Cuma Khayalan

Mutaminah

 

Pagi, saat embun masih meringkuk di ujung-ujung dedaun, aku telah bangun bersama semangat sesegar teh manis hangat yang tersaji dengan setangkup roti isi selai strawberry. Aku duduk di beranda, di salah satu kursi yang melingkar mengelilingi sebuah meja kayu. Aku menghabiskan pagiku dengan mengabadikan matahari terbit pada tawa canda di antara teman-temanku. Baru kali itu aku tahu, dengan cara ini matahari pagi jauh terasa lebih hangat daripada semestinya :)

Ketika mentari merangkak lebih tinggi, menyibak gelap yang tersisa di dinding langit, mencipta biru terang dan putih kapas yang mendamaikan, aku berjalan bersama mereka, teman-teman yang aku tahu takkan beranjak sedikit pun dari sisiku, bahkan manakala jarak hadir mengusik kami. Yang akan selalu menemaniku susah maupun senang. Kami berjalan beriringan, menyusuri perkebunan yang luas, sambil bertukar cerita panjang lebar, saling menularkan semangat, dan menyusuri jalan kesuksesan yang telah kami lalui, gelap maupun terang, lewat kisah di antara kicau burung yang sesekali menyahut.

Sorenya, kami berencana memapah senja, hingga rebah di hati kami. Kami mengayuh sepeda bersama, memungut jengkal demi jengkal kebersamaan yang terpapar di sepanjang jalan yang kami lalui. Jalanan lengang, hanya ada beberapa anak berpakaian lusuh yang menengadah di sisi jalan, menatap langit, seraya tangan kecil mereka menarik ulur tali layangan yang tengah di terbangkan udara. Ada pula pasangan ibu bapak berjalan perlahan, memanggul cangkul dan bakul berisi penuh rerumputan. Peluh meleleh menelusuri garis wajah yang mengkristalkan ketegaran tak berskala.

Ah rasanya damai. Semua terlihat natural. Alam di sini lugu, tanpa kepalsuan.

3 km kami tempuh pada sore tanpa deru mobil dan klakson yang berebut rute di jalanan. Tanpa menaruh jeda, aku berlari tanpa alas kaki, menjejak pasir putih, menjejak kenangan yang takkan pudar tergerus jarum jam. Kami berlarian, menyambut ombak yang mencandai kami. Kami tertawa, saling berkejaran. Bertitip harapan pada angin yang menghembuskan kesempatan, agar kebersamaan ini tak terkikis oleh hujan maupun badai.

Kami duduk berjajar, menghadap matahari yang tenggelam di garis batas lautan. Jingga merayapi biru di atas sana. Burung-burung gereja pulang ke peraduan. Sedang ombak masih sibuk berkejaran.

Ini senja terbaik bersama teman-teman. Di mana aku sadar, aku tak pernah sendirian…

imagination

DHUAAARRRR!!
Ini bener-bener cuma khayalan sebelum tidur.
So, good nite and nice dream :)

 

 

4 Comments to "Cuma Khayalan"

  1. Linda Cheang  12 January, 2013 at 21:40

    berkhayal dulu, yuk, siapa tahu khayalan indahnya bisa jadi kenyataan setelah bangun tidur

  2. anoew  12 January, 2013 at 21:13

    duaaarrrr… untung nggak kena petirnya…

    sama dengan mbak Kornelya, nanti kalau mimpinya sudah jadi nyata, kasih tau ya.

  3. Kornelya  12 January, 2013 at 06:42

    mba Mutmainah, bila sa’atnya khayalanmu menjadi nyata, jangan lupa kabari Baltyra. Selamat Malam.

  4. Dj. 813  12 January, 2013 at 04:05

    Paling indah kalau belum tidur, mengayal dulu, maka akan tidur nyenyak dengan senyuman…
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.