Cinta: Pengalaman di Seberang Pemikiran

Juwandi Ahmad

 

Jika aku harus meneruskan keteranganku
tentang Cinta, walau seratus kebangkitan berlalu,
belum juga purna. Oh, Cinta yang memiliki seribu nama
dan mangkuk anggur-anggur yang manis!
Oh engkau, diberkati seribu kemampuan
(Jalaluddin Rumi)

 

cinta (1)BERULANG kali sudah aku melihatnya, dan pernah pula berbincang dengannya dalam waktu yang cukup panjang. Tidak ada sesuatu pun yang memberiku cukup alasan untuk memikirkannya. Namun, entah bagaimana: di suatu senja yang hampir temaram, ia menyentuh pundakku, dan ketika kupandang wajahnya: Allah Robbi, ruh nalar batinku tercurah padanya: terguncang seperti perempuan-perempuan Mesir yang melukai jarinnya ketika melihat Yusuf melintas di hadapannya. Dan dari hari ke hari, kegilaanku kian bertumbuh. Kegilaan yang tak kuinginkan kesembuhannya. Dan dari hari ke hari, aku dirundung ketidaktahuan tentang bagaimana kerinduan harus dialamatkan. Kerinduan yang terus menjalar seperti akar-akar pohon tua yang berkeras menembus dinding-dinding masjid. Kerinduan yang tak berujung seperti jari-jemari yang mengitari tasbih. Kerinduan yang mengharukan seperti munajat hati seorang sufi. Kerinduan yang membuatku menangis, seperti ratapan jamaah di dinding Ka’bah. Oh, cinta dan kerinduan. Tercerabut sudah jantung hatiku.

Pada waktu yang lain: dua belas tahun silam, di suatu malam yang mulai menua. Seperti biasa, kusempatkan diri untuk merenung sejenak di atas bentangan sajadah panjang. Bukan untuk meminta sesuatu yang berharga dalam hidup, tetapi sekedar ingin berbincang dengan-Nya tentang banyak hal yang membuat manusia merasa tidak memiliki satu alasan pun untuk tidak bersyukur. Dan terlebih tentang gurauan-Nya yang dahsyat, yang semestinya membuat orang semakin akrab dengan-Nya, dan bukan sebaliknya: menuduh-Nya dengan pikiran dan perasaan yang bukan-bukan. Tidak jauh beda dengan manusia. Apa yang disebut sebagai Tuhan pun acapkali menjadi sasaran bagi kekecewaan dan kegagalan.

Beberapa saat kemudian, tiga kali ketukan pintu dan suara batuk terdengar. Pintu kubuka, dan si pengetuk pintu telah berdiri tepat di hadapanku. Seperti yang sudah-sudah: tidak ada yang lebih penting bagi tamuku yang satu ini, selain membicarakan perihal perasaan cintanya: cinta yang katanya sangat mendalam, sayang yang katanya tak terukur, dan kenyataan yang melompat jauh dari harapan: cinta yang tertolak! Dia tak pernah tahu kapan derita cintanya akan berakhir. Sementara disaat yang sama, cintanya semakin dalam tak tertangguhkan. “Aku sangat mencintainya. Dan hanya dia yang dapat menyembuhkan semua ini.” Begitu katanya, dengan suara pelan tanpa harapan.

cinta (2)

Untuk kesekian kalinya, aku tidak punya pilihan yang lebih baik, selain mendengarkan penuturannya, sampai tidak ada lagi yang dapat ia katakan. “Siapapun yang merasakan apa yang aku rasakan, pasti akan mengalami hal yang sama sepertiku.” Begitu ia meyakinkanku. Beberapa hari kemudian ia jatuh sakit. Ketika kuceritakan perihal sakitnya itu kepada orang yang dia cintai, dengan harapan bersedia melihatnya, ia malah berkata: “Aku tidak akan menjenguk orang sakit yang dibuatnya sendiri.” Aku terdiam, membayangkan tentang pembunuhan secara diam-diam, yang justru dilakukan oleh orang yang dicintai, diagungkan melebihi apapun di dunia ini. Dan tentulah, tak mungkin kuceritakan berita buruk itu padanya, yang tentu saja akan semakin menghancur leburkan hidupnya. Dari hari ke hari, diri dan kehidupannya semakin suram, sepi, dan gelap. Hanya mengeluh dan meratap, dalam rasa sakit, dan dalam harapan yang ia tahu benar tidaklah mungkin. Arti mulai menghilang dari pandangan, makna beranjak pergi dari dunia. Dan hidup, tak layak lagi dijalani. Ia mendapati diri seperti kapuk-kapuk randu merekah, melayang-layang di musim kering. Tak tahu, akan berakhir sampai dimana.

