[Serial Masa Terus Berganti] Hatimu tak Segarang Hitammu

Dian Nugraheni

 

Banyak hal-hal ‘aneh’, extraordinary, sering menghampiri hidupku. Kali ini, akan aku ceritakan tentang si Gagak, burung hitam yang suka berkoak-koak berisik, sambil berterbangan bersama teman-temannya.

Tahun berapa, aku agak lupa, ketika aku ikut teman-teman dari Fisipol UGM (Universitas Gadjah Mada), mendaki Gunung Cireme di Kuningan, Cirebon, Jawa Barat.Secara, aku bukanlah anak Fisipol waktu itu, jadi nekat nimbrung aja, he..he…he…di ajak teman kosku, Mbak Anjar.

Rupanya, karakter Gunung Cireme ini bukanlah sebuah gunung yang terlalu tinggi, tapi lebaaar, sehingga, menurut pengalaman yang sudah pernah mendaki Gunung Cireme, kita harus memulai pendakian sebelum jam 12 malam (biasanya pendakian dimulai sekitar jam 12 malam untuk gunung-gunung macam Merapi, Sumbing, Sindoro, dan Lawu, di Jawa Tengah…)

Begitulah, pendakian dimulai. Rombongan masih kompak dalam kebersamaan. Sampai kira-kira setengah perjalanan, rombongan mulai terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, karena ada yang capek, berhenti, ngaso sebentar, dan banyak yang lain masih kuat, jalan terus. Kelompok-kelompok kecil ini terus merayap menuju puncak.

Anak laki-laki dengan otomatis menjaga anak-anak perempuan, alias, bila ada anak perempuan yang “teler” (biasanya yang suka cepet teler ya anak perempuan, he…he……),dan minta berhenti, nggak akan dibiarkan sendiri, paling enggak dia akan dijaga oleh dua teman laki-laki.

Dalam pendakian akan tampak bagaimana kesetiakawanan tercermin. Maksudnya, misalnya, ada anak perempuan yang teler, anak laki-laki harus menjaganya. Bahkan ketika anak perempuan ini nggak berhasil sampai puncak gunung, anak laki-laki, sang penjaga, meski dia kuat sampai puncak, maka dia akan mengorbankan ambisinya untuk mencapai puncak, karena harus menjaga teman perempuan yang sedang teler…he…he……

Begitu juga denganku, duapertiga perjalanan sudah kulalui, ketika akhirnya aku teler juga, terjatuh tanpa daya, terkapar memejamkan mata. Seingatku, ada Tomo dan Pupung yang menjagaku. Tomo (maaf ya Tomo), cuek-cuek aja.

Sementara Pupung sedikit demi sedikit “merayuku” untuk membuka mata, “Ayoo, jangan merem…buka dong matamu..” katanya.

Dan aku berusaha membuka mata, tapi, tetaaap…tak berdaya. Jangankan meneruskan perjalanan, membayangkan pulang menuju basecamp aja rasanya aku nggak sanggup. Aku bilang, “Pung, aku nggak kuat…, sana kalau mau naik terus, tinggalin saja aku…”

Wajah Pupung berada antara pengen melanjutkan perjalanan, dan juga nggak tega meninggalkan aku sendirian. Entah berapa jam aku terkapar. Dan Pupung pun nggak berhenti menyemangatiku, “Tuh, yang lain pada diare, mencret-mencret di perjalanan, mereka tetep jalan menuju puncak.., ayo bangun,,jalan selangkah demi selangkah…”

Masih terkapar beralas ransel aku menjawab, “Aku nggak kuat Pung…”

Hening, sunyi, udara sangat beku meski matahari sudah mulai tinggi, alias ini berarti terlambat sampai di puncak, berarti pula akan terlambat turun gunung, berarti pula akan ada kemungkinan kekurangan bahan makanan. Judulnya : bisa berbahaya…!!

Tiba-tiba, Pupung bilang, “Lihat, kamu dideketin burung Gagak…”

Kontan aku melek mencoba melihat apa yang terjadi, burung Gagak adalah salah satu pemakan bangkai. Dia punya firasat tentang kematian, maka aku pikir, “mungkinkah aku akan terus terkapar lemas di sini, sampai aku mati..?”

Selintas, aku teringat wajah Soe Hok Gie, yang waktu itu, pemikirannya menjadi puja-puja dalam jiwa mudaku, dia juga meninggal dalam pendakian di Semeru. Akankah nasibku kembar dengan pujaan hatiku ini..?

