Sukatidaksuka

Anwari Doel Arnowo

 

Judul ini saya pilih setelah tulisan selesai.

Ternyata dari sekian juta pilihan yang telah disediakan oleh alam ini, atau bagi sebagian manusia hidup yang ada di dunia ini oleh Tuhan, masih banyak yang, anda dan saya juga, tidak suka dan sebaliknya: suka. Yang saya suka saja anda mungkin membencinya. Kita tercipta di dalam kandungan sang Ibu, menurut penelaahan saya pribadi, selama sembilan bulan lamanya itu, sang janin “mungkin” sekali tidak bisa menyatakan suka atau tidak suka. Masa di dalam kandungan itu adalah masa paling tidak reaktif atau tidak cenderung tanggap terhadap apapun aksi yang menimpa  ketika masa itu, meskipun saya yakini seratus persen bahwa janin itu sudah mempunyai akal tidak lama setelah terjadinya pembuahan indung telur. Sebelum lahirpun, yang melahirkan tubuh bayi adalah interaksi yang ada di dalam tubuh ibunya, bukan karena, kemungkinan besar, kemauan si janin sendiri untuk lahir.

Setelah lahirlah, maka kemudian muncul kemampuan sang bayi, cenderung tanggap terhadap aksi dalam bentuk yang bermacam-macam, berdatangan. Ada rasa haus, maka perlu minum dan untuk menyatakan dia haus maka bisanya cuma mengeluarkan suara, mungkin dalam bentuk tangisan. Itulah salah satu tanda-tanda memasuki kehidupannya sendiri, lepas dari indungnya. Bagi saya terpikirkan lebih jauh, bagaimana sistem tubuh sang Ibu bisa mendeteksi sang janin sedang haus atau belum. Yang begini ini, pada saat ini, kita serahkan saja kepada mereka yang ahli biologi atau kepada alam. Yang mempercayai Tuhan melalui agama, tentu menyerahkan segala sesuatunya yang kita tidak mampu mengerti, yaitu kepada Tuhannya. Yang tidak mempercayai adanya Tuhan ya tentu saja selalu akan  menerima saja ke-tidak-tau-annya dan berserah kepada alam.

like it or not

Bagaimana setelah meningkat sebelum dan setelah dewasa? Kita bisa menengarai adanya hal-hal yang harus dan tidak harus yang mautidakmau kita jalani, meskipun itu di luar kemauan kita.  Makan yang sudah disediakan di piring di hadapan kita saja sering tidak kita sukai, demikian juga terhadap minum, bekerja, bergaul dan menjalani tata cara  kehidupan kita. Ada banyak pilihan yang kita ambil dengan terpaksa. Sudah kita saksikan demikian banyaknya kehidupan makmur dan sentosa ditinggalkan oleh seorang muda dan pergi ke kalangan yang jauh lebih miskin dan kumuh bila dibandingkan dengan yang ada di rumah orang tuanya sendiri.

Dia menggelandang keliling dunia dengan baju dan pakaian seadanya, tanpa uang cukup. Itu pernah terjadi bertahun-tahun lamanya, dan mereka ini disebut The Hippies. Hampir 40 tahun yang lalu di Pulau Bali ketika saya suatu saat berlibur di salah satu pantai, saya terlibat pembicaraan hahahihi dengan seorang berpenampilan Hippie ini, memang tidak terlalu kumuh sih, tetapi dia makan di warung yang murah sekali menurut “ukuran” orang yang berkulit putih seperti dia waktu itu. Saya kaget dan tidak mengenali ketika dia menyapa saya di  atas pesawat terbang menuju ke Jakarta keesokan harinya dari Denpasar ke Surabaya. Dia berpakaian santai saja memakai celana panjang dan rambutnya tersisir rapi. Itu bukan penampilan dia kemarin. Ketika satu minggu kemudian saya berada di Singapura, dia saya jumpai di lobby hotel yang sama, sekali ini sedikit terbelalak mata saya. Dia berpakaian fully dressed berdasi dan memakai jas, tidak lupa saputangan kecil warna putih di saku kecil di kiri atas. Inikah Hippie yang saya temui menggelandang di pantai minggu lalu??? Wah sama sekali lain seperti bumi dan langit saja. Saya pikir orang ini sedang bosan dengan formalitas-formalitas yang ada dan dimilikinya, kemudian memasuki dunia lain untuk sekedar agar bisa  mengistirahatkan kekakuan hidup yang dijalaninya setiap hari dalam bisnis keuangan, di mana dia adalah salah satu manager Institusi Keuangan terkenal.

Rasa sukatidaksuka itu bisa saja datang sesuka hati kita atau sesuka hati orang atau pihak lain. Bermacam-macam  jenisnya dan ukurannya. Sering kali kita tidak mampu menolak yang tidak kita sukai dan juga tidak bisa menolak yang memang kita sukai. Pakailah contoh dalam dunia selebriti, Ladi Gagal atau Ladi Berhasil sungguh hiruk pikuk, buang-buang waktu kita dibuatnya. Saya yang tidak menyukai gayanya saja, ikut amat kecewa oleh karena tingkah polah sebagian bangsa kta yang menyebabkan dia ngacrit batal datang. Misal lainnya bagaimanapun kita menyukai Barack  Obama, dia itu kan orang Amerika? Masakan kita mengharapkan perhatian serius dari dia terhadap Republik kita, sekali lagi dia ini kan orang Amerika, meskipun pernah bersekolah di Asisi Jakarta Selatan? Obama disukai orang Indonesia, tetapi ingatlah: dia orang Amerika. Dia akan membela mati-matian orang dan bangsa serta negara USA tidak akan pernah Negara lain, termasuk Indonesia. Yakinlah itu.