cinta (3)

Dari tempat lain, ada kisah tentang Pram, yang telah menikmati tubuh kekasihnya jauh melebihi imajinasinya. Kepada seorang perempuan yang lembut, yang tidak mengetahui sesuatu pun selain bahasa cinta, kesederhanaan, dan pelayanan, Pram mendapati insting purbanya yang tidak biasa. Sejatinya, Pram hanya ingin menempatkan perempuan itu sebagai pengisi waktu dan kejenuhan yang dapat ia rancang seerotis mungkin. Namun belakangan, setelah beberapa kali menikmati tubuhnya, tiba-tiba ia merasa kasihan, bersalah, dan mengutuki diri sendiri sebagai laki-laki yang jahat. Pram bilang bahwa perempuan itu terlalu baik dan berharga, yang tidak sepatutnya dipandang dan diperlakukan seperti itu. “Kali ini akulah yang kalah.” Begitu katanya. Cinta telah mengalihkan pikiran dan perasaan Pram dari tujuan semula, yakni sekedar menikmati tubuhnya.

Di tempat yang lain lagi: Rumah Sakit Jiwa. Seorang gadis berwajah manis dengan jilbab yang menjulur menutupi pundaknya, terlihat histeris dalam kerangkeng. Ia berteriak dan memanggil-manggil dengan suara penuh harap sekelompok perawat pria dan beberapa pengunjung rumah sakit menghampirinya. Di antara pecahan kaca yang berserakan, nasi yang berceceran, bungkusan-bungkusan plastik dan onggokan baju yang tak sedap dipandang: ia tertawa, menangis, dan sesekali mengalir deras dari bibirnya ayat-ayat suci dan lagu-lagu keagamaan. Menyedihkan! Gadis itu tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan. Ia ditinggalkan begitu saja. Dan cinta menyeretnya dalam kerangkeng kegilaan.

cinta (6)

Selanjutnya, ada kisah indah pada tahun 1201. Ketika sedang melaksanakan Tawaf di Ka’bah, Ibn al-Arabi mengalami sebuah pengalaman yang meninggalkan pengaruh kuat dan lama terhadap dirinya. Dia melihat perempuan muda bernama Nizam dikelilingi oleh cahaya. Ibn al-Arabi menyadari bahwa perempuan itu adalah Hikmat Ilahi. Epifani ini membuat al-Arabi meyakini bahwa adalah mustahil baginya mencintai Tuhan bila hanya bersandar pada argumen-argumen rasional. Ia percaya bahwa imajinasi cerdik akan mampu menembus batas fisikal dan rasional sehingga seseorang bisa menangkap dan menyerap segala sesuatu sebagai bagian dari Keindahan Tuhan.

Itulah sejumlah kenyataan atau gambaran tentang apa yang kita sebut sebagai cinta, yang hadir dalam beragam bentuk penangkapan rasa dan pemikiran. Bergumul dengan pengalaman yang yaris tak teruraikan. Dan tentu saja, ada lebih banyak lagi bentuk yang dapat kita kemukakan, dan yang satu tidak dapat dibandingkan dengan yang lain. Setiap orang memiliki pengalaman dan pengungkapannya sendiri. Cinta identik dengan penangkapan atau pengalaman keagamaan yang bersifat personal, dimana Tuhan dalam penangkapan satu orang tidaklah sama, dan tidak dapat pula dibandingkan dengan yang lain. Selain identik dengan pengalaman keagamaan-ketuhanan, cinta juga serupa candu, opium, atau yang semacamnya, yang menimbulkan ketenangan, kegembiraan luar biasa, ekstase, kepercayaan diri, halusinasi, ketergantungan, sakau, kehilangan kesadaran, penyiksaan diri, dan kehancuran. Dari kisah yang telah kita kemukakan, mari kita lihat lebih dalam, tentang dinamika perjumpaan antara cinta dan nalar batin manusia:

cinta (7)