Tapi, tiba-tiba, mataku yang hanya bisa memandang lemah, bersitatap dengan mata si Burung Gagak, dia mematuk-matuk bahuku.., kemudian berjalan (bukan terbang) beberapa langkah, dan menengok kepadaku. Aku masih diam…tak tau maksudnya. Kemudian si Gagak kembali mematuk-matuk halus pundakku, mengulangi gerakan yang sama, jalan beberapa langkah, dan berbalik menatapku.

Entah dari mana, aku menyimpulkan bahwa si Gagak Hitam bilang, “Aku akan tunjukkan jalanmu menuju puncak…”

Seperti ada tenaga kiriman, yang juga entah dari mana, ketika aku kemudian bisa duduk dan berdiri, si Burung Gagak terbang sedepa di depanku, kemudian hinggap di tanah, kembali menengok padaku, serasa dia tersenyum, dan aku pun tersenyum. Aku mengikuti langkah Sang Gagak, selangkah demi selangkah,terus begitu…sampai berapa lama aku tak ingat lagi…ketika akhirnya, ternyata aku sudah sampai di Puncak Gunung Cireme. Dan beberapa teman yang sudah sampai di puncak kontan berseru menyambutku..”Akhirnyaaaa…., kamu sampai juga…”

Dan aku tenggelam dalam kegembiraaan yang amat sangat, menghela nafas panjang, bersenang hati, akhirnya sampai juga di puncak. Dan beberapa saat kemudian, aku baru menyadari, bahwa perjalananku menuju puncak ini karena  dipandu oleh si Gagak Hitam…dan sebelum aku sempat berterimakasih, si Gagak Hitam sudah menghilang tak kutemukan lagi…

Siapakah gerangan Si Gagak Hitam ini..he…he……sampai sekarang aku masih bertanya-tanya…

 

Virginia,

NH. Dian

Senin, 18 April 2011, jam 5.58 sore

(Buat Mbak Anjar, Pupung, Tomo, Rita, dan lain-lain yang enggak bisa aku sebutkan satu per satu-agak lupa nama-nama kalian..he…he…..maaf sudah tua…, baru sekarang aku ceritakan…HAYUU YAA QOYUUM ,ALLAH AKBAR)

 

cireme

Puncak Cireme…

 

cireme1

Puncak Cireme, dipandu Si Gagak Hitam…

 

 

9 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Hatimu tak Segarang Hitammu"

  1. anoew  9 January, 2013 at 13:54

    @Wik, mana bisa Dian ngathungi uthik hawong dia nggak bawa gitu kok, malah di foto terakhir lagi meluk boneka

    Woalaah Diaaan, naik gunung kan minta ditemani boneka tho yooo.. Untung ketemu burung.

  2. Linda Cheang  9 January, 2013 at 08:02

    dipatuk Gagak Hitam..

  3. HennieTriana Oberst  9 January, 2013 at 04:14

    Dian, keren fotonya di Puncak Cireme.
    Ingat masa dulu suka camping dan naik gunung. Terus salah satu bacaanku dulu Anita Cemerlang

  4. anoew  8 January, 2013 at 12:43

    Siapakah gerangan Si Gagak Hitam ini..he…he……sampai sekarang aku masih bertanya-tanya…

    yang jelas bukan Si Bobi, apalagi si Sonny.

  5. anoew  8 January, 2013 at 12:41

    @kang Josh, jelas jauhlah aku sama Dian. Hawong sekarang aja usiaku baru 22 tahun. Selisih setahun sama kowe tho, 23 tahun?

    Wah seru nih. Pengalaman-pengalaman ‘mistis’ begitu memang konon sering dialami pendaki gunung yang kadang susah dimengerti pelakunya. Jadi ingat cerita seorang teman yang tersesat di Lawu, lantas ‘dibimbing’ jalan keluar oleh burung hitam hingga akhirnya mereka selamat.

    Pengalaman sama juga kualami sewaktu mendaki gunung, mata terpejam karena terasa berat, nafas ngos-ngosan dan berkeringat deras. Entah mengapa pengalaman seperti itu tak membuat saya bosan dan bahkan, selalu membuat ketagihan.

  6. Dewi Aichi  8 January, 2013 at 12:29

    Anoew nguber-uber Dian, paling diathungi uthik, Anoew udah lari tunggang langgang,

    mas JC…sorry, dari semalem upload file ngga bisa-bisa, lelet banget ato filenya emang kegedean, aku ngga punya program meresize foto hiks..

  7. J C  8 January, 2013 at 12:22

    Untung saja Kang Anoew gak sekelas n seangkatan dengan Dian. Kalau tidak pasti sudah diuber, PDKT abis-abisan…

  8. Dewi Aichi  8 January, 2013 at 12:07

    Dian kau itu tomboy ya…tapi cantik sekali dan smart….suka dengan apapun tentangmu.

  9. James  8 January, 2013 at 10:26

    SATOE, Hati Hitam

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *