Indra, Tuhan dan Anak-anak?

Fikrul Akbar Alamsyah

 

Sebutir debu di tengah lautan pasir?

Suatu ketika di siang setelah ibadah Jumat di kampus UB Malang, tak disangka-sangka seorang dosen mentraktir untuk makan siang bersama. Kami makan bertiga di salah satu kedai di daerah Sukarno-Hatta, cukup mengenyangkan sekaligus menyenangkan, ya benar cukup menyenangkan, karena sembari makan kami melakukan sedikit obrolan-obrolan ringan yang saya tidak bisa lupa begitu saja.

Saat itu kami membicarakan perilaku anak-anak, begini ceritanya, alkisah ada suatu pertanyaan yang muncul dari kepolosan bocah, “Jika Tuhan memang Maha Besar, maka Tuhan tidak bisa masuk ke ruangan yang kecil ini” seperti itulah pertanyaan yang muncul kurang lebihnya. Sebagai orang “dewasa” yang terlanjur hidup dengan berbagai dogma tentu akan mudah menjelaskan pada org yang “dewasa” pula, akan tetapi akan berbeda ceritanya jika harus menceritakan pada seorang bocah yang mana kepolosan dan keluguan masih tertanam dalam benaknya….???. Tak salah jika bocah tersebut bertanya seperti itu, karena ia tentunya memiliki kesadaran empiris yang membutuhkan sebuah bukti kongkrit tak hanya dalam tataran ide saja.

***

Beberapa waktu berlalu setelah pembicaraan kami, dan suatu ketika saya teringat akan novel yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti yang ditanyakan oleh bocah yang polos tersebut. Berikut ini saya sarikan dari sebuah buku yang juga mempertanyakan mengenai keberadaanNya :

lautan pasir

Mestinya kita dapat memiliki perangkat indra yang berbeda, mestinya kita mempunyai indra yang berbeda mengenai waktu dan perasaan yang berbeda mengenai ruang. Mestinya dapat diciptakan dengan cara sedemikian rupa sebuah indra sehingga kita tidak perlu ke sana kemari mencari penyebab dari segala sesuatu yang terjadi di sekeliling kita. Kita ambil contoh seekor kucing yang sedang duduk di atas lantai pada sebuah ruang, kemudian kita gelindingkan sebuah bola dari ruangan lainnya, maka sangatlah wajar jika seekor kucing itu mengejar bola tsb. Berbeda jika kita yang duduk di sebuah ruangan, apabila tiba-tiba muncul bola yang menggelinding maka kita akan mencari penyebab bola itu menggelinding karena hukum kausalitas sudah menjadi bagian dari diri kita. Sebenarnya mengapa kita harus tau penyebab sesuatu? Mengapa kita mereka-reka dengan berbagai “hukum alam” untuk menjelaskan berbagai fenomena yang pada akhirnya “hukum alam” tersebut hanyalah “hukum kesadaran manusia”.

***

Tak salah apabila disebut dengan “Hukum kesadaran manusia”, karena bagaimanapun juga apa yang ilmuwan jelaskan di berbagai teori merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akan berbagai fenomena yang muncul dari berbagai masalah. Yang tentunya jawaban-jawaban tersebut benar menurut persepsi indra yang dimiliki oleh manusia yang kemudian dimufakati oleh akal yang belajar dari berbagai pengalaman.Artinya bahwa “kacamata” pikiran itulah yang menetapkan batasan-batasan apa yang dapat kita ketahui

 

(Kegalauan selepas maghrib 2 Januari 2012 / 18:51 WIB)

 

5 Comments to "Indra, Tuhan dan Anak-anak?"

  1. kurnia wulan suci n. azizah  3 January, 2013 at 00:43

    waahhh, hebat mas. galau-galau bisa menghasilkan tulisan apik….
    lanjutkan!!!

  2. J C  1 January, 2013 at 22:49

    Renungan yang mendalam…

  3. fikrul  1 January, 2013 at 15:56

    Terima kasih atas tanggapannya dari Pak James & Pak Dj, adakalanya orang mengatakan kenalilah dirimu karena dengan mengenal dirimu maka kita bisa mengenal dunia. Mungkin dari perkataan tersebut tersimpan makna bahwa ada Tuhan dalam diri tiap manusia dalam artian ada campur tanganNya sehingga keberadaan kita bisa eksis.

    Salam,

  4. Dj. 813  30 December, 2012 at 18:09

    Yuuuuup….!!!
    Sangat setuju bung Alamsyah…
    Terimakasih…

    TUHAN Maha Besar ( Allah Hu Akbar ).
    Maka TUHAN tidak bisa masuk ke ruangan ( pertanyaan anak-anak ).
    Jadi Dia perlu TRANSFOMATOR ( TRAFO ) , agar Dia bisa masuk kedalam ruangan, ya bahkan didalam hati kita.
    Kalau listrik darin PLN langsung masuk kerumah kita, jelas sekeringnya akan jebol.
    Karena TUHAN Maha Mulia, Maha Suci… kita tidak mungkin bisa melihat kemuliaannya, kita juga akan hangus.
    Tapi melalui sang Juru Selamat yang akhirnya kita dapat melihat kemuliaannya didalam tubuh Yesus,sebagai manusia.
    Karrena ada tertulis, bahwa ROH itu telah menjadi daging.
    Selamat berhari Minggu dan Shalom…

  5. James  30 December, 2012 at 14:27

    SATOE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.