Cinta pada kisah yang pertama, memberitahu kita tentang apa yang disebut sebagai pesona: suatu pancaran terindah dari seseorang yang tersembunyi, yang tiba-tiba saja tersingkap, dan tertangkap oleh nalar batin yang senyawa dengannya. Menakjubkan, menggetarkan dan membuatmu tersungkur, luluh, haru, dan gila karenanya. Sungguh, engkau dapat menyelamatkan diri dari kecantikan dan cinta yang menyembul daripadanya, tapi sekali-kali tidak dengan pesona. Dialah pengalaman batin yang hanya dapat kau terima, bukan kau pinta. Bahkan kau tak dapat belajar untuk mendapatkannya. Dari waktu ke waktu yang kau miliki hanya kerinduan, yang kau rasa adalah ketakjuban, dan jantung hatimu tetap saja tergetar meski telah kau pandang wajahnya ribuan bulan. Dari hari ke hari, engkau mencintainya, menyayangi, memujanya: jauh dan jauh melampaui yang dapat ia mengerti. Engkau menemukannya dalam tempat yang paling tersembunyi, yang bahkan tak dapat ia sadari. Dan ia akan lebih indah dari segala yang dapat engkau bayangkan. Ribuan kali menggetarkan dari apa yang mungkin orang rasakan.

Orang yang engkau cintai bisa jadi sungguh biasa dalam penangkapan banyak orang. Engkau membawanya pergi ke banyak tempat, mempertemukannya dengan banyak orang. Dan bisa jadi, tak ada yang memuja-muji kecantikannya atau terpana ketampanannya. Namun, dialah satu-satunya yang dapat meruntuhkan nalar batinmu, mengguncang jantung hatimu, dan menyeretmu dalam pusaran ketidaksadaran. Hanya dan hanya dia yang membuatmu gila dan bodoh, dan engkau akan amat sangat menikmati kegilaan dan kebodohanmu. Hanya dalam kegilaan, hanya dalam kebodohan, engkau dapat menangkap pesonanya yang paripurna, yang tak seorangpun pernah ada di sana.

Adapun cinta pada kisah yang kedua, menyeret seseorang pada krisis eksistensial. Keterpusatan makna dari cinta, yang tumbuh tanpa keterlibatan objek cinta, telah mengubah realitas objektif menjadi hampir sepenuhnya subjektif. Ia teramat sulit dan bahkan tidak dapat menerima kenyataan dari cintanya yang tertolak. Dan celakanya, penolakanlah yang justru memperdalam perasaan cintanya. Ia membangun dan menciptakan orang yang dcintainya terus-menerus, dan dalam keguncangan psikologis. Dan karenanya, pikiran, perasaan, dan dinamika cintanya berkembang jauh melampaui kenyataan dan keberadaan dirinya sendiri. Di sini, apa yang dianggap banyak orang sebagai kekeliruan, kebodohan, dan kelemahan, justru dirasakan sebagai suatu kebenaran yang nyata dan tak terbantahkan. Sepuluh, dua puluh, atau bahkan seluruh manusia di muka bumi ini bisa saja mengatakan bahwa ia telah disesatkan oleh pikiran dan perasaannya, namun ia akan tetap menempuhnya, bahkan meski harus menanggung sakit dan perih, yang setiap saat menggerogotinya, membunuhnya.

cinta (8)

Tidak seorang pun dapat membantunya. Ia sendirilah yang harus berkeras untuk memahami, menyelami, dan menghayati rasa sakitnya, keperihannya, keguncangannya. Apa yang dia ingin dan rasakan adalah satu hal, sedangkan mengambil keputusan adalah hal lain. Tidak mudah. Namun demikianlah jalannya. Di suatu waktu, cinta adalah berkah, dan di waktu yang lain sebentuk kutukan. Saat cinta hadir sebagai kutukan, yang ia perlukan adalah pembebasan. Bukan pengejaran. Bukan pengharapan. Kecuali, ia sanggup menahan luka, dan punya cara menyembuhkannya. Dan celakanya, cinta memberi ruang bagi rasa sakit dan dengan penyembuhan yang sangat sulit. Lebih jauh, cinta memberi makna dan sekaligus menghapuskan makna yang sudah ada. Sebelumnya, hidupmu baik-baik saja. Namun ketika engkau menemukan cinta yang sungguh berharga, yang memberimu arti dan kebermaknaan, tapi kau tak sanggup mendapatkannya, maka engkau akan kehilangan makna.