Soal suka saja ada tingkatannya, misalnya bunga yang indah. Masih ada yang suka mawar, atau mungkin saja Bunga Bangkai yang dulu sekali saya kenal dengan nama Raflesia Arnoldi. Jadi tingkatan, jenis, golongan, warna serta rasa nyaman bisa menentukan rasa sukatidaksuka kita. Terlihat, terasa jelas sekali bahwa sukatidaksuka itu memerlukan penyeliaan yang canggih dan pintar agar keluarannya bisa lebih terang. Saya percaya sekali dengan menggunakan akal, yang memang sudah ada ketika kita masih berbentuk janin, banyak hal yang gaib bisa diterangkan dan akan memberi kenikmatan lebih tinggi dalam memahaminya.

Yang dialami seorang insan yang terlahir di dunia ini, sungguh-sungguh amat pribadi dalam mengelola sukatidaksuka yang telah dan akan dialaminya. Lalu bukankah tidak berlebihan kalau saya katakan telah terjadi perbedaan, bisa tajam bisa juga halus, antara orang tua dengan anaknya dan sebaliknya? Antara paman/bibi dengan kemenakan?? Antara guru dan murid. Antara dpr dan pemerintah?

Yang paling saya tengarai akhir-akhir ini: adalah besar sekali kemungkinan kita yang telah menikah itu TELAH MENGAMBIL RISIKO YANG AMAT TINGGI karena hidup bersama dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya? Waktu sedang bercinta-cintaan, mata dan hati kita menjadi buta dan mati rasa. Kemudian terbukalah sifat-sifat dan pandangan-pandangan asli pasangan kita, yang pada kenyataannya banyak berlawanan atau berbeda. Ketika Rumah Tangga mulai berjalan maka dunia kewajiban dan keharusan, ini dan itu, mulai terbentang lebaaarr. Toleransi? Sampai sejauh mana? Maka terbelalaklah mata kita !!

CATATAN: Kata penyelia dan menyelia saya gunakan untuk menajamkan arti mengawasi dan yang biasa dipakai di dalam bahasa Inggris terhadap kata: SUPERVISE. Dengan demikian maka supervisor adalah penyelia atau pengawas. Kata ini belum biasa dan tidak saya temukan didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia 2012 dan Tesaurus Bahasa Indonesia, saya dapatkan karena pernah ditulis oleh seorang ahli Bahasa Indonesia yang menuliskannya di media cetak beberapa tahun yang lalu.

 

Anwari Doel Arnowo 

2012/12/12  Tanggal yang katanya kiamat tetapi tidak jadi, sama sekali tidak terbukti ….

 

10 Comments to "Sukatidaksuka"

  1. Alvina VB  2 January, 2013 at 04:16

    Pak Anwari,

    Selamat Tahun Baru….tulisan yg menarik….

  2. J C  1 January, 2013 at 22:55

    Pak Anwari, saya semakin memahami prinsip yang diajarkan orangtua saya: semeleh… biarkan mengalir saja (bukan pasrah dan mandah lho).

  3. Linda Cheang  1 January, 2013 at 17:42

    Mantap Pak Anwari.

    Yang jelas buat saya, kita ini tak akan selalu bisa membuat orang lain merasa suka atau senang.

  4. Handoko Widagdo  1 January, 2013 at 16:57

    Resep saya sederhana saja supaya hubungan kami (keluarga) bisa sakinah. Saya tidak pernah berharap anggota keluarga saya berubah sesuai dengan keinginan saya. Tetapi saya berupaya menyesuaikan diri dengan mereka apa adanya.

  5. Silvia Utama  1 January, 2013 at 13:25

    Selamat tahun baru juga buat Lani. Smg thn 2013 mjd tahun yg lbh baik dr thn 2012 buat Lani.

  6. Lani  1 January, 2013 at 11:08

    SU : horeeeeee………legalah hati ini. SELAMAT TAHUN BARU 2013…….all the best

  7. Silvia Utama  1 January, 2013 at 06:32

    Enggak lah Lan.

    Yang aku ga nyaman itu salah satu nya berhubungan dg org yg pakai alasan pokoke apa2 yg berhubungan dg grup nya itu sdh pasti OK. Jadi mau ada yg melakukan kekerasan thd sesamanya jg tetap saja di dukung terus dan bilang berita2 negatif itu karena propaganda Barat,Zionisme. *tepok jidat

  8. Lani  31 December, 2012 at 13:23

    PAM-PAM : hehehe………kamu diselip SU……..runner up

    SU : moga2 aku tdk termasuk org yg tdk kau sukai……….hahaha

  9. [email protected]  31 December, 2012 at 08:14

    satoe…

  10. Silvia Utama (SU Bumi)  31 December, 2012 at 07:48

    Saya suka sama tulisan2 Pak Anwari. Banyak pelajaran yg bisa diambil

    Kalau saya sudah tidak nyaman berhubungan dg seseorg, ya saya akan ambil jarak. Seandainya org tsb di kmdn hari membutuhkan bantuan saya, sy akan tetap membantu tapi tetap ambil jarak. Ada org2 dg karakter tertentu yg membuat sy tdk nyaman dlm berhubungan.

    Yg jelas kalau sy tidak suka biasa terlihat jelas di wajah saya. Kata org2 baiknya itu kalau perasaan bisa disimpan dalam2 dan tdk terbaca di wajah. Betulkah hal ini?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.