[Oase Hidup Malaikat Kecil] Hampir Terlewatkan

Angela Januarti Kwee

 

Tiga minggu tidak pulang kampung membuatku rindu suasana di rumah. Aku tiba menjelang senja. Aku beristirahat sejenak di rumah dan berbincang bersama adik dan ponakanku.  Beberapa menit setelahnya aku menuju rumah kakek dan nenekku. Aku rindu berbincang dan mengujungi mereka. Aku menyapa kakek yang tengah duduk santai. Kuberikan sekantong oleh-oleh berisi kue dan buah kesukaan mereka.

Pertanyaan yang selalu sama diucapkan kakek dan nenek padaku “Kapan datang?” dengan dialek tiocunya. “Belum lama sampai,” jawabku menjelaskan. Aku diam sejenak dan memperhatikan dua adik sepupu dan ponakanku bermain.

Kulihat kakek mulai memakan buah salak yang kubawa. Kakek sangat senang makan buah-buahan. Aku menawarkannya pada nenek, tapi nenek menolak. “Susah mengunyahnya,” ujar nenek padaku.

Aku memperhatikan kakek dan nenekku cukup lama. Tanpa tersadari mereka semakin lanjut usia. Rambut kakek sudah memutih. Kulitnya keriput. Tulang rusuk terlihat jelas. Begitu juga nenek. Kulitnya keriput dan terkadang nenek bercerita penglihatannya mulai kabur.

“Kamu sudah makan?” Pertanyaan lain yang sering kudengar. “ada lauk yang Nenek masak, kalau mau nanti Nenek ambilkan.”

“Nanti saja Nek.” Aku tidak ingin merepotkannya. Beberapa kali nenek mengulang ucapannya. Aku pun menjawab boleh. Tidak ingin nenek kecewa.

Nenek mengambil mangkok kecil dan memasukkan lauk yang dimasak sendiri olehnya. Saat aku pamit pulang, nenek memberikan mangkok yang sudah diberi tutup (agar tidak berdebu) kepadaku.

“Selalu membawa sesuatu kalau pulang dari rumah nenek,” candaku pada adikku yang berdiri di depan rumah. Dia tersenyum. “cucu kesayangan.”

“Iyalah, cucu kesayangan,” balas adikku mengejek. Aku pun tertawa bahagia. Ini suasana yang selalu kurindukan di rumah.

Aku bersantai di depan toko bersama mama, papa dan satu paman. Kami berbincang beberapa hal. Dari kejauhan aku melihat nenek tengah makan malam di kursi depan rumah. Kursi santai tempat kami sering menghabiskan waktu bersama. Ada perasaan haru melihat kejadian itu. Kehidupan nenek dan kakek sangat sederhana.

Aku bersyukur mereka bisa hidup damai di kampung halamanku. Masih bisa menghirup udara yang segar. Berjalan-jalan santai. Melakukan rutinitas seperti biasanya.

Dalam hati aku berbisik pada Tuhan untuk terus menjaga mereka. Memberi umur panjang dan kesehatan.

family-bonding

Kebersamaan ini mengajariku satu hal, bahwa ada sesuatu yang hampir terlewatkan dari mereka. Aku senang hari ini diberi kesempatan memperhatikan mereka lebih dekat dalam usia lanjutnya.

 

Rawak, 17 Nov 2012

SCA-AJ.020187

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "[Oase Hidup Malaikat Kecil] Hampir Terlewatkan"

  1. Angela Januarti  15 January, 2013 at 11:18

    Night : Wah, ada orang sekampung yang bertemu di Baltyra ^_^ Siapa tahu malah masih ada hubungan keluarga.

    Pak Iwan : salah satunya kayak gini : “Le ki si lai?” —-} kamu kapan datang? atau yang lebih gampang ucapan umum anak-anak muda “Wa ai le” —-} aku suka kamu. Hanya sedikit berbeda dengan bahasa mandarin.
    Aku juga tidak terlalu lancar, masih giat belajar biar tidak lupa bahasa nenek moyang ^_^

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 January, 2013 at 14:04

    Dialog tiociu itu seperti apa ya?

    Senang Angela sering menuliskan tentang pedalaman Kalimantan…

    Makasih An.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.