“Ssst..! Lila, Bangun!”

Pratiwi Setyaningrum

 

 Ini repost cerpen dari awal tahun 2009 dulu. Kepada temans yang dulu sudah ikut komen dan memberikan petunjuk-petunjuk, suwun sanget. Semoga kali ini sudah tak ada lagi kesalahan tulis. Jika masih, tulung koreksinya yaa.. suwun. Semoga berkenan ^_^)

———————————————

 

Braang! Braang! Praang!!

“Ssst..! Lila, Lila, bangun!”

“Ayo, cepat kalungkan buntelan baju ini di badanmu dan cepat angkut juga apa saja yang yang ada di dekatmu itu! Jangan beb-bersuara!” kudengar suara Yani, kakakku yang terlihat masih berumur 11 tahunan membangunkanku. Aku terbangun kaget dari dipan kayu, hampir terguling jatuh, dipan ini kok kecil sekali sih? Kok dipan sih?

“Ada apa kak? Kita baru saja tidur bukan?” sahutku sambil mengerjap-kerjapkan mata terkena silau lampu bohlam yang anehnya berwarna biru.

“Ssssh! Lila! Cepatlah!” desis kakakku terdengar tak sabar. Dia tampak luar biasa panik. Sejenak aku terpesona menatap kakakku, sungguh tidak biasa. Selama ini aku terbiasa dengan sifatnya yang selalu kalem dan terkendali, wajahnya tampak dingin. Bahkan saat sedang tertawa, matanya tetap mengkilat tak terbaca. Seperti arca. Aku telah terbiasa dengan batu di sebelahku. Maka, sebenarnya, tampangnya jadi terlihat lucu sekali saat ini, matanya tampak hidup dan kilaunya menari-nari, kakakku cantik sekali.

“Tunggu aku Kak!” Oh oh oh, aduh, aku belum temukan sandal merahku, oh oh oh, cerek besar isi teh manis ini harus ku bawa juga… Hekk! Astaga berat sekali! Aduh aduh! Aneh, biasanya aku kuat lho? Pikirku keheranan.

“Lilaa! Kau lama sekali. Hei, apa yang sedang kau lakukan? Kau kan masih umur 9 tahun, dengan badan sekecil itu mana mungkin kuat? Sudahlah lepaskan saja cerek itu. Ayo, kita sudah tertinggal jauh!” kembali kakak memarahiku sambil berdesis, sambil bolak-balik menengok dari celah jendela gubuk tempat kami berada. “Gubuk?” pikirku makin heran.

Sementara itu suara teriakan-teriakan dan benda-benda dibanting serta ditendang mulai terdengar dari arah kiri dan kanan kami, makin lama makin keras. Oh oh oh! Aku bingung! Aku panik! Sekarang betul-betul panik.

Belum selesai usahaku untuk menyeret cerek itu ke pinggir, tangan kecilku sudah ditarik kakakku. Aku berikut semua bundelan besar entah apa yang tadi dikalungkannya di badanku, ditariknya menyelinap keluar dari gubuk kemudian aku dibawanya berlari kencang-kencang.

Aku berlarian terseok-seok ditarik kakakku. Sejenak kutengok ke belakang, ke arah bangunan “gubuk” kami itu. Serentetan kenangan mendadak saja muncul di kepalaku, membuat cara pandangku pada gubuk ikut berubah: redup, pilu.

Sebenarnya itu sebuah warung kecil yang semi permanen, lebih menyerupai lapak darurat, dibuatkan oleh tetangga kami, Pak Dudi, tukang angkut sampah yang baik hati. Orangnya kurus kering, tetapi hatinya besar sekali. Sungguh dia punya senyuman malaikat!

