Kisah di Balik ’10 Hari Tapa Bisu’

Ary Hana

 

Istilah Vipassana pertama kubaca dari sebuah buku karangan Kiran Bedi akhir tahun 1999. Aku lupa siapa penerbitnya saat itu, namun kawanku (Mukri) meminjam bacakan buku itu kepadaku. Buku berkisah tentang pengalaman Kiran Bedi, wanita yang mengelola penjara terbesar di India, tepatnya di Tihar. Dalam penjara itu ada hampir 10 ribu orang, yang keras perangai dan hatinya. Dengan sentuhannya yang lembut, Kiran Bedi mengubah penjara beraroma neraka menjadi tempat yang lebih damai dan manusawi. Salah satunya dengan melakukan program Meditasi Vipassana, yang diikuti oleh orang hukuman maupun sipir penjara.

Aku tak begitu ingat lagi detil dalam buku itu. Namun ada sebuah kisah lelaki tua yang menangis tersedu-sedu paska mengikuti meditasi. Dia menyesali perbuatannya membunuh seseorang, demi melampiaskan dendamnya atas kehilangan anaknya. Ada lagi perangai seorang sipir yang berubah menjadi lebih sabar usai mengikuti meditasi. Tak lagi suka mengomel atau bertindak mirip brutal dia, baik kepada orang hukuman maupun keluarganya. Kini, buku ini kembali diterbitkan Yayasan Obor, bertajuk It’s Always Possible’. Kalau kau ada sedikit waktu, kusarankan membacanya. Tidak rugi. Sungguh!

vipassana

Nama Vipassana kembali mengaduk-aduk ingatan ketika beberapa kawan long term traveler menyebutkannya dalam perjalanan terakhirku keliling Asia Tenggara baru-baru ini. Kawan-kawan yang kujumpai selama perjalanan ini bukan sekedar turis yang mengunjungi Asia dalam hitungan minggu atau bulan, tapi berbulan-bulan, bertahun-tahun, mereka hidup mengembara dari satu negara ke negara lain, berbekal satu ransel besar, dan kadang sebuah sepeda. Mark dan Tine misalnya, meninggalkan negara asalnya, Afrika Selatan, tiga tahun lalu. Mereka menjadi nomad, dan sempat mempelajari Vipassana di India. Lalu OA, si Arab Amerika yang muslim, merasa perlu mengikuti Vipassana di Phnom Penh.

“Aku tertarik dengan Vipassana dan ajaran Buddha khususnya, karena lebih menekankan pada pengendalian diri  sendiri. Bukan sekedar dogma agama, larangan ini itu, atau ancaman dan iming-iming surga-neraka,” kata OA waktu itu.

Iseng kutanya Mark. “Apa hasilmu mengikuti Vipassana, Mark?”

“Aku merasa lebih fokus dalam mengerjakan sesuatu, dan tidak gampang panik menghadapi berbagai masalah dalam hidup. Dunia jadi terlihat lebih indah,” katanya sambil tertawa. “Tapi aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuh pada hari ke-8 Vipassana. Sungguh tak tertahankan.”

Penjelasan Mark kujadikan acuan saat mengikuti Meditasi Vipassana di Klaten akhir tahun 2012. Hari ke-8, badan sakit semua. Ternyata, rasa sakit justru kurasakan di hari ke-3 malam. Itupun hanya sekejap. Sisanya tubuhku justru terasa amat ringan, kadang-kadang dilingkupi panas. Kelak kutahu reaksi tubuh para meditator memang berbeda-beda. Tak ada yang sama. Tak ada. Sedikit mirip mungkin ada. Tapi sama? Tak ada!

00000

Sore itu berkumpul 30 orang di Wisma Dhamma Java Klaten. Ada 21 orang perempuan, 9 lelaki. Separo di antara peserta meditasi adalah orang asing, 9 berambut pirang atau berwajah mat saleh, sisanya dari negeri-negeri Asia. Usai pendaftaran, aku memasuki asrama untuk siswa baru. Ruang mirip aula seluas sekitar 10mx4m, yang di sekat-sekat di kiri dan kanan dengan semacam kayu, menjadi tempat tidur untuk 16 orang. Tapi kami hanya ber-13. Delapan siswa lama menempati aula di sisi kanan. Di antara sekat-sekat itu menempel jendela tinggi yang gampang dibuka tutup untuk menikmati segarnya udara luar. Di ujung kamar ada pintu yang menghubungkan dengan empat kamar mandi dan empat wastafel di luar.

