Gallery

Pratiwi Setyaningrum

 

“Judul: ‘De-si-re-e’ 2009 hmm..”, desisku pelan, mengamati sebuah lukisan di hadapanku. Ukuran kanvasnya sekitar seratus kali dua ratus senti. Ah, tak tertulis berapa ukuran kanvas pada kertas keterangan yang menempel di bawahnya. Di situ hanya tertera judul dan tahun pembuatan yang ditulis dengan tulisan tangan yang indah. Aku mundur beberapa langkah, sekitar dua meter dari dinding galeri yang berwarna magenta tua. Di bawah lampu sorot yang kecil namun terang, di situlah sebuah lukisan tampak anggun terpajang.

Di mataku, lukisan ini sepertiga bagiannya dipenuhi warna-warna bertaut yang menggambarkan seorang putri atau dewi jaman Yunani kuno; bermata melankolis, berhidung mancung, dan bibir rekah seakan habis dikulum. Berambut panjang berikal-ikal, dengan pakaian tipis melambai yang terikat tambang mungil di pinggang. Seperti patung-patung Michaelangelo. Kaki di ujung tungkai indahnya beralaskan sepatu sandal khas, model temali. Dewi itu dengan serius sedang merentangkan busur pelangi. Anak panahnya adalah sebentuk petir yang berkilatan. Pangkal petir nyaris menempel pada tumpul dagunya yang halus mulus. Sempurna bagai granit. Pandanganku terhisap sepenuhnya oleh lukisan ini.

Tatapan mataku tak juga mau beralih. Padahal di galeri berlantai hitam yang luas ini ada belasan lagi lukisan yang bisa kunikmati. Tetapi aku tetap terpaku di sini. Masuk ke dunia yang serasa tak asing. Lukisan adalah sebuah, atau serangkaian objek yang dipilih oleh pelukis untuk dipindahkan ke kanvas. Jika seorang penulis duduk di meja sebuah café beraroma kopi sampai tamu terakhir pergi untuk menuangkan abjad-abjad yang menderu di dalam kepalanya ke dalam bentuk tulisan, mencoba membekukan waktu, dan seorang Penyair berkurung di dalam sebuah kamar kost selama lima hari penuh demi meringkas kehidupan 30 tahun seorang demonstran ke dalam hanya tiga bait puisi, maka tidak demikian dengan pelukis. Mereka tidak sedang mencoba membekukan kenangan, atau membuat monumen dari semua peristiwa yang lalu. Pelukis, adalah orang gila yang merelakan seluruh waktu yang dimilikinya untuk mencuri nyawa objek lukisannya, menjadikan lukisannya adalah sesungguhnya yang nyata. Hidup. Bernafas. Bicara. Dan memiliki keharuman sendiri. Pelukis, adalah orang gila yang rela membongkar isi hatinya dan memindahkannya ke kanvas: marah, sedih, benci, bahagia, juga doa-doa, ke dalam bentuk imaji-imaji dari aneka garis, sapuan, cabikan warna.

Ya. Lukisan ini adalah lukisan nomor urut tiga dalam katalog. Lukisan urutan ketiga dari pintu masuk. Lukisan ketiga yang kulihat; setelah lukisan pertama, yaitu lukisan sabana dengan sekelompok kuda liar berekor mengurai indah sedang berlarian aneka warna. Ada yang hitam, coklat, putih, dengan salah satu kudanya berwarna ungu, berada tepat di tengah bidang kanvas. Sedang mengangkat satu kakinya dan dagunya terangkat tinggi, berbeda dengan kuda-kuda lainnya yang kepalanya melengak ke kiri atau ke kanan. Seakan dilanda kepanikan. Namun kuda ungu ini terlihat paling percaya diri. Matanya seakan memimpin seluruh kelompok. Mencolok sekali di atas warna dasar kuning keemasan yang bergerak menjulang sampai ke langit. Di sekeliling mereka –berarti di sisi kanan, kiri, dan bawah kanvas– penuh air berwarna biru kehitaman beriak-riak, seakan mereka dikepung air bah. Di sana tadi aku hanya bisa mengedikkan bahu, “Pengendali? Ah, so be it,’ pikirku.