Yah, setidaknya begitulah menurut kami, karena Pak Dudi lah yang setahun lalu telah menjadi dewa penolong kami. Beliau mau menampung kami saat kami tersesat di terminal. Bagaimana kejadiannya? Ah akan kuceritakan lain kali, yang pasti kemudian beliau mengajak kami ke daerah kumuh ini. Setiba kami di rumah, dikenalkannya kami pada istrinya, wanita gemuk yang menyambut kami dengan ramah. Singkat cerita, akhirnya Pak Dudi membuatkan warung minum sederhana. Kami disuruhnya untuk menunggui warung, dan dibayar tiap seminggu sekali Rp.50.000,- untuk kami meneruskan hidup. Ah, iya ya, bagaimana pula nasib Pak Dudi dan istrinya? Akan kutanyakan nanti pada kakakku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana pula nasib kami jika orang jahatlah yang mengambil kami dari terminal saat itu, hiiih, bergidiklah aku…

Kami terus berlari. Tanganku tidak dilepaskan kakakku. Aku bisa merasakan lembab keringat di telapak tangannya yang menggenggam erat-erat itu. Kami sambil merunduk berlari berzig-zag dari pinggiran satu gubug ke gubuk yang lain, berusaha menjauh dari asal suara teriakan-teriakan itu.

Sekencang-kencangnya kami terus berlari sambil berzig-zag. Suara-suara kaki-kaki kecil kami begitu serabutan tetapi suara-suara itu bagiku cuma terdengar samar-samar. Yang terdengar jelas olehku adalah suara berdegap-degup dan sesuatu yang lain: berdentam-dentam. Dag-dug! Dag-dug! Memekakkan telingaku. Panik kutengok kiri-kanan kami, tetapi tidak ada apapun di sana, hanya gelap semata. Rupanya itulah suara degap-degup jantungku sendiri, suara engah-engah kami, suara denyut-denyut ketakutan kami. Kami terus berlari.

Aku masih tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Setahuku kami harus segera melarikan diri dari tempat ini, secepatnya! Sejauh-jauhnya! Tidak tahu alasannya, tapi tidak bisa berhenti, walau nafas pengap mampat sudah, tidak boleh berhenti, walau sudah berdarah-darah kaki kami, harus, harus harus! Kami harus bisa kabur dari sini!

“Hei, coba diam sebentar! Aku seperti mendengar suara-suara langkah!” dari kejauhan kami masih bisa mendengar percakapan para pengejar kami.

“Mana, Ben? Tempat ini sepertinya sudah sekitar setengah jam lalu ditinggalkan. Kita terlambat lagi! Sudahlah, ayo kita kembali saja. Aku capek lari-larian sejak tadi!” demikian terdengar suara serak dari orang yang lain lagi.

“Ssst, diamlah dulu Bud. Aku tadi benar-benar dengar suara orang berlari. Diamlah dulu!”

Kakakku tiba-tiba menghentikan larinya, aku hampir pula menabraknya. Kami beringsut bersembunyi di balik rerimbunan pepohonan entah apa dan mencoba mendengarkan. Ah, sungguh susah sekali, karena telingaku masih riuh dengan suara-suara ketakutanku sendiri.

“Hah! Terserahlah Ben! Aku mau pulang saja. Heaa..!”

Braang! Braang! Praang!!

“Yang tersisa di sini cuma piring-piring kotor! Hey, teman-teman ayo cabut! Jangan lupa, sambil balik arah, sekali lagi kita sisir tempat ini. Kata Boss jangan sampai ada yang tercecer, katanya kerna pelicinnya sudah dia terima tadi pagi. Upah kita akan langsung dibayar malam ini. Nah, Aku mau tinggalkan semua kekacauan di sini. Aku ada janji dengan Rukmi si jalang itu, hahaha..! (terdengar suara-suara lain ikut tertawa, riuh, mengerikan)  Andi! Kau urus sampah-sampah ini ya, panggil bagian kebersihan! Suruh bawa truk. Panggil sekalian orang-orang Madura pedagang barang bekas itu. Kita panen raya. Been! Aku duluan!”

“Iyalah, terserah kamu, boss! Hahaha.. Ayo semua, balik kanaaan..!”

Eehh, kok mereka mengarah ke arah kami? Ada sekitar sepuluh laki-laki berbadan besar, memakai seragam gelap dengan celana berkantong-kantong besar muncul, melangkah dengan balok kayu di tangan, menyebar di sekeliling tempat persembunyian kami. Suara debam sepatu-sepatu boot dan sabetan kayu mereka merusak bangunan-bangunan gubuk sungguh menggentarkan hati.