Meditasi pertama malam itu digelar. Aturan diterapkan. Ada lima larangan yang harus kami patuhi, di antaranya tak membunuh binatang, tak melakukan hubungan seksual, tak berbohong, tak mengonsumsi obat-obatan dan zat terlarang, serta tak boleh bicara.

Kecuali kau pecandu rokok atau minuman keras, keempat aturan pertama sama sekali tak masalah. Namun tak bicara? Tapa bisu? Aku sungguh tertarik mengamatinya. Manusia itu makhluk sosial, selalu butuh berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Andai kami mengikuti pendidikan latihan dasar kepencintaalaman yang disebut survival, ditempatkan pada area hutan tertentu, tak berkomunikasi tentulah hal mudah. Tapi kami tinggal di ashram yang sama, bertemu 24 jam sehari, mampukah kami tak bicara, menghindari kontak fisik langsung maupun tak langsung selama 10 hari? Aku meragukannya. Maka akupun tertarik mengamati. Setidaknya dalam diam mataku akan bebas mengawasi, memperhatikan orang-orang.

Bagiku, membisu itu menyenangkan. Mungkin itu sebabnya beberapa kawan menyebutku autis, asosial. Di rumah pun, dalam sehari aku bercakap kurang 50 kata dengan ibu dan adik-adikku. Kalau tak perlu bicara, mengapa harus bicara? Namun aku dapat berbincang sepanjang malam dengan kawan-kawan yang ‘pas’. Kami membahas apa saja, dari soal program kemanusiaan, antropologi, plesiran, hingga hal-hal remeh mengapa gigi orang tak ada yang benar-benar putih.

Dari ke-20 meditator yang kujumpai malam itu, aku baru berbincang dengan Susan, si seniman handycraft dan Romina, pekerja sebuah NGO di Timur Leste. Sempat pula aku berbincang dengan Nicole, perempuan Australia yang sudah dua tahun menetap di Bali. Dia tampak exciting sekaligus gelisah, penuh energi sekaligus cemas. Tak banyak orang yang rela dan mau menyisihkan 12 hari di akhir tahun, melewatkan berbagai acara liburan demi sebuah meditasi. Jadi kurasa, membisu selama 10 hari sungguh terasa menyenangkan.

Aku tak hendak menceritakan teknis Meditasi Vipassana di sini. Kau dapat membacanya di www.dhamma.org dengan lengkap. Atau mencarinya di internet. Begitu banyak informasi. Aku lebih suka mengamati perilaku para meditator, dan bagaimana mereka bereaksi dari hari ke hari, melewatkan waktu 10 hari yang terasa ‘panjaaaang’ itu. Aku juga mengamati diriku sendiri. Kali ini kujadikan diriku sebagai kelinci percobaan, dengan sukarela.

 

00000

 

vipassana1

1.Tentang Tapa Bisu

Kami hanya diperbolehkan berbicara dengan pihak manajemen, yakni Jenny, yang mengurus segala keperluan kami. Mulai menyediakan tissu untuk toilet, membuang sampah, mengatur jadwal pertemuan dengan guru, hingga menyediakan obat nyamuk dan salep anti linu. Betapa sabar dan baiknya perempuan muda satu ini, terbaca dari langkah kakinya yang nyaris tanpa bunyi.

Kontak fisik pertamaku dengan Ibu Anne, peserta tertua berumur 64 tahun. Entah mengapa namaku terdaftar dua kali. Ibu Anne menduduki kursi buatku. Saat kududuk di sana, dia protes sambil menunjuk kertas yang tertera di meja itu. Aku juga menunjuk kertas yang sama. Namaku tertulis dalam huruf cetak, namanya dalam coretan ballpoint. Memang tak ada suara keluar, namun tak urung membuatku tertawa campur takut di dalam hati.

