Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (2)

Joko Prayitno

 

Kemunculan artikel Djojodikoro yang berjudul Percakapan antara Marto dan Djojo di koran Djawi Hiswara direspon keras oleh anggota-anggota CSI yang berkedudukan di Surabaya. Mereka menganggap apa yang telah dimuat dalam harian Djawi Hiswara sebagai bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Seperti dalam Oetoesan Hindia Abikoesno Tjokrosoejoso, adik Tjokroaminoto dan sekretaris SI Surabaya, berseru agar membela Islam dan menuntut Sunan serta pemerintah Hindia agar menghukum Martodharsono dan Djojodikoro.

gambar-dewa-dalam-penanggalan-wuku-11

Gambar Dewa Dalam Penanggalan Wuku 1

Martodharsono menjelaskan bahwa ia telah memberi catatan di bawah tulisan Djojodikoro sebagai maksud bahwa apa yang ditulis oleh Djojodikoro mengandung maksud lain dan tidak berusaha untuk menyalakan api kemarahan kaum muslimin. Dalam catatan Martodharsono menulis:

“rembag makaten poeniko jektosipoen boten kenging dipoen gelar hing serat kabar, hawit sampoen mesti damel sak serik dateng hingkang boten doengkap”.(pertjakapan selakoe ini ini sesoenggoehnja tidak boleh dihampar di soerat kabar, sebab soedah tentoe bikin koerang senang hati pada jang tidak mengerti.). “bahwa saja tidak sadja menegah pada Djojodikoro djoega memaloemkan kalaoe toelisan mana arti lain sopaja djangan ada jang menerima salah, sedangkan dimaksoednja, jang dikatakan rasoel dalam pertjakapan itoe, boekan Nabi kita s.a.w. Kandjeng Nabi Moehammad Rasoel Allah, tetapi rasoel rasa (gevoel) nja masing-masing, djadi siapa jang bertjakap ialah jang mempoenjainja. Demikianlah maananja jang saja kira tiap-tiap orang abangan misti mengarti, asal sadja telah pernah bergoeroe tentang ilmoe jang oemoemnja di bilang ilmoe kematian…”(Djawi Hiswara, 4 Februari 1918).

Martodharsono berbalik menyerang apa yang dilakukan oleh Abikoesno Tjokrosoejoso sebagai manuver politik dari konflik yang terjadi di tubuh SI dan dendam pribadi CSI terhadap Martodharsono. Dalam pernyataannya Martodharsono mengatakan:

“Perkara koeno kata saja, ja’ni sebatas congres CSI di Djocja (Jogjakarta) dan pilihan President, wektoe mana saja misih djadi Redacteurnja Sarootomo, moelai itoe dan selandjoetnja saja selaloe tinggal di fihak jang saja pandang bagoes lagi toeloes haloeannja seperti toean Semaoen, toean Marco, djuga toean Sneevliet dan toean Baars, walaoepoen Belanda, atjapkali saja bintjangkan dan saja poedji, tetapi sebaliknja saja djadi gagoe daripada saja misti memoedji Tjokroaminoto jang moedah poetoeskan djandjinja, antara toean Hadji Samanhoedi, bapa SI itoe, pada hal djandji mana terkoentji dengan soempah, lebih teges saja tidak pernah memoedji akan dia, melingkan membilangkan sadja apa jang ada dengan sebenarnja. Itu sebab complotnja amat membentji pada saja.”(Ibid.)

Pembelaan ini mengungkapkan bahwa dalam tubuh CSI sendiri telah terjadi konflik kepentingan antara pihak CSI dan komunis. Martodharsono melaporkan bahwa ia telah menunjukan sikap keberpihakannya kepada kelompok sayap kiri Semarang ketika ia masih menjadi redaktur surat kabar Sarotomo.

Martodharsono menduga bahwa hal ini disebabkan oleh kedekatan dirinya dan Djawi Hiswara dengan kelompok komunis di Semarang. Menurut Takashi Shiraishi munculnya artikel Djojodikoro di Djawi Hiswara memberikan kesempatan emas kepada Tjokroaminoto sebagai pimpinan CSI untuk melakukan tiga hal, yaitu:

1.         memperlihatkan bahwa pemerintah tidak memperdulikan Islam

2.         menghimpun saudagar-saudagar santri dan Arab, menghimpun uang

3.         menggerakkan SI-SI yang terbengkalai di bawah pimpinannya dalam semangat membela Islam lalu menyerang musuh-musuh lamanya   dari Surakarta, Martodharsono, Samanhoedi, Sosrokoernio (Takashi Shiraishi, 1997).

Langkah lain yang dilakukan oleh Tjokroaminoto adalah mengadakan reli SI yang panjang bersama Hasan bin Semit pemimpin Al Irsyad Surabaya dan juga komisaris CSI untuk membicarakan “masalah Djawi Hiswara”. Pada awal Februari di Surabaya didirikan Komite Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM) untuk “mempertahankan kehormatan Islam, Nabi dan kaum muslimin”. Tjoroaminoto menjabat sebagai ketua, Sosrokardono sebagai sekretaris, Sech Roebaja bin Ambarak bin Thalib seorang pemimpin Al Irsyad Surabaya sebagai bendahara. Kunci TKNM terletak pada dua kata, tentara yang menandakan militansi, dan Muhammad, lambang persatuan kaum putihan. Kini tentara kaum putihan untuk pertama kalinya dalam politik pergerakan diarahkan kepada kaum abangan.

