak memungkinkan interaksi dengan masyarakat setempat, tidak masalah kalau kamu memilih untuk tidak berinteraksi dengan siapapun.

Kunjungi destinasi non-klasik. Sebagai contoh: jika biasanya kamu party atau belanja-belanja di Selatan Bali, coba deh kamu wisata kuliner di Munduk, atau snorkeling dan melihat lumba-lumba di  daerah Utara seperti Lovina dan menginap di Tejakula, mengunjungi perkebunan salak Sidemen dan mencoba wine salak produksi masyarakat setempat. Jika biasanya kamu ke Bogor ke Mall atau wisata kuliner, coba pergi ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk melakukan jalan santai di hutan. Saat berwisata ke Bangkok kamu biasanya belanja dan melihat lady boy show, kenapa tidak mengunjungi pasar-pasar tradisional yang cantik di sekitar Bangkok. Jika kamu siap travelling yang jauh, kunjungi tempat di mana kamu bisa lebih mengapresiasi alam, satwa, dan budaya seperti misalnya kawasan taman nasional.

 

Ketiga, hormati budaya dan adat masyarakat setempat. kalau tidak tahu tidak apa-apa, cukup bertanya dan coba ketahui sebelum pergi atau saat di lokasi. Saya sering sekali mendengar keluhan dari masyarakat setempat, bahwa wisatawan Indonesia kadang malah tidak menghormati budaya dan masyarakat lokal dibanding wisatawan asing. Masyarakat kita kadang menganggap bule lebih tahu dan pintar, tapi kalau caranya baik mereka juga akan percaya dengan perkataan kamu.

 

Keempat, jika dimungkinkan, kurangi penggunaan peralatan dan konsumsi makanan, minuman dalam kemasan yang menimbulkan sampah. Kelola sampahmu dengan membuang di tempat yang benar. Masalah terbesar yang dihadapi banyak destinasi wisata adalah tata kelola sampah yang tidak baik.

 

Kelima, jangan beri uang secara cuma-cuma terutama kepada anak-anak, kecuali kamu memakai jasa mereka. Beri buku, majalah, alat tulis, kartu pos, obat, bahkan baju, topi atau benda-benda yang dapat dipergunakan. Lakukan hal sederhana seperti menunjukkan lokasi tempat tinggal mereka pada petamu, dan jika ada infonya, beritahu di mana lokasi kamu tinggal pada peta tersebut.

 

Keenam, lakukan kegiatan seperti ikut program menanam pohon, adopsi koral, bersih pantai, pelepasan tukik, kursus singkat membuat kerajinan setempat, kelas memasak masakan setempat, atau ikut tour yang disediakan tour operator lokal yang biasanya menggunakan jasa masyarakat setempat.

 

Ketujuh, jika mengunjungi tempat-tempat alami seperti hutan, gunung, sungai dan laut, jangan ganggu satwa dan merusak alam sekitar. Bertanggung jawablah dengan menjaga lingkungan sekitar agar orang lain yang datang setelah kamu bisa turut menyaksikan keindahan yang kamu lihat.

 

Kedelapan, jika melakukan aktivitas seperti trekking di hutan, menyelam, memasuki gua, snorkeling, berkeliling desa adat yang sulit ditempuh, gunakan jasa pemandu atau orang yang mengerti kondisi lokasi. Jangan melakukan perjalanan seorang diri atau tanpa orang yang mengenal wilayah.

 

Kesembilan, tak usah menganggap dirimu baik hati dengan memberi makan satwa liar. Selain membahayakan satwa, memberi makan mereka (terutama dengan makanan manusia) juga dapat mengubah prilaku alami hewan-hewan tersebut.

green-traveling03

Bangun Tidur langsung Liat Pantai

 

Kesepuluh, jangan pernah bandingkan tempat yang kamu datangi dengan tempat lain. Terutama di daerah terpencil. Kalaupun membandingkan, tidak untuk berharap bahwa tempat yang kamu datangi akan memiliki layanan dan jasa yang sama. Teman saya pernah marah-marah saat menginap di salah satu homestay di pedalaman Sumbawa karena ia berharap layanan yang ia terima selevel dengan hotel berbintang di Bali atau Singapura. Itu sebabnya kamu bisa memberi masukan agar mereka bisa meningkatkan pelayanan.