Kontak keduaku dengan Yuli, gara-gara handuk yang kujemur di terali jendela jatuh ke bawah. Kami tinggal di lantai dua. Yuli mengambilkannya, lalu melempar handukku ke atas. Tapi jatuh lagi. Lalu dia memberi tanda memutar, yang berarti akan membawa handukku ke atas. Tak ada kesengajaan. Tapi begitulah, kami kan bukan patung atau gedebog pisang. Jadi pasti ada kontak.

Di ruang meditasi, paska meditasi berjam-jam, kulihat beberapa meditator mengalami kesakitan. Ibu Tan, yang duduk 2 jarak di kiriku, pada hari terakhir meditasi, akan menunjuk-nunjuk dua betisnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Andai di saat normal, akan kupijit dia dengan senang hati. Tapi di kala tapa bisu, aku hanya dapat memalingkan muka sambil menahan tawa.

Di samping kiriku, tepat duduk May Loh. May pun merasa kesakitan dengan kakinya. Gayanya selalu memijat-mijat telapak kaki sambil sedikit melakukan senam. Kelak di hari terakhir meditasi, dia akan berteriak ‘No more.. no more meditation. Oh Gosh!”

Kurasa Susan yang duduk di kananku pun mengalami rasa sakit di kaki. Hingga hari terakhir dia sibuk mengatur bantal-bantal di kakinya, membuat posisi duduk yang paling nyaman. Meditasi kali ini tidak main-main, 12 jam sehari. Dimulai 2 jam di waktu subuh (04.30-6.30), 3 jam paska sarapan (08.00-11.00), lalu 4 jam usai makan siang (13.00-17.00) dan berakhir 3 jam malam diselingi ceramah (18.00-21.00). Pada hari ke-6 atau ke-7 (aku lupa), kami diwajibkan melakukan aditthana, meditasi 1 jam tiga kali sehari dengan tubuh tegak seperti patung. Tak boleh tubuh bergerak, mengubah posisi tangan atau kaki. Awalnya aku pun mengalami kesakitan, lalu rasa sakit menghilang (dengan menyugesti diri). Anehnya ketika aku merasa sombong dengan memamerkan tak ada lagi rasa sakit, rasa sakit di kaki lalu menyerang hebat. Aneh memang!

Kontak tak sengaja juga dialami kawan-kawanku yang lain. Saat Romina mengganti galon air minum, seseorang membantunya mengangkat. Dia lalu mengacungkan ibu jari tanda terimakasih. Atau saat seekor burung masuk ke beranda kamar kami, aku membungkuk membuka pintu karena seorang rekan mirip kaget. Dia melebarkan kedua tangan, tanda terima kasih. Bu Anne pun sering menggoda kami dengan kata-katanya, gerakannya yang membuat kami geli. Tapi bagi kami, mungkin begitu seharusnya berlangsung. Tapa bisu yang tak benar-benar bisu. Karena kami bukan patung ‘Lembuswana’.

Namun tapa bisu membuat peluang ‘menggosip’, berkisah tentang orang lain, atau melebih-lebihkan kisah diri sendiri mengerut, menghilang. Membuat larangan ‘tidak boleh berbohong’ dapat ditegakkan. Mau berbohong kepada siapa? Angin? Tembok? Terpikir olehku, andai dalam sehari saja manusia mau melakukan tapa bisu, alangkah indahnya dunia. Karena kita menjadi lebih peka terhadap bunyi sekitar.

Bagaimana tak indah? Di ruang makan yang terdengar hanya denting sendok, garpu, dan piring. Musik pengantar istirahat. Di kamar yang kudengar hanya bunyi pintu kamar di buka tutup, kucuran kran dan air di kamar mandi, hingga tapak langkah orang di lantai. Pada pukul empat pagi kudengar lonceng dipukul. “teng.. teng.. teng” hingga tujuh kali.

