[Bukit Tengkorak] Episode Tantangan Maut

Nyai EQ – di balik gerumbulan semak

 

Langit kelabu. Mendung menggantung penuh dengan air dan muatan listrik. Angin yang berkesiur tak mampu mengusir gerah yang mengusik sejak pagi. Tak lama kemudian hujan turun sangat deras. Tirai hujan menyembunyikan matahari yang sedari fajar hanya muncul setengah-setengah.

Di atas bukit, di antara reruntuhan bangunan kuno yang hancur dimakan perebutan kekuasaan, tampak beberapa sosok tubuh manusia mencoba mencari tempat berlindung dari serbuan jarum-jarum hujan yang bersicepat turun menghujam bumi. Melindungi dari rasa pedih dan basah. Udara menjadi dingin dengan segera. Gerah panas seharian bagai tak tersisa lagi.

Beberapa orang di atas bukit rupanya sudah menemukan tempat yang cukup nyaman untuk sekedar berlindung dari curahan hujan. Ceruk bukit yang menyerupai gua kecil cukup nyaman untuk berlindung. Cukup untuk bertujuh, bahkan jika mungkin akan cukup juga untuk bersepuluh. Ceruk itu cukup luas.  Beberapa ranting kering yang tersebar di tanah bisa dibakar. Nyalanya terang menghangatkan suasana. Salah seorang mengeluarkan umbi-umbian yang dibawanya sebagai bekal. Yang lain mengeluarkan air dan daun-daun teh dari gembolannya. Beberapa kitab dibungkus dalam kain tua bersama senjata-senjata andalan.

Tak pelak lagi, mereka adalah para pendekar sakti dari beberapa wilayah. Bahkan ada yang datang dari negeri lain. Mereka adalah pendekar-pendekar dari kelompok Balatira. Biasa dipanggil dengan sebutan kaum Balatirans. Masih ada satu pendekar yang belum muncul. Mungkin hujan deras dan jalan yang licin sedikit menghambat pergerakannya. Tapi mungkin juga karena ada urusan yang belum bisa diselesaikan segera.

bukit-tengkorak02

Obrolan kaum Balatirans terdengar begitu menarik. Apalagi ditambah aroma daun teh segar yang diseduh dalam gelas tembikar yang dibawa salah satu pendekar wanita kawakan. Bau umbi bakar memenuhi udara. Tak ada ketegangan. Rupanya memang sedang tidak membicarakan masalah-masalah buruk yang terjadi pada tatanan pemerintahan yang membusuk akhir-akhir ini. Hanya obrolan ringan sambil menunggu hujan reda. Dan ketika akhirnya pendekar terakhir muncul, hujan sudah benar-benar berhenti. Sang pendekar terakhir tampak lelah dan basah, tapi mukanya bersinar-sinar melihat kawan-kawan seperjuangannya tengah asyik merintang waktu.

Tak lama setelah hujan berhenti, lembayung senja mulai menghiasi langit. Udara basah sisa-sisa hujan. Di garis horizon tampak warna jingga dan biru tua menggaris di batas langit dan bumi. Alam begitu cantik. Bulan seperempat muncul dari balik awan-awan putih tipis. Angin membawa hawa lembab. Para pendekar Balatirans bersiap menuju tempat yang sudah direncanakan. Warung makan yang berada di luar gerbang Kraton Sinuhun Sultan dalah tujuan mereka. Kuda-kuda mencoklang tanpa terburu. Benar-benar suasana yang ringan dan indah.

Warung itu cukup besar. Penuh dengan orang yang lalu lalang mengambil makanan. Berbagai jenis makanan tersaji. Beberapa kursi dan tikar tergelar. Siapa pun bisa memilih untuk duduk di atas bangku-bangku kayu berpelitur apik, dengan bau kayu jati. Atau duduk bersila di atas tikar-tikar pandan berwarna kuning kecoklatan. Lampu minyak menyala terang. Cahayanya menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak seperti pertunjukan wayang.

Para pendekar mengambil tempat masing-masing. Duduk bersila dengan nyaman menghadapi hidangan aneka macam. Air serbat dan rempah-rempah panas mengepulkan asap dari gelas-gelas kaca bening.