 

Kamu siap jadi green traveler?

Dipikir-pikir,  betapa hebat perkembangan industri perjalanan wisata di dunia dan tanah air. Kalau dulu perjalanan wisata hanya dilakukan untuk mengunjungi dan mengetahui suatu tempat, saat ini perjalanan telah  berkembang menjadi tidak hanya sekedar mengunjungi, tapi juga mengalami dan melakukan sesuatu. Pengalaman dan pengetahuan menjadi kunci perjalanan yang lebih bermakna. Bukan banyaknya tempat yang dikunjungi.

Pengalaman dan pengetahuan itu terkadang kita dapat dari sumber yang tak pernah kita duga. Pada dasarnya, perjalanan wisata adalah bentuk lain kehidupan sehari-hari yang kita lakukan. Setiap hari kita makan, tidur, berkendara dan berinteraksi dengan orang lain. Bedanya dengan perjalanan wisata, kita melakukan itu semua di luar tempat tinggal kita sehari-hari yang tentu akan memiliki tantangan lebih besar.

Interaksi dengan penduduk setempat dan pemandu lokal membuat perjalanan saya menjadi lebih mendalam dan berbeda. Obrolan ringan namun bermakna dan inspiratif muncul dari orang-orang yang saya temui selama perjalanan. Pengalaman ini juga membuat saya merasa lebih dekat dengan alam dan budaya  setempat yang membuka mata saya lebar-lebar tentang arti hidup.

Dari mereka saya juga mengetahui bahwa toleransi antar suku dan agama masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat yang hidup damai berdampingan dalam perbedaan. Inilah pengalaman ekowisata yang sebenarnya.

Jangan pernah takut untuk menggunakan jasa pemandu lokal saat trekking, membeli paket wisata untuk kelompok kecil ke hutan dan desa tradisional, tinggal di homestay atau akomodasi milik penduduk setempat, atau merasakan kuliner asli lokal, karena di sinilah kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan melakukan lebih dalam perjalanan. Sekecil apapun kontribusi kita dalam menggunakan jasa lokal akan sangat berarti buat mereka.

green-traveling04

Jembatan Multi Nasional Thank BCC

 

Hal menyedihkan adalah informasi keberadaan tempat yang saya datangi justru berawal dari orang asing. Mereka adalah pengunjung terbanyak tempat-tempat tersebut. Mereka juga yang menguasai berbagai jasa dan layanan dengan mendirikan bisnis berbasis masyarakat dan lingkungan.

 

Pemberdayaan Masyarakat BUFFER TN Ujung Kulon

Tentang sumber daya fisik, kawasan ini sangat mengkhawatirkan. Kedekatannya dengan Ibu Kota Provinsi, Ibu Kota Negara dan Perusahaan Pertambangan Nasional serta Taman Nasional Ujung Kulon, tidak membuat kawasan ini sejahtera. Justru sebaliknya, kawasan ini telah mengalami degradasi lingkungan yang sangat parah sehingga mengancam peradaban masyarakat kampung yang sudah ada. Ini telah terjadi dengan banyaknya lahan-lahan yang dijual dan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, jenjeng dan jabon.

Bahkan di pesisir pantainya sudah mulai ditambang pasir besinya. Sarana dan prasarana jalannya pun sangat tidak layak, sehingga hasil bumi dan sumber daya alam yang ada di kawasan tersebut tidak bisa optimal.

Sumber penghidupan yang keempat, yaitu modal sosial, itu hanya dilakukan sampai tingkat kota kecamatan saja. Dengan kondisi jalan yang masih belum layak, luas kawasan yang sangat besar dan topografi lahan yang berbukit serta jaringan telekomunikasi yang terbatas, menjadikan kawasan ini terisolasi dari perkembangan peradaban dan teknologi di luar.

Yang terakhir adalah modal sumber daya keuangan. Perekonomian yang berjalan di kawasan tersebut hanya terbatas untuk menyambung hidup masyarakatnya. Di sana tidak mengenal gaya hidup menabung meskipun di kota kecamatan terdekat sudah ada bank-bank yang membuka cabangnya. Meskipun sumber daya alamnya sangat melimpah, namun dengan kondisi sarana dan prasarana yang tidak layak ditambah gaya hidup masyarakatnya yang masih polos dan lugu, maka akan sulit sekali mengakses program-program keuangan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.

green-traveling05

Masyarakat penjaga Lingkungan

 

Kampung Pamatang Kalong ini akan jadi titik sentral pemberdayaan masyarakat di kawasan Desa Batu Hideung dengan konsep Eco Village yaitu Energy – Economics – Environment – Education (4E).

