Ketika Ayu Lebih Cinta Jogja daripada Paris

Djodi Sambodo

 

Prolog:

Ayu Tria Desiani yang telah menjadi anak negeri, anak bangsa dan anak kita, dalam perjuangannya melawan kanker darah hampir sepanjang hidupnya, meninggal dunia di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita milik pemerintah di penghujung tahun pada tanggal 27 Desember 2012. Kehadirannya menjadi sangat terasa ada di saat kepergiannya. Berita ketersiaannya saat mengais tangan-tangan ahli penyambung nyawa telah membuat sayatan luka. Mengiris tipis di permukaan tapi perihnya dalam menusuk relung hati.. Dialog-dialognya yang terlahir di bawah ini bukanlah hal yang sebenarnya tetapi sakit dan kematiannya adalah kenyataan yang buruk bahwa Rumah Sakit dan Pembuat Sinetron TV lebih mengutamakan bisnis dari pada menyelamatkan pasien kritis.

Ayu Tria

 

Dialog:

Ayu: “Ayah, apakah tahun baru nanti Bidadari itu datang?”

Ayah: “Tentu, nak.”
Ayu: “Tahun baru ini Bidadari itu pasti datang ya, Yah?”
“Sebetulnya, Ayu kan tidak suka minta-minta, Ayah.”
“Ayu cuma ingin Bidadari itu bawa obat ajaib. Obat yang bisa bikin darah Ayu bersih.
Kalau sudah sembuh, badan Ayu tidak dingin lagi. Nggak nyusahin Ibu cari selimut. Ayah juga enggak usah bawa ke rumah sakit. Mana hujan-hujan, macet dan banjir lagi ya, Yah.”
“Kalau sudah sehat nanti Ayu ingin naik ke puncak Candi Borobudur. Ayu enggak mau naik menara tinggi seperti di Paris itu. Ayu ingin ke Jogya saja, Ayah.”
“Tapi Ayah, kenapa banyak yang datang, berisik dan ada kamera besar? Apa ada yang sakit seperti Ayu? Ayu suka diambil gambarnya. Biar bisa cerita ke teman-teman. Jangan seperti Ayu ya, Ayah. Sakit kan enggak enak.”
“Ngambil gambarnya enggak usah lama-lama. Enggak perlu banyak orang dan enggak usah bawa banyak barang-barang ya, Ayah. Pakai Hand Phone saja. Seperti punya Ayah kan ada kameranya?”
Ayah: “Om-om itu lagi syuting, Nak.”
Ayu: “Syuting itu apa sih, Ayah?”
Ayah: “Seperti yang ibu lakukan waktu kamu ulang tahun. Ibu ambil video pakai HP Ayah waktu kamu potong kue ulang tahunmu.”
Ayu: “O, jadi ada yang ulang tahun ya, Ayah?”
Ayah: “Bukan, Nak. Ada bintang film yang pura-pura sakit untuk sinetron di TV.”
Ayu: “Kenapa kok pura-pura sakit, Ayah? Ayu, suka yang benar-benar. Ayu ingin semuanya bisa melihat hidung Ayu yang suka keluar darah. Ayu ingin semuanya tahu kalau perut lagi melilit dan kepala pusing. Biar semuanya melihat Ayu yang lagi menangis kesakitan.”
“Alat suntikannya kan benar-benar masuk ke tangan. Lihat itu Ayah. Ada darah di-selang-selang. Ayah bilang Ayu lagi dikasih makan air plastik yang di gantung itu. Rasanya enggak enak. Tenggorokan Ayu sakit dan pahit, Ayah.”
“Kalau pura-pura, kan kasihan yang benar-benar sakit. Jadi engak bisa pakai alat-alat berobat karena dipinjam bintang film-nya.”
“Ayah, tidur di samping Ayu saja. Di sana kan penuh sama Om-Om yang pada tidur-tiduran. Mereka capek karena bawa-bawa gulungan kabel dan lampu-lampu. Sudah gak bising lagi, Ayah.”
“Ayah!!! Badan, Ayu tidak enak. Semuanya terasa sakit, Ayah.”
(Badan Ayu mendadak tidak stabil dan demam. Suhu badannya naik turun)
Ayah: “Sabar ya, Nak. Ayu pasti sembuh.”
Ayu: “Ada suara nyanyian, Ayah. Bidadari itu datang! Bidadari itu datang, Ayah! Ayu enggak ngerti nyanyiannya. Bidadarinya ingin ajak Ayu pergi.”
“Ayahhh…!!!”
(Tiba-tiba kepala Ayu terkulai dan genggaman pada lengan ayahnya terlepas. Ayu menghembuskan nafas terakhirnya.)
Nyanyian Bidadari: “I need some distraction, oh beautiful release
Memories seep from my veins
They may be empty and weightless, and maybe
I’ll find some peace tonight

In the arms of an Angel, fly away from here…..”
(Sebait lirik lagu yang didengar oleh Ayu.)
 
Ayah: “Ayu! Ayu! Bangun, Nak.”
(Ayah berusaha membangunkan Ayu. Tapi tubuh anaknya tetap diam dan Ayu telah meninggalkan ayahnya untuk selama-lamanya)
 

Epilog:

Ruang ICU Rumah Sakit yang harusnya tenang dan digunakan khusus untuk penyembuhan pasien yang kritis telah disewakan bukan untuk merawat orang yang sakit hanya karena kepentingan bisnis. Sebuah production house telah menyewanya untuk pembuatan film sinetron. Setting untuk adegan ‘dirawat di rumah sakit’, benar-benar ingin dilakukan secara nyata di rumah sakit. Setting lokasi buatan sepertinya sudah tidak laku bagi dunia perfilman sehingga lebih suka memilih tempat yang riil dan nyata, walau di sekilingnya ada yang sedang sekarat antara hidup dan mati.

 

*** (by dbs, 28des12-dedicated for Ayu Tria Desiani)

 

3 Comments to "Ketika Ayu Lebih Cinta Jogja daripada Paris"

  1. Dewi Aichi  6 January, 2013 at 20:34

    Semoga tidak terulang lagi kejadian seperti ini. Bagaimanapun rumah sakit , apalagi ruang ICU, adalah mengutamakan pasien. bukan justru kru film yang menempati,.

  2. anoew  6 January, 2013 at 14:53

    Miris. Situasi RS yang seharusnya tenang jadi terusik oleh kegaduhan pembuatan sinetron yang justru kurang peduli dengan orang sakit. Lebih miris lagi, direktur RS tersebut lebih mementingkan bisnis. Popularitas? Benar juga, sekarang RS itu jadi semakin populer.

  3. Handoko Widagdo  6 January, 2013 at 12:27

    DS, semoga kisah pilu seperti ini tidak lagi terulang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.