Lalu lukisan kedua, sebuah lukisan bernuansa sepia; melukiskan wajah anak kecil ingusan bergigi ompong bertampang polos yang mendongak balik menatapmu, tapi di hitam bola matanya terlukis tipis-tipis sebentuk wajah wanita cantik sedang tertawa.

Tik tak tik.. Seperempat jam sudah lewat dari tadi, dan aku masih juga terpaku di lukisan yang ke tiga ini. Kupandangi lagi wajah perempuan dewi itu. “De-si-re-e”. Apakah itu nama dewi ini? Desiree?

Suasana Galeri sangat tenang. Galeri yang menyatu dengan sebuah pusat perbelanjaan besar Center Park  di daerah Jakarta Barat. Lokasinya di lantai dasar sebelah kiri pintu masuk utama. Ruangannya berdenging pelan oleh suara mesin pendingin yang ada di tiap sudut. Pengunjung hanya satu dua. Bergantian datang dan pergi. Kadang satu dua orang mendatangi lukisan ini. Namun hanya sebentar saja. Sepintas saja lukisan ini dilirik, lalu mereka bergerak melewatiku. Mungkin sungkan karena ada aku yang dari tadi terus-terusan berdiri di situ.. Lalu kenapa yaa..

Aku tahu keberadaan Galeri ini dari Eka, temanku sedepartemen  di perusahaan asuransi tempatku bekerja. Katanya dia prihatin melihat ’kemunduran’ku sejak suamiku meninggal tahun lalu, dan aku menjadi single parent untuk anakku, bocah imut lima tahun, Monique. Katanya jangan terus mengubur diri dalam pekerjaan, cobalah aku mampir ke galeri ini, dan menikmati keindahan lukisan-lukisan di sini. Siapa tahu bisa membuatku terinspirasi untuk kembali melukis, yang telah tujuh tahun lebih kutinggalkan. Dan katanya biar pipiku kembali merah merona kalau marah. Merah merona kalau jengah. Heh. Katanya lagi aku tuh seperti Tamara Geraldine tetapi versi jeleknya. Yang makin lama makin terlihat kuyu, kerempeng, dan suram, seperti papan setrikaan tua. Istilah yang menyebalkan. Padahal aku hanya terlalu lelah bekerja, dan tidak punya acara di hari libur.

Tapi uh, entah sejak kapan, ‘katanya’ si Eka ini makin sering muncul, bahkan di pikiranku. Ia juga tak bosan, selalu menawariku aneka kesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan bersama, atau mengajakku nonton konser, namun selalu kutolak. Aku merasa terlalu lelah untuk kembali dari awal, bersosialisasi. Aku lebih memilih pulang ke rumah ibuku, menjemput Monique dan pulang ke rumahku. Tidak, bukan berarti bersama ibu aku menjadi bebas dari nasehat-nasehat untuk pergi “dolan”. Bahkan Aku curiga ibu dan Eka telah sekongkol mencoba mengeluarkanku dari cangkang isolasi. Tapi, idenya kali ini boleh juga. So here I am, pulang kerja langsung mampir. Aku suka tempat ini. Besok aku akan berterima kasih padanya. Hidung berbintik lembut si Eka pasti langsung mekar kesenangan. Hmm.

 

“Hihihi iya ya jadi mirip, hihi idih ih Mas ih, mikirnya ngeres..”

“Heh, sst.. di galeri jangan bikin ribut, hehehe..”

“Abisnya Mas, siih.. cubit nih!”

“Aw.. sakit kan.. hehehe”

“Uuh.. mas Cepi nakal!”