Energy nya menggunakan energi terbarukan yang ada di kawasan itu yakni air, angin, gelombang dan arus laut. Energi air yang diperoleh dari aliran Cipatujah ini digunakan untuk menggerakkan pompa air yang akan mengalirkan air ke atas bukit dengan ketinggian 120 m. Pekerjaan ini dilakukan pertama kali dikarenakan di musim panas ini sebagian besar kampung yang ada di wilayah Batu Hideung mengalami krisis air bersih. Sangat ironi memang, banyaknya sungai yang ada di kawasan ini ditambah masih terjaganya hutan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon tidak membuat kampungnya cukup air bersih. Hal ini disebabkan sumber-sumber air bersih baik itu dari mata air maupun dari sungai tidak ada pipa pendistribusiannya, sehingga masyarakat yang butuh air bersih harus jalan ratusan meter bahkan harus turun ke lembah dengan kemiringan 70-80 derajat.

Sedangkan energi angin, gelombang dan arus laut digunakan sebagai sumber listrik utama untuk memenuhi kebutuhan listrik kawasan yang nantinya menjadi kampung wisata ramah lingkungan dan mandiri. Memang sebenarnya sebagian besar kampung-kampung yang ada di Desa Batu Hideung ini telah dialiri listrik hasil program pemerintah melalui kegiatan listrik masuk desa. Hanya saja masih sangat terbatas dan sering byar pret! yang penting kuantitasnya mencukupi sedangkan kualitas itu belakangan.

E yang kedua adalah Economics, dikembangkan dengan model ekonomi lokal pedesaan yang mengoptimalkan tanaman budi daya yang ada di kawasan tersebut seperti pohon kelapa, melinjo, padi, buah-buahan, sayur-sayuran dan bambu. Adalah suatu keanehan melihat potensi alamnya yang luar biasa tapi masyarakatnya biasa saja bahkan cenderung miskin. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena model perekonomian yang dilakukan oleh masyakat itu dilakukan dengan cara menjual bahan bakunya saja dengan sangat murah sekali tanpa diolah terlebih dahulu. Sebagai contoh buah kelapa mereka jual Rp. 250 per butir, ongkos mengambilnya Rp. 250 per butir, transport dan lain-lain Rp. 500 per butir. Setelah diolah di pabrik menjadi minyak sayur dan turunannya kemudian di jual lagi ke desa dengan harga yang jauh lebih mahal bisa mencapai 20 kali lipat harga sebutir kelapa setelah ada di kota. Inilah yang mengakibatkan masyarakat kampung itu tidak sejahtera karena tidak memiliki jam kerja yang banyak untuk mengolah bahan bakunya menjadi bahan jadi.

Oleh karena itu, selain membangun sarana dan prasarana infrastruktur, juga dilakukan pemberdayaan masyarakat guna menggerakkan perekonomian lokal. Kelapa yang dulunya dijual butirannya dengan harga yang sangat murah, nantinya akan diolah menjadi minyak kelapa. Melinjo yang sekarang hanya dijual buahnya saja nantinya akan dijadikan emping yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Bambu, yang sekarang dibiarkan tumbuh begitu saja seumur hidup masyarakat kampung, sekarang mulai diberdayakan menjadi material pengganti kayu, ketahanan energi, pangan dan konservasi lingkungan.

green-traveling06

Keceriaan mereka Harapanku….bersama SD Cicadas 4

 

Selain yang disebutkan di atas, masih banyak pemberdayaan yang akan dilakukan sehingga nantinya bukan masyarakat kampung yang mengantar bahan baku ke kota tapi orang kotalah yang akan datang ke kampung untuk membeli bahan jadi hasil olahan masyarakat kampung.