Seruan TKNM yang militan untuk membela Islam terbukti sangat berhasil. Vergadering di Surabaya pada 6 Februari 1918 berhasil mengumpulkan dana lebih dari tiga ribu gulden. Reli protes yang diadakan serentak pada tanggal 24 Februari 1918 di empat puluh dua tempat di seluruh Jawa dan sebagian Sumatra dihadiri lebih dari 150.000 orang dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari sepuluh ribu gulden. Subkomite TKNM didirikan hampir di seluruh Jawa kecuali Semarang dan Jogyakarta. Sejumlah SI lokal yang terbengkalai berhasil dibangkitkan kembali dibawah pimpinan subkomite-subkomite TKNM.

Tulisan Djojodikoro di Djawi Hiswara tidak menimbulkan protes di Surakarta, tetapi ketika isu tersebut dibuat menjadi isu nasional kaum muda Islam Surakarta tidak bisa lagi mengabaikannya. Pada 9 Februari 1918 bestuur SI Surakarta memutuskan untuk mengadakan vergadering umum protes pada 24 Februari, sebagaimana yang diminta Tjokroaminoto. Kekuatan penggerak di balik kampanye anti-Martodharsono, anti-Djawi Hiswara ini adalah H. Misbach, H. Hisamzaijnie, adviseur CSI, dan R. Ng. Poerwodihardjo, guru sekolah bumiputra Kasunanan dan pemimpin serikat guru (Perserikatan Goeroe Hindia Belanda). Tatkala menjelang rapat umum semakin dekat, kasak-kusuk menyebar bahwa Misbach akan menghadapi Martodharsono di arena vergadering. Vergadering SI Surakarta diadakan di taman Sriwedari dihadiri oleh sekitar 4000 orang yang sebagian besar adalah bumiputra dan orang-orang Arab yang merupakan kring-kring SI dari luar Solo dan memutuskan mendirikan TKNM di Surakarta (Djawi Hiswara, 25 Februari 1918).

Pengangkatan isu kristenisasi dan penghinaan agama Islam yang dilakukan oleh CSI mendapatkan sukses besar dengan terbentuk sub-sub komite TKNM dan terkumpulnya dana serta kembalinya dukungan dari kaum putihan yang kaya. Hal ini terlihat dengan pengharapan masyarakat ditujukan kepada TKNM yang baru terbentuk, yang diungkapkan dalam Islam Bergerak:

“saja berpengharapan kepada Comite TKNM moedah-moedahanlah dengan segera bergiat bekerdja akan menjampaikan betapa jang djadi toedjoeannja, dan haroeslah toean-toean kaoem Moeslimin memberikan toendjangan dengan sekoeat-koetnja bagai geraknja Comite dan djoega haroelah dengan sesegera-segeranja mamajoekan permintaan kepada Regeering akan dibantoe setjoekoepnja oentoek menjampaikan maksoednja, haroeslah Comite TKNM  mengabarkan kepada sekalian pendoedoek Moeslimin di Hindia apa jang akan dikerdjakan oleh Comite boeat menjampaikan maksoednja akan mengekalkan perasaan Islam kepada anak Hindia, sepandjang pendapatan saja jang lebih perloe Comite TKNM haroeslah lebih dahoeloe berdaja oepaja akan dapat mendirikan roemah-roemah sekolah jang sepadan dengan zamannja oentoek anak-anak kita kaoem moeslimin dengan peladjaran igama”(Islam Bergerak, 10 April 1918).

 

(Bersambung…..)

 

6 Comments to "Polemik Djawi Hisworo, Abangan Versus Islam (2)"

  1. MasTok  29 December, 2012 at 22:30

    Pejabat yang dulu sekolahnya di ajar Oleh yang di Laknat .. Semua bau POLITIK…” saya pribadi Korban yang kecil tetapi saya akan menjadi Korek api “…..Smoga sadar akan pentingnya Nusantara dan BhenikaTunggal ika

  2. Dj. 813  28 December, 2012 at 23:38

    ***** Vergadering SI Surakarta diadakan di taman Sriwedari dihadiri oleh sekitar 4000 orang yang sebagian besar adalah bumiputra dan orang-orang Arab yang merupakan kring-kring SI dari luar Solo dan memutuskan mendirikan TKNM di Surakarta (Djawi Hiswara, 25 Februari 191. ****
    ———————————————————————————————–

    Jadi menurut Dj., sebenarnya bangsa Indonesia, bukan saja dijajah belanda dan jepang.
    tapi memang sudah lama dan bahkan sampai sekarang, masih dijajah oleh arab.

    Hebat…!!!

    Salam Damai dari Mainz.

  3. J C  28 December, 2012 at 15:17

    Konflik horizontal seperti ini memang komoditi abadi di negeri ini…

  4. anoew  28 December, 2012 at 14:58

    Isu kristenisasi, indomisasi dan yang serupa memang mustajab dan ampuh dan ternyata, sudah ada sejak dulu. Kenapa hal sebaliknya tidak dipikirkan dan dipahami dengan kebijaksanaan? Woalah negeriku…

  5. Handoko Widagdo  28 December, 2012 at 11:30

    Mas JP, jika ada data, mohon diceritakan juga awal munculnya Al Irsad di Kota Solo.

  6. Chandra Sasadara  28 December, 2012 at 09:31

    nampak lebih kuat konflik politik dari pada upaya serius untuk “membaca jawa” dalam perspektif islam

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.