Lamunanku terpecah. Tiba-tiba kudengar cekikikan tertahan dari sepasang muda-mudi berseragam abu-abu di depan sebuah kanvas yang sangat besar di dinding seberangku. Si gadis bolak-balik memukul pelan lengan si pemuda dengan gemas sambil cekikikan, sedangkan si pemuda setengah menghindar sambil nyengir lebar. Kanvas itu berlukiskan satu buah pir masak yang diletakkan di sehelai kain beledu warna merah menyala, kontras dengan warna buah pir yang putih pucat. Buah itu dalam kondisi terbelah dua sehingga terlihat penampang tengah buah yang berbiji terpotong. Entah bagaimana, halusinasi atau bukan, tetapi aku merasa lukisan itu seperti sedang memelototi mereka dengan sebal. ‘Dasar tidak paham seni!’, mungkin itu yang didesiskannya. Aku tersenyum sendiri menyadari bagian mana yang mereka tertawakan. ‘Hahaha dasar anak muda..’, gumamku sambil geleng-geleng kepala, sembari mengedarkan pandangan ke penjuru Galeri.

ombak-lauta

Seratus langkah dari tempat pasangan itu berdiri, di sebuah sudut, ada seorang petugas kebersihan sedang menyapu. Kulihat dia sedang membungkuk. Tangannya memungut sesuatu di bawah kursi, memeriksanya lalu tersenyum. Mungkin ada barang pengunjung yang terjatuh, karena apapun barang itu lantas dimasukkan buru-buru ke saku celananya yang gombrang.

Ada Bapak–bapak berpakaian safari sedang duduk di sofa sambil baca koran. Mungkin numpang ngadem, atau menunggu seseorang, karena dia sudah di sana sejak awal aku masuk. Sebentar-sebentar menengok ke arlojinya yang mengkilat tertimpa sinar lampu dari lukisan terdekat. Mungkin Rolex.

Meja penerima tamu mojok menghadap ke pintu masuk. Di sana seorang gadis duduk cuek menopangkan kedua kaki bersepatu kets di atas sudut meja –dekat tanda ‘do not touch the paintings’– sedang baca novel chiclit dengan telinga tersumbat walkman. Kaki itu hanya turun sejenak bila ada pengunjung yang datang untuk mengisi buku tamu. Musik instrumentalia gitar petik berdenting pelan kadang menyelinap sampai di telinga. Sungguh galeri lukisan yang nyaman.

Tik tak tik.. detik jam dinding di atas kepala gadis resepsionis sayup terdengar, dan aku masih di sini. Berdiri di depan lukisan ketiga. Kembali memelototi “Desiree”. Entah kenapa, aku penasaran. Rasanya begitu banyak yang bisa kunikmati di lukisan ini. Setiap titik dan garis, setiap sapuan dan bercak warna, setiap lekuk. Mungkin karena sapuan kuasnya yang ditarik kuat mencabik-cabik pada lautan, lalu di seret ke arah dalam, dan yang dilepas pada lantunan ombaknya, menyebabkan timbulnya bercak-bercak seperti cakar-cakar buih yang indah, seperti lukisan ombak di atas pelat kayu karya pelukis Jepang, berjudul The Great Wave karya Katsushika Hokusai. Tidak umum, tapi indah. Atau pada garis-garis tipis rapi warna abu dan kapas, yang membentuk awan yang bergulungan. Dan mataharinya, oeii..interesting..

Pelukis ini royal dengan catnya. Rupanya dioleskan saja warna dasar tebal-tebal pada saat pelapisan awal pada permukaan kanvas, membentuk permukaannya jadi tidak rata. Setelah kering baru dia melukis kembali di atasnya. Atau bisa juga lukisan ini dilukis ditimpa saja pada lukisan tua di bawahnya. Kadang pelukis jaman dulu melakukan hal itu. Heh, tapi ini khan jaman sekarang? Masih ada juga yang melakukannya ya?