Karena terbiasa, aku jadi bisa mengira-ngira siapa yang melangkah walau mataku terpejam. Langkah kawan-kawan bule akan terasa berat dan cepat. Langkah kawan Indonesia ringan dan nyaris terangkat tumitnya. Langkah Jenny tak terdengar, tahu-tahu dia sudah di sampingmu sambil berkata, “Meditasi sampai jam 5 sore lho, jangan tidur.”

Lewat tapa bisu kami pun belajar bertenggangrasa. Di awal-awal meditasi, suara dengkuran keras terdengar di kamar saat tidur malam. Begitu kerasnya sehingga kurasa pasti ada yang terganggu karenanya. Tak ada yang berteriak protes, marah-marah, walau mungkin hatinya mendongkol. Dengan berlalunya hari, dengkuran semakin lembut hingga akhirnya menghilang. Meditasi menyembuhkan dengkuran? Kurasa demikian. Dan pada hari kami menyudahi tapa bisu, tak kudengar umpatan pasal dengkuran. Malahan kawan bercerita tentang dengkuran itu sambil tertawa. Ringan. Bahagia.

 

2.Tentang Makanan

Penggemar kuliner kurasa yang paling merana pada meditasi kali ini. Namun gerombolan siberat akan merasa paling gembira di akhir meditasi. Bagaimana tidak? Meditator hanya mendapat jatah makan dua kali sehari. Pagi usai meditasi jam 6.30, dan siang jam 11.00. Menu yang disajikan jelas vegetarian, walau masih ada susu dan roti. Biasanya menu bervariasi. Pada sarapan misalnya, berselang-seling nasi goreng jagung, bubur dengan kuah sayur tahu, bubur sumsum, bihun goreng dan selalu ada roti tawar dengan segala isinya.

Pada makan siang kulihat setidaknya ada dua jenis sayur, lauk berupa tempe atau tahu, dan buah. Krupuk dan sambal selalu ada di dua acara makan. Demikian pula dengan minuman mirip susu, kopi, teh, jahe, dan lainnya. Meditator boleh memilih sesuai seleranya.

Pada petang hari, meditator baru akan mendapat buah, ubi goreng, dan minuman. Sedang meditator lama hanya minuman. Setelah itu kami hanya boleh minum air putih. Bagiku puasa dan diet macam begini tak masalah. Toh kuhabiskan sebagian malam dengan tidur. Bagi beberapa kawan, timbul masalah. Baik karena penyakit maag atau tak terbiasa tidur dengan perut kosong. Bunyi ‘kukuruyuk’ dari perut pada meditasi di subuh atau saat tidur bukan hal aneh. ‘Kukuruyuk’ yang ditimpali ‘Tuuut’, kentut karena masuk angin atau perut kosong.

Namun aturan soal makan ini tak ketat. Penderita maag yang menyatakan keluhannya kepada pihak manajemen akan mendapat setangkup roti tawar tanpa isi. Jadi masih ada dispensasi. Di akhir meditasi, berat badanku turun 3 kilo. Berat badan teman-teman pun rata-rata turun antara 1-3 kilo. Pantas badan menjadi sangat ringan seolah hendak terbang.

Ada lagi perilaku menyenangkan yang kuamati seputar makanan. Mengikis kerakusan. Pada hari-hari awal meditasi, jika aku turun terlambat untuk makan pagi atau siang, kujamin beberapa makanan sudah tandas. Lauk makan siang seperti tempe atau tahu bacem sudah menghilang dari piring, karena ada peserta yang mengambil lebih dari satu lauk. Roti pun kerap habis. Jadi yang lambat turun mesti menerima sisa makanan. Kurasa ini berkaitan dengan perubahan mendadak ukuran dan jadwal makan, membuat sebagian peserta kelaparan. Namun di hari-hari akhir, selalu tersisa menu. Ibu Anne akan bilang, “Jangan ambil semua, masih ada yang belum makan.’ Kami memang dilarang berbicara, tapi kata-kata Bu Anne sungguh patut didengar.