Engkau bukan dirimu yang dulu, sebelum merasakan perjumpaan dengan cinta. Engkau bukan hanya kehilangan harapan di masa depan, tapi juga makna-makna yang telah kau miliki di masa lalu. Dan karenannya, di hari ini, hampa merana dan kering gersanglah hidupmu. Begitulah, ketika arti menghilang dari pandangan, makna beranjak pergi dari dunia. Hidup tak layak lagi dijalani. Kecintaan, menterjemahkan ulang diri dan hidupmu. Semakin dalam dan semakin dalam. Sampai pada akhirnya, tak lagi dapat kau kenali dan rasakan diirimu yang dulu. Ketika cintanya tak kau dapat, siapa yang akan menterjemahkan dirimu yang baru? Siapa yang memberimu arti? Tanpa arti! Tanpa makna! Bila kau mengalaminya, yang kau perlukan hanya penyelamatan, yang utama adalah pembebasan. Dan yang dapat melakukannya, tidak lain hanyalah ke-diri-anmu. Bila ke-diri-an pun lebur dalam pusaran keinginan jiwa-jiwa, maka tamatlah sudah!

Selanjutnya, pada kisah cinta yang ketiga, kita melihat bahwa cinta secara diam-diam merubah pemikiran dan perasaan seseorang. Dari dorongan yang semata-mata seksual, berkembang menjadi interaksi yang melibatkan lebih banyak dimensi diri dan psikologis. Ada hasrat seksual, moralitas, penghormatan, rasa kasihan, tanggung jawab, cinta, dan kasih sayang yang mengantarkannya pada suatu bentuk kesadaran yang lain, yang lebih luas dan dalam. Pada kisah itu, Pram tidak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa sebenarnya ia mulai mencintai dan menyayangi perempuan yang sebelumnya dipandang tidak lebih sebagai objek seksual. Kemunculan cinta dan kasih sayang, meninggikan objek cinta, yang karenanya mendorong seseorang untuk memuja, menghargai. Apapun yang dipuja, apapun yang dihargai: dimanapun pasti dan selalu mendapat tempat yang mulia, yang tidak mungkin direndahkan atau diperlakukan tak sepatutnya. Itu adalah sesuatu yang alamiah dan telah menjadi hukum dari alam psikologis kita. Inilah yang membuat Pram tidak lagi sepenuhnya melihat hasrat seksual sebagai suatu kesenangan, dan tidak lagi menjadikan seks sebagai satu-satunya tujuan. Cinta dan kasih sayang telah memberi jalan bagi Pram untuk memperluas misi terbesarnya: dari seks menuju kepemilikan, keterikatan, tanggungjawab, kepedulian, penjagaan, dan pertumbuhan, dengan tatapan cinta dan kasih sayang. Pram tak lagi melihat kekasihnya sebagai suatu objek, melainkan bagian dari dirinya.

cinta (9)

Pada kisah cinta yang keempat, si gadis sudah terlanjur menempatkan orang yang dia cintai sebagai satu-satunya makna yang tak tergantikan oleh apapun. Suatu alasan tunggal, yang karenanya, hidup menjadi bermakna dan layak untuk dilanjutkan. Maka, ketika objek cintanya pergi, tak berdaya dan runtuhlah sudah. Ia sungguh tak sanggup menghadapi, melihat, dan bahkan membayangkan kenyataan-kenyataan buruk yang sudah nyata menimpanya. Hal itu menimbulkan keguncangan dan ketakutan yang luar biasa, yang ia ingin lari darinya. Namun tak seorang pun dapat dengan mudah memahamkan, menakhlukan, dan memenangkan pertempuran dengan pikiran, perasaan, dan ketakutannya sendiri. Dan termasuk melarikan diri darinya. Sebab di bawah alam sadarnya, ada janji-janji yang telah terekam, ada cinta yang bersedia beri segala, ada keterikatan tak terlepaskan.

Di sana, ada kenyataan psikologis yang tidak kalah nyata dari kenyataan. Dan semua itu, hidup, berbicara, meminta, mengharap, memohon, meratap, menuntut, memberontak. Apa yang ada di dalam jiwa, terpanggang hidup- hidup dalam kenyataan. Dunia dan kehidupan menjadi buruk sepenuhnya. Karenanya, ia memilih hidup dan sibuk dalam kesendirian, lamunan, kesedihan, kekecewaan, dan ratapan: terus menerus dan semakin dalam. Sampai pada titik tertentu, tercerabutlah ia dari kenyataan dan kediriannya. Dan saat itulah ia menempati rumah barunya, yaitu kegilaan. Apa yang ada hanyalah sekumpulan jiwa-jiwa tak sadar, yang saling berebut untuk bersuara kepada jiwa-jiwa yang lain yang juga tak sadar. Semua itu, adalah jiwa-jiwa yang dicipta, diberi hidup, ruang, dan kebebasan untuk bicara. Begitulah, bahwa cinta telah membawanya ke dalam belantara jiwa-jiwa yang menyesatkan, yang akan sangat sulit untuk kembali. Disini, dalam kenyataan, kita memandang diri, dunia, dan kehidupan sebagaimana adanya, yang senyatanya. Di sini, di dalam diri, kita berpikir yang sebenarnya-benarnya. Sebab segalanya akan tercipta dari sana. Adapun tindakan, adalah buah dari pikiran. Disanalah kita melihat perbaikan dan kerusakan.