Setelah puas mengamati lekuk liku garis awan yang melingkar-lingkar bergulungan, ya ampun, ini pelukisnya yang sangat santai seakan punya waktu selamanya, atau perfeksionis karena begitu detil? Entahlah. Kali ini perhatianku terpanggil ke arah matahari, yang dilukis dalam galur-galur bulatan memanjang mulai dari tepi tepi kanvas berputar-putar hingga memusat di satu titik nuans di kiri atas kanvas. Warnanya bergradasi kuning emas perak jingga memerah senja, memenuhi latar belakang. Warna matahari itu jadi seperti lampu di ruangan galeri ini. Padahal hanya ada satu lampu redup saja yang di arahkan ke lukisan itu. Lukisan dewi yunani itu seperti tiga dimensi; hidup. Matahari yang bersinaran di senja hari, ombak mengalun memecah berbuih-buih berkejaran menuju pantai, dan sang dewi itu sendiri. Seolah aku sedang memandangnya dari jendela rumah. Tubuh dan pakaiannya di satu sisi terpapar sinar senja, lalu angin juga membelai anak-anak rambut di dahi dan tengkuk serta bajunya yang tipis menerawang, sehingga terlihat berlambaian.

Saat mataku sedang mengamati pakaiannya, tiba-tiba tertangkap olehku bintik-bintik kecil berderet di satu sisi kain. Apa itu? Aku segera maju mendekati kanvas. Benar-benar hanya satu jengkal dari kanvas. Mataku kutajamkan. Oh, ada tulisan di sana! Berhuruf font italic. Kueja hati-hati. Aku terkesiap. Ternyata terbaca kalimat memanjang di sepanjang tebal tipis dan lipatan kain, dari pangkal pinggang menuju ujung lambaian yang terkibar oleh angin, dari jauh terlihat seperti keliman garut-garut pada ujung kain. Pelukis telah dengan hati-hati menggoreskannya menggunakan benda runcing, mungkin sebangsa peniti. Tulisan itu digureskan setelah lukisan hampir kering. Tulisan itu sangat tipis, halus, dan indah; dari jauh orang tak akan menyangka itu adalah kumpulan huruf membentuk rangkaian kalimat. Aku merabanya, lalu membaca perlahan;

“Pelangi, adalah gendewa mentari di kala hujan pudar, kerna kemudian petir jadi panahnya. Gendewa dan panah di tangan Dewi Mayapada, yang dengan anggun tla direntangkan tegang, lepas menukik bersama liuk liar tetarian hujan. Lesat. Didampingi sang Dewi yang melayang indah di sebelahnya, terus meluncur berdampingan ke batas langit. Terus ke atas hingga terbentur ia mencipta bunga api, dan riuh tawa dewa dewi. Clap! Wajah mereka terpotret dengan sempurna! – Sesungguhnya kuciptakan lukisan ini hanya untukmu, Say, di manapun kau berada..”

“Oh!.. jangan-jangan iniii.. hmm..,” pikirku, kala kurasakan suatu pemahaman tiba-tiba seperti bersinar di kepalaku, tapi apa aku masih kurang mengerti. Tapi aku langsung bersemangat. Mataku langsung nyalang mencari-cari petunjuk lain di lukisan itu; tulisan, tanda, panah atau garis atau apapun. Saat tiba di bulatan matahari, tiba tiba di salah satu garis halus yang menempel di salah satu galur yang menuju ke titik nuans mentari senja itu, aku menemukan lagi satu deret tulisan. Juga dalam jenis font dan dengan alat seperti peniti yang sama, tertulis ;“O, malam, jika benar aku mesti mati; karenamu, bangunkan aku esok hari.”

“Ehem, mohon maaf, lukisannya tidak boleh dipegang..” tiba-tiba si Nona-Sepatu-Kets-di-atas-Meja sudah berdiri di sampingku.

“Eh! Iya maaf ya Dek, selanjutnya saya hanya akan menunjuk tanpa menyentuh, boleh ya?”

“Iya, boleh, silakan. Dan, maaf?”

“Ng.. Ya?” sahutku enggan, aku ingin segera melanjutkan penelusuranku. Bocah, cepatlah pergi..