E yang ketiga adalah Environment. Kawasan Desa Batu Hideung sudah mulai mengalami degradasi lingkungan yang nantinya akan merusak keseimbangan ekosistem yang ada di kawasan tersebut. Setiap hari selalu terdengar raungan mesin pemotong kayu dan hilir mudik mobil-mobil sejenis elf yang mengangkut kayu dan pasir pantai. Masyarakatnya pun lebih tertarik menanam pohon jenis jenjeng, jabon dan jati emas dibanding pohon-pohon untuk konservasi. Bahkan sudah banyak masyarakat yang menyewakan dan menjual lahannya ke perusahaan untuk dijadikan perkebunan sawit. Saat musim kemarau seperti ini, masalah klasik di seluruh Indonesia selalu terjadi, yaitu kekurangan air, juga untuk kebutuhan air bersih dan irigasi sawahnya, karena sawah-sawah yang terhampar luas di sisi pantai selatan semuanya jenis sawah tadah hujan.

Untuk mengatasi permasalahan lingkungan tersebut, akan diberdayakan pohon bambu yang memang sangat banyak sekali tumbuh dan betul-betul masih perawan di kawasan itu. Bambu bisa digunakan untuk konservasi lingkungan dan mengganti kebutuhan kayu untuk konstruksi bangunan. Dengan pemberdayaan bambu tersebut, diharapkan nantinya tidak akan terdengar lagi suara mesin pemotong kayu. Masyarakatnya mulai budi daya bambu sehingga kejadian kayu yang dulunya melimpah namun sekarang langka tidak terulang lagi.

Berani menebang harus berani menanam, kata Mastok founder Bengkel Hijau yang telah mengaplikasikan model tabungan hijau dengan bambu. Itulah semangat yang akan diberdayakan kepada masyarakat supaya keseimbangan dengan alam tetap terjaga. Kita tahu bahwa selama ini selalu diajarkan tentang hablumminAllah dan hablumminannas, tapi lupa dengan habblumminalalamnya. Sehingga yang selalu kita perbuat ke alam itu hanya mengambil haknya yaitu mengeksplorasi alam sedang kewajiban untuk menjaga alam dengan cara menanamnya dilupakan.

Terakhir adalah E yang keempat yaitu Education. Model yang akan diterapkan adalah model tabungan hijau yang sudah diaplikasikan oleh Mastok Setyanto seorang founder dari komunitas Bengkel Hijau.

Model tabungan hijau ini mulai diaplikasikan kepada anak-anak umur 10 tahun atau kelas 4 SD yang ada di kampung Dukuh Handap – Pamatang Kalong – Cicadas. Mereka akan diberikan sepuluh bibit bambu yang kemudian harus ditanam dan dirawat. Di usianya yang ketiga, saat anak tersebut kelas 1 SMP, bambu tersebut sudah mempunyai nilai ekonomis karena sudah bisa dipanen rebungnya. Tiap rumpun bambu dari satu bibit perbulannya bisa menghasilkan rebung sebanyak 30 kg, jadi jika 10 rumpun menjadi 300 kg. Saat ini harga pasar rebung sekitar Rp. 5000/kg. Jadi anak kelas 1 SMP itu sudah menghasilkan Rp. 1.500.000, – /bulan.

Ketika usia nya 15 tahun saat anak tersebut sudah kelas 3 SMP, rumpun bambu tersebut sudah bisa menghasilkan batang bambu yang dapat digunakan sebagai material non konstruksi. Tiap rumpun bambu akan dihasilkan sekitar 20 batang bambu yang bisa digunakan untuk konstruksi bangunan. Jika harga di pasar Rp. 15.000/batang maka yang bisa dihasilkan oleh anak kelas 3 SMP itu adalah Rp. 3.000.000/bulan pada saat musim tebang. Ditambah dengan rebung bambunya menjadi Rp. 4.500.000, -. Kemudian, saat bambu memasuki usia tujuh tahun dimana anak tersebut kelas 2 SMA (17 tahun), nilai ekonomis rumpun bambu tersebut semakin tinggi yaitu bisa mencapai Rp. 25.000/batang. Jadi anak usia 17 tahun sudah punya penghasilan minimal Rp. 6.500.000/bulan pada masa tebang. Dan yang paling penting, rumpun bambu tersebut jika tidak ditebang habis maka akan selamanya tumbuh seumur hidup manusia.