Dan kisah yang kelima, kehadiran cinta dalam diri al-Arabi. Ini bukanlah cinta biasa. Wujud dari kehadiran perempuan tidak menjadi keindahan atau keagungan yang menarik jiwa untuk menari dalam ekstase yang semata-mata bersifat fisik, tapi menjadi suatu pancaran yang menghentakkan diri, akal, dan hati, yang karenanya muncul ketersingkapan dan pencerahan, yang membuatnya merasakan kehadiran Tuhan. Diri, akal, dan hati yang sebelumnya telah penuh sesak dengan Tuhan, membawa al-Arabi pada penangkapan yang menembus lintas batas, tempat, ruang, waktu, dan kesadaran. Demikianlah perbendaharaan batiniah yang begitu jeli, yang lama terpusat kepada Tuhan, yang karenanya, selembar daun yang jatuh pun akan nampak dan terasa sebagai Terompah Tuhan. Apa yang ada di dalam, mewujud di luar. Disini, Tuhan telah membuka cadar-Nya, dan nampaklah Pancaran Indah raut wajah-Nya. Dia telah memenuhi janji dan perkataan-Nya kepada al-Arabi, melalui perempuan muda bernama Nizam: “Kemanapun engkau palingkan wajah, akan kau temukan wajah-Ku.” Terkesan dengan pengalaman cinta dalam balutan aura mistis-spiritual itu, saya mencoba menggambarkan pengalaman al-Arabi dalam tingkatan, penangkapan, dan penuturan manusiawi:

cinta (10)

Dan tujuh kali sudah aku berada di sini, di pelataran Ka’bah
yang tak banyak berubah. Tetap serupa lautan ruh yang terhisap Ruh dari
segala ruh, dan tidak ada yang lebih mengguncangkan selain Tuhan! Namun
kali ini, hatiku terbelah di pelataran Ka’bah: terguncang oleh wajah di balik
cadar kemerahan tembus pandang. Segalanya menghilang dan
yang ada hanya wajahnya.
 
Sudah lima putaran Ka’bah, dan kupandangi banyak wajah.
Tak kutemukan lagi wajah indahnya. Dan seperti anak-anak: aku menangis!
Saat itulah untuk pertama kalinya kusaksikan, Ka’bah tersiram hujan.
 
Di sini, di pelataran Ka’bah hatiku terbelah.

Allah Robbi, maafkan aku yang sejenak berpaling dari jamuan yang Engkau suguhkan. Duhai wujud dari segala wujud tanpa wujud, tak dapat lagi kutahan kebesaran-Mu. Engkau tidaklah menciptakan dua hati dalam dadaku. Namun Engkau jualah yang memisahkan manusia dengan hatinya. Sungguh, ingin sekali aku menjumpainya, membawanya kesana: berdua saja. Di bawah senja kemerahan, diantara bukit-bukit pasir. Akan ada sajak-sajak cinta yang aku teramat rindu membacakannya pada-Mu. Allah Robbi, berilah aku pertanda:

Memilih yang aku ingin atau menerima yang Engkau beri.

Nizam adalah epifani wajah Ilahi yang menggetarkan al-Arabi. Dan inilah yang dikatakannya: “Kalau engkau mencintai suatu wujud karena keindahannya, engkau tidak lain mencintai Allah, karena Dia adalah satu-satunya wujud yang Indah.” Dengan demikian, kata al-Arabi, semua aspek dari objek cinta hanyalah Tuhan. Kita, lanjut al-Arabi, tidak dapat melihat Tuhan itu sendiri, namun kita dapat melihat-Nya ketika Dia memilih mewahyukan Diri melalui makhluk-makhluk-Nya, seperti gadis Nizam yang mengilhami rasa cinta. “Nizam,” kata al-Arabi, “Telah menjadi objek pencarian dan harapanku. Perawan yang paling murni. Banyak hal dari alam batin yang lebih mempesonaku daripada segala yang ada dalam kehidupan aktual. Dan karena gadis belia ini, aku mengetahui persis apa yang kumaksudkan.“ Begitulah, Imajinasi Kreatif yang tercerahkan, telah mengubah gadis Nizam menjadi Pancaran Tuhan.