“Jika Anda tertarik membeli lukisan ini, silakan isi form di akhir halaman katalog dan dikumpulkan ke Resepsionis” kata Nona sepatu kets.

“Ya, baiklah. Terima kasih informasinya ya Dek.” dan kutatap punggung kecilnya berjalan menjauh, kembali duduk di posnya, Resepsionis.

Mukaku panas. Bukan karena malu telah ditegur menyentuh lukisan, namun oleh luapan antisipasi. Kembali aku turuti galur-galur rapi itu. Pelukis ini memang rupanya berapirapi galur dengan sengaja. Jemariku terus merunut setiap galur satu demi satu, kadang meliuk membalik berputar atau berpilin hingga aku harus menggunakan dua jemari agar tak kehilangan runutan. Lalu tiba-tiba galur itu turun, kembali pada gelombang ringan dan sampailah aku di cabikan ombak. Kali ini galurnya naik turun terus menerus tiada henti aku tak sadar menarik nafas.

Pada kira-kira tarikan keempatbelas, di salah satu baris aku temukan kata,”bangunkan aku”, lalu di beberapa tarikan dan tarikan lainnya tersebar kata-kata, “bangun”, “bangun”, “bangun”. Terus tersebar di lantunan ombak yang berbuih itu ternyata penuh dengan kata, “bangun”, “bangun”, “bangun”. Hatiku kini terasa hangat, dan berdebar-debar. Apa yang akan kudapatkan di akhir perjalanan? Terus saja kuikuti galur naik turun itu hingga tiba akhirnya galur jemariku pada sudut kanan bawah lukisan. Aku menemukan kalimat pendek. Aku menahan napas. Di sana tertulis:

“Aah! O, terima kasih, tla kau bangunkan aku, Say! Kini aku hidup!” (Desire – emotion – 2009).

Sungguh, kalimat itu pendek. Pendek saja. Tetapi sanggup membuatku meledak. Betapa tidak, sejak suamiku tak ada, aku belum pernah lagi merasakan gairah liar yang memenuhi seluruh aliran darahku seperti ini. Sungguh menyebalkan karena terhenti begitu saja. Berani-beraninya pelukis itu mempermainkan emosi orang. Argh.

Dengan sebal aku menengok ke meja resepsionis. Gadis itu entah sejak kapan telah memperhatikanku dengan mata berkilat dan keingintahuan tinggi. Sehingga begitu aku menoleh sebal dan bertemu pandang dengannya, dia langsung belingsatan, bingung menahan tawa yang mengancam meledak, bikin aku tambah kesal.

Semua orang yang ada di ruangan itu bengong memandangi kami. Pasangan remaja –yang sudah sampai di lukisan kesembilan, Pak tukang sapu –yang saku celananya makin gembung, juga si bapak jam tangan Rollex –yang kini lengan tangan-ber-jam-Rollex-nya itu sedang digelayuti seorang perempuan cantik– yang hampir mencapai pintu EXIT, adalah juga termasuk yang mengangkat alis mengamati kami. Aku segera beranjak menuju pintu yang terdekat –yaitu pintu masuk– setengah berlari, keluar ruangan. Gadis itu di antara tawa tertahannya berseru, “Kau gadis ke-tiga minggu ini sayang, oya pelukisnya namanya Sayu…”. Sayup aku dengar namanya disebut, tapi huh, aku sudah jauh dari sana. Uuh, mukaku pasti seperti kepiting rebus.

Aku terus beranjak keluar dari Pusat perbelanjaan itu, ke luar memanggil taksi dan duduk menghenyak di sana dan taksi melaju. Dadaku masih berdeburan.. pertamanya kesal, tapi kemudian nyengir dan akhirnya aku terkekeh sendiri menyadari kekonyolan tadi, aku terus terbahak hingga semua rasa sesak di dadaku terasa plong. Wah. Kehidupanku pasti berubah setelah ini. Lega sekali. Rasanya gairah hidupku sudah kembali. (Fin.)