Suasana tenang pelan-pelan menjadi sedikit memanas, ketika dua pendekar seperti sengaja mengambil tempat terpisah di sudut dan tampak kurang memperhatikan yang lainnya karena asyik berkasak-kusuk berdua. Keduanya adalah pendekar-pendekar Balatira terkenal. Yang satu adalah pendekar Wan Ahmad yang sangat luwes melafalkan kalimat-kalimat dari kitab sucinya. Bukan itu saja, tapi juga menguraikannya. Senjata andalannya adalah lafalannya yang bila diucapkan dengan nada dan hawa tertentu mengeluarkan lidah-lidah api yang bisa membuat lawannya jatuh bangun hangus terbakar. Sifatnya baik hati, tapi sangat galak. Kebaikan hatinya kadang kala membuat orang lain mudah menganiaya tanpa sungkan.

bukit-tengkorak03

Pendekar yang berikutnya terkenal dengan sebutan pendekar Mas Alpre, pendekar dari wilayah pulau timur jauh. Berjambang dan berkumis. Meskipun tidak bertubuh gagah perkasa, tapi sinar matanya yang tajam mampu meruntuhkan hati siapapun yang dipandangnya. Senyumnya yang begitu irit bisa membuat luluh lantak kaum wanita. Pendekar satu ini tidak banyak bicara. Senjatanya adalah pena setajam lidah ibu mertua.

Kasak-kusuk Wan Ahmad dan Mas Alpre tentu saja membuat yang lain bertanya-tanya dan menjadi tak enak hati, karena mereka datang bersama dan berkumpul bersama. Tak elok jika kemudian ada yang menyendiri untuk membicarakan sesuatu. Apalagi jika keduanya tampak begitu mesra namun serius. Dan misterius.

Pendekar yang tadi muncul terakhir, seorang pendekar perempuan bersenjata jarum beracun, tak bisa hanya tinggal diam dan membiarkan kasak-kusuk itu berlangsung dengan begitu saja. Dengan gaya kemayunya dia mendekati kedua pendekar, bahasa tubuhnya begitu kentara condong pada pendekar Mas Alpre yang tidak menyangka sama sekali. Menjadikannya blingsatan. Namun tak urung juga senyum sejimpit mekar. Antara malu dan bingung harus berbuat apa, karena tak mungkin menolak sapaan pendekar jarum beracun yang berjejuluk Nyai Enthung.

Beberapa pendekar lainnya tertawa melihat kejadian tersebut. Namun siapa nyana, ternyata muka Wan Ahmad menjadi merah biru saking menahan amarah. Temperamennya yang tinggi menjadi tambah memuncak saat dia merasa terabaikan. Tak ada yang tahu pasti apakah Wan Ahmad sebenarnya memang mendekati Mas Alpre dengan maksud tujuan tertentu, menjadikannya sebagai pasangan berbagi selimut, atau memang ada politik lain yang sedang direncanakan. Namun jelas terlihat air mukanya memancarkan kekecewaan dan kemarahan ketika Nyai Enthung mencoba merayu Mas Alpre dengan bahasa tubuhnya.

Takut terjadi segala sesuatu yang tidak baik, para pendekar lain mencoba mengingatkan Nyai Enthung. Pendekar Nyi Gutchan yang kawakan dan bijaksana memperingatkan dengan gaya guyonannya yang khas. Begitu pula pendekar dari negeri jauh yang dikenal dengan nama Dewi Pao, pendekar perempuan lainnya adalah pendekar Tyakya yang sakti dan punya nada tertawa yang membahana, hampir seperti Pendekar Nyi Gutchan.

Meskipun sudah berbagai macam cara dipakai untuk meredakan amarah Wan Ahmad yang merasa terhina dengan sikap Nyai Enthung, namun Wan Ahmad sudah terlanjur naik darah. Dengan suaranya yang tajam dia menantang Mas Alpre untuk mengadakan pertarungan di bukit Tengkorak pada malam bulan ke empat, saat bulan sedang seperempat, seperti malam itu. Mas Alpre terhenyak, begitu juga yang lain. Tak menyangka sama sekali jika semua ketenangan dan kenyamanan ini akan berbuntut dengan tantangan maut di bukit Tengkorak. Semua pendekar tahu, bahwa tantangan beradu kesaktian di bukit Tengkorak adalah tantangan yang serius dan hanya mempunyai satu arti. Bertarung sampai salah satu mati.

