Pejaten (15)

Fidelis R. Situmorang

 

“Rain, lagi ngapain, sayang?”

“Hai, Ri… lagi mikirin kamu nih…”

“Heee… gombal, deh…”

“Hehehe… bener kok, lagi mikirin kamu…”

“Iya, deh, percayaaa… daripada benjol… hehehe… eh, kamu udah makan?”

“Udah. Kamu?

“Udah juga.”

Aku menyandarkan tubuhku ke kursi, supaya bisa bercakap-cakap lebih nyaman.

“Eh, Rain, aku masih aja kepikiran kejadian kemarin lho…”

“Yusuf, si kecil penyemir sepatu itu?”

“Iya…”

“Aku juga, Ri…”

“Gimana nasibnya ya, Rain?” Tanyaku penasaran membayangkan kejadian semalam.

“Dia meninggal, Ri…” Suara Rain terdengar agak tersendat.

“Hah? Kamu tahu darimana?”

“Dari berita di TV tadi. Kaget banget pas nonton berita itu, Ri…”

“Kasihan ya… kasihan juga ibunya…

Kami berdua terdiam. Aku masih terbayang wajah gembiranya menerima uang pemberian Rain.

 

“Rain…”

“Ya, Ri…”

“Aneh hidup ini ya… kenapa di saat-saat terakhir hidupnya, kita bisa ketemu dia…”

“Iya, aku juga mikir begitu. Padahal aku berharap, satu saat nanti, kita bisa melihat dia bermain di liga sepakbola internasional.”

“Tapi takdir berkata lain ya, Rain…”

Kami berdua terdiam lagi.

 

“Sayang…” panggilku memengusir keheningan.

“Ya, Ri…”

“Di hidup kita yang katanya hanya sekali ini, sebenernya untuk apa sih kita ada?”

“Maksudmu?”

“Sebenernya hidup kita ini untuk apa sih? Untuk apa sih kita ada di dunia ini?”

“Busyet… dalem banget pertanyaan kamu, Ri… pertanyaan-pertanyaan itu juga sempat terlintas di pikiranku, sih…”

“Terus…?”

“Aku rasa nggak semua pertanyaan-pertanyaan di dalam hidup ini bisa dijawab.”

“Jadi?”

“Jadi ya, aku hidup mengalir aja, Ri…”

“Maksudmu?”

“Kalau kehidupan ini diibaratkan sebuah sungai, dan kita adalah sesuatu yang terlempar ke dalamnya tanpa diri kita menghendakinya, mungkin bagian kita adalah ikut mengalir kemana arus sungai itu menuju.”

“Ikut arus?”

“Mengalir. Aku pikir mungkin begitu; kita akan dibawa ke banyak tempat yang beberapa di antaranya mungkin tidak kita kehendaki. mungkin suatu saat kita dibawa ke tempat-tempat yang mampet, kering dan berbau busuk, seperti kebanyakan sungai-sungai di Jakarta ini. Tapi, bagian Bumi mana sih yang nggak kena hujan? Nah, kalau hujan itu turun, maka kita akan terangkat dari tempat-tempat mampet dan berbau busuk itu, lalu ikut mengalir kembali sampai ke laut, kemana sungai itu akhirnya menuju.”

“Tapi ada beberapa tempat yang tidak dikunjungi hujan…”

“Tempat yang tidak mengenal hujan, sudah pasti tak mengenal sungai. Tentu saja ada pengecualian, hal-hal yang tak pernah bisa kita perkirakan… Hehehe…”

“Hmm… boleh juga analogimu. Tapi itu tak menjawab pertanyaan tadi.”

“Hahaha… aku ngawur ya?”

“Kamu emang sering ngawur kalau sama aku Rain… Hahaha…” sahutku tertawa menggodanya.

“Tapi suka kannn…?”

“Iyaaa… apa sih yang nggak aku suka dari kamu?”

“Uhhhuuuyyyy…!!” sahutnya dari ujung telepon.

“Hahaha…”

“Eh, Ri, aku mau cerita ya,” katanya setelah tawa kami reda.

“Iya, sayangku….”

it's love

“Bapakku seorang supir taksi, Ri…” katanya membuka cerita. “Dulu,” lanjutnya, “aku sering bertanya dalam hati, kenapa Bapak mau memilih jadi supir taksi, padahal tadinya bapak adalah seorang pekerja kantoran. Pada awal kami kehilangan Monang, ternyata bapak sering mangkir dari pekerjaannya. Bapak pergi ke berbagai tempat untuk mencari Monang. pergi pagi, pulang dini hari, bahkan sering juga tidak pulang berharap bisa membawa pulang adikku itu.

Akhirnya, Ri, karena terlalu sering mangkir, Bapak kemudian kehilangan pekerjaannya. Bersama ibu, lalu bapak merubah teras rumah menjadi warung kecil-kecilan. Dan sebulan kemudian bapak sudah bekerja lagi menjadi supir taksi.

Tau, nggak, Ri? Aku sempet malu lho, punya bapak seorang supir taksi. Jahat banget aku ya… aku sering minder kalau kawan-kawan di SMA bercerita bangga tentang ayah-ayah mereka. Tapi lama setelah itu aku baru mengerti, bahwa bapak memang dengan sengaja memilih pekerjaan itu. Karena dengan menjadi supir taksi, ia akan dibawa ke banyak tempat dan seluruh penjuru kota ini, termasuk tempat-tempat yang mungkin tak bisa ia datangi kalau masih bekerja di kantor. Luar biasa ya, Bapakku, Ri… Dia tak pernah berhenti mencari Monang.”