 

——————–

“Kita memasuki suatu masa. Kau dan Aku adalah bangun-bangun abstrak yang terbentuk dalam satu dunia penuh ruang. Yang setiap ruang adalah dunia baru. Kita akan sedikit diliputi kebingunan. Tak ada yang normal di sana. Bila dinding adalah lantai adalah plafon adalah dingin adalah panas, adalah tinggi adalah landai adalah padat adalah cair. Adalah penuh. Kerumitan. Kenangan. Keinginan. Kau berdiri di dalam satu gambar ketika sedang berada di luarnya menatap aku menatap sebuah kenyataan yang muskil. Dimana rentang waktu bisa dibekukan semena-mena. Dimana tempat-tempat dikumpulkan. kemudian diputarbalikkan selincah pemain akrobat. Menjadikan Aku menjadi kau menjadi mereka, dan mereka seolah kita. Menantang keseimbangan pikir. Kita lupa sedang bergerak atau mematung. Dimabukkan oleh segala citra dan kisah dalam aneka lanskap dan figur. Dunia dalam ilusi garis dan warna. keras dan lembut, gelap dan terang, berbentur-bentur dengan riang. Dari ruang ke ruang menjelajah dunia-dunia. Hingga sebuah pintu bertuliskan “EXIT”, menyadarkan kita.” ( PS, puri indah. 8-12-2011.)

 

9 Comments to "Gallery"

  1. Pratiwi  14 January, 2013 at 12:56

    Njeh, matur nuwun atas apresiasi teman-teman semua. hehe

    Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut ^_^)?
    mungkin saya musti sampaikan di sini bahwa seluruh kisah yang saya posting sebagai cerpen selama ini, adalah fiktif belaka, (oya, kecuali artikel-artikel menngenai tanaman) Suwunn ^e^)y

  2. Kornelya  12 January, 2013 at 07:06

    Hebat sekali ulasan kurator mba Pratiwi. Salam.

  3. anoew  11 January, 2013 at 18:39

    Ini artikel luar biasa, cara berceritanya sungguh membuat saya seakan berada di galeri itu dan ikut merasakan suasana di dalamnya. Ikut merasakan tangan penulis menelusuri tulisan kecil di gaun si putri dalam lukisan itu, ikut merasakan mata penulis mencermati pesan tersembunyi dalam lukisan matahari yang berakhir di kalimat penutupnya. Ckckck luar biasa! mungkin inilah jadinya kalau tulisan dibuat oleh seniman pelukis dan penulis yang benar-benar mengalir lepas, menjiwai tulisannya. Mangstab!

  4. Dewi Aichi  11 January, 2013 at 16:45

    Sampai sebegitu pandainya mengupas tentang lukisan…mantap sekali…

  5. Linda Cheang  11 January, 2013 at 16:44

    mau melukis, aku kurang bisa, mesti latihan, koq, ya, males, berarti aku kurang gila, yah?

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 January, 2013 at 14:11

    “Pelukis, adalah orang gila yang rela membongkar isi hatinya dan memindahkannya ke kanvas”

    Walaah….kalimat ini agak lama saya membayangkannya. Terbayang Monet, van Gogh, Affandi, Saleh, Picasso juga Des Syamsiar adalah orang-orang “aneh”. Mungkin gila.

  7. [email protected]  11 January, 2013 at 08:43

    memanggil taksi dan duduk menghenyak di sana dan taksi melaju. Dadaku masih berdeburan.. pertamanya kesal, tapi kemudian nyengir dan akhirnya aku terkekeh sendiri.

    waaah…. ini supir taksinya takut gak ya…. udah kesal, nyengir2 sendiri… trus ketawa sendiri….

    buset….

  8. J C  11 January, 2013 at 06:30

    Satu pelajaran kehidupan yang unik dan berharga…

  9. Dj. 813  11 January, 2013 at 06:21

    Setunggal….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.