Itulah model pemberdayaan masyarakat yang akan diaplikasikan di Desa Batu Hideung. Desa tersebut akan jadi suatu kawasan yang sangat strategis dalam percontohan model Eco Village. Di satu sisi berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon, di sisi lain terdapat kawasan penambangan emas. Sehingga jika tidak diberdayakan dengan benar maka masyarakatnya akan menjadi masyarakat perusak taman nasional yang telah teracuni oleh eksplorasi sumber daya alam.

Inilah pentingnya merubah pola pikir masyarakat kampung yang terserak diseluruh penjuru Nusantara. Mari kita bangun Indonesia dimulai dari kampung. Di kampung kita jaya!

green-traveling07

Abdi Masyarakat

 

SOHOGU (small Office- Home Office- Gubug Office)

Perpustakaan dan Laboraturium alam Yang Harus Terjaga dan terpelihara… – (90 Hari Buffer H20 Bambu) Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut, dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan).

Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan. Bila ditilik secara historis Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia.

Taman ini merupakan cikal-bakal beberapa taman nasional di Indonesia, seperti Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara atau kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara. Taman Nasional Ujung Kulon Selain nilai historisnya, kawasan ini memiliki zona inti seluas kurang lebih 120.551 ha yang terbagi menjadi 76.214 ha berupa daratan dan 44.337 ha berupa lautan dan daerah berbatu karang. Zona inti yang berfungsi sebagai cagar alam dan suaka margasatwa ini memiliki berbagai macam keistimewaan, di antaranya keanekaragaman jenis biota laut, darat, dan satwa langka. Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

green-traveling08

Aktivitas penduduk

Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis. Taman Nasional Ujung Kulon: Rhinoceros sondaicus Flashback Taman nasional yang berada di Provinsi Banten ini dinamai Ujung Kulon lantaran letaknya di ujung Pulau Jawa bagian barat. Taman nasional ini mulai dikembangkan sebagai kawasan cagar alam sejak tahun 1820-an, atau setelah munculnya gagasan dari para sarjana kolonial Hindia-Belanda yang datang ke Pulau Jawa untuk menciptakan kawasan konservasi alam di Ujung Kulon. Sarjana-sarjana kolonial yang sebagian besar merupakan anggota Organization for Scientific Research in Netherlands Indies ini di antaranya merupakan ahli botani, satwa, geografi, oceanografi, dan geologi.

Oleh karenanya, penemuan kawasan ini merupakan lahan emas bagi pengembangan sains mereka. Setelah berlabuh di semenanjung Pulau Jawa bagian barat, mereka melihat keelokan alami dengan berbagai jenis tanaman tropis dan binatang khas Pulau Jawa yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Mereka melakukan ekspedisi dan eksplorasi alam di Ujung Kulon dengan mendokumentasikan—melakukan pencatatan-pencatatan—dan mengoleksi segala sesuatu yang dianggap asing dan penting dalam khazanah keilmuan mereka. Akhirnya, mereka menggagas untuk menetapkan kawasan—yang mencakup Gunung Krakatau, Pulau Panaitan, Pulau Handeuleum, dan Pulau Peucang—ini sebagai salah satu domain riset dan pengembangan ilmu alam di Asia Pasifik. Tahun 1846.

green-traveling09

Engineering Travel

 

Kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon pertama kali diperkenalkan oleh Junghun dan Hoogerwerf ahli botani berkebangsaan eropa. Pada waktu itu mereka melakukan perjalanan ke Semenanjung Ujung Kulon untuk mengumpulkan beberapa species tumbuhan tropis yang eksotik. Satu dekade kemudian, keragaman speciesnya dinyatakan dalam laporan perjalanan ilmiah yang dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah. Taman Nasional Ujung Kulon: Arca Ganesha di Gunung Raksa Kendati motivasi utama mereka adalah untuk pengembangan sains, pemerintah kolonial menganggap aktivitas mereka merusak ekosistem kawasan Ujung Kulon. Sebagaimana tertulis dalam catatan sejarah kolonial, selain melakukan riset, para sarjana tersebut juga melakukan perburuan-perburuan terhadap berbagai satwa sebagai upaya memperbanyak koleksi museum-museum sains di negara asal mereka dan ini berlangsung hingga puluhan tahun lamanya (1853-1910). Memasuki tahun 1910, pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengeluarkan kebijakan untuk melindungi kawasan Ujung Kulon yang makin hari semakin rusak. Kendati demikian, aktivitas pengrusakan ekosistem di Ujung Kulon itu tetap berlangsung hingga sebelum Perang Dunia II pecah di tahun 1939. Tahun 1883, Pada bulan Agustus gunung Krakatau meletus, menghasilkan gelombang tsunami yang menghancurkan kawasan perairan dan daratan di Ujung Kulon serta membunuh tidak hanya manusia akan tetapi satwa dan tumbuhan. Pada saat itu seluruh kawasan Ujung Kulon diberitakan hancur.