bukit-tengkorak01

Wan Ahmad memang tidak bisa dibuat main-main. Apapun yang sudah meluncur dari mulutnya ibarat kata sakti yang tidak bisa dicabut lagi. Apalagi jika dia merasa terhina dan teraniaya. Tak perduli alasan yang paling sederhana pun bisa membuatnya murka, jika merasa dirinya diabaikan. Tantangan tersebut membuat siapapun yang mendengar menjadi tergetar jantungnya. Tak pelak para pendekar yang lain segera bergegas mengemasi semua barang-barangnya dan segera beranjak pergi. Sementara Wan Ahmad dengan tenang masih tetap duduk bersila, menyeruput wedang rempahnya. Menghirup rokok klembak yang sarat asap, sambil mencuil ubi goreng, seolah-olah mencabik-cabik tubuh entah siapa. Mas Alpre, dengan pandangan mata tajam, meninggalkan tempat sambil tetap diam dan bersikap dingin. Sementara Nyai Enthung melenggang mengikuti pendekar Balatirans yang lain meninggalkan warung. Langit semakin gelap. Udara menjadi bertambah atis. Dingin menggigit tulang. Bulan padam.

Beberapa hari sesudah kejadian di warung makan di luar gerbang Kraton Sinuhun Sultan, para pendekar Balatira berkumpul kembali. Kali ini bertambah dengan seorang pendekar dari wilayah timur dekat kotapraja, pendekar  yang terkenal dengan julukan Pendekar Burung Berjenggot yang memiliki keahlian dalam hal mengenali berbagai jenis burung. Bukan itu saja, tapi juga ahli dalam olah senjata dengan gaya burungnya yang terkenal luwes.

Kejadian di warung besar sebenarnya masih rada membekas, namun kehadiran pendekar Burung Berjenggot melumerkan suasana hati Wan Ahmad. Ah, siapa sangka, mungkin Wan Ahmad memang lebih menyukai para pendekar pria, dibanding dengan para pendekar perempuan. Atau karena keahliannya dalam berfalsafah dan melafalkan kata-kata sakti, membuat keahliannya memikat kaum hawa menjadi kurang terasah. Sehingga jika kemudian jika dekat dengan pendekar Burung Berjenggot, sang ahli burung, bisa dibilang suatu keuntungan besar bagi kedua belah pihak. Karena pendekar Burung Berjenggot juga terkenal sebagai pemikat lawan jenis.

Seperti biasanya. Saat minuman panas tersaji dan nyamikan terhidang, suasana hangat pun terbangun. Meskipun bekas-bekas tantangan Wan Ahmad masih terngiang, namun suasana hati Wan Ahmad yang riang gembira membuat yang lain tidak terlalu dagdigdug.

Lagi asyik-asyiknya bercanda, tiba-tiba Dewi Pao dan Nyai Enthung berteriak kaget menyadari bahwa pakaiannya basah karena tikar tempatnya duduk tergenang air entah dari mana. Hampir saja pemilik warungnya ditikam senjata jarum dan bola-bola maut milik kedua pendekar perempuan tersebut. Dengan sangat ketakutan dan memohon ampun, si pemilik warung mencarikan tempat lain yang lebih nyaman dan kering.

Suasana menjadi sedikit aneh. Dewi Pao dengan tanpa dosa mengibas-ibaskan kainnya yang basah, tepat di depan Wan Ahmad yang langsung menjadi gerah bukan kepalang. Darahnya naik sampai di mukanya. Apalagi beberapa jam lalu dia baru saja menenggak beberapa botol tuak bersama pendekar Burung Berjenggot.

Sang pendekar burung tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan tajam dan cepat Dewi Pao segera di genggam dengan rayuan mautnya. Sang Dewi tak berkutik. Selain hanya tertawa jengah. Para pendekar lainnya menggoda dengan penuh semangat, tanpa mengira sama sekali jika hal tersebut ternyata membangkitkan amarah Wan Ahmad. Rupanya kejadian warung makan terulang kembali. Ah, Wan Ahmad yang begitu alim dan baik hati ini memang benar-benar pemarah luar biasa. Tak ada lawan yang menang telak jika Wan Ahmad sudah menyebarkan lidah-lidah apinya.