Aku sendiri selalu merasa kenyang hingga hari ke-5. Terlalu banyak duduk membuat sistem pembuangan di tubuh tak lancar dan mengeras. Baru di hari ke-6 dan seterusnya aku merasa kelaparan. Cuaca dingin akibat hujan yang terus mengguyur sepanjang sore hingga malam, membuat persediaan lemak di tubuh berkurang drastis. Setiap makan siang, selalu kuambil 2-3 mangkuk sayur. Saat sarapan, bihun goreng plus roti tawar beroles mentega baru mampu mengganjal perutku. Beruntung aku tak punya maag, namun perut kerap kejang di malam hari akibat duduk meditasi terlalu lama.

 

3.Tentang Efek Meditasi

Setiap meditator akan mengalami efek yang berbeda. Kata ini berulang-ulang disampaikan Goenka lewat rekaman videonya atau oleh guru kami. Jadi, tak perlu seorang meditator menjadi risau karena tak mengalami peristiwa yang dialami meditator lain.

Ketika masa meditasi berakhir dan kami boleh berceloteh, umumnya kami merasa tubuh menjadi lebih ringan, pikiran lebih santai, dan lebih berbahagia. Apakah kami telah tercerahkan seperti Siddharta?

Kawanku bertanya, “Apa kamu tercerahkan?”

Apa itu tercerahkan? Jadi kujawab saja, “Aku makin menyadari diriku sendiri, baik pikiran-pikiranku, sikapku, dan perbuatanku.”

“Jadi selama ini kamu tak sadar?”

Kujawab, “Sebagian tindakanku kulakukan secara refleks, tanpa kesadaran penuh. Aku makan sambil memikirkan pekerjaanku selanjutnya, sehingga kuabai rasa manis roti yang kukunyah. Aku membaca sambil tanganku mencari-cari sesuatu. Kerap aku lupa apa yang kulakukan beberapa menit lalu. Aku tak sepenuhnya sadar.”

Pantas jika karena tak sepenuhnya sadar, aku melakukan banyak kesalahan, menimbun banyak kekotoran baik dalam tingkat pikiran, hati, dan perbuatan. Kurasa meditasi ini, menjadi salah satu alat yang ampuh mengikis kekotoran pikiran dan batin. Semacam detoks pikiran dan batin.

Sedikit kukisahkan pengalaman pribadiku saat mengikuti meditasi. Pada hari pertama, saat diajarkan Meditasi Anapana, pikiranku masih mengembara ke mana-mana. Panjaang, lamaa, dan aku kerap tak sadar. Pada hari kedua, dalam meditasi pagi awal, sejenak, hanya sejenak, aku merasakan hening. Waktu serasa dimampatkan. Sayang aku terburu membuka mataku karena takut. Dan hening pun lenyap.

Rasa yang sama kurasakan di hari ketiga, pada meditasi malam. Hening yang agak panjang, nafas seolah berhenti. Tenang. Nyaman. Pada hari keempat, sebelum pengarahan tentang Meditasi Vipassana, segala trauma masa lalu yang menyakitkan menyerbu pikiranku. Aku tergagap. Apalagi bertepatan dengan seorang peserta yang berteriak, menangis. Apa dia juga mengalami seperti yang kurasakan?

Pada malam di hari keempat dan lima, tubuhku amat kepanasan. Aku sulit tidur hingga nyaris pukul 2.00 pagi. Anehnya di siang hari aku tak merasa mengantuk, justru tubuhku terasa ringan. Bisa jadi, aku kebanyakan makan sambal. Atau minum kopi? Entahlah!

Pada hari keenam, aku benar-benar ingin lari. Membayangkan bakal keluar dari Klaten, menuju Jogjakarta, sungguh menggairahkan hatiku. Ada denyut keras di jantung, desiran riang yang menari. Jadi kusibukkan diri dengan berbaring dan melamun. Keesokan harinya justru suasana hatiku berubah. Aku merasa amat nyaman melakukan meditasi. Berjam-jam waktu duduk tak kurasakan lagi. Ingin kureguk rasa nyaman ini sepuas-puasnya. Aku mulai serakah.