Sejak letusan gunung Krakatau yang dahsyat tersebut, kondisi Ujung Kulon tidak banyak diketahui, sampai kemudian dilaporkan bahwa kawasan Ujung Kulon sudah tumbuh kembali dengan cepat. Setelah terbentuknya negara Republik Indonesia di tahun 1945, kawasan Ujung Kulon yang tadinya terbengkalai mulai diperhatikan lagi. Pada tahun 1958 pemerintah RI menetapkan kawasan ini sebagai kawasan cagar alam, kendati belum digarap dengan serius. Departemen Kehutanan mengupayakannya dengan mengusulkan ke UNESCO agar area taman nasional ini dijadikan sebagai world heritage site pada kategori hutan bercurah hujan tinggi di dataran rendah terluas di Jawa.

Akhirnya, pada tahun 1992 Taman Nasional Ujung Kulon diresmikan sebagai sebuah situs cagar alam dunia oleh UNESCO. Kini, taman nasional ini berada di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Tahun 1921, Ujung Kulon dan Pulau Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Cagar Alam Ujung Kulon-Panaitan melalui SK. Pemerintah Hindia Belanda No. 60 tanggal 16 November 1921.

Taman Nasional Ujung Kulon: Gua Sanghiang Sirah Tahun 1958, berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 48/Um/1958 tanggal 17 April 1958 berubah kembali menjadi kawasan Suaka Alam dengan memasukan kawasan perairan laut selebar 500 meter dari batas air laut surut terendah Semenanjung Ujung Kulon, dan memasukkan pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Peucang, Pulau Panaitan, dan pulau-pulau Handeuleum (pulau Boboko, pulau Pamanggangan) Tahun 1992, Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan SK. Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992. Meliputi wilayah Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, P. Handeuleum dan Gunung Honje. Dengan luas keseluruhan 120.551 ha, yang terdiri dari daratan 76.214 ha dan laut 44.337 ha.

Ditahun yang sama, Taman Nasional Ujung Kulon ditetapkan sebagai The Natural World Heritage Site oleh Komisi Warisan Alam Dunia UNESCO dengan Surat Keputusan No. SC/Eco/5867.2.409 tahun 1992 tanggal 1 Februari 1992. Present Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata), dan berbagai macam jenis anggrek.

Taman Nasional Ujung Kulon: Muara Sungai Cibunar Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan, dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas). Jenis-jenis ikan yang menarik di Taman Nasional Ujung Kulon baik yang hidup di perairan laut maupun sungai antara lain ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok, dan sumpit (archer fish). Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik yaitu ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak memangsanya (serangga kecil) yang berada di daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air. Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan ziarah adalah Gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.

Kawasan ini dilengkapi dengan jaringan telekomunikasi, listrik, dan air bersih yang memadai bagi wisatawan. Pilihan penginapan dari berbagai model—hotel, motel, homestay, maupun cottage—dengan variasi harga sewa dapat ditemukan di Tamanjaya—masih dalam area taman nasional, Pulau Peucang, dan Pulau Handeuleum. Ada penginapan, tentu ada pula rumah makan. Di kawasan ini, restoran ataupun café menyuguhkan berbagai pilihan menu masakan khas Nusantara maupun yang bercitarasa internasional. Di samping itu, juga tersedia jasa informasi, pemandu wisata, dan fasilitas kapal kecil (speed boat) bagi yang ingin menjelajahi antarpulau di kawasan taman nasional ini…… Dari jakarta – 6-7 jam musim panas.. – 4-5 jam dari Serang Banten….

green-traveling10

Dari Balkon Gubuk

 

green-traveling11

Siap siap jalan dengan bekal

 

green-traveling12

MasTok Narsis Abis

 

green-traveling13

Atap Bocor

 

green-traveling14

green-traveling15

green-traveling16

Keteduhan dan keasrian ada di sini

 

green-traveling17

Sarapan Pagi

 

green-traveling18

Teman-teman logistiknya harus pas mantap

 

green-traveling19

Wah… Koroptor

 

green-traveling20

Senjata andalan di hutan

 