Di tempat persembunyiannya, kakakku yang juga berjongkok bergerak-gerak gelisah. Mukanya pucat. Aku yang juga sedang berjongkok di gerumbul lain jelas-jelas resah dari tadi. Mukaku pasti juga pucat. Aku tak ingin tertangkap. Aku pernah dengar tentang bisnis penjualan anak-anak. Anak-anak yang berhasil ditangkap dari jalanan itu konon akan dimasukkan ke ruangan gelap lalu dipindah-pindahkan dari truk ke truk lain layaknya barang tak berjiwa. Dikirim ke negeri-negeri entah. Ada yang dijual ke lelaki-lelaki psikopat, ada yang dikirim ke pabrik-pabrik barang ilegal, atau tangan-tangan kecil itu akan disuntik dan dicap dengan besi panas, seperti label sapi, lantas mereka yang tak sadarkan diri ditelanjangi, ditidurkan di brankar-brankar kotor, keluar masuk laboratorium pemeriksaan, bergiliran masuk ke ruang operasi untuk diambil dan dijual organ-organnya. Mereka, atau tepatnya yang tersisa dari tubuh anak-anak itu kemudian berakhir di mana? Mungkin di tungku pembakaran raksasa. Mungkin dikubur bertumpuk dalam satu lubang. Hilang tak berbekas. Tidaak!!! Omigod! Bagaimana ini.. Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. bagaimana ini?!

Aku makin panik. Namun, aduh, argh, tiba-tiba perutku sakit. Huwaa aku pingin pipiss! Aduh-aduh, di mana kakakku tadi? Oh oh aku tidak tahan lagi, di mana aku bisa pipis? di sini di balik gerumbul ini? Ergh.. Ah biarin deh, aku sudah tak tahan lagi. Aku menyelinap ke balik gerumbul, kuturunkan rok dan celanaku lalu aku pun berjongkok.

Serrr… oohhh… le-ga-se-ka-liiii…

 

***

 

Plik.

Kelopak mataku terbuka..

Uh, lampu itu terang sekali. Aku mengerenyit.

Seperti tersengat lebah, aku melompat bangun. Tanganku otomatis meraba-raba, memeriksa kasur di bawah pantatku.

Haaaah, untungnya tidaak, desahku lega sambil nyengir. Wuuuiiihh.. Astaga tubuhku sakit semua, keringatku membanjir..

SANYO DIGITAL CAMERA

Dengan muka kusut kutengok jam beker digital yang bersinar biru di atas meja kecil di samping tempat tidurku, ternyata baru jam tiga pagi. Duh, kebelet pipis beneran nih. Malas-malasan aku bangun dari tempat tidurku yang luas dan empuk, mengakibatkan koran yang tadi malam kubaca terjatuh dari tempat tidur. Bisa terlihat tajuk utama nya tertulis : “Penggusuran Rumah-rumah Kardus Daerah Kumuh Meminta Korban!” Sejenak aku tertegun. Kugeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat, berusaha menepis bayangan kengerian yang barusan kualami. Aku teringat ajakan seorang teman untuk lebihcare pada aksi-aksi sosial kepada kaum marjinal ini. Sekarang, aku mengerti.

Aku berjalan menyeret sandal merahku, beranjak ke luar kamar, menuju kamar mandi. Dalam perjalanan ke kamar mandi, kulewati kamar kakakku, Yani. Ah ya.. itu dia aslinya. Kak Yani. Beda umur kami cuma tiga tahun. Ia adalah seorang pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan terkenal. Oleh murid-muridnya ia dikenal dan dicintai sebagai “MS Yayan”. Orangnya “Cool“, yakni kadang galak, tapi benar-benar manis, kami tahu kegalakannya itu semata kerna ia sayang.

Hmm, seperti apa komentarnya nanti kala kuceritakan tentang mimpiku tadi ya? Tapi, tapi, bagaimana nasib dua anak kecil itu? Apakah mereka berhasil meloloskan diri dan berkumpul lagi dengan keluarganya? Hh.. Sungguh maaf, aku tak mau mimpi seperti itu lagi. Terlalu horor.. (Fin.)

 

3 Comments to "“Ssst..! Lila, Bangun!”"

  1. anoew  6 January, 2013 at 14:43

    Haha mantabs, lincah sekali bahasanya dan bikin terengah-engah. Untung cuma mimpi.

    *jadi teringat si Bobi dengan burung kakaktuanya*

  2. elnino  6 January, 2013 at 13:33

    walaaah! untung cuma mimpi. bacanya sambil deg2an….

  3. Handoko Widagdo  6 January, 2013 at 12:31

    Horor betul

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.