Rain berhenti sebentar. suaranya terdengar agak basah.

“Malam itu hujan, Ri,” Rain melanjutkan ceritanya. “Aku yang membukakan pintu waktu Bapak pulang. Rambutnya basah oleh hujan. Wajahnya lelah, tapi segera tersenyum melihatku. Mengusap kepalaku dan bertanya kenapa belum tidur, kujawab masih membaca buku. Lalu bapak meminta tolong diambilkan handuk. Belum sempat melakukan apa yang di mintanya, ibu sudah datang dengan handuk di tangannya. Kemudian bapak minta dibuatkan indomie goreng kesukaannya kepada ibu.

Setelah berganti pakaian, Bapak menyalakan televisi tapi sepertinya tidak menontonnya, karena tangannya asyik membuka-buka album foto keluarga. Satu foto dikeluarkannya dari album itu. Didekatkannya foto itu ke wajahnya dan memandanginya dengan penuh senyuman. Lalu Bapak merebahkan diri di bangku panjang dekat TV sambil masih memandangi foto itu.

Tak lama kemudian ibu datang dari dapur membawa indomie goreng kesukaan Bapak. Diletakkannya di meja dekat bapak. Tapi sepertinya bapak sudah tertidur. Lalu ibu membangunkan bapak, tapi bapak tak juga bangun. Lalu kudengar ibu menangis keras memanggil-manggil bapak. Ternyata bapak sudah meninggal, Ri…” suara Rain kembali tersendat.

“Tetangga bilang bapak kena angin duduk. Dokter bilang, bapak kena serangan jantung. Aku tak pernah tahu bahwa bapak ternyata menderita penyakit jantung. Bapak meninggal dengan satu foto di tangannya. Foto bergambar dirinya sedang tersenyum bahagia, tersenyum menjadi kuda bersama aku dan Monang menjadi cowboy di atas punggungnya.”

Tiba-tiba airmataku jatuh.

“Jadi, Ri, untuk apa Bapak ada? Untuk apa bapak hidup? untuk kami keluarganya. Untuk apa bapak juga sampai mati? Juga untuk kami keluarganya, orang-orang yang dicintainya.”

Kami berdua terdiam lagi. Mataku semakin basah.

“Eh, Ri…” Panggilnya dari ujung telepon. “Sepertinya aku dipanggil nyokap nih… udah dulu ya, nanti kita sambung lagi…”

“Iya, sayangku…”

“Bye.”

“Bye.”

Dia menutup teleponnya. Mataku masih basah.

 

14 Comments to "Pejaten (15)"

  1. Fidelis R. Situmorang  11 January, 2013 at 22:33

    @Mbak Dewi: Tararengkyuuu, Mbak….

    @Om Dj: Iya, om. Ini terasa sedih. Makasih mau berbagi. Seneng banget dibawain oleh-oleh sama ayah ya, Om. Abis makan sama-sama makanan oleh-olehnya, lanjut tidur lagi. Hehehe…
    jadi inget juga, waktu itu bapak saya yang juga suka bawa sesuatu kalo pulang ke rumah. Sate padang atau makanan bungkus lainnya. Sesekali juga membawakan kaset Band2 baru kesukaan saya.

    Makasih mau berbagi juga ya, Om…

  2. Fidelis R. Situmorang  11 January, 2013 at 22:24

    @[email protected]: Hehehe… mantap cintanya ya

    @elnino: Makasih, Bu…

    @anoew: Makasih, Om…

    @J C: Hehehe… asiiiikkkk… boncengan

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 January, 2013 at 13:59

    Ah..sedih.. drama meninggalnya ayah tidak jauh berbeda dengan kepahitan dalam keluarga kami..’

  4. Kornelya  11 January, 2013 at 03:58

    Terharu . Lelaki yang menjalankan tanggung jawab keayahan hingga ajal menjemput, adalah Ksatria.

  5. Dj. 813  10 January, 2013 at 19:50

    Bung FRS….
    Terimakasih…
    Dj. senang membaca dialog, walau sedikit menyedihkan ceritanya.

    Ingat ayah Dj. juga sopir dan ibu buka warung…
    Kalau ayah datang, selalu bawa oleh-oleh kueh dan kami yang sudah tidur malah dibangunkan.
    Agar bisa makan bersama.
    Selalu ayah berkata, jangan sampai besok, hanya dengar cerita dan menyesal. ( Kepuhunan )

    Ditunggu lanjutannya….
    Salam,

  6. Dewi Aichi  10 January, 2013 at 15:42

    Sukaaaaa…he he..romantis sih..

  7. J C  10 January, 2013 at 14:57

    Ingat jaman yang-yang’an…tetetp komentar yang sama… inget jaman nonton bioskop di 21 Studio, boncengan brompit…

  8. anoew  10 January, 2013 at 10:18

    Ikut sedih

  9. elnino  10 January, 2013 at 08:18

    Like this

  10. [email protected]  10 January, 2013 at 07:51

    wuiiih…. mantab….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.