Malam

Night

 

malam

Saya telah pernah melewatinya, itu bukanlah akhir. Ketika kamu merasa lelah, selalu ada orang yang lebih peduli akan kamu dibanding diri kamu sendiri.

Saya telah menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya, pada setiap titik dimana orang-orang mengubahku menjadi sosokku yang seperti ini. Pada titik ini saya sadar, kita serupa, mungkin kamu lebih bisa menghadapinya tapi saya yakin suatu saat kamu akan berubah dan saya tidak ingin kamu menjadi sosok yang sepertiku.

Senyum dan tawa khasmu, saya tidak ingis itu terhapus dari wajahmu.

Saya akan peduli…

Saya akan membiarkanmu menangis…

Saya akan selalu ada, ketika kamu membutuhkanku atau tidak…

Saya tidak ingin kamu menjadi sosok sepertiku…

Ketika kamu bertanya apa hidupmu penting? Apakah kamu cukup baik?

Ketika semua orang meminta kamu berubah.

Ketika kamu dianggap berbeda, pikirkanlah bahwa itulah keunikanmu dan setiap orang memang berbeda. Persepsi mereka bukanlah standar yang harus kamu ikuti.

Lihatlah apa yang membentukmu..

Tak perlu berubah untuk mereka, tak peduli apapun yang mereka katakan.

Kita tahu banyak hal yang menyakitkan…

Rasa takut dan tidak mengerti harus bagaimana. Keinginan untuk lari, kata-kata yang melukai.

Bertahan, menghentikan rasa perih itu, berpikir semuanya tidak masuk akal… Tak pernah menang.

Hatimu luas, kamu baik, meski banyak hal tidak sesuai harapanmu namun ini bukan akhir.

Senyummu, setiap orang menilai tawamu… Tak sadarkah mereka tangis itu tak pernah meneteskan air mata? Terkubur dalam tatapanmu yang redup.

Senyum yang tampak tak peduli, sempurna untuk tampak baik-baik saja.

Seandainya saya bisa mengatakan bahwa itu mudah, namun itu yang akan membentukmu. Rasa tidak nyaman itu yang akan menjadikanmu tegar…, menjadikanmu lebih dewasa, menempamu… Hidup baru dimulai ketika kamu keluar dari rasa nyaman itu.

Saya tak lebih baik dari kamu, yang membedakan kita hanya saya pernah melewatinya. Menasehati tidaklah menjadi solusi, kadang kita harus merasakannya. Saya tidak bisa berjanji akan melindungi kamu, tapi saya akan disana ketika kamu jatuh dan membantumu berdiri atau setidaknya berada di sampingmu. Kamu tak perlu memintaku ada di sana…

Saya akan menjadi malam yang akan membiarkan kamu beristirahat. Menjagamu dalam lelah, yang tidak akan menghakimimu, yang membiarkanmu menangis. Yang mengacak rambutmu dan meyakinkanmu bahwa kamu jauh lebih baik dari yang kamu pikirkan.

 

14 Comments to "Malam"

  1. Dj. 813  11 January, 2013 at 05:24

    Night Says:
    January 11th, 2013 at 05:01

    Hai Pak Djoko Paisan, saya sadar banyak yang mengarahkan malam dan kegelapan sebagai simbol sesuatu yang buruk namun saya ingin menunjukkan sisi berbeda dari malam. Anda benar, banyak manusia yang bergentayangan saat malam ketika seharusnya kita beristirahat. Banyak yang karena pilihan – tidak sedikit yang karena kewajiban, (namun saya yakin yang muntah di toilet saat pagi dan bangun tanpa ingat apa yang terjadi pada malam sebelumnya adalah karena pilihan).
    ——————————————————————————

    Night….
    Terimakasih untuk responnya…
    Anda sangat benar, banyak juga saat malam digunakan dengan bermacam-macam kesibukan.
    Jelas tidak mutlak, kalau dibilang negativ.
    Karena banyak juga dokter dan perawat dan jaga malam dan membantu ( menolong ) orang-orang yang membutuhkan pertolongan. seperti kecelakaan atau banyak soal darurat yang lainnya.
    Juga pekerja hotel, harus kerja diwaktu malam, polisi menjaga keamanan kota atai daerah.

    Sekali lagi, terimakkasih…!!!
    Tulisan yang apik.
    Salam,

  2. Night  11 January, 2013 at 05:01

    Hai ISK, mungkin kamu akan heran jika berbicara langsung dengan saya karena pada dasarnya saya adalah sosok yang berbicara dengan kosakata dan penyampaian yang sangat menghindari penggunaan slang dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit yang menganggapku bercanda dan sok formal.

    Hai Pak Djoko Paisan, saya sadar banyak yang mengarahkan malam dan kegelapan sebagai simbol sesuatu yang buruk namun saya ingin menunjukkan sisi berbeda dari malam. Anda benar, banyak manusia yang bergentayangan saat malam ketika seharusnya kita beristirahat. Banyak yang karena pilihan – tidak sedikit yang karena kewajiban, (namun saya yakin yang muntah di toilet saat pagi dan bangun tanpa ingat apa yang terjadi pada malam sebelumnya adalah karena pilihan).

    Terima kasih Dewi Aichi, saya tidak menyangka tulisan singkat ini dihargai oleh Anda….

    Elnino, saya bukan sosok yang romantis dan malah banyak yang mengatakan saya sosok yang tidak ekspresif (atau mungkin saya sengaja membangun image demikian?).

    Hai Linda, saya memang sukanya keluar mendadak biar terkesan dramatis haha…

    Enthung Queen, kepekatan malam ibaratnya kepekatan kopi tubruk, meski kopi terasa pahit namun semakin diminum semakin dinikmati. Saya mengatakan ini hanya untuk menyambung-nyambungkan antara kopi dan malam, sejujurnya saya sendiri tidak tahu apa hubungan antara kopi dan malam.

  3. EQ  11 January, 2013 at 01:02

    12:59 AM
    Night…night..night…..my dearly night…..kamu akan tetap selamanya menjadi malamku, menyimpan bulan untuk senantasa terbit dan berhias…menaburkan bintang-bintang agar aku bisa menggambar konstelasinya
    night, night, night…..aku masih menyimpan semua kata-katamu yang pekat…….

    makasih Night untuk tulisannya….

  4. Linda Cheang  10 January, 2013 at 22:50

    Night mendadak keluar dari malam…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.