Demikianlah, penjelasan sederhana dari sejumlah perwujudan cinta, yang sudah barang tentu tidaklah sesederhana itu. Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa atas nama, demi, dan oleh cinta, seseorang akan hadir dalam beragam pengalaman. Dari perilaku unik yang masih dikendalikan kesadaran, hingga kegilaan tak berkesudahan. Dari kegenitan seksual paling liar, sampai pandangan yang disakralkan. Dari kehadiran objektif dan penangkapan spiritual yang berpusat pada manusia, sampai pada perjumpaan imajinatif sufistik akan Tuhan yang personal. Dan bila demikian: apa sebenarnya yang di maksud dengan cinta?

cinta (11)

Tidak mudah mendefinisikan kehadiran seseorang dalam hidup kita dengan sederet kata-kata, sementara kehadirannya, entah bagaimana membawa begitu banyak perbendaharaan fisik-psikologis-spiritual. Ada hasrat untuk dekat dalam penyatuan yang teramat kuat. Ada pemberian yang tak tertakar serta pemahaman tak berbatas. Ada keharuan yang membuncah, mengucurkan air mata. Ada semangat, perluasan kesadaran, dan pencerahan. Ada keberartian dan makna-makna yang begitu mudah dapat tercipta. Ada pengaduan hati, doa-doa panjang, dan ratapan kepada Tuhan. Ada kerinduan tak tertahankan, dan kebahagiaan yang menerbangkan. Ada keberanian yang menjungkal akal, dan kegilaan tak tersembuhkan. Segalanya menjadi mungkin! Tapi mendefinisikan cinta? Mungkinkah?

Baiklah, mari kita lihat sekilas pandangan Rumi tentang cinta. Meskipun pandangan Rumi tentang cinta terinspirasi bukan dari cinta terhadap makhluk, melainkan cinta Ilahi, namun apa yang dikemukakan Rumi memberikan suatu gambaran puncak dari keajaiban dan kemistisan cinta, baik kepada Ilahi maupun antar makhluk. Cinta dalam pandangan Rumi, menunjuk pada peniadaan diri. Cinta yang sesungguhnya adalah bila kita menempatkan Sang Cinta pada wilayah dimana kita meniadakan apapun selain Sang Kekasih. Suatu jalan demi menuju dan meraih cinta, sesusah dan semenderita apapun harus dijalani, bahkan mesti dipandang sebagai jalan cinta, yang meskipun sakit: tentulah akan ada keindahan tak tertakar disana. Subjektivitas dan penarikan makna yang unik dari pengalaman cinta, membuatnya tak tertampung lagi oleh hati, tak tuntas dalam ribuan bait syair, dan tak kunjung usai meski seribu kebangkitan berlalu.

cinta (12)

Meskipun cinta benar-benar tak terungkapkan oleh kata-kata, namun Rumi tetap memberikan gambaran tentang cinta sebagai pengalaman rohani dan untuk disadari. Dalam pandangan Rumi, mengutip penjelasan William C. Chittick, cinta tidak dapat diterangkan dengan kata-kata, tapi hanya dapat dipahami melalui pengalaman. Sebagaimana halnya orang yang ingin mengungkapkan cinta kepada kekasihnya, kata-kata tak dapat mewakili isi hati dalam selembar kertas. Meskipun demikian, dalam sebagian syair-syairnya, Rumi memberikan gambaran bahwa orang dapat membicarakannya kapan saja dan tiada habis-habisnya, tapi tetap pada satu kesimpulan bahwa cinta benar-benar tak terungkapkan lewat kata-kata. Ia adalah pengalaman yang berada di seberang pemikiran.