Pendekar Burung Berjenggot pun tak luput dari tantangan Wan Ahmad. Bertarung di bukit Tengkorak pada bulan ke empat, saat sepertiga malam! Tantangan yang tak terelakkan. Meskipun pada akhirnya semua pendekar menjadi berpikir. Sebenarnya apa yang membuat Wan Ahmad bisa sedemikan murka dan menantang semua pendekar bertarung di bukit Tengkorak. Apakah hanya karena dirinya merasa begitu terabaikan, teraniaya dan terhina? Padahal sebenarnya semua pendekar, terutama kaum Balatira sangat hormat dan sayang padanya. Mungkin karena temperamennya yang luar biasa tinggi, membuatnya cepat marah dan dengan mudah menantang semua pendekar yang dianggap mencederai perasaannya.

Pada akhirnya, di penghujung malam yang sebenarnya cerah dan penuh bintang, pertemuan tersebut harus berakhir juga. Para pendekar harap-harap cemas menanti saatnya pertarungan itu terjadi. Wan Ahmad akan bertarung melawan dua pendekar besar. Masih akan ada lagi pertemuan akbar dengan para pendekar Balatira dari berbagai wilayah lain di kerajaan sebelah barat gunung besar. Semoga pada pertemuan berikutnya tidak ada kejadian yang memancing tantangan berikutnya.

Kita tunggu saja.

 

40 Comments to "[Bukit Tengkorak] Episode Tantangan Maut"

  1. anoew  15 January, 2013 at 22:22

    ha ha ha ha..ojo rangkep pitu lah, samar samar gitu lo. nek ra yo petruk petruk

    dan ternyata setelah sampai ke Bukit Barat, Pendekar Gus Wan harus kecewa dan mengumpat, “yang pesen siapa, yang membungkus siapa!”

  2. probo  15 January, 2013 at 19:59

    menunggu episode berikutnya……

  3. Dj. 813  12 January, 2013 at 20:48

    EQ Says:
    January 11th, 2013 at 22:58

    om Dj, makasih atas dibacanya fiksi ini….based on true story hahahhaha…..foto2nya memang cuma sedikit, itu karena belum ada ilustrasi yang ciamik, maka dipakai foto sebagai pendukung cerita…semoga di episode berikutnya saya sudah bisa menghadirkan ilustrasi pendukung
    ——————————————————-

    EQ….
    Terimakasih, ditunggu serir berikutnya…
    Itu photo ke dua dari atas, kok kasihan amat, seperti dibalik penjara, ada jeruji di jendelanya….
    Itu mas Juwandi dan mas Joko P. ya…???
    Salam manis dari Mainz dan selamat berakhir pekan…???

  4. Anastasia Yuliantari  12 January, 2013 at 19:17

    Waaahh…akhirnya Bukit Tengkorak sdh muncul. Siyap2 kacang godog karo wedang teh. Aja lali Mbak EQ nek sida suting aku dikabari. Arep ndelok wong suting, je….hehhee.

  5. Kornelya  12 January, 2013 at 06:56

    Perasa’an kemarin aku sudah posting komen, kok ngga mencungul. Apa karena artikel ini ditulis pendekar dan tentang pendekar ya?. EQ ditunggu lanjutannya.

  6. juwandi ahmad  11 January, 2013 at 23:03

    ha ha ha ha..ojo rangkep pitu lah, samar samar gitu lo. nek ra yo petruk petruk

  7. EQ  11 January, 2013 at 22:58

    om Dj, makasih atas dibacanya fiksi ini….based on true story hahahhaha…..foto2nya memang cuma sedikit, itu karena belum ada ilustrasi yang ciamik, maka dipakai foto sebagai pendukung cerita…semoga di episode berikutnya saya sudah bisa menghadirkan ilustrasi pendukung

    mas Gus Wand, hahahahhaha…rok mini ???? hahahhahahahaa……rok mini tapi njerone jarikan rangkep 7 lho ya…..wakakakkaka…

  8. EQ  11 January, 2013 at 22:52

    wuahahahahhahahahahaha……..ra rampung2 le ngguyu nek ngene ki…..kok ternyata komennya lebih koplak dari ceritanya ki piye jaaaal ? wis wis, nganti ra iso komen………wuakakakkakakakakaka…….

  9. juwandi ahmad  11 January, 2013 at 22:16

    alah nganti salah: biang kerok..!

  10. juwandi ahmad  11 January, 2013 at 22:15

    ha ha ha ha ha……………………ra umum tenan bing kerik siji kuwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.