Terima kasih @ Dasalbantani BCC Founder – Bengkel Hijau –  Mas Jalak Harupat – Alavin Yudistira – Heru markeso  – Baltyra – Indonesian Village

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

17 Comments to "Perjalanan Pengabdi dan Mengkaji Green Traveling"

  1. juwandi ahmad  29 December, 2012 at 06:51

    “Kamu tidak harus berpetualang dan berkorban untuk melakukan perjalanan “hijau”. Menantang alam bukan tujuan utama. Inti dari perjalanan yang dilakukan adalah pelestarian alam dan budaya serta memberi manfaat kepada masyarakat setempat dan destinasi yang kamu kunjungi, tanpa mengesampingkan pengalaman dan tujuan berlibur,” Sepakat, dan itu aku banget Mastok. Kalau mesti naik gunung atau tebing, wah nyerah ha ha ha ha…..

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  28 December, 2012 at 07:10

    Secara jujur tulisan ini dan tulisan Mastok yang lain adalah manifesto penting tentang sebuah jenis wisata abad mendatang, yaitu Green Tourism. Hal ini sudah pernah saya baca di literatur asing, kebanyakan di negara-negara barat yang sudah jenuh dengan menjual obyek wisata secara materi dengan memperkosa alam dan kecantikan lokasi wisata.

    Coba saja, cari jawaban dan cai tahu, berapa banyak sampah kaleng bir di Canary Island usai wisata Jerman bergerumbul ke sana. Berala banyak sampah dan kerusakan lingkungan di Bali dengan dibuka objek-objek wisata yang tidak mengandalkan kearifan lokal.

    Saya salit sewaktu menjadj istri Presiden Bill Clinton, Hillary memilih penginapan dengan kearif lokal yang dari dalam hotel masih melihat orang membajak sawah dengan kerbaunya. Mungkin jenks wisata ini akan menjadi trend di dasawarsa mendatang.

    Pokoke tulisan ini adalah pembukaan kitab suci dari sebuah cara menikmati alam dengan arif. “Lho enak, gue juga enak”. Alam senang tidak dirusak, kita juga senang mendalat sesuatu dari ibu kita: alam.

    Namuuuuuuuun… semua inj tentu berbeda dengan Alam lenyanyi dangdut dari Tasikmalaya.

  3. elnino  28 December, 2012 at 06:08

    Papa Mastok, tidur ngligo di bawah papringan kalo dikeloni ular gimana itu? Hiiii….

  4. Chandra Sasadara  27 December, 2012 at 18:45

    Mastok : saya memang bukan aktivis lingkungan, apalagi penjelajah alam. tapi saya penikmat alam, pencinta kuliner indonesia dan hobi melihat keragaman. saya tidak akan keberatan klo Mastok mau menawarkan petualangan seperti ini kepada saya, lagi pula kita sama2 di bandung..kwkwkwkwkwkkkkkkk

  5. Dewi Aichi  27 December, 2012 at 17:38

    Kalau mas Tok memang tak diragukan lagi. Iya kan mas Tok? Sayang sekali, undangan ke tempat mas Tok tidak bisa saya penuhi….sayang sekali.

    Lho..JC sudah menyerahkan anak keduanya punya bapak baru he he he..masih terngiang panggilan bapak…bapak…bapak….

  6. Dj. 813  27 December, 2012 at 16:26

    Mas Tok…
    Terimakasih untuk begitu banyaknya informasi yang bagus…
    Silahkan yang muda-muda, mumpung masih kuat, ikuti jejak mas Tok
    untuk mendapat banya pengalaman dan tau banyak tentang alam yang sungguh indah.

    Hanya satu yang Dj. kira, mams Tok, kemana-mana nyeker..
    Taunya masih perlu sepatu dan sandal juga…. Salut…!!!
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 December, 2012 at 13:14

    Wah..lengkap nian. Bukannya phobia. Kan di Peucang sudah ada penginapan. Mungkin saja tak ada resiko besar digigit malaria. Lain bila di ruang terbuka. Sangat mungkin. Hanya bila ada kegiatan luar ruang, saya hanya khawatir nyamuk malaria.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.