Pada hari kedelapan, tabiatku yang biasanya ingin bergerak menjadi lamban. Aku berubah ngantukan. Panas menjalar ke tulang belakang, baik di saat duduk meditasi atau berbaring di kamar. Saat tidur, aku bermimpi indah. Bagian puncak piramida tubuhku kosong. Bersih. Di malam-malam sebelumnya, setiap kali tidur, aku mimpi buruk.

Banyak kawan yang suka bermeditasi berkisah tentang cahaya, atau mengalami peristiwa astral, ruh meninggalkan tubuh dan sejenisnya. Ketika berangkat meditasi, aku tak mengharapkan ini semua. Apalagi berkali-kali kudengar penjelasan bahwa apapun yang menimpa tubuh kita, perasaan halus atau kasar, itu bersifat sementara. Muncul. Tenggelam. Tak ada yang abadi. Di hari kesembilan, aku mengalami peristiwa astral. Tapi kurasa banyak meditator yang juga mengalaminya. Mirip lompatan energi. Eksitasi. Dalam ilmu atom yang kupelajari ketika kuliah di Teknik Nuklir UGM (kurasa jurusan ini sudah berganti nama), hal ini terjadi jika atom-atom berputar sangat cepat, sehingga mengalami kelebihan energi, dan berpindah dari orbitnya.

Pada hari kesepuluh, usai kami mengakhiri tapa bisu, aku tak merasakan apa-apa. Konsentrasi selama meditasi menjadi lebih sulit setelah kami bersosialisasi. Namun keesokan harinya, saat kumenuju Jogja, tubuhku benar-benar kepanasan. Ketika berjumpa dengan seorang kawan tempat aku menitipkan kamera dan buku, aku menangkap kesedihan menyayat yang disimpannya. Ketika bertemu dengan kawan lama lainnya, kurasakan kemarahan terpendam di batinnya. Kontak-kontak ini membuatku pening kepala, dan ingin meninggalkan Jogja segera. Untung Mbak Probo datang menyelamatkanku, membawaku ke rumahnya yang nyaman walau berantakan. Syukurlah!

vipa3

Meditation

Dalam meditasi aku diajarkan merasai perasaan-perasaan yang muncul di seluruh tubuh, baik perasaan kasar maupun halus. Tak kusangka justru aku menangkap perasaan orang lain. Oya, meditasi dilakukan hanya dengan mengamati jalan nafas kita, nafas yang normal, lalu mulai merasai perasaan yang muncul di sekujur tubuh. Demikian dilakukan setiap hari, 12 jam sehari. Tak ada doa-doa tertentu, tak menyebut nama Tuhan dari agama tertentu. Hanya mengamati jalannya nafas, lalu merasai tubuh sendiri. Sangat sederhana. Jadi ketika ada kawanku yang menegur, “Ah.. kamu sudah jadi Buddha” atau “Selamat datang ke alam nyata, Bhiksuni” aku hanya tertawa. Jika tak tahu, kita hanya pandai mengira-ngira dan berprasangka. Lalu dari prasangka muncul, beranak pinak prasangka lainnya, hingga pikiran, sikap, dan tingkah laku kita pun berubah. Terpengaruh. Jadi kupilih diam. Atau mungkin sebaiknya kubilang, “Bawa hadiahmu kembali. Aku tak butuh hadiahmu.” Entahlah, aku hanya merasa ringan dan bahagia. Walau kutahu perasaan ini tak abadi.

 

43 Comments to "Kisah di Balik ’10 Hari Tapa Bisu’"

  1. AH  6 June, 2013 at 11:47

    yanti : bisa naik apa saja, kereta api jakarta-jogja, lalu ganti kereta api prameks jogja-solo turun di stasiun klaten, habis itu ke lokasi naik becak. lokasinya di tepi jalan besar klaten-solo kok. orang sekitar langsung tahu jika kita bicara ‘vihara buddha’

    nggak begitu dingin, hanya nyaman. kalau meditasi malah badan terasa hangat

  2. yanti  6 June, 2013 at 07:34

    apakah bisa dibantu informasi dari jakarta pakai kendaraan apa untuk bisa sampai ke lokasi? juga infonya yang saya dengar, udara dingin sehingga dibutuhkan jaket.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.