Dan benarlah pandangan Rumi. Kita bisa saja menuliskan sebanyak mungkin pendapat orang tentang cinta, membandingkan pendapat-pendapat itu, atau memperdebatkannya, namun kita tidak akan beroleh apapun kecuali gambaran dari pengalaman masing-masing orang. Mendefinisikan cinta, seperti hendak mengurai tumpukan benang. Setiap kali menemukan benang yang bertalian, kita akan dihadapkan pada talian-talian baru. Setiap kali ingin merangkai kata yang baru, yang lama juga akhirnya yang terjadi, dan begitu seterusnya. Karenanyalah, apa yang kita sebut sebagai definisi cinta, tidak lebih dari penggambaran dan ungkapan pengalaman subjektif: termasuk gambaran berikut ini, yang saya tulis sepuluh tahun yang lalu:

cinta (13)

Bila senja ini engkau mengetuk pintu bilikku dan menanyakan
definisi cinta, maka akan kujawab, “Definisi cinta adalah ketika engkau tak
mampu lagi mendefinisikannya. Ia seperti jalan, yang berapapun jauhnya
dapat kau tempuh, namun tak lagi dapat kau temukan titik dimana engkau
mengawali perjalananmu.
 
Bila malam ini engkau beranjak dari bilikku, dan menanyakan
arti kasih sayang, maka akan kujawab, “Kasih sayang adalah ketika engkau
berusaha tetap memberi, meskipun sesungguhnya tak ada lagi yang dapat
engkau berikan. Dan karenanya, kau hanya bisa menghela nafas
panjang dari jantung hatimu yang sedih dan perih.”
 
Dan bila fajar menjelang engkau bertanya padaku dengan
kesungguh-sungguhan, makna cinta dan kasih sayang, maka akan
kujawab, “Duhai perempuan yang menyelami lautan jilbab, ketahuilah
bahwa makna cinta dan kasih sayang adalah ketika engkau senantisa
untuk hidup, menyetubuh, bertumbuh, dan terlahir
kembali bersama dan karenanya.” 

Dan suatu penggambaran, sedalam apapun, tetap saja tak akan dapat menampung makna dari pengalaman. Bahwa tidak semua dapat diungkapkan lewat kata-kata dengan mudah dan tepat, adalah bukti kekayaan pengalaman dan perbendaharaan psikologis-spiritual kita. Tubuh memenjarakannya, kata-kata mereduksinya. Cukup beralasan ketika Erich Fromm mengatakan bahwa kata-kata tidaklah cukup untuk mendeskripsikan pengalaman manusiawi. Dalam kenyataannya, seringkali, kata-kata mengungkapkan keadaan yang sebaliknya: kata-kata menggelapkan, memotong, dan membunuh pengalaman.

Terlalu sering dalam proses pembicaraan tentang cinta, benci, atau harapan, seseorang kehilangan kontak dengan apa yang diandaikannya untuk menjadi pembicaraan. Puisi, musik, dan bentuk-bentuk seni yang lain, kata Fromm, lebih tepat sebagai alat untuk mengungkapkan pengalaman manusia. Senada dengan Fromm, Carl Gustav Jung mengatakan bahwa “dongeng akan lebih bersifat individual, dan mengungkapkan kehidupan dengan lebih tepat dibanding ilmu pengetahuan ilmiah. Ilmu pengetahuan ilmiah bekerja melalui konsep-konsep kesamarataan yang terlalu umum untuk berlaku adil terhadap keberagaman subjektif kehidupan individual.“ Satu-satunya kebenaran dari apa yang kita sebut sebagai metode ilmiah yang jarang sekali diakui adalah bahwa ia mereduksi manusia dan pengalamannya.

cinta (14)

Akhirnya, cinta adalah cinta. Bahasa universal yang kita mengalaminya sendiri dengan jiwa, diri, akal, dan hati yang sungguh beragam. Dari keuniversalannya itu, kita bisa menduga dengan dugaan yang mendekati kebenaran, bahwa cinta kita kepada Tuhan barangkali tidaklah sedahsyat cinta Rumi atau Rabiah al-Adawiyah, namun kebanyakan dari kita memiliki hasrat untuk mendekatkan diri kepada apa yang kita sebut sebagai Tuhan, atau apapun yang kita anggap sebagai Sang Pencipta. Dan banyak orang kemudian mendapati diri mereka tidak memiliki kekuatan untuk menolak-Nya. Sebagai orang tua, mungkin cinta kita kepada anak, tidaklah seagung cinta seorang Luqman dalam Kitab Suci, meski demikian, kita senatiasa ingin memberikan segala sesuatu yang mungkin untuk diberikan, atau sungguh-sungguh berharap agar anak-anak kita berada dalam kebenaran dan keselamatan. Sebagai sesama manusia, cinta kita mungkin tidak sejauh Bunda Theresa atau Mahatma Ghandi, namun belakangan kita mengetahui bahwa dengan mencintai sesama manusia kita tidak hanya menemukan kemanusiaan manusia lain, akan tetapi juga menemukan kemanusiaan dalam diri kita sendiri. Dan kisah cinta, kerinduan, kasih sayang dan pemahaman kita kepada kekasih, istri, atau suami, barangkali tidak sedramatis cinta Majnun pada Laila, namun kita merasakan cinta dan membaca sepotong kisah, yang kemudian membuat kita yakin bahwa di setiap jengkal kehidupan sesungguhnya dipenuhi oleh cinta.

cinta (15)

Sampai sejauh ini, kita sebatas bergulat dengan kemiskinan kata-kata dan bahasa. Sementara pengalaman dan perbendaharaan psikologis-spritual kita akan cinta sangatlah kaya. Kita belum lagi sempat bicara yang jauh lebih mendalam tentang cinta dalam kaitannya dengan problem eksistensial manusia, sampai pada hal hal yang lebih dekat dengan hidup dan keseharian kita: kerinduan, kasih sayang, kecemburuan, harapan, dan perbendaharaan cinta lainnya. Bila ada waktu yang cukup, di kesempatan yang lain, saya akan memberanikan diri mengajak anda semua untuk sampai ke sana. Barangkali, semua itu bisa menjadi semacam penghiburan, kenangan, ziarah cinta, atau kelak di kemudian hari, dapat menjadi bacaan bagi anak dan cucu-cucu kita.

Shalom. Assalamu ‘alaikum. Damai dan sejahtera untuk kita semua!!

 

CATATAN AKHIR:

Terima kasih kepada Mbak Dewi, Mas Anung, Mbak Sekar, dan Bu Probo atas perjumpaannya yang sangat akrab, hangat, menyenangkan dan bermakna. Karena perjumpaan itulah, “Cinta: Pengalaman Di Seberang Pemikiran,“ ini kemudian saya tulis. Dan terutama sekali, terima kasih untuk Mbak Dewi yang mendorong saya untuk menulis artikel tentang cinta, yang sebelumnya tak terpikir menuliskannya untuk Baltyra. Dan seandainya ucapan terima kasih hanya boleh diperuntukkan kepada satu orang saja, maka kepada Mbak Dewi lah ucapan terima kasih itu harus saya alamatkan. Kenapa? Dialah yang menemukan saya di belantara dunia maya, dan “menyesatkan” saya lebih jauh ke jalan yang benar, yaitu Baltyra dengan makhluk-makhluknya yang memberi kesan dan pengalaman yang mendalam.

 

39 Comments to "Cinta: Pengalaman di Seberang Pemikiran"

  1. juwandi ahmad  11 January, 2013 at 22:23

    ha ha ha ha…tentang landasan di dada gak tek iso aku ha ha

  2. anoew  11 January, 2013 at 21:59

    Ini gaya penulisan berbeda yang saya suka tentang cinta. Mendayu-dayu membelai, mengusik kelelakian tapi tidak brutal. Mangstab sekali!

    Tetap saya menunggu lanjutannya, tentang artikel Landasan di Dada.

  3. juwandi ahmad  11 January, 2013 at 21:17

    Hidup Koplak..! Hidup semriwing..!

  4. Lani  11 January, 2013 at 01:15

    34 KANG JUWANDI : maju trs pantang mundur koplaaaaaaaak

  5. EQ  11 January, 2013 at 01:05

    cinta tidak selalu harus semriwing….cinta itu malah seringnya jadi koplak dan koplak sekali….

  6. juwandi ahmad  11 January, 2013 at 00:03

    ha ha ha ha..benar. tentang semrwing wes ono ahline mas anung…….ngesok tak nulis sing rodo koplak, ya setidaknya barangkali bisa mewakili dirimu mbak ha ha ha

  7. Lani  10 January, 2013 at 23:47

    30 KANG JUWANDI : klu yg ini mmg spesialisasiku………..ayoooooooo ngakak……….ngguyu……….bergembira ria……rak serius2 nggarahi umeppppppp

  8. Lani  10 January, 2013 at 23:46

    31 KANG JUWANDI : bukannya ttg Sex, semriwing emboh krn minyak angin cap lang……..opo balsem cap macan………..itu sdh ada spesialisasinya tuh kang Anuuuuuuu yg sll bengkok, dibengkok-kan dan membengkok……….hahaha

  9. juwandi ahamd  10 January, 2013 at 23:35

    aku wes diwanti wanti nang dewi, sekali kali kon nulis sing rodo semriwing: cinta, seks opo keluarga gitu. Ee…jebule tetap wae serius jan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *